Erin masuk ke dunia novel dan harus menerima takdirnya menggantikan posisi Mila. Mila ialah pemeran utama novel Milaerin yang memiliki nasib tragis dari penulisnya yang hanya bisa hidup sampai BAB 10.
Tapi dengan Erin yang kini memerankan Mila, apakah Erin bisa mencegah kematian Mila?
Lalu, apakah ia bisa mengubah alur novel Milaerin hingga tidak membuatnya meninggal dalam novel itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
'Rando sialan!' Umpat Erin dalam hatinya.
Awalnya Arka ingin mendengar mengenai keracunan yang dialami Erin, tapi kecemburuannya mengalahkan segalanya.
Arka pikir mungkin Erin telah berselingkuh dengan lelaki lain dan lelaki itu berselingkuh dengan gadis lain lagi.
Karena kalau itu adalah dirinya maka seharusnya ia tidak pernah berselingkuh seperti yang dimaksudkan oleh Rando.
"Siapa yang selingkuh?"
"Mm, itu,," Erin kalang kabut.
"Dia bilang seseorang yang ia sukai sedang bersama seorang gadis di sebuah hotel." Rando kembali membuka mulutnya, lagi pula, tidak ada gunanya menyembunyikan itu sekarang.
"Hotel?" Arka kembali memandangi Erin dengan tatapan bingung sekaligus marah.
'Sial! Gua gak mungkin mengaku kalau gua marah karena Sinta? Itu artinya gua menyukai Arka bukan?' Erin merasa sangat kesal.
"Apa maksudnya?" Arka kembali bertanya setelah melihat Erin hanya diam saja.
Erin membuang wajahnya dengan kesal lalu meraih ponselnya. 'Bagus juga kalau gue memperlihatkan video ini pada Arka jadi Arka bisa tahu bagaimana sifat asli Sinta.' gumam Erin mencari video rekaman video call-nya Dengan cinta.
Ia kemudian memberikan ponsel itu itu pada Arka. "Ni!" Ucapnya dengan cuek.
Arka melihat video itu dan tatapannya segera menggelap. Tapi ia menghela nafasnya lalu menarik Erin ke dalam pelukannya.
"Jadi kau cemburu?"
"Ngapain gua cemburu? Gak penting banget!" Ucap Erin dengan judes. ’Sial! Ngapain gua ngomong kek gitu!'
"Hahaha...." Rando tertawa dan menarik perhatian dua orang itu.
"Kayaknya aku harus pergi sekarang." Rando tidak menunggu persetujuan dari kedua orang itu dan segera bangkit berdiri meninggalkan keduanya.
Ia merasa sakit ditusuk 1000 jarum akibat pertunjukan kemesraan itu.
'Rando sialan!' Umpat Erin dalam hatinya.
Arka tidak peduli lagi dengan kepergian Rando ia segera tersenyum dan mengeratkan pelukannya pada Erin.
"Aku senang kalau kau cemburu." Ucapnya.
'Kenapa perasaan gua campur aduk gini sih! Harusnya gua dorong ni lelaki lalu pergi bersama Rando! Tapi gua kenapa sih!' Erin merasa kebingungan sendiri.
"Malam itu kami buru-buru mengerjakan proyek, jadi aku tidak menegurnya. Maafkan aku." Ucap Arka.
'Hanya itu saja? Cih!!! Siapa yang mau percaya dengan 2 kalimat itu!'
Erin tidak mengatakan apa pun, ia hanya diam saja.
"Ayo ikut aku sebentar." Ucap Arka lalu merangkul Erin berdiri dan mereka keluar dari restoran itu.
Erin duduk di dalam mobil dan membiarkan pria itu terus memeluk nya. Ia sedang berpikir tentang video yang sedang tersebar itu apakah Arka tidak melihatnya hingga pria itu sama sekali tidak marah padanya?
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Arka saat menyadari Erin terus saja melamun.
"Nggak ada." Ucap Erin dengan ketus lalu memejamkan matanya. Ia tidak mau diganggu lagi.
Arka tidak mengatakan apapun lagi sampai akhirnya mobil itu tiba di villa B milik sahabatnya.
"Kita sudah sampai." Ucap Arka.
"Dimana ini?" Kata Erin dengan pelan seraya mengamati tempat dimana mereka berada.
"Kau akan tahu nanti. Ayo masuk." Ucap Arka lalu menggandeng tangan Erin dan mengajak Gadis itu memasuki villa.
"Hei bro! Akhirnya datang juga!" Seru Eki saat melihat Arka. "Dan kakak ipar." Ucap Eki saat melihat Erin di samping Arka.
Erin tersenyum kikuk mendengar panggilan kakak ipar. "Halo," ucapnya.
"Ayo masuk."
Ketiga orang itu pun masuk. Mereka duduk di ruang tamu dimana meja telah dipenuhi makanan dan minuman.
"Mana kekasihmu?" Tanya Arka pada Eki.
"Dia sedang beesiap-siap." Ucap Eki lalu berdiri menyusul kekasihnya yang ada di kamar.
"Dia sahabatku, tapi kau tidak perlu percaya apa pun yang ia katakan. Bahkan hal itu berlaku dengan kekasihnya." Ucap Arka pada Erin.
Erin sudah tahu, jadi ia mengangguk saja. Ia masih kebingungan dengan sikap Arka.
Setelah menunggu beberapa saat, Eki keluar dari kamar bersama seorang gadis cantik.
Bahkan Erin sampai pangling melihatnya.
Ia segera melihat ke arah Arka, ia penasaran dengan reaksi pria itu.
'Bah wajahnya datar saja!' kagum Erin pada Arka.
"Mila!" Seru Fani segera mendekat pada Erin. "Kau datang juga!" Ucapnya.
Erin kembali tersenyum kikuk. "Ya, suami gua mengajak datang." Ucapnya.
"Baguslah, jadi masalah kalian sudah selesai ya?" Ucap Fani segera.
"Masalah apa?" Tanya Arka yang duduk di samping Erin.
Eki bahkan memberi tatapan peringatan pada kekasihnya itu.
Fani segera melihat ke arah Erin, gadis itu memberinya kode agar tidak mengatakan apa pun.
"Aku pikir aku salah bicara." Ucap Fani lalu berdiri untuk duduk di samping Eki.
Arka segera melihat pada Erin, tapi Erin tidak mengatakan apa pun. Erin malah tersenyum ke arah Fani "Selamat ulang tahun."
"Terima kasih." Ucap Fani.