Erin, gadis cantik yang terpaksa menikah dengan seorang pria dingin harus mengalami kecelakan hingga membuatnya Koma, akankah cinta dari sang suami bisa membantu Erin untuk kembali sadar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon machrita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Melenyapkan.
Dengan berbagai cara Shelo memalsukan dokumen-dokumen agar bisa masuk di kehidupan keluarga Renz. Dokter memeriksa dokumen palsu Shelo dan memastikan jika itu dokumen asli, wajah Shelo seketika sumringah karna tujuannya sudah berhasil.
ke esokan harinya.
Erin di bawa pulang mEnggunakan ambulance di dalamnya ada Shemee dan roh Eein, sedang Renz bersama Shelo di mobil depan.
"Temanmu itu baik ya kak, dia merelakan pekerjaannya demi membantu mengurusmu, aku jadi tidak enak karna sudah salah sangka," kata Shemee.
"Aku sangat senang She karna Shelo begitu memperhatikanku padahal aku baru mengenalnya belum 2 bulan ini," terang Erin.
Tak lama berselang mereka sampai di rumah Renz. Langkah kaki Shelo begitu tenang memasuki rumah Renz.
"Akhirnya aku bisa masuk ke rumah ini dan tinggal disini jua," batin Shelo.
Erin di bawa ke kamar tidak lupa alat-alat penyambung kehidupannya di pasang, Erin terlihat seperti tidur.
"Shelo kau bisa bekerja mulai sekarang. Aku tetap akan menggajihmu." Tegas Renz.
"Aku tidak perlu di gajih Renzn saat dekat denganmu itu sudah cukup bagiku," batin Shelo dengan wajah centilnya.
Shemee melihat gelagat yang tidak baik dari Shelo, tapi Shemee berdalih mungkin itu hanya perasaannya saja sedang Erin sangat percaya dengan Shelo.
Tidak ada yang mencurigakan di hari ke 5. Shelo sangat mengurus Erin dengan baik, roh Erin begitu senang itu di karenakan masih ada Shemee di dekat Erin, Shelo tidak bisa berbuat apa-apa.
Renz masuk ke kamar membawa sebuket bunga mawar kesukaan Erin.
"Pagi sayang," Renz mengecup kening Erin dan menaruh buket bunga di meja.
"Renz kalau kamu seperti ini terus aku akan tambah sedih karna tidak bisa mngatakan jika aku juga mncintaimu," sedih Erin.
Shelo menatap sinis ia tidak suka Renz selalu membawakan Erin bunga setiap hari.
"Dia bahkan sudah tidak berdaya tapi masih saja membuatku susah, lihat saja sebentar lagi semua itu akan jadi milikku," batin Shelo kesal.
Shemee keluar kamar Erin karna ada telphon masuk.
["Tapi pak apa tidak bisa di tunda, aku harus menemani kakak ku, dia sedang sakit," kata Shemee. Erin mendekati Shemee.
"Ada apa?" Tanya Erin.
"Dosenku menelphon untuk segera kembali ke asrama karna sudah seminggu aku ijin, bagaimana ini kak," sedih Shemee.
"Kau pergilah, lagipula kan ada Shelo dia pasti menjagaku dengan baik," kata Erin
"tapi kak, kamu tidak akan punya teman bicara, kamu akan kesepian," jelas Shemee.
"Kau tenang saja di rumah ini banyak orang, walaupun aku tidak bisa berkomunikasi dengan mereka tapi aku akan bahagia, kau pergi saja." Pinta Erin.
Shemee memeluk Erin lalu pelayan terkejut saat Shemee berdiri sendri dan seakan memeluk seseorang.
"Jangan-janhan dia gila, kasihan nona Erin sakit adiknya ikut gila." Batin pelayan.
"Ya sudah kau pamit dengan Renz dan juga nenek," pinta Erin.
Erin dan Shemee masuk lagi ke kamar, Shemee pamit melanjutkan study nya yang tertunda, Renz ingin mrlarang tapi demi cita-cita Shemee ia pun mngijinkan Shemee pergi.
"Syukurlah anak itu pergi juga jadi tidak ada lagi yang suka mengawasiku," batin Shelo.
"Kak Shelo aku titip kak Erin ya tolong jaga dia dengan baik, aku akan sesegera mungkin kembali." Pamit Shemee.
"Kau tenang saja, Erin akan baik-baik saja denganku, kamu jangan khawatir ya kamu harus fokus dengan sekolahmu," kata Shelo saat Renz melihat mereka berdua.
Setelah pamit dengan semua orang di rumah Renz, Shemee pun pergi.
Malam hari udara terasa dingin tapi Renz duduk di taman menikmati angin malam, Shelo yang melihat dari arah kamar Erin pun segera mengambil selimut lalu mendekati Renz.
"Ya Tuhan Renz, udara malam ini sangat dingin, kenpa kamu diluar masuklah, atau ini pakailah selimut ini." Pinta Shelo memberi selimut yang di pegangnya.
"Tidak usah Shelo, aku ingin merasakan dinginnya malam ini kau tidur lah istirahat seharian ini kau pasti lelah," ucap Renz.
"Tidak, kenpa aku harus lelah, Erin hanya terbaring ia bahka tidak menyusahkanku sama sekali, justru aku ingin membantu Erin mengurusmu," ucap Shelo keceplosan.
"Maksud mu." bingung Renz.
"Maksud ku, ahhh lupakan aku hanya bercanda. Ya baiklah aku masuk dulu, dingin." Pamit Shelo.
Renz tersenyum dan kembali menatap bintang-bintang, sementra Shelo melihat Renz yang begtu mempesona, Shelo pun kembali masuk, ternyta Erin mengawasi Shelo dari tadi.
"Kau begitu perhatian Shelo, bahkan pada suamiku. Kau benar-benat temanku yang terbaik," ucap Erin.
Shelo pun tidur di kasur yang sudah di sediakan di kamar itu, Erin dan Renz harus terpisah kamar. Erin keluar menemui Renz ia duduk di sebelah Renz menyandarkan kepalanya di pundak Renz yang menatap langit malam.
"Erin saat kau sadar nanti aku ingin bisa duduk denganmu berdua di taman ini, menikmati dinginnya malam dan menatap bintang-bintang pasti sangat romantis," gumam Renz.
"Renz seandainya kamu tau aku sudah ada di sampingmu menikmati malam ini berdua denganmu." Kata Erin. Tak terasa air matanya jatuh mengenai lengan Renz. Renz terkejut karna mengira akan turun hujan hingga ia pun berdiri yang akhirnya membuat roh Erin terjatuh.
"Reeeeeenz. Bahkan aku jadi roh saja kamu tetap mengerjaiku." Omel Erin.
Erin mengikuti Ren masuk ke rumah, Renz masuk ke kamar Sahira mengecup kening keponakan kecilnya dengan lembut, Erin sangat senang karena Renz sudah mulai ada perubahan...
Renz pun tidur di samping Sahira Erin hanya diam terpaku menatap kedua orang yang ia sayangi.
ke esokan harinya Renz kembali memberi sebuket bunga untuk Erin, hal itu membuat Shelo panas, ia pun memutuskan untuk sesegera mungkin melenyapkan Erin.
Saat Renz dan Jojo ke kantor Sahira pun ke sekolah, di rumah itu hanya ada bebrapa pelayan dan juga nenek, Shelo bisa leluasa menghabisi Erin dengan menutup wajahnya menggunakan bantal tapi saat yang bersamaan nenek masuk dengan kursi rodanya.
"Shelo!" tegur nenek. Shelo pun kelabakan dan mulai mencari alasan.
"Nenek, kau disini." Kejut Shelo.
"Kau sedang apa! Lalu untuk apa bantal itu?" Tanya nenek.
"Oh ini, aku ingin mengganti bantal Erin, sepertinya bantal yang di pakai Erin terlalu rendah nek," bohong Shelo.
Nenek tidak semudah itu percaya dengan Shelo, nenek pun meminta Shelo mengambilkan sarapannya dan membawa ke kamar Erin, karna nenek ingin sarapan di kamar Erin, saat itu semua terjadi roh Erin tidak di kamar jadi ia tidak tau jika Shelo ingin mencelakainya.
"Dasar nenek peot, lihat saja, setelah Erin akan tiba giliranmu," batin Shelo kesal.
#Bersambung...
. semangat Up, ya