Sebuah kasus mengerikan menyerang seorang teman Gevio di sekolah. Demi menyelamatkan teman sang anak, Elden, Erie dan seluruh anggota organisasi harus menghadapi pertarungan penuh intrik dengan para pemimpin negara guna menangkap pelaku sebenarnya. Bisakah mereka melawan para penguasa dan menyelamatkan korban?
Novel ini merupakan kelanjutan dari novel ‘Danke, Häschen !!!’. Dengan mengangkat genre action romance, novel ini ingin menantangmu untuk berpikir, bersimpati dan tentu saja berimajinasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei Shin Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Holiday
Gevio tersentak secara mendadak. Ia terbangun. Sambil mengerang menahan rasa pusing yang ada di kepalanya, anak itu menyingkirkan selimut. Gevio menoleh ke kanan dan ke kiri, mengamati situasi lalu ia mendapati dirinya tengah berada di dalam kamarnya sendiri. Salah satu tangan anak itu bergerak ke atas sambil mengusap matanya. Lembab dan sedikit sakit. Gevio sadar bahwa ia habis menangis di pelukan ibunya.
Jam di dinding berbunyi. Setiap menunjukkan pukul 12 (baik siang maupun malam), seekor burung beo akan keluar dari tengah-tengah jam itu dan bersuara. Dan sekarang burung itu keluar dari sarangnya. Itu berarti sekarang sudah tepat pukul 12 siang.
Dengan gontai, Gevio menggerakkan tubuhnya ke pinggiran ranjang. Baru hendak menginjakkan kaki ke lantai, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka.
“My Prince, kau sudah bangun?” ujar Erie memasuki kamar Gevio sambil membawa nampan di tangannya. Di atas nampan itu terdapat semangkuk bubur ayam, beberapa jenis obat dan segelas air putih.
Erie membawa nampan itu dan meletakkannya di atas nakas. Kemudian ia duduk di pinggir ranjang. “Ayo makan dulu. Dari tadi pagi kau belum makan apa pun.” Perempuan itu membantu anaknya untuk duduk di posisi yang tepat.
“Mommy, apa Gevio bolos sekolah?” kata Gevio serak. Ia berkata seperti itu karena sedari tadi matanya memandang jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul 12 siang. Itu artinya ia telah melewati seluruh pelajaran di sekolahnya pada hari itu.
Erie menggeleng. “Bukan bolos, My Prince. Kau izin tidak masuk sekolah karena sakit. Tadi Mommy sudah menelepon sekolahmu untuk meminta izin. Jadi selama dua hari, kau boleh istirahat di rumah," jelas Erie. Ia tidak ingin anaknya berpikir yang aneh-aneh sekarang.
“Oh, begitu,” balas anak itu seraya menganggukkan kepala.
Dengan senyum yang menghias di bibir, Erie menyentuh tangan kecil Gevio. “Sekarang kau makan ya. Setelah itu minum obat dan istirahat lagi.”
“Gevio tidak mau makan, Mommy. Gevio masih kenyang,” tutur Gevio seraya menggelengkan kepalanya.
“Sayang, kau harus makan. Lihat ini, kau masih panas.” Erie menempelkan telapak tangannya di kening Gevio. Rasa panas dari kening Gevio merambat ke permukaan kulit Erie. “Kalau kau habiskan makanan dan obatmu, Mommy janji akan memberi tahu kepadamu tentang Rebecca," bujuknya.
Anak itu terkejut saat mendengar nama temannya keluar dari mulut ibunya. Ia benar-benar ingin tahu bagaimana keadaan dari gadis kecil itu. “Apa Rebecca baik-baik saja?”
“Mommy tidak bisa mengatakannya sekarang. Tapi kalau Gevio mau berjanji pada Mommy, maka Mommy akan menceritakannya. Bagaimana?” tawar Erie mencoba bernegosiasi dengan sang anak. Ia sudah mengangkat jari kelingking kanannya di depan anaknya. “Janji?”
Anggukan kepala dari Gevio membuat Erie tersenyum. Perempuan itu semakin senang saat anaknya mengaitkan jari kelingkingnya di jarinya. “Gevio berjanji,” balas Gevio.
“Good boy!” kata Erie memakai pujian yang sering dilontarkan oleh Elden padanya dan juga Gevio ketika mereka melakukan hal-hal yang baik. Dalam beberapa hal, Erie memang suka meniru suaminya, terutama dalam hal bertutur kata.
“Nah, ayo makan!” lanjut Erie sembari mengangkat mangkuk bubur ayam dan memindahkannya ke tangan Gevio. Sebelumnya Erie sudah mendinginkan bubur itu sejenak sehingga saat Gevio memakannya, anak itu tidak perlu lagi menunggunya dingin.
Perjanjian yang dibuat mereka telah Gevio tepati. Anak itu menghabiskan semua bubur ayam yang ada di mangkuk itu tanpa tersisa. Begitu pula dengan obat-obatan yang diberikan oleh Erie. Meski rasanya pahit, Gevio tetap menelannya tanpa mengeluh. Semua itu ia lakukan hanya demi mengetahui berita tentang teman perempuannya.
“Sudah, Mommy,” ucap Gevio sambil mengelap mulutnya dengan serbet yang diberikan Erie. Ia menatap Erie dengan tatapan penuh harap agar sang ibu segera menepati janjinya.
“Baiklah, Mommy akan ceritakan padamu,” timpal Erie. Perempuan itu mulai menceritakan kronologi kejadian tadi, saat ia menelepon orang tua dari anak yang sangat dikhawatirkan oleh Gevio itu. “Tadi Mommy menelepon ibu dari Rebecca. Kata ibunya, Rebecca tidak bolos sekolah, sayang. Tetapi Rebecca izin tidak masuk sekolah karena sakit.”
“Sakit? Apa izin sakit sama seperti Gevio hari ini?” tanya Gevio sambil menunjukkan kerutan di dahinya.
Erie mengangguk. “Benar.”
“Tapi kenapa lama sekali, Mommy? Gevio saja cuma izin dua hari.”
“Eumm, mungkin karena Rebecca harus dirawat di rumah sakit.”
Gevio tersentak. Raut wajahnya yang tadi antusias berubah jadi sedih. “Kalau dirawat di rumah sakit, berarti Rebecca harus diinfus?”
“Mommy tidak tahu. Tapi kalau parah, mungkin Rebecca akan diinfus.”
“Disuntik juga?”
“Iya, bisa jadi dokter menyuntik Rebecca.”
Seketika Gevio bergidik ngeri. Dari semua benda yang pernah Gevio lihat di rumah sakit, anak itu paling membenci jarum, baik itu jarum suntik maupun jarum infus. Akibatnya, Gevio menjadi takut untuk pergi ke rumah sakit. Jika ia sakit —seperti kejadian hari ini— Elden dan Erie akan memanggil dokter ke rumah mereka.
Tidak hanya takut pada rumah sakit, Gevio juga takut pada semua orang yang berpakaian jas dokter. Bahkan anak itu pun merasa takut pada Daniel, paman kandungnya sendiri yang berprofesi sebagai dokter.
Akan tetapi, setelah mendapatkan kejelasan dari semua duduk perkaranya, Gevio menjadi lega. Anak itu memang tidak mendengar cerita detailnya dari sang ibu, tetapi mengetahui bahwa bukan ia yang menjadi penyebab Rebecca bolos dari sekolah, sudah membuat Gevio merasa lebih baik.
“Sudah, sekarang kau tidur, My Prince. Kalau kau sembuh, kau bisa cepat pergi ke sekolah lagi,” kata Erie.
"Kalau Gevio sembuh, apa Gevio bisa mengunjungi Rebecca di rumah sakit?"
"Nanti Mommy cari tahu dulu bagaimana keadaan Rebecca. Kalau dimungkinkan untuk bisa dijenguk, Gevio boleh datang ke sana."
“Bakilah, Mommy. Gevio akan tidur sekarang," jawab Gevio patuh.
Erie membantu Gevio untuk berbaring. Sambil tersenyum, perempuan itu menarik selimut hingga menutupi bahu Gevio. Ia menyentuh ringan dada Gevio dan menepuknya pelan agar membantu anak itu pergi ke alam mimpi. Beberapa saat kemudian, Erie menggeser tangannya ke kepala anaknya. Dengan lembut dan perlahan, Erie mengelus kepala Gevio agar semakin lelap terpejam.
XXXXX
Hari berganti dan kehidupan mereka kini sudah kembali normal. Sesuai arahan dari Erie, saat berada di sekolah dan bertemu dengan Rebecca, Gevio tidak lagi membahas perihal bolos sekolah yang dilakukan gadis kecil itu. Mereka lebih sering membicarakan tentang program kartun kesukaan mereka di TV ataupun hal-hal lainnya yang selayaknya dibahas oleh anak-anak seusia mereka.
Tanpa terasa, waktu berputar hingga memasuki musim panas di negara itu. Kebetulan pada hari itu bertepatan dengan libur sekolah Gevio. Awalnya Erie sudah merencanakan sesuatu yang istimewa. Beberapa hari yang lalu ia dan keluarga kecilnya telah menghadiri acara penghargaan yang dilakukan di New York, di mana ia dinobatkan sebagai perancang busana pengantin terbaik melalui karyanya yang bernama Lazuardi atau yang berarti permata berwarna biru langit. Acara yang sangat membanggakan sekaligus mengharukan bagi Erie. Tidak hanya penobatan gelar padanya yang masih terbilang amatir dan baru dalam dunia fashion, Erie juga terharu atas apa yang dilakukan suami dan anaknya.
Setelah hari itu, Erie tidak lagi mau mengambil kontes apa pun. Ia ingin fokus pada pekerjaan dan keluarganya saja. Terlebih kejadian Gevio yang sakit secara mendadak, membuat Erie memutuskan untuk lebih mencurahkan waktunya pada anak semata wayangnya itu.
Seperti hari ini, di mana Erie mulai menyusun jadwal liburan dengan keluarganya. Apalagi mereka masih berada di Amerika Serikat sekarang. Erie berpikir, ini akan menjadi waktu yang pas bagi mereka untuk berlibur satu keluarga.
Akan tetapi, baru membicarakannya dengan Elden, mendadak suaminya itu membuat rencana yang diatur sedemikian rupa itu hancur berantakan.
“Kenapa lagi ini?” kata Erie bersungut-sungut. Ia menatap wajah Elden yang sedang tertunduk lemas. Amarah Erie membuat Elden tidak bisa berkutik. Sebab, sorotan dari kedua mata istrinya itu bak sorotan mata seekor singa yang merasa kesal karena buruannya direbut singa lain. Begitu tajam dan menusuk.
“Elden, aku hanya butuh waktumu seminggu. Ah, tidak. Kalau itu sulit, lima hari saja. Setidaknya berikan waktumu beberapa hari untukku dan anakmu!” gerutu Erie.
Elden mengambil napas dalam, mengendalikan diri dan mencoba meredakan amarah sang istri. Kemudian ia memberanikan diri mengangkat kepalanya dan tersenyum ringan ke arah Erie, yang menolak membalas senyumannya.
“Maafkan aku, sayang. Aku benar-benar lupa tentang liburan ini dan aku sudah terlanjur membuat janji dengan para investor pada hari itu,” ujar Elden pada akhirnya berhasil mengeluarkan kata-katanya setelah mendengar amarah yang dilontarkan oleh Erie. “Bagaimana kalau kita tunda saja liburannya? Liburan musim dingin saja mungkin?” sambungnya mencoba mencari alternatif lain.
Erie memejamkan mata rapat-rapat sebelum ia melemparkan lagi tatapan tajamnya. “Masalahnya Elden, di liburan musim dingin yang kau bilang itu, kita belum tentu bisa bertemu dengan tunangan Daniel! Coba pikirkan itu!” sahut perempuan itu.
Benar juga! Elden juga melupakan hal ini. Sekarang Daniel sedang berada di Indonesia, begitu pula dengan tunangannya. Adik kandungnya itu mengabari mereka tentang tunangannya dan berencana akan mengenalkannya pada mereka secara resmi.
Tangan Elden terangkat untuk memijat keningnya yang mulai terasa sakit. Sialan! Semuanya tidak akan menjadi berantakan kalau Mario ada di sampingnya. Sayangnya, laki-laki itu tidak ikut bersamanya dalam perjalanan ke New York kali ini. Selain harus mengurus kantor pusat di negara mereka, Mario juga harus mengurus sesuatu yang penting dan mendesak. Dan bisa dipastikan itu terkait dengan urusan istri rahasia dari laki-laki itu.
Kembali lagi ke masalah liburan. Demi apa pun, Elden ingin sekali berlibur dengan istri dan anaknya, sungguh! Biar bagaimana pun, Elden selalu ingin menjadi laki-laki yang bisa menemani orang-orang yang ia kasihi itu. Termasuk Elden juga ingin bertemu dengan kekasih dari adiknya. Elden kehilangan banyak moment bersama Daniel. Setidaknya untuk urusan asmara sang adik, Elden pun ingin ikut terlibat sedikit. Minimal memberi restu untuk menggantikan ketidakhadiran ibu kandung mereka.
XXXXX
Yuhuu, siap untuk bertemu dengan calon adik ipar Elden? Buat yang udah tahu dari novelku yang di app sebelah, boleh spoiler, tapi jangan banyak-banyak. Nanti aku gak ada bahan… Wkwkwk
Masih aku tunggu lho jejak like, vote, comment, tip dan ratenya. Jangan lupa ya… Danke ^^
By: Mei Shin Manalu (ig: meishinmanalu)
namun mnrtku. cerita terlalu panjang.
lbh baik berseri, sehingga mdh dibuat film bersepisode. dan mdh dipelajar pr anggota parlemen unt buat atau merevisi sebh uu.
di nkri, dg anggota parlemen yg terlalu banyak dg kw (kualitias) spt sekarang kok sbh mimpi bisa membuat uu apapun yg bagus dan berkualitas. kt gus dus, angg parlemen kita kan spt "taman kawak kawak😜maaaaaf
Udah lama aku gak baca novel, terus keinget Ceritanya Erie eh udah ada anaknya aja🦋🌼