Dan Dia rahasiakan, kita tak pernah sedikitpun tahu...
Dan Dia jaga, kita tak pernah sedikitpun menerka nya...
Kita selama ini hanya mengeluh sembari seolah jalani saja....
Fii Lauhim Mahfudz... kisah kehakikian kehidupan yang menyuguhkan segala cuplik kehidupan.
Seorang Habibah yang mencintai Habibi dalam diam, dan hanya bisa berdoa dengan berbagai usaha yang menggemaskan.
Di bumbui oleh lika-liku kehidupan yang apik, dengan berbagai kisah persahabatan, persaudaraan dan cinta ❤😘...
selamat membaca 🥰🥰🥰
bisa juga kalian dapatkan buku novelnya melalui online di link nulisbuku.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febby Sadin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerinduan Hati
Beribu misteri masih ada jutaan lagi, meski tak jauh berapa banyak kenangan yang
menyelimuti setiap ujung panjangnya tatapan mata. Sekian yang telah menemani akan di
abadikan dalam memori yang tak terhapuskan. Karena hati telah manjadi saksi segala
kebenaran. Dan yang terlupa pun akan teringat dengan sendirinya…
Seiring berjalannya waktu dan seiring pandangan jauh di ujung sana, hati meyakininya
dari adanya apa yang belum di ketahui. Tak pedulikan apapun yang terjadi nantinya, hati telah percaya…
Kepastian Allah, adalah suatu kebenaran. Janji Allah, adalah suatu keyakinan. Yang ada
dalam hati dan jiwa adalah suatu terkaan. Begitu pula janji seseorang, itu adalah kebenaran bagi yang bukan pengkhianat! Tidak ada kebohongan dari tatapan kedua matanya.
Hingga tak satu pun di buat risau hati olehnya karena kata-katanya, kecuali karena kerinduan itu sendiri untuk bisa bersua lagi dengan ketidak pastian.
Tetaplah pada hal yang tak akan berbeda, Allah tetap ada. Rasulullah tetap ada dan selalu
bersemayam dalam jiwa. Habibah tetap pula seorang jiwa pecinta pada apa yang seharusnya di cinta. Yang tak terlalu melebih-lebihkan pada hati, yang selalu memohon akan adanya penjagaan Nya…
Dia pun tak ada akan berubah dan tetap akanlah seorang penghafal ayat-ayatNya,
pengabdi takdir-takdirNya selagi takdir telah menuliskan demikian…
𝚁𝚒𝚗𝚍𝚞 𝚝𝚎𝚝𝚊𝚙 𝚔𝚞 𝚙𝚎𝚗𝚍𝚊𝚖, 𝚒𝚝𝚞 𝚝𝚊𝚔 𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚑𝚒𝚕𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚎𝚌𝚞𝚊𝚕𝚒 𝚍𝚊𝚝𝚊𝚗𝚐 𝚙𝚊𝚍𝚊 𝚜𝚊𝚊𝚝 𝚔𝚎𝚛𝚒𝚗𝚍𝚞𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚗𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚒𝚝𝚞 𝚝𝚎𝚛𝚘𝚋𝚊𝚝𝚒. 𝚃𝚊𝚝𝚊𝚙𝚊𝚗𝚔𝚞 𝚝𝚎𝚝𝚊𝚙 𝚍𝚊𝚝𝚊𝚛, 𝚒𝚝𝚞 𝚝𝚊𝚔 𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚋𝚊𝚑 𝚔𝚎𝚌𝚞𝚊𝚕𝚒 𝚝𝚊𝚔𝚍𝚒𝚛 𝚔𝚞 𝚛𝚞𝚋𝚊𝚑
𝚍𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚖𝚊𝚔𝚜𝚊 𝚞𝚗𝚝𝚞𝚔 𝚖𝚎𝚛𝚞𝚋𝚊𝚑𝚔𝚞 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚎𝚜𝚞𝚊𝚝𝚞 𝚖𝚎𝚛𝚞𝚋𝚊𝚑𝚔𝚞 𝚍𝚎𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚑𝚊𝚕 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚋𝚎𝚛𝚋𝚎𝚍𝚊.
𝙳𝚒 𝚑𝚊𝚝𝚒 𝚔𝚞 𝚜𝚒𝚖𝚙𝚊𝚗. 𝙳𝚒 𝚙𝚒𝚔𝚒𝚛𝚊𝚗 𝚔𝚞 𝚜𝚊𝚕𝚞𝚛𝚔𝚊𝚗. 𝙳𝚒 𝚖𝚊𝚝𝚊 𝚊𝚔𝚞 𝚙𝚊𝚗𝚌𝚊𝚛𝚔𝚊𝚗. 𝙳𝚒 𝚕𝚒𝚜𝚊𝚗 𝚔𝚞 𝚜𝚎𝚋𝚊𝚛𝚔𝚊𝚗.
𝙿𝚊𝚗𝚘𝚛𝚊𝚖𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚊𝚔 𝚋𝚎𝚛𝚋𝚎𝚍𝚊 𝚍𝚊𝚗 𝚝𝚎𝚝𝚊𝚙 𝚍𝚒𝚊, 𝚍𝚒𝚊 𝚍𝚊𝚗 𝙳𝚒𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚞 𝚁𝚒𝚗𝚍𝚞… 𝚖𝚎𝚜𝚔𝚒 𝚝𝚊𝚔 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚕𝚞 𝚔𝚞 𝚍𝚊𝚙𝚊𝚝, 𝚜𝚎𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔𝚗𝚢𝚊 𝚊𝚔𝚞 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚊𝚖𝚙𝚞 𝚖𝚒𝚕𝚒𝚔𝚒 𝚜𝚎𝚋𝚞𝚊𝚑 𝚙𝚎𝚛𝚊𝚜𝚊𝚊𝚗. 𝙿𝚎𝚛𝚊𝚜𝚊𝚊𝚗 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚗𝚝𝚞
𝚑𝚒𝚍𝚞𝚙𝚔𝚞 𝚖𝚎𝚗𝚢𝚎𝚜𝚞𝚊𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚑𝚊𝚝𝚒𝚔𝚞…
𝙺𝚞 𝚍𝚎𝚗𝚐𝚊𝚛 𝚝𝚊𝚔 𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚊𝚍𝚊 𝚕𝚊𝚐𝚒 𝚝𝚊𝚝𝚊𝚙𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚝𝚊𝚛𝚔𝚞 𝚍𝚊𝚗 𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚋𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚗𝚓𝚊𝚍𝚒 𝚋𝚎𝚛𝚋𝚒𝚗𝚊𝚛. 𝙺𝚞 𝚙𝚎𝚛𝚌𝚊𝚢𝚊𝚒 𝚒𝚝𝚞, 𝚔𝚊𝚛𝚎𝚗𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚍𝚎𝚝𝚒𝚔 𝚒𝚗𝚒 𝚊𝚔𝚞 𝚖𝚎𝚗𝚞𝚗𝚐𝚐𝚞 𝚊𝚙𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚔𝚞 𝚍𝚎𝚗𝚐𝚊𝚛.
Sangat mampu membuat hati menyerah akan penantian yang terjadi. Namun tanpa
terasa, air mata perlahan menetes basahi pipi. Tak terlihat oleh kedua matanya sebagaimana penantian itu tak terlihat. Namun kembali pada awal kekuatan yang dimilikinya,
perasaannya…
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, langsung menghambur lah, saling berpelukan lah keduanya, dan satu dari janji telah di rasakan menyejukkan hati bila tak ternodai
pengkhianatan.
Lama dalam kebisuan, kerinduan, keharuan, tangisan. Sesenggukan terdengar
menyesakkan. Terkadang hal bahagia pun begitu terasa menyesakkan hati bila di hadapi,
namun terasa perih bila tak terlampiaskan dalam hamburan kerinduan seperti yang kini
terjadi.
Keduanya masih terbawa arus kerinduan, terasa begitu beribu benar-benar beribu
perasaan yang ingin sekali terungkap. Terlebih saat baru tersadar ia ada satu janji lain yang
terlihat, tatapan itu pun hanya mampu membelalak tak percaya. Namun telah lama hati meyakini akan hal itu.
Dan saat pelukan telah mampu terlepas, satu kata mengawali pembicaraan dalam
ungkapan kerinduan,
“Adikku…”
Habibah masih belum mampu berkata-kata untuk menjawab, dia hanya menunggu kata
yang akan dia dengar kembali.
“Aku sangat merindukanmu, Habibah…
Dan saat terdengar satu ungkapan lagi, kembalilah Habibah membalas pelukan Sang
kakak, saudara kembar satu-satunya. Sembari berkata,
“Aku… jauh lebih rindu kakak…”
Rindu terobati, binar di mata semakin bersinar meski bekas air mata masih terlihat,
namun seolah itulah yang semakin menampakkan sinarnya. Sedangkan kini di tempat yang tak semewah yang di bayangkan, namun sejatinya tetaplah mewah bila hati sedang termewahi perasaan bahagia. Keduanya duduk berhadapan di kantor pondok. Habibah tak kunjung hilangkan rona bahagianya melihat Aby telah diliputi oleh kebahagiaan pula. Dan percakapan kedua bersaudara itu terus saja berlanjut seolah tak ada kebosanan antara keduanya.
“Bagaimana keadaan di kelas kuliahmu, dek?”
“Alhamdulillah telah satu minggu ini liburan semester,”
“Astaghfirulloh! Aku lupa kalau kuliahmu libur…” pekik Aby.
“Aku ingin bertanya, kak.”
“Silahkan,"
“Tapi, sebelum bertanya, aku ingin menanyakan hal lain.” Aby masih tetap mengangguk
mempersilahkan.
“Bagaimana kabar Ibu, kak?” dengan semangat Habibah tak ragu menanyakannya saat Aby mempersilahkan. Sedangkan mendengar pertanyaan Habibah, tertegun lah Aby olehnya.
Dengan sedikit menundukkan pandangan, Aby pun menjawab. “Aku tidak tahu bagaimana kabar Ibu…”
Langsung terkejutlah Habibah, “Apa maksud kakak?! Lalu…”
“Iya aku tahu, dek…” Aby langsung memotong. Habibah pun terdiam. Aby pun menjelaskan, “Tolong dengarkan aku dulu,” kini Aby angkat pandangannya dan membuatnya menatap Habibah.
“Sejak aku keluar rumah dan minta izin untuk mendatangimu, aku telah berjanji tidak
menghubungi Ibu tentang semua keadaanku yang sebenarnya… tapi aku hubungi Ibu sekedar menunaikan kewajiban sebagai seorang anak yang tak ingin ulangi kesalahan untuk yang
kedua kali…
Aku sembunyikan kabar tentangku yang kini, bahwa aku telah mampu berjalan lagi
dengan kedua kakiku… aku yakin Ibu disana tetap mendo’akanku, termasuk do’akan untuk
kebaikanku…”
Langsung lemas lah sekujur tubuh Habibah mendengar penjelasan Aby. Tulus niat Aby
tak di ragukan nya, dia sangat tak mengira sampai sebegitu nya pemikiran Sang kakak
terhadap kebahagiaan Ibu.
“Dan kak Aby.,..”
Sebelum Habibah menyelesaikan kata-katanya, Aby telah memahami apa yang akan di
tanyakan padanya. Dia langsung mengangguk-anggukkan kepala sembari menjawab,
“Iya… benar. Aku sengaja ingin berikan kejutan untuk Ibu di hari ulang tahunnya
nanti…”
Aby diam sejenak, dia tatap Habibah dalam-dalam, hingga membuat Habibah menoleh, lalu dia berkata,
“Dan aku harap kamu ikut bersamaku untuk pulang, rayakan ulang tahun Ibu di
rumah…”
Berdesir lah hati Habibah mendengar kata-kata dan niat mulya Sang kakak. Tak dapat dia
sembunyikan kebahagiaannya, namun sayangnya terungkap dalam hal lain. Perlahan setetes air matanya mengalir di pipinya, dia pun segera hapus air matanya, sembari perlahan namun dengan pasti, Habibah mengangguk mendengar ucapan kakaknya. Aby pun tersenyum merekah.
...****************...
yuuuk mmpir juga dikaryaku berjudul "menikah karena perjodohan (Haris dan Hana) " smoga berkenan, mksh 🥰🥰🥰
intip playboy mengejar cinta❤😘 yuk