NovelToon NovelToon
999 ISYARAT CINTA

999 ISYARAT CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Duda
Popularitas:556
Nilai: 5
Nama Author: Agung Khan

Bercerita tentang Kisah cinta Beda usua.
Bandung, pria berusia empat puluh tahun, telah lama menutup hatinya setelah masa lalu yang pahit membuatnya percaya bahwa cinta bukan lagi bagian dari hidupnya. Hingga ia bertemu Luna, guru muda berusia dua puluh empat tahun yang masih memiliki seorang tunangan. Pertemuan mereka perlahan menumbuhkan benih cinta yang tak pernah mereka akui. Saat akhirnya Bandung menyatakan perasaannya, Luna hanya mengangguk dan memberikan satu syarat: buktikan cintamu dengan seribu kata cinta dalam tiga bulan. Bandung pun memulai tantangan itu, meski ia tak pandai merangkai kata romantis. Namun setelah mengirim kata cinta ke-999, Luna tiba-tiba menghilang tanpa membaca atau membalas pesan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAGIAN YANG HILANG

Hampir satu minggu Luna tidak datang ke basecamp untuk mengajar anak-anak.

Beberapa hari sebelumnya, perempuan itu sempat memberi tahu mereka bahwa ada keperluan yang membuatnya tidak bisa mengajar selama satu atau dua minggu. Anak-anak menerima penjelasan itu tanpa banyak bertanya. Mereka sudah terbiasa dengan berbagai kesibukan dan urusan masing-masing.

Hari-hari pun tetap berjalan seperti biasa.

Anak-anak jalanan masih sibuk dengan kegiatan mereka. Oreo dan Jessica tetap pergi ke lapak dagangan di Asemka setiap pulang sekolah. Dola mengurus berbagai keperluan, sementara Boril dan Deden kembali dengan cerita-cerita baru dari pekerjaan mereka.

Bandung juga tetap menyibukkan diri dengan lukisan-lukisannya.

Setidaknya, begitulah yang terlihat dari luar.

Ada sesuatu yang tidak beres dengan pekerjaannya belakangan ini. Beberapa lukisan yang seharusnya sudah selesai justru terbengkalai. Sebagian masih berupa sketsa kasar. Sebagian lainnya sudah memiliki bentuk yang jelas, tetapi belum tersentuh warna. Bahkan ada beberapa kanvas yang sudah disiapkan lengkap dengan gambar referensi, tetapi sama sekali belum dia kerjakan.

Padahal, biasanya Bandung tidak pernah kesulitan menemukan sesuatu untuk dilukis.

Kadang dia hanya perlu memandangi sebuah objek selama beberapa menit. Kadang cukup melihat ekspresi seseorang, suasana jalanan, atau bayangan yang jatuh di dinding. Tangannya akan bergerak sendiri, seolah-olah ada sesuatu di dalam kepalanya yang mendesak untuk dituangkan ke atas kanvas.

Namun, pagi itu berbeda.

Bandung duduk menghadap sebuah kanvas kosong. Tangan kanannya memegang kuas, sementara tangan kirinya menggenggam segelas kopi. Sesekali dia menyeruput minumannya, memandangi gambar referensi, lalu kembali menatap kanvas di hadapannya.

Lima belas menit berlalu.

Tiga puluh menit.

Hampir satu jam.

Kanvas itu masih putih bersih.

Bahkan kuas di tangannya belum tersentuh cat sedikit pun.

Bandung meletakkan gelas kopi di meja, kemudian memandangi gambar referensi yang sejak tadi menjadi sasaran tatapannya.

Dia menggaruk kepala.

Memiringkan kepala ke kanan.

Lalu ke kiri.

Menggaruk kepala lagi.

“Apaan, sih?” gumamnya.

Dia mendekatkan wajahnya ke gambar itu, memperhatikan setiap detailnya. Semakin lama dia menatap, semakin aneh pula perasaannya.

Tiba-tiba, wajah dalam gambar itu seolah-olah tersenyum.

Bukan senyum biasa. Senyum itu terasa begitu akrab, seperti senyum seseorang yang sudah sering dia lihat, seseorang yang belakangan ini entah mengapa terus muncul dalam pikirannya.

Rambut yang menutupi sebagian wajahnya seolah disibakkan oleh sebuah tangan. Kemudian, tangan itu seperti melambai kecil ke arahnya.

Bandung terdiam.

“Anjay!”

Dia mengedipkan mata beberapa kali.

“Kok jadi Luna, sih?”

Dia kembali menatap gambar tersebut.

Diam.

Tidak ada tangan yang bergerak. Tidak ada rambut yang tersibak. Tidak ada siapa-siapa yang melambai kepadanya.

Hanya sebuah gambar referensi yang menempel di hadapannya.

Bandung mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

“Sial! Otak gue kenapa, sih? Jelas-jelas fotonya diam!”

Dia melirik kanvas kosong, lalu menatap jam dinding.

Hampir satu jam berlalu dan dia belum menghasilkan apa-apa.

“Gila! Satu jam cuma buat bengong. Inspirasi gue ke mana, sih?”

Dia meletakkan kuas, berdiri, lalu mengambil sebungkus rokok. Sebatang rokok diselipkan di antara bibirnya sebelum dia menyalakannya.

Bandung kembali duduk di depan kanvas.

Dia mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap perlahan. Pandangannya mengikuti gumpalan asap yang berputar sebelum akhirnya menyebar di udara.

Namun, entah kenapa, gumpalan asap itu kembali menyerupai sebuah wajah.

Wajah seorang perempuan.

Wajah yang tersenyum kepadanya.

“Luna?”

Bandung langsung menegakkan tubuh.

“Anjir! Kenapa Luna lagi, sih?”

Dia menunjuk wajahnya sendiri seolah sedang memarahi seseorang yang berdiri di hadapannya.

“Gue nggak percaya sama omongan Jessica kalau gue jatuh cinta sama Luna. Nggak mungkin!”

Dia menggeleng keras.

“Gue udah janji nggak bakal jatuh cinta lagi. Titik!”

Bandung mengisap rokoknya sekali lagi, kemudian menambahkan dengan nada yang terdengar semakin meyakinkan dirinya sendiri.

“Lagipula, Luna itu masih muda. Dia lebih pantas jadi anak gue daripada jadi pacar gue.”

Kalimat itu seharusnya cukup untuk mengakhiri persoalan.

Seharusnya.

Namun, setelah mengatakannya, Bandung justru terdiam.

Dia menatap kanvas kosong di hadapannya. Untuk beberapa saat, pikirannya melayang tanpa arah. Ada sesuatu yang terasa berbeda, sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Sejak Luna tidak datang ke galeri, suasana di tempat itu memang masih sama. Anak-anak masih ribut. Dola masih suka menggodanya. Boril masih punya seribu satu cara untuk membuat orang lain kesal. Jessica juga masih mondar-mandir mengurus berbagai urusan.

Tidak ada yang benar-benar berubah.

Lalu, kenapa rasanya ada sesuatu yang hilang?

Bandung mengerutkan kening.

Apa yang hilang?

Dia mencoba mengingat kegiatan beberapa hari terakhir. Semuanya berjalan seperti biasa. Dia bekerja, melukis, mengurus berbagai keperluan, bahkan sesekali menghabiskan waktu bersama Oreo.

Tidak ada masalah.

Tidak ada kejadian penting.

Tidak ada alasan untuk merasa kehilangan sesuatu.

Tapi kenapa dia terus memikirkan perempuan itu?

Bandung mengembuskan napas panjang, lalu mematikan rokoknya.

“Ah, paling gue cuma kurang tidur.”

Dia melirik jam dinding lagi.

Pukul setengah sepuluh pagi.

Entah apa yang merasukinya, tiba-tiba dia berdiri, mengambil kunci mobil, lalu berjalan keluar galeri.

Beberapa menit kemudian, Ferrari merahnya melaju meninggalkan halaman.

Bandung menghentikan mobilnya di dekat deretan pedagang kaki lima, tidak jauh dari gerbang sekolah Oreo.

Dia memarkirkan Ferrari seperti biasa, lalu turun dengan kacamata hitam bertengger di wajahnya.

Suasana masih cukup sepi. Belum banyak ibu-ibu yang datang untuk menjemput anak-anak mereka. Penjual es krim sedang merapikan dagangannya, sementara tukang ketoprak baru saja menyiapkan beberapa bahan di gerobaknya.

Begitu melihat Bandung, kedua pedagang itu langsung menghampiri.

“Waduh, Bos! Ke mana aja? Udah hampir seminggu nggak kelihatan!” seru penjual es krim.

Bandung menyeringai.

“Gue pergi ke bulan, Bang. Cuma nyasar pas mau pulang.”

“Pantesan!” sahut tukang ketoprak. “Soalnya gara-gara Bos nggak pernah datang, ada guru yang galau tiap hari.”

Langkah Bandung yang hendak membuka pintu mobil mendadak terhenti.

Dia menoleh.

“Guru?” tanyanya. “Apa hubungannya guru sama gue?”

Tukang ketoprak tersenyum penuh arti.

“Itu, loh, Bos. Bu guru yang suka pergi sama Bu Jessica.”

Bandung terdiam sesaat.

Luna.

Nama itu langsung muncul di kepalanya tanpa perlu dipanggil.

Dia melepas kacamata hitamnya, lalu meletakkannya di atas kepala.

“Oh, Bu guru itu?”

“Lah, emang siapa lagi?” sahut penjual es krim. “Memangnya Bos punya guru lain?”

Bandung hampir saja bertanya lebih jauh, tetapi beberapa ibu-ibu mulai berdatangan. Begitu melihat Ferrari merahnya, mereka langsung menghampiri para pedagang dengan wajah sumringah.

“Wah, si Bos udah datang!”

“Bos, hari ini ada traktiran, nggak?”

Bandung menghela napas, pura-pura pasrah.

“Ya ampun, Bu. Gue baru datang juga udah ditagih.”

“Namanya juga rezeki, Bos!”

Bandung hanya tertawa kecil. Dia mengangkat tangan, memberi isyarat kepada para pedagang agar melayani pesanan ibu-ibu itu.

Tidak lama kemudian, seorang ibu menghampirinya sambil membawa es krim. Senyumnya lebar, dengan gaya bicara yang sengaja dibuat manja.

“Bos, ke mana aja? Kok nggak pernah kelihatan? Bu Luna sering nanyain, loh!”

Bandung menerima es krim itu.

Wajahnya tetap santai, tetapi matanya sedikit berubah.

“Bu Luna nanyain gue?”

“Iya, Bos.”

“Oh.”

Hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya.

Dia menunduk, memperhatikan es krim di tangannya seolah benda itu jauh lebih menarik daripada informasi yang baru saja didengarnya.

Padahal, di dalam kepalanya, sebuah pertanyaan langsung muncul.

Luna nanyain gue buat apa?

Mungkin perempuan itu ingin menanyakan sesuatu tentang Oreo.

Mungkin ada urusan dengan anak-anak di basecamp.

Atau mungkin cuma kebetulan.

Bandung mengangguk kecil, berusaha menerima penjelasan terakhir itu.

Ya, paling juga karena urusan anak-anak.

Namun, sebelum dia sempat mengalihkan pikirannya, ibu tadi kembali membuka mulut.

“Bos, Bu Luna itu pacarnya Bos, ya?”

Bandung hampir tersedak es krimnya sendiri.

“Hah?”

“Ya, soalnya Bos udah berumur, Bu Luna masih muda. Terus, kayaknya dia juga perhatian sama Oreo. Bagus lagi, Jessica juga akrab sama dia. Cocok, dong, Bos!”

Beberapa ibu lain langsung mengangguk setuju.

“Iya, bener! Daripada Bos sendirian terus.”

“Lagipula, Bu Luna itu cantik dan sopan.”

Bandung menggeleng sambil tertawa canggung.

“Apaan, sih, Ibu-Ibu? Ngaco aja.”

“Loh, kok ngaco? Kami kan cuma mendoakan!”

Bandung tidak menjawab. Dia kembali melirik tukang ketoprak, lalu akhirnya menyerah pada rasa penasarannya sendiri.

“Bang, si Ceking pernah bilang apa soal gue?”

Penjual es krim langsung tertawa.

“Nah, ketahuan! Katanya nggak peduli, tapi sekarang malah nanya.”

“Siapa yang nggak peduli?” Bandung menyahut cepat. “Gue cuma nanya doang.”

“Iya, iya, Bos. Kami percaya.”

Tukang ketoprak ikut tertawa sebelum menjawab, “Nggak banyak, sih. Bu Luna itu orangnya agak pendiam kalau ngomongin dirinya sendiri. Tapi pernah bilang kalau Bos itu orangnya seru.”

Bandung terdiam.

Gue seru?

Dia mengulang kalimat itu dalam hati.

Entah kenapa, sudut bibirnya bergerak naik tanpa diminta.

Seru apanya, coba? Gue juga biasa aja.

Namun, senyum kecil itu tidak kunjung hilang.

Bandung buru-buru mengangkat tangannya.

“Bang, gue minta es krim lagi, dong. Kalau masih ada yang hangat, boleh.”

Para ibu langsung tertawa terbahak-bahak.

“Lah, Bos! Yang hangat itu hati orang jatuh cinta, bukan es krim!”

“Kalau es krim di mana-mana juga beku!”

Bandung memasang wajah sok serius.

“Ah, Mpok bisa aja. Jatuh itu nyungsep, bonyok juga iya. Gimana mau anget rasanya?”

Tawa kembali pecah di antara para pedagang dan ibu-ibu.

Bandung ikut tertawa, tetapi kali ini tawanya terasa berbeda. Dia sendiri tidak tahu kenapa mendengar nama Luna saja sudah cukup membuat suasana hatinya berubah.

Padahal, beberapa menit sebelumnya, dia datang dengan alasan yang bahkan tidak bisa dijelaskannya sendiri.

Dia hanya ingin keluar dari galeri.

Ingin mencari suasana lain.

Atau mungkin ingin memastikan sesuatu.

Tapi memastikan apa?

Bandung tidak menemukan jawabannya.

Waktu terus berjalan. Para ibu semakin ramai berkumpul di depan gerbang sekolah. Beberapa mengobrol, sebagian memesan makanan, sementara yang lain sesekali melirik Ferrari merah yang terparkir di pinggir jalan.

Bandung berdiri sambil menikmati es krimnya. Sesekali dia ikut menanggapi candaan mereka, tetapi pandangannya berulang kali kembali tertuju pada gerbang sekolah yang masih tertutup.

Dia melihat jam tangannya.

Masih ada waktu sebelum anak-anak keluar.

Bandung menyandarkan tubuhnya pada mobil.

Ngapain juga gue ke sini pagi-pagi?

Dia mengusap dagunya.

Oreo juga belum pulang. Gue nggak punya urusan apa-apa di sini.

Matanya kembali menatap gerbang.

Kalau Luna nggak datang ke basecamp, ya memang dia lagi ada urusan. Terus kenapa?

Dia menghela napas.

Toh, gue juga nggak pernah nyuruh dia datang setiap hari.

Bandung terdiam sejenak.

Lalu, tanpa sadar, dia kembali memeriksa jam tangannya.

Sial.

Kenapa waktu berjalan begitu lambat?

Dia mengambil ponsel dari saku, membuka layar, lalu menatapnya beberapa detik. Jarinya sempat bergerak seolah ingin membuka sesuatu, tetapi akhirnya dia mengunci layar kembali.

Tidak ada pesan yang perlu dibaca.

Tidak ada panggilan yang perlu dijawab.

Tidak ada alasan untuk terus memegang ponsel itu.

Bandung memasukkannya kembali ke saku.

Di hadapannya, gerbang sekolah masih tertutup.

Di sekelilingnya, suara pedagang dan ibu-ibu terus bersahutan.

Semuanya berjalan seperti biasa.

Hanya Bandung yang mulai merasa bahwa ada sesuatu yang tidak lagi sama.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia tidak tahu bagaimana cara mengisi bagian kosong yang muncul di dalam dirinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!