Nara Askiya, gadis cantik yang memiliki tubuh tinggi dan menawan, tak salah jika banyak laki-laki yang mendambakannya, ia terkenal sopan anggun dan cerdas, berprofesi sebagai seorang pengawas di sebuah mall terkenal di kota itu.
namun nasib hidupnya tak se indah gambaran dirinya, ketika ia menikah dengan kekasih yang ia cintai dan sangat ia dambakan.
penghianatan mengubah hidupnya saat acara ijab akan di laksanakan, ia harus menelan kepahitan saat tahu sang kekasih pergi meninggalkannya tanpa aba-aba tanpa ucapan tanpa penjelasan.
Namun, di tengah kepedihan itu... ada seorang laki-laki gagah yang rela menutupi malu keluarganya di hari yang seharusnya bahagia bagi Nara, semua sempat mendapat perdebatan namun akhirnya Nara menerima laki-laki itu' dialah Deon Satya, laki-laki yang tak Nara ketahui adalah seorang pemilik mall tempatnya bekerja yang hidupnya memilih sederhana. bagaimana kehidupan Nara dan Deon usai menikah tanpa rasa cinta dan mengenal? apakah Nara akan menerima Deon...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERHATIAN NARA
Namun, melihat Nara yang tampak kelelahan dan cemas, ia memilih tidak memperpanjang masalah.
Setelah memastikan luka mereka sudah dibersihkan dan mendapatkan penanganan, Deon mengajak Nara pulang dengan hati-hati.
Sepanjang perjalanan, Nara beberapa kali mengingatkan Deon agar tidak mengendarai motor terlalu cepat. Kali ini, Deon menurut tanpa membantah.
Sesampainya di rumah, Nara segera membantu suaminya masuk.
“kamu, jalan hati-hati Deon. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa,” katanya sambil menuntun Deon ke kamar.
“Aku masih bisa jalan sendiri, Ra.”
“Aku tahu kamu masih bisa jalan. Tapi bukan berarti kamu harus memaksakan diri.”
Deon tersenyum kecil. Entah mengapa, mendengar Nara mengomel karena mengkhawatirkannya justru membuat hatinya hangat.
Setelah membantu Deon berbaring, Nara mengambil air minum dan memastikan obat yang diberikan dokter tersimpan dengan baik.
“Kamu istirahat dulu. aku mau ganti pakaianku."
Deon mengangguk. Sementara Nara meninggalkan Deon sejenak. Tak lama Nara keluar dari kamar mandi, ia segera mengambilkan pakaian Deon dari lemari dan membantu Deon untuk berganti.
"kamu duduk dulu," ucap Nara pada Deon.
Deon bangun perlahan sembari menahan nyeri di keningnya.
"sakit?" tanya Nara.
"sedikit," jawab Deon.
Saat Nara akan menggantikan pakaian, tatapan mereka bertemu. Deon merasakan ada kehangatan.
Selesai menggantikan pakaian Deon, Nara beranjak dan segera mengambil bantal untuknya tidur di sofa.
“Ra, kamu mau tidur di mana?” tanya Deon.
Nara menoleh. “Di sofa. Kenapa?”
“kepalaku masih pusing. kamu tidak kasihan sama aku, Ra?"
Nara terdiam. Ia tahu Deon tidak sedang mencari kesempatan untuk mendekatinya. Laki-laki itu benar-benar terlihat kesakitan, dan entah mengapa, ia tidak tega membiarkannya sendirian.
“Baiklah. Tapi kamu jangan banyak bergerak, ya.”
Senyum Deon langsung merekah.
“Iya, Bu Dokter.”
Nara mendengus geli. “Aku serius, Deon!”
“Aku juga serius, Ra.”
Akhirnya, Nara berbaring di sampingnya. Mereka menjaga jarak seperti malam sebelumnya, tetapi kali ini Nara sesekali melirik wajah suaminya untuk memastikan kondisinya baik-baik saja.
Ketika Deon mengubah posisi tidurnya, mata mereka tanpa sengaja bertemu.
Untuk beberapa saat, keduanya terdiam. Tatapan Deon melembut. Wajah Nara yang berada cukup dekat dengannya membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ada keinginan untuk mengulurkan tangan, menyentuh jemari istrinya, atau sekadar membelai rambut yang jatuh di dekat pipinya.
Namun, ia mengurungkan niat itu. Ia tidak ingin Nara merasa terpaksa. Baginya, perhatian yang diberikan perempuan itu malam ini sudah lebih dari cukup.
“Kenapa melihatku begitu?” tanya Nara lirih, mulai salah tingkah.
Deon tersenyum tipis. “Enggak apa-apa. Aku cuma bersyukur kamu tidak terluka parah.”
Nara menunduk. “Aku juga bersyukur kamu baik-baik saja.”
Ia terdiam sebentar sebelum melanjutkan dengan suara lebih pelan.
“Maaf, ya, Deon. Aku masih belum terbiasa dengan semua ini. Aku belum merasa siap untuk terlalu dekat denganmu.”
Deon menatapnya penuh pengertian.
“Kamu enggak perlu minta maaf, Ra. Aku tahu kita menikah dalam keadaan yang tidak pernah kamu bayangkan. Aku tidak akan memaksamu melakukan sesuatu yang belum kamu inginkan.”
Nara mengangkat wajahnya. Ada kelegaan yang terasa memenuhi dadanya.
“Terima kasih sudah mengerti.”
Deon mengangguk, lalu memejamkan mata.
“Sekarang tidur. Besok kita pikirkan lagi semuanya.”
Nara memperhatikan wajah suaminya beberapa saat sebelum ikut memejamkan mata. Tanpa sadar, ia menarik selimut hingga menutupi tubuh Deon dengan lebih baik.
Malam itu, mereka tertidur berdampingan. Tidak ada pelukan atau sentuhan berlebihan, tetapi perhatian kecil Nara membuat Deon merasa bahwa perlahan-lahan, ia mulai mendapatkan tempat di hati istrinya.
...
Pagi datang tanpa terasa.
Cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai kamar. Jam sudah menunjukkan waktu yang lebih siang daripada biasanya ketika Deon membuka mata.
Kepalanya terasa pusing, terutama ketika ia mencoba mengubah posisi. Namun, ia tidak ingin membuat Nara khawatir.
"argh..." rintihnya
Di sampingnya, Nara ternyata sudah terbangun. Perempuan itu masih berbaring sambil memperhatikan wajah Deon.
“Deon, kamu sudah bangun?” tanyanya.
Deon menoleh dan tersenyum.
“Sudah. Kamu sendiri sejak kapan bangun?”
“Baru saja.” Nara segera duduk, kemudian menatap dahinya yang masih tertutup perban. “Bagaimana keadaanmu? Masih pusing?”
“Sedikit.”
Nara langsung terlihat cemas.
“Kalau begitu, kamu jangan bangun dulu. Aku ambilkan air, ya.”
Namun, ketika Nara hendak turun dari ranjang, Deon memegang ujung lengan bajunya dengan lembut.
“Ra, tunggu sebentar.”
Nara menoleh. “Kenapa?”
“Temani aku sebentar lagi, boleh?”
Permintaan sederhana itu membuat pipi Nara menghangat. Ia tidak menyangka Deon akan meminta hal seperti itu dengan suara selembut itu.
“Kan, aku cuma mau mengambil air.”
“Aku tahu. Tapi setelah itu, duduklah sebentar di sini. Aku masih ingin ditemani kamu.”
Nara menggigit bibir, berusaha menyembunyikan senyum.
“Kamu ini, ya. Sudah besar masih minta ditemani.”
Deon terkekeh pelan. “Memangnya salah kalau aku ingin dekat dengan istriku sendiri?”
Nara tidak langsung menjawab. Ia justru semakin salah tingkah.
Akhirnya, ia mengangguk kecil.
“Iya, nanti aku temani. Tapi sekarang aku mau ke kamar mandi dulu, lalu menyiapkan sarapan untuk kita.”
Deon melepaskan tangannya.
“Baiklah. Tapi jangan terlalu lama berdiri di dapur. Kalau kamu capek, istirahat.”
Nara mengangguk sebelum beranjak menuju kamar mandi.
Setelah membersihkan diri, ia pergi ke dapur dan menyiapkan sarapan sederhana. Sesekali pikirannya kembali pada Deon yang masih berbaring dengan luka di dahi.
Ia merasa bersalah karena selama ini lebih sering memikirkan perasaannya sendiri, sementara Deon terus berusaha membuatnya nyaman.
Tak lama kemudian, Nara membawa sarapan ke kamar. Ia meletakan nampan itu di atas nakas, lantas membantu Deon duduk dengan posisi yang nyaman,
“Makan dulu. Setelah ini aku bantu membersihkan badanmu.”
Deon menatapnya dengan senyum yang sulit disembunyikan.
“makasih Ra,"
“untuk apanya?"
"untuk semua ini, Ra."
Nara mengangguk.
Deon menghela nafas, tetapi segera meringis ketika dahinya terasa nyeri.
Nara seketika panik.
“Deon, kenapa? Sakit lagi?”
“Sedikit. Sudah enggak apa-apa.”
Dengan hati-hati, Nara membantu Deon makan, kemudian mengambil kain bersih dan air untuk menyeka wajahnya. Gerakannya lembut, sesekali berhenti agar tidak menyentuh bagian yang terluka.
Deon hanya diam memperhatikan perempuan itu.
Dalam hati, ia ingin waktu berjalan lebih lambat.
Sebab pagi itu, di tengah perhatian sederhana yang diberikan Nara, Deon merasakan sesuatu yang selama ini hanya berani ia harapkan.
Nara mulai peduli kepadanya bukan sekadar karena mereka terikat pernikahan, melainkan karena Nara benar-benar mengkhawatirkan keadaannya. Dan bagi Deon, itu adalah kesempatan kecil yang sangat berharga.
Ia belum tahu kapan Nara akan mencintainya. Namun, untuk saat ini, ia bersedia bersabar selama perempuan itu tetap memberinya kesempatan untuk berada di sisinya.