NovelToon NovelToon
Lidah Perak Tinta Darah

Lidah Perak Tinta Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di istana, kebohongan lebih mematikan daripada pedang.

Kian Arselio, anak haram jenius yang terbuang, menyewa Sura—seorang pencopet jalanan ulung—untuk menyamar sebagai putri bangsawan. Bersama, mereka merancang penipuan mematikan: memenangkan Turnamen Debat Kerajaan demi merebut kekuasaan.

Namun, kemenangan mereka justru melempar keduanya ke dalam sarang ular sesungguhnya. Terjebak di tengah konspirasi Perdana Menteri yang licik, intrik berdarah, dan sekte rahasia kuno, Kian dan Sura harus terus menipu untuk bertahan hidup.

Berbekal "lidah perak" Sura dan taktik jenius Kian, mampukah dua orang buangan ini meruntuhkan sebuah kerajaan? Mereka bukanlah pahlawan suci, melainkan pembohong yang siap mengukir sejarah dengan tinta darah.

Genre: Fantasy, Political Thriller, Heist/Con, Morally Grey MC, Fake Identity.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

BAB 22: Asal-Usul Debu

[Sudut Pandang: SURA]

Mansion Keluarga Arselio bukan sekadar rumah; itu adalah benteng kesunyian.

Bangunan itu berdiri megah di Distrik Emas, dikelilingi pagar besi setinggi tiga meter yang ujungnya runcing seperti tombak. Tidak ada penjaga yang terlihat, tapi Sura tahu itu tipuan. Keluarga Arselio tidak menggunakan penjaga manusia yang bisa disuap; mereka menggunakan Anjing Bayangan—ras anjing hasil rekayasa genetika yang tidak menggonggong, hanya menggigit.

"Kau yakin kartu ini masih aktif?" bisik Sura.

Mereka berjongkok di semak-semak di samping gerbang samping. Hujan gerimis turun, menyamarkan bau mereka dari anjing penjaga.

Kian memegang kartu akses curian milik Lysander dengan tangan gemetar. Wajahnya pucat, terlihat seperti hantu yang kembali ke kuburannya sendiri.

"Lysander terlalu sombong untuk mengganti kode keamanannya," jawab Kian. "Dia pikir tidak ada yang berani mencurinya."

Kian menempelkan kartu itu ke panel sensor tersembunyi di balik patung gargoyle.

BIP. Lampu indikator berubah hijau. Gerbang besi bergeser terbuka tanpa suara.

"Masuk," desis Kian. "Kita punya waktu satu jam sebelum patroli anjing lewat sini."

Mereka menyelinap melintasi taman luas yang dipangkas rapi, menghindari jalur kerikil agar tidak menimbulkan bunyi. Kian memimpin jalan dengan hapal di luar kepala. Tentu saja, ini adalah penjara masa kecilnya.

Mereka tiba di pintu belakang Sayap Timur—area terlarang tempat Duke Arselio (ayah Kian) menyimpan rahasia-rahasianya.

Perpustakaan Terlarang Keluarga Arselio berbau seperti uang tua dan dosa yang dikeringkan.

Rak-rak buku dari kayu eboni menjulang sampai ke langit-langit yang gelap, berisi ribuan dokumen sejarah kerajaan, akta tanah, dan catatan silsilah.

"Apa yang kita cari?" tanya Sura, menyalakan senter kecil yang dilapisi kain agar cahayanya redup.

"Kebenaran," kata Kian. Dia berjalan lurus ke arah sebuah lukisan besar yang menampilkan Duke Arselio muda sedang berburu rusa.

Kian meraba bingkai lukisan itu, menekan sebuah ukiran bunga mawar. Lukisan itu berayun terbuka, memperlihatkan sebuah brankas dinding.

"Ayahku paranoid," gumam Kian. "Dia mencatat setiap 'kesalahan' yang pernah dia buat dalam buku jurnal pribadinya. Dia menyebutnya Buku Pertobatan."

Kian memutar kombinasi brankas.

Kanan 10. Kiri 25. Kanan 05.

"Tanggal lahir Lysander," kata Kian pahit. "Kombinasi yang tidak pernah dia ganti."

Brankas terbuka. Di dalamnya, ada satu buku tebal bersampul kulit hitam yang sudah usang.

Kian mengambil buku itu. Dia membawanya ke meja baca, membukanya dengan hati-hati. Debu beterbangan.

"Tahun 1905," kata Kian, membalik halaman dengan cepat. "Tahun aku lahir."

Sura berdiri di sampingnya, ikut membaca. Halaman-halaman itu berisi catatan bisnis korup, suap menyuap menteri, dan skandal kecil.

Lalu, jari Kian berhenti di tanggal 12 November 1905.

Hanya ada satu entri pendek di sana. Ditulis dengan tinta merah, bukan hitam.

SUBJEK: ALTHEA.

Status: Dieliminasi.

Metode: Racun 'Air Mata Janda'.

Alasan: Mengetahui terlalu banyak tentang Proyek Gagak Hitam.

Catatan Tambahan: Anak laki-lakinya (Subjek K) selamat. Aku tidak tega membunuhnya. Dia memiliki mata ibunya. Aku akan membesarkannya di paviliun belakang. Biarkan dia hidup dalam aib sebagai anak haram.

Kian membeku. Napasnya tercekat di tenggorokan.

"Dieliminasi..." bisik Kian. Suaranya pecah. "Ibuku... dia tidak mati karena sakit saat melahirkan. Dia dibunuh."

Sura meremas bahu Kian. "Teruskan baca, Kian. Siapa Althea? Kenapa dia 'mengetahui terlalu banyak'?"

Kian membalik halaman sebelumnya. Mencari nama Althea.

Dia menemukannya di entri bulan Januari 1905.

Pertemuan dengan Althea Vane, mantan Kepala Intelijen Kerajaan Selatan yang runtuh. Wanita yang cerdas. Berbahaya. Dia menawarkan daftar mata-mata Selatan sebagai ganti suaka politik. Aku menerimanya. Dia menjadi gundikku untuk penyamaran.

Mata Sura membelalak.

"Ibumu bukan pelayan, Kian," kata Sura takjub. "Dia mantan Kepala Intelijen. Dia mata-mata elit."

"Dia menjual rahasia demi melindungiku..." gumam Kian. "Dan setelah Ayah mendapatkan semua informasinya... dia membunuhnya."

Kian membalik halaman lagi, mencari detail eksekusi. Di margin halaman tanggal 12 November, ada catatan kaki kecil. Tulisan tangan yang berbeda. Lebih rapi. Lebih halus.

Rekomendasi Eksekusi disetujui oleh: CASSIAN (Asisten Birokrat).

Saran Cassian: "Wanita seperti Althea tidak bisa dipelihara. Dia akan menggigit tangan tuannya. Bunuh dia sebelum dia membelot lagi."

Dunia Kian runtuh.

Cassian.

Lord Cassian. Perdana Menteri yang baru saja merekrut mereka. Atasan mereka sekarang.

Pria tua yang memberi makan ikan koi dengan senyum kakek baik hati itu adalah orang yang membisikkan perintah kematian ibunya dua puluh tahun lalu.

Kian menutup buku itu dengan keras. BAM!

"Dia..." Kian gemetar. Bukan karena sedih, tapi karena amarah yang begitu panas hingga Sura bisa merasakannya memancar dari tubuh Kian. "Dia ada di sana. Dia yang menyuruh Ayah."

"Kian, tenang," Sura mencoba menahan tangan Kian yang sudah mencengkeram pistol di balik jasnya. "Kita tidak bisa menyerang Cassian sekarang. Dia orang paling kuat di negara ini."

"Dia membunuh ibuku, Sura!" desis Kian, matanya berkilat liar. "Selama ini aku pikir ibuku hanyalah wanita lemah yang mati karena takdir. Ternyata dia dibunuh oleh birokrat sialan itu!"

"Dan ibumu adalah Kepala Intelijen!" Sura mengguncang bahu Kian. "Pikirkan! Kenapa Cassian membunuhnya? Karena dia takut! Ibumu tahu rahasia yang bisa menghancurkan karir Cassian saat itu!"

Sura menatap mata Kian tajam.

"Balas dendam terbaik bukan membunuh Cassian dengan peluru. Itu terlalu mudah. Balas dendam terbaik adalah menyelesaikan apa yang ibumu mulai: Membongkar rahasia yang membuat Cassian takut."

Kian terengah-engah. Perlahan, logika mulai kembali ke matanya. Dia menatap buku hitam itu.

"Kau benar," kata Kian dingin. "Ibuku mata-mata. Aku anaknya. Darah itu ada di nadiku."

Kian merobek halaman yang berisi catatan kematian ibunya. Dia melipatnya dan memasukkannya ke saku, tepat di sebelah dokumen korup Cassian yang dia ambil dari gudang arsip.

"Sekarang aku punya dua peluru untuk jantung Cassian," bisik Kian.

Tiba-tiba, lampu perpustakaan menyala terang benderang.

Kian dan Sura tersentak, berbalik cepat.

Di ambang pintu, berdiri seorang pria tua dengan jubah tidur beludru. Dia memegang tongkat jalan berkepala naga. Wajahnya mirip Kian, tapi lebih keras, lebih kejam, dan dipenuhi kerutan penyesalan.

Duke Arselio. Ayah Kian.

Dan di sampingnya, dua ekor Anjing Bayangan—monster hitam berotot tanpa mata—menggeram rendah, siap menerkam.

"Aku sudah menduga suatu hari tikus kecil akan kembali ke lubangnya," suara Duke Arselio berat dan lelah. "Kau lancang sekali menyentuh buku itu, Kian."

Sura mundur selangkah, tangannya meraba pisau di balik lengan bajunya. Mereka tertangkap basah.

"Aku hanya mengambil apa yang menjadi hakku, Ayah," jawab Kian, tidak mundur. Dia menatap ayahnya dengan kebencian murni. "Kebenaran tentang Althea."

Duke Arselio terdiam. Dia menatap robekan kertas di tangan Kian.

"Althea..." Duke menyebut nama itu dengan nada yang aneh. Bukan benci, tapi... rindu? "Dia wanita terhebat yang pernah kutemui. Dan kesalahan terbesarku."

"Kau membunuhnya," tuduh Kian.

"Aku melakukan apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan keluarga ini dari tuduhan pengkhianatan!" bentak Duke. "Cassian mengancam akan membongkar bahwa aku menyembunyikan mata-mata musuh jika aku tidak melenyapkannya! Aku memilih kau hidup, Kian! Aku menukar nyawanya dengan nyawamu!"

"Kau seharusnya membiarkanku mati bersamanya," kata Kian dingin.

"Mungkin," Duke Arselio mengetuk tongkatnya ke lantai. Anjing-anjing itu maju selangkah. "Tapi nasi sudah menjadi bubur. Sekarang, kembalikan kertas itu. Kau tidak tahu kekuatan apa yang sedang kau lawan. Cassian bukan manusia, dia iblis birokrasi."

"Aku tidak takut pada iblis," Kian menarik pistolnya, mengarahkannya bukan ke Duke, tapi ke lampu gantung kristal raksasa di atas kepala Duke.

"Sura, lari ke jendela!" teriak Kian.

DOR!

Kian menembak rantai lampu gantung.

Kristal seberat setengah ton itu jatuh berdebum. KRAANG!

Pecahan kaca meledak ke segala arah. Duke Arselio melompat mundur, terlindung oleh sofa, tapi anjing-anjing itu terkejut dan mundur.

"LARI!"

Sura melempar kursi ke jendela kaca besar. PRANG!

Mereka berdua melompat keluar dari lantai dua, mendarat berguling di semak-semak mawar yang berduri di bawah.

"Kejar mereka!" terdengar teriakan Duke dari atas.

Sirine mansion meraung.

Sura dan Kian berlari menembus malam, wajah dan tangan mereka tergores duri mawar, darah menetes di pakaian mahal mereka. Tapi Kian tidak merasakan sakit.

Di sakunya, dia membawa potongan sejarah ibunya.

Di hatinya, dia membawa tujuan baru.

Dia bukan lagi sekadar Penasihat Muda yang ingin kaya. Dia adalah anak seorang Mata-Mata yang ingin menuntut balas.

"Kita harus hati-hati, Kian," kata Sura di sela napas mereka saat berhasil melompati pagar. "Mulai besok, kita harus tersenyum pada pembunuh ibumu setiap pagi di kantor."

"Aku akan tersenyum," janji Kian, matanya gelap seperti malam tanpa bintang. "Aku akan menjadi penasihat terbaiknya. Aku akan membuatnya percaya padaku. Dan saat dia lengah... aku akan menjadi Air Mata Janda baginya."

Mereka menghilang ke dalam kegelapan kota, meninggalkan rumah masa lalu, menuju medan perang masa depan.

1
riana rayyan
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!