NovelToon NovelToon
Pesonaku Menarik Duda Samping Rumah

Pesonaku Menarik Duda Samping Rumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Romantis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

Merantau selama enam tahun di Kalimantan sebagai operator buldoser besar dan ekskavator pengeruk nikel—itulah profesi tangguh seorang Tara Pratiwi. Selama itu pula, ia bekerja keras menjadi "pesuruh" andalan bagi bos-bos asing bermata sipit di area pertambangan.

​Tara pikir, saat ia pulang kampung nanti, semuanya akan tetap sama seperti saat ia tinggalkan dulu. Oh, tentu saja dugaan itu salah besar! Rupa-rupanya, kompleks perumahan tempat tinggal kedua orang tuanya kini sudah sangat padat, berimpitan dengan tetangga-tetangga baru di sisi kanan dan kiri rumah.

​Hingga akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Cakrawala—seorang duda cerai mati dengan satu anak laki-laki super bandel yang siap mengusili hari-hari tenang Tara.

​Tara mengacak rambutnya frustrasi. "Haduh, pusing, pusing! Alamat aku pergi nunggang ekskavator lagi ini mah kalau begini caranya!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aurane Mirip CEO Dracin!

Malam itu, setelah para tamu telah selesai memakan hidangan yang disajikan, mereka lekas bersamaan untuk berjalan pulang. Yang tersisa hanya sisa keluarga inti Cakra, dan beberapa ibu-ibu yang tugasnya akan mencuci piring di dapur.

​Kini Tara dan Cakra sedang duduk bersama di depan TV. Keduanya tampak asyik mengobrol nikmat berdua... Sedangkan di ruang tamu, kedua orang tua dari masing-masing pihak masih asyik juga bercengkrama memecah keheningan malam.

​"Kalau begitu, kita mau langsung pamitan ini... Sudah malam sekali," ujar Pak Ade santai sembari membetulkan letak duduknya.

​Pak Anton dan istrinya kompak mengangguk paham.

​"Loh, Cakra mana?" Tanya Pak Ade mendadak. Kepalanya celingukan mencari keberadaan anak laki-lakinya itu, namun tak menemukan batang hidungnya di ruang tamu.

​"Di dalam mungkin," jawab Bu Hayati memberi tahu.

​"Cak!... Cakra!" Panggil Pak Ade dengan suara lantang khasnya.

​Cakra yang mendengar panggilan bapaknya seketika terperanjat kaget...

​Panggilan Pak Ade yang menggelegar sukses memutus keasyikan Cakra dan Tara yang lagi berduaan di depan TV!

​"Suara Bapak, Mas?" Tanya Tara terkejut, refleks menghentikan obrolannya.

​Cakra menoleh santai. Pria besar itu mengelus lembut tangan Tara yang berada dalam genggamannya, seolah menenangkan kepanikan wanita di sampingnya.

​"Yuk, ke depan." Ucap Cakra lembut.

​Tara mengangguk. Keduanya kini sama-sama bangkit berdiri, lalu berjalan bersama menuju ruang tamu depan.

​"Kenapa, Pak?" Tanya Cakra begitu sampai.

​Orang-orang di ruang tamu seketika menoleh, melihat ke arah Cakra dan pandangan mereka langsung tertuju ke arah tangannya yang masih asyik menggenggam erat jemari lentik Tara.

​"Kau ini? Lepaskan dulu itu tangan Tara. Kita sudah mau pulang... kau mau diam di sini? Belum sah menikah... pulang ko!" Suruh Pak Ade sinis memelototi anak laki-lakinya.

​Cakra melihat ke arah tangannya sendiri yang masih menggenggam erat tangan Tara. Pria itu lalu melihat ke arah keluarganya tanpa merasa bersalah sedikit pun.

​"Kalau Bapak sama Ibuk mau pulang, duluan saja... Rumah Cakra kan di sebelah, jadi biar semalaman Cakra di sini ndak masalah." Ujar pria itu teramat santai. Dia bahkan mencoba mendudukkan kembali tubuh besarnya di lantai, lalu menyuruh tunangannya untuk ikut duduk kembali di sampingnya.

​Pak Ade dan Bu Mega hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah ajaib anak mereka.

​"Terserah mi ko!" Ucap Pak Ade tak peduli lagi. "Ton, kalau begitu... kami pulang dulu ya! Sampai ketemu nanti tiga minggu lagi," ucap Pak Ade lanjut memeluk hangat tubuh ayah Tara.

​Tara yang melihat pemandangan itu mengerutkan dahi heran. 'Bapak dan Pak Ade udah se-dekat itu ya?' Tanyanya penuh rasa penasaran dalam hati.

​"Nak Tara, Ibuk pulang dulu ya... jaga diri, sampai ketemu lagi nanti." Ucap Bu Mega lembut nan ramah.

​"Oh iya, Buk! Hati-hati di jalan, Ibuk." Ucap Tara menyalimi takzim tangan Bu Mega...

​Lanjut menyalimi tangan Pak Ade, dan terakhir tangan seorang gadis muda berkerudung pasmina warna mahogani...

​"Mbak Tara," sapanya ramah.

​Tara sempat bingung sejenak, wanita itu menoleh meminta penjelasan pada Cakra.

​"Caca!" Ucap Cakra memperkenalkan adiknya.

​"Oalah... Caca... Cantik banget..." Puji Tara tulus.

​Tapi di saat yang sama, pikiran Tara mendadak jadi reminder sendiri... Melihat keluarga Cakra, perasaannya ndak ada yang lepas hijab, rata-rata berhijab semua! Calon ibu mertuanya juga sama, tipe-tipe ibu majelis taklim... Apalagi Pak Ade, bong sudah haji-haji... Itu songkok putih perasaan nengger bae di kepalanya, padahal bajunya pakai tema warna mahogani dan celana hitam... Huaaaa, pengen nangissss! 😭

​"Makasih, Mbak! Mbak Tara juga cantik loh... Kulit'e mulus temen..." Puji Caca balik. Gadis yang berumur dua tahun lebih muda di bawahnya itu dengan takzim menyalimi tangan Tara.

​"Hati-hati di jalan, Pak!" Ucap Pak Anton melepas kepergian tamunya.

​Rombongan keluarga itu mengangguk paham... Dan Tara hanya dapat melihat kepergian mobil keluarga itu dari balik jendela rumahnya.

​"Aduh! Bisa napas deh..." Ucapnya lega setengah mati.

​Cakra menoleh heran. "Loh, emang dari tadi ndak napas tah?" Tanya Cakra bingung.

​Tara menoleh, wanita itu menekuk wajahnya sebal. "Napas, tapi ya gitu... kayak ditimpa beban segede gunung!" Keluhnya jujur.

​Cakra hanya tersenyum melihat kejelitan calon istrinya... Pria itu lalu menoleh ke arah pintu depan tempat Pak Anton dan Buk Hayati kembali masuk. Di tangan Buk Hayati, tampak menggandeng erat tangan kecil Candra.

​"Loh, Can! Ndak ikut Kakekmu tadi tah?" Tanya Cakra heran melihat anaknya masih di sana.

​"Ndak mau!..." Jawab Candra cepat sambil makin mengeratkan pelukannya di tangan Buk Hayati.

​Tara dan Cakra saling melempar pandang. Sedangkan Buk Hayati dan Pak Anton hanya menahan senyum geli melihat tingkah bocah itu...

​"Can! Mamakmu bukan Mbah!... Itu calon mamakmu, Tara." Ucap Pak Anton berucap serius tapi menahan tawa.

​Candra terdiam seketika. Bocah itu menoleh pelan pada Tara. Dia terlihat malu-malu... membuat Tara yang biasanya ndak suka sama anak kecil mendadak jadi gemas dibuatnya.

​"Sini, Can..." Panggil Tara lembut sembari melambaikan tangan.

​Candra menggeleng cepat... Bocah itu lebih memilih lari terbirit-birit ke dalam menuju ruang tengah!

​"Anakmu salting!" Ucap Tara menahan tawa geli.

​Cakra hanya menahan senyum melihat tingkah putra kecilnya...

​Malam itu, setelah jam menunjukkan pukul 10 malam, Cakra akhirnya berpamitan pada ayah dan ibu Tara, lalu berjalan pulang ke rumah miliknya yang berada tepat di sebelah rumah Tara.

•♡•♡•♡•

Pagi ini kediaman Pak Anton terlihat seperti hari-hari biasa... Hanya saja gitu, sisa-sisa pesta semalam meninggalkan jejak-jejak sampah di mana-mana.

​Di halaman, sudah terlihat Buk Hayati yang sedang menyapu mengumpulkan sampah plastik dan sisa bungkus makanan. Sedangkan Pak Anton terlihat sibuk sedang mencuci mobil Avanza hitam miliknya di pinggir halaman.

​"Buk Sekdes! Butuh bantuan?" Tanya ibu-ibu yang kebetulan lewat, bertanya dengan sopan.

​Buk Hayati menoleh dari sapunya. "Eh, ndak perlu... Ini sudah mau selesai. Hitung-hitung olahraga pagi," jawab Buk Hayati tersenyum ramah. Dia cukup senang dengan perhatian dan keramahan para tetangganya.

​"Buk, acaranya Mbak Tara kapan?" Tanya salah satu dari mereka penasaran.

​Buk Hayati tersenyum mekar. "Bulan depan, tanggal 7... Sampean semuanya jangan lupa pada datang ya! Aku mau buat hajatan besar..." Ujar Buk Hayati berkelakar bangga.

​"Wah, harus itu, Buk!... Wong anak satu-satunya, harus besar acaranya. Bila perlu pakai tenda yang 12 lokal saja!" Jawab Eni bersemangat mendengarnya.

​Buk Hayati mengangguk-angguk setuju. Obrolan pagi itu berjalan ngalor-ngidul membuat suasana halaman makin bising...

​Sampai pembicaraan mereka terhenti seketika kala sebuah mobil hitam tertutup berhenti tepat di depan rumah Cakra. Tak lama kemudian, Cakrawala terlihat keluar dari pintu rumahnya. Pakaiannya bukan lagi seragam satpam BRI, melainkan kemeja hitam dan celana kain hitam yang membungkus rapi tubuh atletisnya dari atas sampai bawah. Di tangannya tersampir jas cokelat dan tas dompet kecil yang senada. Wajah pria itu terlihat begitu serius. Di atas hidung mancungnya bertengger kacamata baca yang membuat ketampanannya makin meledak—berkali-kali lipat lebih ganteng!

​Saat berjalan melewati halaman rumahnya, Cakra tidak tahu kalau calon ibu mertuanya dan beberapa ibu-ibu di situ sedang terdiam membisu mengamatinya dari jauh... Sampai dia mendengar suara keras anaknya memanggil dari halaman sebelah.

​"Pak!" Panggil Candra lantang.

​Cakra menghentikan langkah kakinya, pria itu menoleh. Dia baru tersadar kalau di samping halaman ada Buk Hayati dan beberapa ibu-ibu yang terbengong-bengong menatapnya tanpa kedip.

​Cakra tersenyum ramah... Sikapnya langsung berbanding terbalik 180 derajat dari raut wajah serius nan tegap yang tadi dia tampilkan.

​"Ada apa, Can?" Tanya Cakra lembut.

​"Pak! Mamakku di dalam sakit perut!" Ucap Candra polos tanpa ditutup-tutupi sedikit pun.

​Mendengar kata "Mamak" disebut begitu lantang oleh Candra, ibu-ibu yang diam di situ seketika saling menyenggol lengan satu sama lain dengan heboh.

​"Sakit perut kenapa?" Tanya Cakra panik kecil. Pria itu lekas membuka pintu mobil lalu menaruh barang-barangnya di dalam jok.

​"Saya ke sebelah dulu," ucapnya pelan pada sopir di dalam mobil, namun masih cukup terdengar.

​Pria itu lalu berjalan memutar menuju halaman rumah calon mertuanya, melewati Buk Hayati yang tersenyum-senyum melihatnya. Sedangkan ibu-ibu di samping Buk Hayati hanya bisa saling senggol ndak jelas menahan gigit jari.

​"Walah, Buk! Aurane Mas Cakra koyo CEO-CEO di dracin itu loh..." Ucap Eni gemas setengah mati.

​"Opo? Ceo?..." Tanya Buk Hayati tak paham istilah asing itu.

​Eni mengangguk mantap. Tapi Ngatiah malah menepuk pelan lengan Eni.

​"Bukan Ceo! Tapi C-E-O... Huh, ndak ngerti Inggris sampean nih..." Tutur Ngatiah meluruskan pelafalannya.

​"Halah, sama ae!" Ucap Eni tak mau kalah.

​"Hus, kalian ini... malah bicara sembarangan. Calon mantuku kan memang CEO pabrik gula," ucap Buk Hayati membocorkan status asli calon mantunya, sembari menahan tersenyum senang...

​Bayangkan saja, kalau harga gula mencapai 19 ribu per kilo, lalu kalau sehari bisa menjual sampai berton-ton gula pasir... Waduh! Apa ndak kaya raya nanti mantuku?

​'Mantep men!' Pujinya bangga dalam hati.

1
rurry Irianty
sengaja d kempesin pak Anton tuh tar😄
rurry Irianty
mungkin Candra bukan anak kandung Cakra,anak selingkuhan istrinya mungkin
Ummi Sulastri Berliana Tobing
cerita nya bagus dan menarik
sukses slalu y 🫶🫶🫶
Siti Musyarofah
lanjut
Ummi Sulastri Berliana Tobing
ya aku mau 🤭🤭🤭
partini
aku salfok ada kata nunggang di sinopsis nya
partini: bahasa ngapak sejati ora ngapak ora kepenak 🤭
total 2 replies
Rian Moontero
mampiiirrr
Ummi Sulastri Berliana Tobing
lanjut 😊😊
Dewiendahsetiowati
Hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!