NovelToon NovelToon
Menjadi Sepupu Tirimu

Menjadi Sepupu Tirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:646
Nilai: 5
Nama Author: arina_ar

Setelah dikhianati, Vivian bersumpah. "Aku akan buat dia menyesal...!"
Kesempatan itu datang ketika ibunya menikah kembali. Dan tanpa diduga, ayah sambungnya adalah paman dari kekasihnya.
Sempurna...
Vivian memanfaatkan kakak tirinya. Pura-pura dekat, pura-pura mesra, hanya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Rencana berjalan lancar.
Sampai suatu malam Vivian sadar...
Ia terjebak dalam permainannya sendiri, benih cinta mulai tumbuh diantara batas yang tak seharusnya. Cinta terlarang yang sulit dilepaskan...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal dari pengkhianatan

Dunia Vivian runtuh tanpa suara. Ia hanya bisa membekap mulutnya sendiri, meredam jeritan yang tertahan. Jemarinya bergetar, menahan sesak di dada, serta cairan bening yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Mas Satria... Nggak mungkin...!" jeritan kecewa berubah menjadi bisikan tak berguna.

Kepalanya menggeleng lemah, menolak fakta, jika dunianya, kisah cinta yang ia rajut indah, kini runtuh seketika.

"Mas, kamu hebat sekali..." suara wanita itu terdengar mendayu, penuh kepuasan.

"Kamu suka?"

Suara itu... suara yang sangat ia kenal, suara yang ia rindukan setiap malam. Tapi sekarang, kenapa terdengar memuakkan?

Vivian menarik napas dalam-dalam, dadanya terasa sesak luar biasa, namun ia paksa tetap berdiri dengan setiap luka yang tercipta.

Setiap tarikan napas terasa seperti jarum tajam yang perlahan menusuk ulu hatinya.

Ia mengusap pelan dada kirinya yang kian terluka, berusaha meredam gejolak amarah dan rasa sakit yang membara, namun percuma.

"Beruntung nya kekasih mu,"

"Apanya yang beruntung? Kamu yang paling beruntung sayang, aku bahkan belum pernah menyentuh gadis kampung itu sedikitpun"

Setiap kata yang terucap adalah racun. Meresap pelan ke nadinya, membusukkan separuh cinta yang masih tersisa.

Bukan... Bahkan cinta itu masih utuh, tapi dipaksa mati sebab dikhianati

Jemari Vivian mati rasa. Padahal yang ia genggam hanya Tote bag kecil berisi pakaian hasil rancangannya sendiri, dan mimpi. Tapi mimpi itu telah hancur...

"Ini, sudah tak berguna lagi" ia membantingnya asal, seakan benang-benang yang saling terkait, diputus paksa tak tersisa.

Pakaian ini sudah tak bisa digunakan. Benangnya terputus, kainnya robek, tak layak disimpan, harus di buang. Tapi, ini bukan tentang pakaian...

Ia melangkah gontai, meninggalkan setetes air asin yang meluncur santai, jatuh ke bawah bersama suara laknat yang memekakkan telinga.

"Salahku apa mas...? Kenapa kamu tega khianati aku? Aku kurang apa mas?" bisiknya lirih, ia menekan dadanya kuat sekali, ingin meredam segumpal hati yang seakan di tusuk belati.

Bayangan kejadian itu terus saja berputar di kepala, pelan-pelan meracuni pikirannya. Bukan hanya soal sakit hati dikhianati, tapi tentang harga diri yang diinjak mati.

Ia menghentikan langkahnya, menatap pantulan dirinya pada sebuah cermin besar sebuah toko.

"Pantas saja, ternyata aku seburuk ini" cicitnya, merasa rendah diri.

Ia duduk sejenak, menghapus jejak air mata menggunakan lengan bajunya. Jemarinya meraba kantung kecil di sakunya, lalu membukanya, menilik obat yang tinggal beberapa butir yang tersisa.

"Tahan saja, gunakan obat ini jika hanya posisi genting," ia kembali menyimpan kantung obat dengan rapat.

Bayangan datang ke acara resepsi pernikahan ibunya, ia menggandeng kekasih hatinya, mengenakan pakaian hasil rancangannya, seketika sirna.

"Tak usah datang saja lah, percuma,"

Terkadang dunia berjalan di luar rencana, panggilan tiba-tiba dari ibunya membuatnya harus berpikir ulang.

"Vivian, apa kamu tersesat?"

"Tidak ibu, aku sebentar lagi sampai" dustanya.

"Ibu tunggu yah, tamunya sudah ramai, dari tadi ayah baru mu terus saja menanyakan mu,"

"Iya ibu, aku segera tiba,"

Panggilan diakhiri. Ia menatap kartu undangan pernikahan ibunya, berlokasi di sebuah ballroom hotel mewah. Tapi ia hanya mengenakan pakaian sederhana. Karena gaun buatannya ia tinggalkan begitu saja di depan kamar kekasihnya. Ralat, mantan kekasihnya.

"Nanti malah hanya bikin malu ibu jika aku datang seperti ini" ucapnya pelan, ia menunduk lesu. Tapi secercah harapan menghampirinya, ketika matanya tak sengaja menatap sebuah butik kecil tepat di depannya.

Ia memberanikan diri masuk, melihat-lihat deretan gaun cantik yang terpajang di disana. Hingga tiba-tiba terlintas kembali harapan yang sempat ia pendam.

"Kapan yah, aku bisa buka butik seperti ini?" ujarnya. Tapi ucapannya mampu didengar wanita di sampingnya, ia tersenyum sinis penuh ejekan.

"Dasar orang kampung, membeli baju semahal ini saja kamu tidak akan sanggup, apa lagi bermimpi memiliki butik seperti ini!" cibir wanita itu, lalu tangannya sigap menyambar gaun krem gading yang disentuh Vivian.

"Maaf, saya duluan yang mengincarnya," tolak Vivian tenang, tangannya menahan kain gaun itu dengan lembut tapi tak tergoyahkan.

"Kamu? Jangan bermimpi! Lihat penampilanmu itu! Kamu tak akan mampu membelinya. Lepaskan!" Wanita itu menarik gaun itu dengan kasar, nyaris merobek bagian ujungnya.

Vivian mengeratkan genggaman, matanya menatap tajam namun tenang. "Saya lihat duluan, saya yang berhak membelinya."

"Berhak? Kamu pikir siapa dirimu?" sergah wanita itu, wajahnya memerah menahan malu karena tak bisa merebut gaun itu dari tangan Vivian.

Seorang staf tergopoh-gopoh mendekat, wajahnya panik mendapati calon customer nya berkelahi.

"Maaf nona, ada yang bisa saya bantu?" ia menunduk sopan.

"Usir gadis kampung ini! Saya merasa terganggu, saya mau beli gaun ini tapi si kampung ini malah menghalangi..." suaranya menggebu, penuh tuntutan tanpa bantahan.

"Sudah saya bilang, saya yang lihat duluan!" suaranya kian meninggi, terbawa emosi yang kian meradang.

Kekasihnya di ambil orang, ia tak ingin sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya, kembali direnggut lagi. Ini bukan sekedar rebutan pakaian, tapi harga diri yang dipertaruhkan.

"Kamu tidak akan sanggup membelinya..."pekik wanita itu, tak mau kalah.

Tanpa banyak bicara, Vivian merogoh tas besarnya. Ia mengeluarkan bungkusan plastik kresek hitam yang terlihat sederhana, lalu meletakkannya di meja kasir dengan bunyi berat saat jatuh.

"Hitunglah uang pas untuk gaun ini!" ucapnya singkat.

Pelayan membuka bungkusan itu perlahan, tumpukan merah uang tunai yang tertata rapi memenuhi meja, cukup bahkan lebih dari harga gaun itu.

Binar kebencian mulai tercipta. Wanita itu menatap Vivian penuh permusuhan. Tangannya mengepal erat, egonya menolak kalah, apalagi lawannya hanya gadis kampung yang ia anggap remeh dan jauh di bawahnya.

****************

Vivian berdiri mematung sejenak, di depan pintu masuk ballroom hotel.

Langit-langitnya menjulang tinggi, dihiasi lampu gantung kristal yang berkilau bak ribuan bintang, aroma bunga segar dan musik lembut mengalir keluar menyambutnya.

Ia yang tumbuh di desa sederhana hanya bisa menahan napas, tertegun menyaksikan kemegahan yang baginya terasa seperti dunia lain.

"Ini, indah sekali..."

Kakinya terasa berat, ragu untuk melangkah masuk, seolah dirinya terlalu kecil untuk berada di sana.

Baru satu langkah ia ambil, tubuhnya tiba-tiba menabrak dada bidang yang tegap dan kokoh.

"Maaf..." gumamnya pelan, buru-buru mundur.

Di hadapannya, berdiri sosok pria berwajah tampan namun sedingin es. Tatapannya tajam, datar, tanpa senyuman, seolah kehadiran Vivian hanyalah debu yang mengganggu jalannya.

Belum sempat Vivian berkata apapun, suara cempreng yang tak asing terdengar dari arah belakang.

"Nah, ini dia gadis kampung yang kurang ajar itu!"

Vivian merotasikan tubuhnya, menatap tak percaya sosok yang sempat berseteru dengannya kini berada di ruang yang sama.

"Nenek lampir itu lagi? Sialan..."

1
Allea
masih bodoh di bab ini
Allea
katanya jijik dipeluk diem bae munalah 🤭🤣😅
falea sezi
goblok jujur bodoh lu pergokin dia kmren😒 ehh maaf mc oon jd males Thor mau kasih hadiah sayang bgt vote buat novel kayak gini🤣🤣
falea sezi
cuma gt doank harusnya di sp karyawan mu pakk🤣 ceo bodoh
falea sezi
🤣🤣 satria bodoh
falea sezi
klo q jd vivian mending kos cari krja ngapain numpang di rmh ibumu saudara tiri uda ada pcr g bs di gebet🤣
falea sezi
🤣🤣lemah kok mau bales dendam bodoh
arina_ar
sabar kak, huhu.... author juga ikutan geregetan nih
kelinci kecil
greget banget sama stela, pengen ikutan Jambak rambutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!