NovelToon NovelToon
Married To Captain Ren

Married To Captain Ren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Taraline

Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.

Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Deru mesin empat turboprop pesawat C-130 Hercules memekakkan telinga, mengalahkan suara hujan badai yang menghantam badan pesawat di ketinggian ribuan kaki.

Di dalam lambung burung besi raksasa itu, puluhan prajurit berseragam loreng duduk berjejer di kursi kanvas merah, mengapit tumpukan kargo logistik, obat-obatan, dan perahu karet. Suasana kabin terasa dingin dan kaku. Tidak ada yang banyak bicara.

Di barisan paling depan, Mayor Ren Adhyaksa duduk dengan punggung tegak lurus bak tiang pancang. Baret hijaunya bertengger sempurna, rompi taktisnya terpasang rapi. Matanya terpejam, namun siapa pun yang mengenalnya tahu bahwa sang Mayor sama sekali tidak sedang tertidur.

Jari telunjuk kanan Ren terus-menerus mengetuk pelan popor senapan laras panjang yang ia peluk di depan dada. Tuk. Tuk. Tuk.

Bagi para prajurit muda di pesawat itu, Mayor Ren terlihat seperti patung dewa perang yang sedang memusatkan konsentrasi sebelum pertempuran. Namun, di balik wajah sedatar baja itu, dada Ren dipenuhi oleh badai kecemasan yang jauh lebih dahsyat dari cuaca di luar sana.

Bertahanlah, Cia. Tunggu saya.

Kalimat itu terus berputar di kepalanya seperti mantra.

Tepat pukul 06.00 WIT, roda pesawat Hercules berdecit keras menyentuh landasan basah Pangkalan Udara Merauke. Begitu ramp door belakang pesawat terbuka, udara lembap dan aroma tanah basah langsung menyerbu masuk.

Ren melangkah turun dengan cepat, mengabaikan rintik hujan yang membasahi seragamnya. Insting komandannya langsung mengambil alih.

"Tim Alfa dan Bravo, segera bongkar muat logistik dan koordinasi dengan BNPB setempat! Tim medis militer, langsung meluncur ke rumah sakit daerah untuk backup penanganan korban kritis!" suara bariton Ren menggema keras, memberikan instruksi dengan presisi mematikan.

"Siap, Mayor!" jawab pasukannya serentak.

Seorang perwira penghubung lokal dari Korem setempat berlari menghampiri Ren, memberikan hormat. "Lapor, Mayor. Kendaraan taktis untuk tinjauan ke lokasi bencana sudah disiapkan."

"Bawa saya ke titik evakuasi Distrik Muting sekarang," perintah Ren tanpa basa-basi, matanya memancarkan urgensi absolut. "Bagaimana laporan terakhir dari posko di sana?"

"Tanggul jebol semalam memperparah keadaan, Komandan. Jalan darat tertutup lumpur tebal, tapi masih bisa ditembus kendaraan gardan ganda. Tim medis dari puskesmas setempat kewalahan karena banyak pengungsi yang mengalami hipotermia, dan ada insiden tenda darurat yang rubuh semalam."

Langkah Ren seketika terhenti. Rahangnya mengeras. "Tenda medis rubuh? Ada tenaga medis yang terluka?"

"Informasi yang kami terima masih simpang siur, Ndan, tapi kabarnya ada seorang dokter muda yang tertimpa struktur tenda saat melindungi pasien anak," jawab perwira itu.

Jantung Ren seolah berhenti berdetak selama satu detik penuh. Dokter muda. Melindungi pasien anak. Deskripsi itu meneriakkan nama Almeera Cia dengan sangat lantang di telinganya.

"Berangkat. Sekarang," desis Ren tajam. Ia melompat naik ke kursi depan kendaraan rantis double cabin, meninggalkan perwira penghubung itu yang buru-buru menyusul di belakang kemudi.

Perjalanan yang seharusnya memakan waktu dua jam itu terasa seperti dua tahun bagi Ren. Jalanan trans-Papua yang membelah hutan telah berubah menjadi bubur lumpur pekat berwarna merah. Beberapa kali ban mobil selip, namun Ren dengan dingin memerintahkan sopirnya untuk terus menerjang tanpa menurunkan kecepatan.

Saat mobil itu akhirnya memasuki area Distrik Muting, pemandangan yang tersaji membuat dada siapa pun akan sesak. Air bah berwarna cokelat masih menggenangi sebagian rumah warga. Posko evakuasi yang didirikan di dataran lebih tinggi tampak sangat kacau dan kumuh. Relawan, tentara, dan warga berlarian di tengah gerimis yang belum juga berhenti.

Mobil rantis Ren bahkan belum benar-benar berhenti secara sempurna saat pria itu membuka pintu dan melompat turun.

Sepatu laras tingginya menghantam kubangan lumpur, mengabaikan cipratan kotoran yang menodai celana PDL-nya. Mata elang sang Mayor memindai lautan terpal biru, mencari lambang palang hijau atau kerumunan tenaga medis.

Ia berjalan cepat membelah kerumunan, auranya yang mengintimidasi membuat orang-orang secara otomatis memberinya jalan.

Di depan sebuah tenda besar yang setengah bagiannya tampak baru saja didirikan ulang, Ren melihat beberapa orang berjas putih yang kotor oleh lumpur. Pria itu segera menghampiri salah satu dari mereka—seorang dokter pria muda yang sedang mencatat sesuatu di papan jalan dengan wajah kelelahan. Itu dr. Rian.

"Di mana Dokter Almeera Cia?" tuntut Ren. Suaranya tidak membentak, namun berat, rendah, dan dipenuhi otoritas yang membuat Rian tersentak kaget.

Rian menoleh, membelalakkan mata melihat seorang Mayor TNI Angkatan Darat berdiri menjulang di depannya dengan tatapan membunuh. Otak Rian butuh beberapa detik untuk mencerna. Tunggu... Mayor? Dokter Cia bilang suaminya Mayor...

"A-Anda... suaminya Dokter Cia?" Rian tergagap, menelan ludah.

"Saya tanya, di mana istri saya?" ulang Ren, kali ini rahangnya berkedut menahan emosi.

Rian segera menunjuk ke arah sebuah tenda kecil berwarna hijau zaitun di sudut area, terpisah dari tenda pengungsi utama. "D-di sana, Ndan. Di tenda istirahat relawan. Semalam Cia tertimpa tiang penyangga saat melindungi pasien. Punggung kirinya memar parah dan dia sempat pingsan karena hipotermia serta kelelahan ekstrem. Kami sudah menstabilkan suhunya, tapi dia belum..."

Sebelum Rian menyelesaikan kalimatnya, sosok tegap itu sudah berbalik dan melangkah lebar dengan kecepatan penuh menuju tenda yang ditunjuk.

Ren menyingkap kain pintu tenda tersebut dengan kasar.

Udara di dalam tenda itu terasa lembap dan pengap, meski lebih hangat daripada di luar. Di sana, berjajar beberapa velbed (ranjang lipat militer) yang ditempati oleh relawan yang kelelahan.

Dan di sudut paling ujung, di atas sebuah velbed tipis, terbaring sosok yang selama seminggu terakhir menyiksa akal sehat Ren.

Ren berjalan mendekat, langkahnya yang biasa mantap dan berat kini mendadak terasa hampa, seolah ia takut suara sepatunya akan menghancurkan ilusi di depannya. Pria itu berhenti tepat di sisi ranjang lipat.

Cia terbaring miring. Ia tidak lagi mengenakan jas putih atau kemeja flanelnya. Gadis itu dipakaikan sebuah kaus kebesaran kering milik entah siapa, dan diselimuti oleh sarung kain seadanya yang tipis. Wajahnya sangat pucat, nyaris sepucat kapas. Bibirnya kering. Ada noda lumpur yang belum sepenuhnya bersih di pelipis dan lehernya.

Napas Cia terdengar dangkal dan bergetar, seolah udara dingin di dalam tenda masih menusuk tulangnya.

Tangan kanan gadis itu terlipat di depan dada, jari-jarinya yang mungil dan memucat menggenggam erat kepingan besi dog tag milik Ren. Genggamannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, seakan benda itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya di dunia ini.

Melihat pemandangan itu, tembok pertahanan baja milik Mayor Ren Adhyaksa hancur lebur, rata dengan tanah.

Rasa sakit yang menohok dadanya saat ini terasa jauh lebih menyiksa daripada saat peluru musuh menembus tubuhnya sendiri di pedalaman hutan.

Tanpa memedulikan pangkatnya, seragamnya, atau genangan lumpur di bawahnya, Ren menjatuhkan diri, berlutut dengan satu kaki di samping velbed Cia. Pria itu segera melepas rompi taktisnya, lalu melepaskan kemeja PDL lengan panjangnya yang kering dan hangat dari suhu tubuhnya, menyisakan kaus oblong hijau di badannya.

Ren membentangkan kemeja lorengnya yang tebal itu, lalu menyelimutkannya ke tubuh Cia, merangkap sarung tipis yang tidak berguna tersebut. Aroma khas kayu pinus, mint, dan sedikit bau mesiu seketika menguar, menyelimuti Cia.

Dengan gerakan yang teramat sangat hati-hati, tangan Ren yang besar dan kasar terulur. Ia menyentuh pipi dingin istrinya, mengusap noda tanah di pelipis Cia menggunakan ibu jarinya. Suhu tubuh gadis itu masih jauh dari kata normal.

"Almeera..." panggil Ren, suaranya berupa bisikan parau yang bergetar.

Cia tidak merespons, kepalanya hanya bergerak sedikit mencari kehangatan dari telapak tangan Ren.

Ren menunduk, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Ia meraih tangan kanan Cia yang sedang menggenggam kalungnya. Pria itu tidak melepaskan genggaman Cia, melainkan membungkus kepalan tangan mungil itu dengan kedua telapak tangannya sendiri yang besar dan hangat.

"Saya di sini, Cia. Saya sudah pulang. Bangunlah," bisik Ren, mendaratkan kecupan lama dan dalam di punggung tangan istrinya.

Kehangatan yang tiba-tiba mengurung tubuh Cia, dikombinasikan dengan aroma maskulin yang sangat familier di indra penciumannya, perlahan menarik kesadaran gadis itu dari alam bawah sadarnya.

Kelopak mata Cia bergetar pelan. Bulu matanya yang lentik mengerjap beberapa kali, mencoba fokus pada cahaya temaram di dalam tenda.

Saat pandangannya mulai menjernih, hal pertama yang ia lihat adalah sepasang mata elang yang menatapnya dengan intensitas yang begitu dalam, dipenuhi oleh keputusasaan dan rasa cinta yang tak terbantahkan. Rahang tegas dengan sedikit jambang tipis.

Cia terdiam. Ia mengira dirinya masih berhalusinasi. Sering kali, di tengah malam yang dingin di mes puskesmas, ia sering membayangkan wajah ini.

"Mas... Ren?" panggil Cia, suaranya sangat lemah, serak, dan nyaris tak terdengar.

"Ya, ini saya," jawab Ren cepat. Pria itu mencondongkan tubuhnya lebih dekat, mengusap puncak kepala Cia dengan lembut. "Saya ada di sini."

Air mata seketika menggenang di pelupuk mata Cia dan menetes jatuh membasahi bantal kanvas di bawah kepalanya. Tangannya yang lemas bergerak dari dada, mencoba menyentuh wajah pria di depannya, memastikan bahwa ini bukan sekadar ilusi demamnya.

Ujung jari Cia yang dingin menyentuh pipi hangat Ren, merasakan tekstur rahang suaminya. Nyata.

"Kamu... kamu kok bisa ada di sini?" isak Cia pelan, bibirnya melengkung membentuk senyum lemah yang sangat menyayat hati. "Papua kan jauh... jahitanku nanti..."

"Ssst. Jangan bicara dulu," potong Ren lembut. Ia menangkup tangan Cia yang ada di pipinya, mengecup telapak tangan itu. "Negara menugaskan saya mengawal logistik kemari. Tapi secara pribadi, saya kemari untuk menjemput panglima kecil saya yang nekat melindungi orang lain sampai lupa menyelamatkan dirinya sendiri."

Cia tertawa lemah, meski tawa itu diiringi oleh rintihan kecil saat bahu kirinya terasa berdenyut nyeri. "Pasienku... anak kecil itu... dia aman, kan?"

Ren menatap istrinya dengan perasaan yang campur aduk. Rasa marah karena Cia tidak memedulikan keselamatannya sendiri, bertabrakan dengan rasa bangga yang luar biasa besar karena gadis ini telah membuktikan betapa murninya sumpah dokternya. Cia tidak pernah membedakan nyawa manusia.

"Dia aman, Almeera. Berkat kamu, dia selamat," jawab Ren, mengalah pada rasa bangganya. Pria itu menunduk, mencium kening Cia dalam-dalam. "Tapi sekarang, biarkan saya yang menyelamatkanmu. Biarkan saya yang merawatmu."

"Dingin, Mas," adu Cia manja, sifat keras kepalanya luruh sepenuhnya di hadapan suaminya. Ia merapatkan kemeja loreng Ren yang menyelimutinya.

Mendengar keluhan itu, Ren tidak berpikir dua kali. Ia berdiri, memastikan tidak ada orang lain yang memperhatikan mereka di sudut tenda, lalu perlahan naik ke atas velbed militer yang sempit itu. Pria itu memiringkan tubuhnya, menyelipkan sebelah lengannya di bawah leher Cia dengan sangat berhati-hati agar tidak menekan punggung istrinya yang memar.

Ren menarik tubuh mungil Cia ke dalam pelukannya, menempelkan punggung gadis itu ke dada bidangnya yang hangat, mengurungnya sepenuhnya dalam kehangatan tubuhnya sendiri.

Cia menahan napas, merasa sangat aman. Aroma Ren menenangkan saraf-sarafnya yang tegang sejak semalam. Ia menyandarkan kepalanya di dada Ren, mendengarkan ritme detak jantung suaminya.

"Tidurlah," bisik Ren di telinga Cia, lengannya yang kokoh mendekap tubuh gadis itu erat, namun menghindari area yang terluka. "Saat kamu bangun nanti, saya pastikan tidak ada satu pun rintik badai yang berani menyentuhmu."

"Janji?" gumam Cia, matanya mulai kembali berat karena kehangatan yang menjalar.

Ren mengeratkan dekapannya, menempelkan pipinya di puncak kepala Cia.

"Janji seorang prajurit," balas sang Mayor mutlak.

Di tengah badai yang masih mengamuk di ujung timur Indonesia, di dalam tenda pengungsian yang kumuh, Kapten yang dulu harus diselamatkan oleh sang dokter kini berbalik menjadi perisai hidup bagi gadis itu. Jarak, waktu, dan bencana mungkin bisa menguji mereka, tapi Ren Adhyaksa baru saja membuktikan bahwa sejauh apa pun negara menugaskan istrinya, tak ada tempat di bumi ini yang tak bisa ia tembus demi membawakan rumah untuk Almeera Cia.

1
NonaAns
Wakakak ngebanyangin ekspresinya 🤣
sri wahyuni
smngat thor
sri wahyuni
/Scowl//Scowl//Scowl/
sri wahyuni
lanjut thor
sri wahyuni
😍😍😍
sri wahyuni
smngat thor
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!