"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."
Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".
Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.
Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Jejak Palsu di Tepi Sungai
Di bawah teduhnya pepohonan beberapa ratus meter dari jembatan, mobil hitam mewah yang membawa Aruna berhenti di area yang cukup terlindung dari pandangan publik. Suasana di luar masih sangat riuh oleh kepanikan warga yang berkerumun di atas jembatan.
Aruna membuka tas kecilnya dengan gerakan yang sangat tenang. Dari dalam tas itu, ia mengeluarkan beberapa lapis dokumen dan benda pribadi yang semula ingin ia simpan sebagai kenang-kenangan pahit. Ia menyerahkan lembaran surat keputusan perceraian yang baru beberapa jam lalu dilegalisasi oleh pengadilan, kartu tanda penduduk (KTP) atas nama Aruna Wijaya, sebuah gelang perak yang selalu ia kenakan selama menjadi istri Adrian, serta satu set pakaian tunik abu-abu cadangan yang ia bawa di dalam kopernya.
Semua benda itu diletakkan di atas pangkuan Martin.
"Martin, bawa semua benda ini," perintah Aruna, suaranya sedingin es tanpa ada keraguan sedikit pun. "Buang dan cecerkan semua barang ini di sekitar area sungai bawah jembatan. Buat seolah-olah semua ini terlepas dan tertinggal saat aku melompat dengan putus asa."
Martin mengangguk paham. Dengan cekatan, ia langsung mengenakan sepasang sarung tangan lateks hitam dari balik saku jasnya untuk memastikan tidak ada satu pun sidik jari asing yang tertinggal pada barang-barang tersebut. "Saya mengerti, Nona. Semua akan beres dalam lima menit."
Martin melangkah keluar dari mobil dengan sangat senyap, menyelinap di antara semak-semak dan turunan curam menuju bantaran sungai di bawah jembatan, memanfaatkan situasi massa yang sedang terfokus ke arah air.
Tidak butuh waktu lama setelah Martin menyelesaikan tugasnya, sirine mobil patroli polisi mulai terdengar meraung-raung membelah kemacetan. Beberapa petugas berseragam cokelat turun dengan tergesa-gesa, mencoba membubarkan kerumunan warga yang menyemut di atas jembatan.
Di antara kerumunan warga yang panik itu, seorang asisten perempuan kepercayaan Aruna yang bernama Citra—yang sudah berdandan sangat natural menyerupai warga lokal dengan daster dan sandal jepit—langsung menjalankan tugasnya. Ia berlari menghampiri petugas dengan wajah yang dikondisikan pucat dan penuh kepanikan palsu.
"Pak... Pak Polisi! Tolong, Pak! Ini ada KTP tertinggal di dekat pembatas jembatan!" teriak Citra dengan suara bergetar, menyodorkan kartu identitas plastik tersebut kepada seorang petugas. "Dan lihat ke sebelah sana, Pak... di bawah air dekat tiang jembatan, ada pakaian perempuan warna abu-abu yang mengambang! Sepertinya itu baju milik korban yang melompat tadi!"
Komandan polisi yang memimpin operasi itu segera menyambar KTP tersebut. Matanya membelalak saat membaca nama yang tertera: Aruna Wijaya.
"Tim dua, ikut saya turun ke bawah jembatan sekarang! Periksa bantaran sungai!" perintah sang komandan dengan tegas.
Tiga petugas kepolisian segera menuruni tebing curam di bawah jembatan. Menggunakan tongkat kayu, mereka menyisir rerumputan liar di tepi air yang berlumpur. Dugaan mereka langsung terkonfirmasi ketika mereka menemukan lembaran surat cerai yang basah terkena cipratan air, sebuah gelang perak yang tersangkut di dahan ranting, serta sebuah ponsel pintar yang layarnya sudah hancur retak seribu akibat sengaja dihempaskan ke batu kali.
Komandan polisi memungut ponsel hancur itu menggunakan kantong plastik bening. "Bawa semua barang bukti ini ke kantor untuk segera kita identifikasi lebih lanjut. Hubungi pihak keluarga yang tertera di data kependudukan korban."
"Bagaimana dengan pencarian korban di dalam air, Komandan?" tanya salah satu anak buahnya.
"Untuk pencarian jasad, biar kita nanti dibantu oleh tim SAR. Segera pasang garis polisi di sekitar area ini agar warga tidak merusak tempat kejadian perkara!" perintah komandan mereka dengan lantang.
"Baik, Komandan!"
Gema Ketakutan di Kediaman Adiwangsa
Berita mengenai bunuh diri seorang wanita di jembatan dekat pengadilan agama langsung menyebar seperti api di ujung minyak. Hanya dalam waktu satu jam, informasi tersebut sampai ke telinga keluarga Adiwangsa melalui panggilan telepon dari salah satu staf lapangan mereka yang kebetulan melintas di lokasi kemacetan.
Di ruang tengah rumah mewah mereka, Adrian duduk di sofa sambil mengompres selangkangannya yang masih terasa nyeri akibat tendangan Aruna. Di sampingnya, Valerie sedang mengoleskan krim kosmetik pada pipinya yang membengkak, sementara Nyonya Widya berjalan mondar-mandir dengan gelisah.
"Apa? Ada yang bunuh diri di jembatan dekat pengadilan?" tanya Adrian dengan suara parau kepada stafnya di telepon. "Siapa yang bunuh diri?"
"Saya tidak tahu pasti namanya, Pak Adrian," jawab suara di seberang telepon. "Siapa pastinya yang bunuh diri saya belum jelas. Yang pasti, dari info warga di lokasi, dia adalah seorang perempuan berusia sekitar 30-an tahun, dan polisi menemukan pakaian tunik warna abu-abu yang mengambang di sungai..."
Deg.
Jantung Adrian seketika serasa berhenti berdetak. Ponsel di tangannya nyaris terjatuh. Potongan ingatan saat ia melihat sebuah tunik abu-abu yang dipakai Aruna pagi ini langsung berputar hebat di kepalanya.
Mungkinkah... Aruna?
Entah mengapa, pada detik itu juga, dada Adrian mendadak terasa sangat sesak dan ngilu yang teramat dalam. Sebuah rasa sakit yang belum pernah ia rasakan selama ini mendadak meremas ulu hatinya.
"Aruna... tidak... Aruna... Kenapa kamu tega melakukan itu?" gumam Adrian tanpa sadar, suaranya bergetar hebat. "Kenapa kamu bersikeras meminta cerai padaku di sidang kalau pada akhirnya kamu mau bunuh diri seperti itu, hah?!"
Melihat perubahan drastis pada wajah putranya, Nyonya Widya langsung menghentikan langkahnya. "Adrian! Kamu ini kenapa?! Kenapa wajahmu pucat begitu dan menyebut-nyebut nama perempuan sialan itu?!"
Valerie pun ikut menoleh, matanya menyipit penuh rasa cemburu dan kesal. "Iya, Mas. Kamu kenapa jadi kelihatan sedih begitu? Jangan bilang kamu percaya kalau gembel itu benar-benar lompat ke sungai? Paling itu cuma trik dia untuk mencari perhatian!"
Adrian tidak menghiraukan ucapan Valerie. Air matanya mendadak menggenang. Perasaan bersalah yang teramat besar mulai menggeroroti jiwanya. Kehilangan yang sesungguhnya baru terasa nyata sekarang. Bagaimanapun juga, Aruna adalah wanita yang menemaninya dari nol, wanita tulus yang selalu menerima caci makian ibunya tanpa membalas selama lima tahun.
"Ibu... Valerie... kalian tidak mengerti!" seru Adrian dengan nada putus asa. "Aruna tadi pakai baju tunik abu-abu. Lokasinya tepat di jembatan setelah keluar dari pengadilan. Aku harus pergi ke sana! Aku harus cari tahu apa itu benar Aruna atau bukan!"
"Jangan bodoh, Adrian!" bentak Widya dengan wajah kencang. "Kalau benar dia mati, ya bagus dong! Itu artinya urusan gono-gini sepuluh persen tadi bahkan tidak perlu kita bayar lagi! Dia mati karena kebodohannya sendiri, bukan karena kita!"
"Tapi kalau polisi datang ke sini bagaimana, Bu?!" potong Adrian, suaranya meninggi karena panik. "Komnas HAM masih memantau kita! Kalau mereka tahu Aruna bunuh diri karena tekanan dari kita, kita bisa diseret ke penjara atas dugaan pembunuhan secara mental!"
Valerie langsung berdiri, memegang pundak Adrian dengan cengkeraman posesif. "Mas, dengar aku! Jangan lemah begini! Kita baru saja menang di sidang. Kalaupun jalang itu benar-benar mati tenggelam, kita tinggal bayar pengacara untuk membersihkan nama kita. Lagipula, bukankah ini yang kamu mau? Dia pergi dari hidup kita selamanya?"
Adrian menatap Valerie dengan tatapan kosong. Kata-kata wanita itu mendadak terdengar sangat kejam di tengah kedukaan yang mulai merayap dalam dirinya.