Kelvin, pria dingin dan pewaris perusahaan besar, terpaksa menikahi Denada atas permintaan sang nenek. Awalnya ia menolak karena masih mencintai wanita lain.
Namun setelah hidup bersama, Kelvin mulai tergoda oleh Nada istrinya yang cantik, jahil, dan selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali, terutama saat Nada mulai berani menggoda dirinya.
Di tengah pernikahan tanpa cinta, Kelvin perlahan mulai bingung… siapa sebenarnya wanita yang benar-benar ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Amarah dan penyesalan yang berkecamuk di dalam dada Kelvin membuatnya tak ingin berlama-lama di atas ranjang itu. Dengan gerakan cepat, ia menyambar handuk dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Di bawah guyuran air dingin shower, Kelvin mencoba membasuh sisa-sisa kehangatan semalam yang masih tertinggal di kulitnya, sekaligus menenangkan gemuruh di kepalanya. Pria itu terus merutuki kelemahannya sendiri yang telah melanggar janji setianya pada Catalina.
Dua puluh menit kemudian, Kelvin keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya. Ia melangkah menuju walk-in closet untuk mengambil setelan kemeja kerja yang baru. Namun, saat ia kembali ke area kamar tidur sembari mengancingkan kemeja putihnya, sebuah rintihan lirih menghentikan gerakannya.
"Awwhh..."
Kelvin menoleh. Di atas ranjang, Nada sudah terbangun. Wanita itu tampak mencoba untuk duduk, namun sedetik kemudian ia kembali terduduk dengan wajah yang meringis kesakitan, kedua tangannya mencengkeram erat selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya.
Di dalam benak Nada, ini adalah bagian dari drama untuk terus mengikat dan melemahkan ego sang CEO. Namun, ekspresi kesakitan di wajah cantiknya pagi ini tidak sepenuhnya akting. Nada tidak bisa berbohong pada tubuhnya sendiri; rasa perih, kaku, dan nyeri yang menjalar di bagian bawah tubuhnya adalah efek nyata setelah ia menyerahkan kesuciannya untuk pertama kali dalam pergulatan brutal semalam.
"Mas..." panggil Nada dengan suara yang teramat serak dan parau. Sepasang matanya menatap Kelvin dengan tatapan sayu yang tampak begitu rapuh. "Bisa... bisa bantu aku? Kakiku lemas sekali, sangat susah untuk berdiri... Aku butuh ke kamar mandi untuk membersihkan diri."
Kelvin membeku di tempatnya berdiri. Ego tingginya mendesak untuk menolak. Ia ingin ketus, ingin mengatakan bahwa itu adalah konsekuensi dari perbuatan Nada sendiri yang telah menggodanya semalam. Namun, melihat rona pucat di wajah Nada dan bagaimana wanita itu kesulitan bahkan hanya untuk sekadar menggeser kakinya, sebersit rasa bersalah dan tak tega mendadak menyelinap di sudut hati Kelvin. Bagaimanapun, dialah yang bertindak terlalu kasar semalam.
Sambil mengembuskan napas kasar demi membuang gengsinya, Kelvin melangkah mendekati ranjang. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia menyibak selimut, lalu membungkukkan tubuh tegapnya.
Grep.
Dengan satu gerakan yang luwes namun kuat, Kelvin menyusupkan kedua lengan kekarnya di bawah punggung dan lekuk lutut Nada, mengangkat tubuh polos yang terlilit sprei putih itu ke dalam gendongan bridal style-nya. Nada tersentak kecil, lalu secara refleks melingkarkan kedua lengan rampingnya di leher kokoh Kelvin. Kelvin bisa merasakan betapa hangat dan ringannya tubuh sang istri di dalam dekapannya.
Kelvin berjalan dengan langkah tegap membawa Nada masuk ke dalam kamar mandi yang luas. Ia menurunkan tubuh wanita itu dengan teramat hati-hati ke dalam bathtub marmer yang masih kosong.
Begitu tubuhnya terduduk nyaman di dalam bathtub, Nada tidak langsung melepaskan kalungan tangannya di leher Kelvin. Ia justru menarik tengkuk pria itu dengan lembut, memaksa Kelvin yang masih membungkuk untuk menurunkan wajahnya.
Sebelum Kelvin sempat memprotes, Nada sudah memajukan wajahnya dan menempelkan bibir ranumnya di atas bibir tegap Kelvin.
Cup.
Itu adalah kecupan yang awalnya lembut, namun dengan cepat berubah menjadi lumatan yang manis dan menuntut. Nada kembali menggoda suaminya, menguji sisa-sisa kendali diri Kelvin yang baru saja dibangun di bawah shower tadi. Sensasi manis yang adiktif dari bibir Nada seketika menyerang indra pengecap Kelvin lagi, membuat pertahanan pria itu bergoyang untuk kesekian kalinya. Kelvin yang awalnya diam, tanpa sadar mulai terhanyut dan membalas lumatan bibir Nada, menikmati kehangatan yang kembali membakar rongga dadanya.
Mereka saling melumat dalam keheningan kamar mandi yang sepi, bertukar napas yang perlahan kembali memburu.
Namun, tepat saat ciuman itu mulai mengarah ke titik yang lebih panas, bayangan penyesalan tadi subuh seketika menampar kesadaran Kelvin. Pria itu tersentak, lalu dengan paksa menarik kepalanya mundur, memutuskan tautan bibir mereka secara sepihak.
"Cukup, Denada," napas Kelvin memburu, matanya menatap tajam dengan kilatan yang campur aduk antara gairah dan penolakan yang keras. Ia menyeka bibirnya yang basah dengan punggung tangan. "Jangan harap aku akan masuk ke dalam permainanmu lagi hari ini. Bersihkan dirimu, aku tunggu di bawah."
Kelvin segera berbalik dan melangkah lebar keluar dari kamar mandi, menutup pintunya dengan rapat. Di dalam bathtub, Nada perlahan menyandarkan punggungnya. Ia menyentuh bibirnya yang masih terasa hangat oleh ciuman Kelvin, lalu sebuah senyuman kemenangan yang dingin terukir di wajah cantiknya. Tembok pertahanan Kelvin Alexander sudah retak, dan runtuhnya pria itu hanya tinggal menunggu waktu.