Hidup Angel yang semula tenang berubah menjadi menakutkan setelah melihat sesuatu yang tak seharusnya. Setiap malam, tidur nyenyaknya harus terganggu oleh mimpi-mimpi aneh yang membuatnya terbangun tengah malam. Anehnya, mimpi itu hilang setelah ia bertemu William, generasi ke-3 dari Xun Yi Group tempat ia bersekolah dan bekerja. Sebagai tokoh utama di mimpinya, apakah ini ada kaitannya dengan berakhirnya mimpi yang ia alami selama ini? Meskipun William tidak melakukan apapun terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Li Qiqiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Dua bulan sejak rumor buruk yang menjerat namanya, paman dan bibi belum juga menghubunginya. Biasanya, sebelum kejadian itu mereka setidaknya dua hari sekali akan memastikan kondisinya. Sayangnya di saat yang sama, Angel disibukkan pula dengan ujian sekolah dan persiapan untuk casting. Sehingga membuatnya tak menyadari rutinitas paman dan bibinya tak dilakukan lagi. Meskipun beberapa waktu terakhir ia berencana untuk menghubungi mereka, namun sesuatu yang tak diduga terjadi, akibatnya ia melupakan niat tersebut.
Ketika paman dan bibinya berdiri di depan pintu, bukannya bahagia Angel terkejut dan panik. Dari balik punggungnya muncul William dengan kemeja yang kancingnya terlepas, memamerkan otot-otot perutnya dan dada bidang yang ditumbuhi bulu halus.
Melihat pemandangan di depannya, Surya bersiap untuk memukul William, terlebih penampilan Angel yang tak jauh beda berantakannya. "Kau apakan ponakanku?!"
Reflek, Angel langsung menghadang Surya, melindungi William dari amukan pamannya. "Paman, ini tidak seperti apa yang ada di pikiran paman."
Surya menatap Angel tajam, dadanya naik turun menahan emosi. "Setelah apa yang paman saksikan dan kamu bilang bahwa ini tidak seperti yang paman pikirkan?" Surya menghembuskan nafas kasar. "Apa menurutmu paman akan percaya?"
William dengan cepat mengancingkan kemejanya dan merapikan penampilannya. "Bukankah lebih baik pamanmu masuk terlebih dahulu?" bisiknya pada Angel yang dibalas dengan anggukan.
"Aku tahu paman sedang marah. Tapi bisakah kita masuk dulu? Kalian baru saja melakukan perjalanan yang melelahkan." Angel merangkul pamannya, menuntunnya untuk masuk. "Ayolah paman, aku sangat merindukan paman. Paman jangan khawatir, aku akan menceritakan semuanya kepada paman dan bibi. Dan sungguh, kami tidak seperti yang paman dan bibi pikirkan," rayu Angel dengan nada manja. Ia mencium pipi bibinya lalu menyandarkan kepala di pundak paman kesayangannya.
William muncul dengan dua cangkir kopi dan teh, dan menyajikannya ke hadapan Surya dan Rini. "Silahkan, bapak ibu diminum." William hanya tersenyum ketika yang ia dapat hanya lirikan tajam dari Surya, ia memilih undur diri dan membiarkan Angel untuk melepas rindu pada paman dan bibinya.
William kembali dengan jas dan tas kerja di tangan. "Sebaiknya, kalian menikmati waktu bersama, Angel sering bilang ingin menjenguk paman dan bibinya namun akhir-akhir ini ia sedang disibukkan dengan pekerjaannya sebagai model."
Tak ada tanggapan dari Surya dan Rini. Ekspresi kecewa terpantau jelas di wajah mereka. Surya dan Rini tahu siapa William, mereka hanya tak ingin Angel berhubungan dengan keluarga Wijaya.
***
Setelah mengantar William, Angel kembali ke ruang tamu. Melihat wajah paman dan bibinya yang memasang ekspresi serius seakan siap untuk menginterogasi dirinya.
"Paman... Bibi...," lirihnya sedikit takut. Ia baru pertama melihat ekspresi paman dan bibinya terlihat begitu menakutkan.
"Bersiaplah, kau akan tinggal bersama kami." Tanpa nada perintah, namun setiap katanya disampaikan Surya dengan penuh penekanan.
"Apa maksud paman?" Angel mengerutkan kening. "Bibi...." Ia Melihat Rini yang setuju dengan keputusan paman.
"Ini demi kebaikanmu, Angel," ucap Rini membenarkan keputusan Surya.
"Apanya yang baik, bi? Dalam waktu dekat aku akan casting. Jika aku ikut bersama paman dan bibi ke Bandung, bagaimana dengan kelas-kelas modelingku?"
"Kau hanya bermesraan bersama bajingan itu."
"Dia bukan bajingan, paman! Dia William, pacarku!" bela Angel sedikit membentak membuat paman dan bibinya terkejut.
"Kau membentak kami, Angel?" Rini mengelus dadanya. Ia tak menyangka mendapat hentakan dari ponakan tersayang karena membela orang lain.
Angel mendekati Rini, kepalanya menggeleng keras penuh penyesalan. "Ti-tidak bi. Maafkan aku... Aku tidak bermaksud begitu. A.. aku hanya panik karena paman memintaku tinggal bersama kalian." Tanpa sadar Angel menitikkan air matanya. "Aku tidak bisa paman...," gumamnya. "Aku ingin menjadi model terkenal dan membuat papa mama bangga di surga."
"Paman mendukung impianmu, Angel. Tapi sekarang kau berhubungan dengan William, itu membenarkan gosip yang beredar beberapa waktu lalu. Jadi, gosip itu benar?"
"Tidak, paman." Angel bingung bagaimana mengatakannya pada mereka.
"Lalu siapa yang ada di foto itu?"
"Aku tidak tahu...," bohong Angel terpaksa.
"Kau yakin? Meskipun foto itu disamarkan, paman tahu itu kamu, Angel," selidik Surya, netranya menyipit menatap Angel.
Wajah Angel pucat pasi, ia segera mengalihkan dari tatapan pamannya. Rangkaian kalimat pembelaan tersusun di pikirannya namun sulit untuk diungkapkan. "Maafkan aku, paman. A.. aku sungguh tidak bisa pergi."
"Jadi benar itu kamu, Angel?!" tanya Surya dengan amarah yang tak bisa lagi ditahan. "Apa kau sadar apa yang telah kau lakukan, Angel? Apa kau tidak memikirkan papa mamamu yang sedih melihatmu seperti ini?"
Tangis Angel pecah, ia berlutut di hadapan Surya. "Paman, sungguh itu tidak seperti yang paman pikirkan. Tidak terjadi apapun padaku. William tidak melakukan apa-apa. Di.. dia hanya menumpang tidur di kamarku. Sungguh paman, saat itu aku belum mengenal William," jelas Angel di sela-sela tangisnya. Namun, pamannya acuh tak mempercayai perkataannya. "Bibi... Bibi percaya padaku, kan?"
Rini memegang lengan, menuntun Angel untuk duduk di sisinya. "Kami percaya padamu, sayang. Hanya saja pada William.... Sebaiknya kalian berpisah."
"Dia tidak baik untukmu, Angel," tambah Surya.
"Maafkan aku paman. Aku tahu sikapku mengecewakan paman dan bibi. Tapi sungguh, aku tidak bisa putus dengan William. Aku juga tidak bisa ikut bersama kalian," tolak Angel penuh sesal. Impiannya menjadi model masih harus ia perjuangkan. Entah apa hasilnya kelak, yang paling utama adalah dia berjuang sekeras mungkin.
"Paman bisa menerima kau menolak ikut bersama kami jika untuk karir modelingmu." Surya menatap tajam Angel. "Tapi tidak jika kau terus berhubungan dengan William Wijaya. Paman dan bibi sangat tidak setuju."
Angel harus bagaimana, apa harus dia iyakan dulu paman dan bibinya agar mereka tenang. Tapi itu sama saja dengan berbohong. Namun putus dengan William bukan rencananya dalam waktu dekat. Lagipula hubungan mereka baru saja dimulai.
"Terima kasih paman sudah mengerti posisiku. Aku akan mengakhiri hubunganku dengan William."
"Paman tidak ingin mendapat laporan William datang lagi ke rumah ini."
"Baik paman." Angel mengangguk pasrah. Ia terpaksa berbohong pada paman bibinya. Sebagai bukti, ia diminta untuk mengirim pesan putus dan memblokir kontak William yang dengan berat hati diikuti Angel.
Meski sudah malam, paman dan bibinya tidak menginap. Mungkin sudah terlanjur marah pada Angel atau malah menguji Angel apakah William akan datang malam ini. Entahlah, Angel tak mengerti. Mencoba meyakinkan pamannya untuk ia tetap di Jakarta sudah membuatnya kelimpungan. Jadi ia sungguh tidak tahu bagaimana caranya meyakinkan paman bibinya untuk merestui hubungannya dengan William.
Begitu paman dan bibinya pergi, Angel segera menghubungi William melalui email. Menceritakan apa yang terjadi, terutama ketidaksetujuan paman bibi akan kehadirannya di hidup Angel.
Tidak masalah, William jelas memiliki banyak cara untuk mereka bertemu tanpa ketahuan paman dan bibi Angel.
***