NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Wuxia / Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Mengubah Takdir / Dan budidaya abadi / Ahli Bela Diri Kuno / Perperangan / Barat / Tamat
Popularitas:14.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Kak Vi

Kekacauan dan penderitaan kembali datang, seperti penyakit yang telah mengakar hingga tumbuh semakin ganas. Sepuluh tahun sudah berlalu sejak hari itu, hari di mana haru bahagia dikumandangkan di seluruh penjuru, saat akhirnya Ratu Iblis dan Naga Es berhasil dikalahkan di tangan Xin Fai.

Ibarat api kecil yang membesar dan melahap apapun yang berada di sekitarnya, musuh lama pun mulai menampakkan jati dirinya kembali, mengguncang dunia persilatan setelah beberapa tahun dan kembali dengan membawa bencana yang jauh lebih mengerikan.

Bahkan Rubah Petir pun tak yakin Xin Fai bisa mengalahkan musuh ini dan dibanding melihat Xin Zhan yang merupakan anak tertua dengan kejeniusan tak terbandingi, dia justru menunjuk Xin Chen yang sama sekali takmemiliki bakat dalam bertarung.

Xin Chen yang sering disebut 'anak gagal' berlari melawan takdirnya, menantang langit dan mengukir namanya sendiri dalam benak orang-orang.

Meski sering kalah dari Xin Zhan namun dia tetap bersikukuh menjadi Pedang Iblis kedua. Untuk menjamin perdamaian dengan nyawanya sendiri, walaupun kebanyakan orang yang ingin dia lindungi adalah mereka yang melihatnya sebelah mata.

"Tidak ada kekalahan dalam diriku, aku hanya jatuh untuk menang. Karena pemenang sebenarnya adalah seorang pecundang yang bangkit dan mencoba sekali lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Vi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 23 - Pertarungan

Seperti yang sudah dijanjikan Walikota menyerahkan beberapa berkas yang pernah diserahkan Xu Ming tempo hari lalu sebelum kematiannya. Dia menerima artefak dari Xin Chen dengan senang hati, sesaat Xin Chen membalikkan badan sebentar.

"Jika mereka bertanya dari mana Artefak itu, katakan saja kalian sudah membunuhku. Selebihnya terserah," ujarnya berlalu begitu saja.

Walikota tentu takkan berani mengatakan yang sejujurnya pada orang-orang dari Asosiasi Pagoda Perak, di samping mereka jelas adalah musuh, Walikota sendiri tak ingin membahayakan nyawa keluarganya dengan alasan tersebut.

Xin Chen membolak-balik isi laporan di dalamnya, tampak di kertas yang usang tersebut Xu Ming tengah mengharapkan orang-orang dari lembaga untuk menanggapi masalah ini dengan serius.

Di surat yang paling terakhir Xu Ming menjelaskan dengan tegas, bahwa akhir-akhir ini dia menemukan sebuah kawasan anti pemerintah yang telah dibangun oleh Kekaisaran Qing. Daerah ini meliputi dua desa sekaligus dan jaraknya hanya berkisar beberapa meter dari perbatasan.

Yang menjadi titik teranehnya adalah mereka bekerja sangat tertutup, tidak ada kejelasan bagaimana kelompok ini bisa berdiri amat cepat hingga meluas kedua desa sekaligus.

Lalu Xu Ming juga mengatakan dalam suratnya, dia bertemu dengan sosok pria mencurigakan. Saat Xu Ming dalam perjalanan jauh, sebuah desa terbakar habis hanya dalam beberapa menit, tidak ada siapapun yang bisa menjelaskan apa yang terjadi. Kecuali ada satu orang dari desa tersebut yang keluar hidup-hidup tanpa terluka sedikitpun. Dia menggambarkan sosok tersebut mengenakan jubah dengan lambang ukiran yang persis sama dengan yang berada di saku Xin Chen.

"Sampai di sini sudah jelas, siapa yang musuh dan darimana asalnya. Guru, kita harus segera pergi ke desa Huaxi, dari berkas ini Xu Ming mengatakan mereka membangun markasnya di sana."

Rubah Petir mengangguk pelan, mereka segera melanjutkan perjalanan secepat mungkin.

Meskipun dapat berlari dengan kecepatan tinggi Rubah Petir tak menggunakannya untuk saat ini, dia sadar kaki Xin Chen masih terlalu pendek dan penguasaannya dalam ilmu meringankan tubuh masih amatiran. Sebab itu selagi dalam perjalanan dia menyampaikan beberapa teknik pernapasan pada anak itu

Xin Chen tertawa kecil, sebenarnya dia sudah mengetahui bagaimana caranya. Dengan mengunjungi perpustakaan di Lembah Kabut Putih setiap sore dan latihan keras sepanjang hari.

Hanya saja walaupun sudah bekerja keras Xin Chen tak dapat menunjukkan kemampuan terbaiknya, membuat jarak antara kekuatannya dengan Xin Zhan semakin terpaut jauh.

"Kau sudah mengetahuinya, bukan? Kenapa tidak mencobanya sedikit lebih keras lagi?" Rubah Petir bercelutuk, kecepatan Xin Chen tetap tak berubah

"Tu-tunggu kakiku rasanya tidak bisa berhenti berlari lagi..."

Daripada membalas Rubah Petir, Xin Chen malah menggerutu sendiri.

"Sepertinya anak ini memang perlu latihan keras, kau tahu setelah ini bisa saja kau akan dibunuh oleh Pendekar dari Lembah Para Dewa?"

"Y-ya?" Xin Chen tetap tidak bisa fokus, napasnya terdengar mulai ngos-ngosan.

Rubah Petir menggulirkan bola matanya malas, tangan rubah itu terangkat ke atas menciptakan sesuatu dengan energi petirnya.

"Kalau begitu berlarilah lebih kencang lagi atau kau akan disengat oleh mereka."

Xin Chen menaikkan sebelah alisnya, mulai melihat Rubah Petir kebingungan. Tak berapa lama terdengar bunyi lebah dari arah belakang, ketika Xin Chen menoleh wajahnya langsung berubah buruk.

"Apa-apaan-!? Lebah petir?!" Teriakannya terdengar ketakutan. "Wuahh mati aku, Ayah!!"

Rubah Petir menggeleng lagi dan lagi, benar saja, hanya dengan sedikit tekanan kecepatan lari Xin Chen bertambah setidaknya tiga kali lipat. Rubah Petir menyeimbangkan derap kaki mereka, menyusulnya sembari menatap gelapnya langit malam.

Dia berhenti sejenak, memanggil Xin Chen yang sudah berlari jauh darinya.

"Hei, apa kau tidak berniat berhenti sebentar?"

"Bagaimana mau berhenti? Lebah-lebah ini mengincarku, Guru!" umpat Xin Chen. Salah satu dari lebah tersebut menyengatnya dan seperti yang Xin Chen duga, sengatan itu hampir saja membuat dirinya pingsan.

Rubah Petir menghilangkan lebah-lebah tersebut dan menyuruh Xin Chen beristirahat. Anak itu berjalan mendekat dengan napas putus-putus kemudian duduk sembarangan di sampingnya.

"Untuk situasi tak terduga, gerakan refleksmu terbilang bagus," ujar Rubah Petir. Xin Chen mendengus, melirik ke samping.

"Aku baru tahu tentang hal itu sekarang."

"Karena selama ini keselamatanmu terjamin?"

"Ya... Baik Ayah, Ibu dan Zhan Gege, mereka selalu menyelamatkanku kalau sedang berada dalam kesulitan. Sebaliknya aku..." Nada bicaranya berubah murung. "Aku hanya menambah beban pada mereka, sama sekali tidak bisa membantu di saat-saat seperti ini."

Binar mata Xin Chen terpaku di tangannya sendiri, entah sudah ke berapa kalinya dia mengeluh seperti ini pada Rubah Petir.

Tak ada tanggapan, tampaknya Rubah Petir dapat memahami apa yang dirinya rasakan. Xin Chen akui selain Ibu dan Ayahnya, hanya Rubah Petir yang bersedia menerima kelemahannya.

Namun pemikiran itu terbantahkan, Xin Chen justru dibuat kaget tak main-main ketika Rubah Petir malah menciptakan berbagai binatang berbahaya dengan energi petirnya.

"Daripada mengeluh lebih baik kau gunakan waktumu itu untuk berlatih!"

Xin Chen bergidik ngeri sehabis menghindari serangan macan dari petir tersebut, salah bergerak saja dia akan hangus disengat olehnya.

"Tapi aku sudah berlatih keras, dari pagi sampai sore. Tidak ada bedanya dengan Zhan Gege, yang membedakan hanya... Hanya aku yang tak memiliki bakat untuk menjadi penerus Ayah."

"Kalau begitu jadilah pecundang selamanya! Kau sudah mengambil berapa nyawa sejak kau pergi? Sudah berapa musuh Ayahmu yang sanggup kau berantas, dan hari ini kau bertingkah seperti bocah balita."

Xin Chen menahan segala serangan dari berbagai penjuru dengan pedangnya, beberapa sengatan menyetrum tubuhnya tanpa ampun.

Akan tetapi dibanding luka luar kata-kata Rubah Petir jauh lebih menusuk, Xin Chen tak tahu entah mengapa justru jika Rubah Petir yang mengatakannya semua hal ini menjadi cambuk menyakitkan.

"Apa aku perlu merendahkan Ayahmu juga agar kau sadar?"

Mata Xin Chen berkilat marah, dia menatapi Rubah Petir. "Jangan sekali-kali membawanya, Guru. Aku masih sangat menghormatinya."

"Sadar tak sadar dengan kemampuanmu yang seperti itu, justru kaulah yang membuatnya malu. Meski aku tak yakin benar atau tidak, tapi dari anggapan orang-orang tentangmu, kau pikir bagaimana perasaannya saat mendengar anaknya dihina-hina?"

Xin Chen berhenti bergerak hingga binatang yang diciptakan Rubah Petir bebas menyerangnya tanpa perlawanan balik. Tubuh anak itu mulai goyah namun enggan untuk jatuh.

Rubah Petir tak tahu menahu bagaimana respon Xin Chen, memang kata-katanya terlewat batas tapi mau bagaimana lagi. Xin Chen tak seharusnya hidup seperti sekarang, secara alami anak itu memang harus dilatih keras untuk melatih kekuatan sekaligus mentalnya.

Xin Chen menepis semua serangan yang datang ke arahnya, dia mulai fokus melancarkan perlawanan balik. Tanpa berniat menjawab kata-kata Rubah Petir, dari semua perkataan tadi memang baru kali ini Xin Chen tersadar. Bahwa dialah yang sebenarnya selalu mengecewakan Ayahnya.

1
Redmi 13c
eh sumpah gw ikutan sakit ati jir pas Xin chan dihina🗿
Asep Darajat
mantap ..
Fachri Mamonto
penulisan yang baik seperti novel
novel kho ping ho
pertahankan terus author...mudah mudahan kesini bikin novel pendekar dengan karakter nusantara
VirgoRaurus 31Smile
kisah ini mirip film 300 antara Sparta vs Persia....
VirgoRaurus 31Smile
bisa bayangkan orang berlari sembari berlutut....??? oon di piara....
VirgoRaurus 31Smile
di hiasi pakaian permadani...rupanya Author ga tahu, apa itu permadani.../Facepalm/
VirgoRaurus 31Smile
lho...kan para pema ah sudah di habisin MC semua....lha ini kok masih di incar panah...panah dari mana...
VirgoRaurus 31Smile
bukankah waktu itu hujan lebat...kenapa darah ga luntur oleh air hujan...yg bener aja Thor...
VirgoRaurus 31Smile
baru tahu ada pendekar takut di lempar sandal...
VirgoRaurus 31Smile
kekaisaran Shang yg damai & tenteram....tapi keropos di dalam...
VirgoRaurus 31Smile
emangnya kerbau makan kayu juga ya....kerbau dungu namanya...kayak Author, DUNGU.
VirgoRaurus 31Smile
mereka menyahuti para prajurit....apa yg di sahuti...yg betul "memerintahkan" para prajurit...sebenarnya Author bego atau oon...?
VirgoRaurus 31Smile
kok bisa ibunya MC dg gampangnya di culik, bukankah kediamannya dekat dg kekaisaran Shang...hal ini menunjukkan betapa lemahnya penjagaan di sekitar kekaisaran Shang.
VirgoRaurus 31Smile
kalau alurnya sudah keluar dari alur sebelumnya...jangan harap Author dpt dukungan lebih.....
karena ceritanya jadi bertele tele...bikin pusing readers.
VirgoRaurus 31Smile
ini bukan jawaban atas pertanyaannya sendiri...karena ada tanda tanya...kalau jawaban ga usah di beri tanda tanya (?).
VirgoRaurus 31Smile
lari Luntang lantung...kayak gelandangan aja istilahmu Thor...
VirgoRaurus 31Smile
ke 52 orang tersisa....pada paragraf di atas disebutkan tersisa 152 orang...yg 100 orang kemana Thor, bisa hitungan ga...?
VirgoRaurus 31Smile
AREP mbebaske bapake wae kok mbulet, Melu seleksi...ora mutuuuu...
VirgoRaurus 31Smile
di paragraf atas disebutkan tinggal MC berdua Yu Xiong...kok ini masih ada yg lain...hadeh...
VirgoRaurus 31Smile
di bawah kolong kasur...?
emang kasur ada kolongnya, harusnya di bawah kolong ranjang...Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!