NovelToon NovelToon
Belenggu Gairah Semalam

Belenggu Gairah Semalam

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan rahasia / Pernikahan Kilat / One Night Stand / CEO / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Sebuah jebakan kotor dari mantan kekasih memaksa Jenara, wanita karier yang mandiri dan gila kerja, untuk melepas keperawanannya dalam pelukan Gilbert, seorang pria yang baru dikenalnya. Insiden semalam itu mengguncang hidup keduanya.
Dilema besar muncul ketika Jenara mendapati dirinya hamil. Kabar ini seharusnya menjadi kebahagiaan bagi Gilbert, namun ia menyimpan rahasia kelam. Sejak remaja, ia didiagnosis mengidap Oligosperma setelah berjuang melawan demam tinggi. Diagnosis itu membuatnya yakin bahwa ia tidak mungkin bisa memiliki keturunan.
Meskipun Gilbert meragukan kehamilan itu, ia merasa bertanggung jawab dan menikahi Jenara demi nama baik. Apalagi Gilbert lah yang mengambil keperawanan Jenara di malam itu. Dalam pernikahan tanpa cinta yang dilandasi keraguan dan paksaan, Gilbert harus menghadapi kebenaran pahit, apakah ini benar-benar darah dagingnya atau Jenara menumbalkan dirinya demi menutupi kehamilan diluar nikah. Apalagi Gilbert menjalani pernikahan yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Puluh Tilu

Rumah pribadi Gilbert Rahadiansyah yang terletak di kawasan elit Menteng itu tampak hidup kembali. Setelah bertahun-tahun hanya dihuni oleh debu dan beberapa penjaga, kini rumah itu bersinar di bawah lampu-lampu kristal yang baru dibersihkan. Pelayan berlalu-lalang di taman, menata tanaman yang sempat liar, sementara di area kolam renang, lampu-lampu temaram memberikan kesan mewah sekaligus hangat.

Gilbert berdiri di balkon lantai dua, menatap ke arah gerbang. Ia tak pernah menyangka akan berada di fase ini; menyiapkan rumah untuk seorang wanita yang kini menyandang status sebagai istrinya. Demi kenyamanan Jenara, ia mempekerjakan lebih banyak pelayan, memastikan setiap sudut rumah siap melayani kebutuhan wanita hamil itu dengan sempurna.

"Tuan, barang-barang sudah saya pindahkan ke kamar utama," lapor seorang pelayan pria.

"Rapi kan bajuku di lemari. Pastikan sisi kanan lemari dikosongkan untuk Jenara," perintah Gilbert singkat.

Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Gilbert mengeluarkan ponselnya, mengetikkan pesan singkat berisi lokasi rumah tersebut kepada Jenara.

[Pesan Teks, Gilbert Rahadiansyah]

"Ini lokasi rumah kita. Jangan pulang larut malam. Tubuhmu bukan hanya milikmu sekarang."

Ibu Nurul, kepala pelayan yang sudah lama mengabdi pada keluarga Rahadiansyah, mendekat dengan sopan. "Tuan Gilbert, makanan apa yang ingin dimasak untuk makan malam pertama Nyonya di sini?"

Gilbert terdiam sejenak. Sebuah ide asing melintas di kepalanya. "Ibu Nurul, biar saya yang masak malam ini. Tolong siapkan bahan-bahannya saja, sayuran segar dan daging ayam."

Ibu Nurul tertegun. "Tuan ingin memasak sendiri?"

"Ya. Anggap saja ini sambutan dariku," jawab Gilbert tanpa menoleh.

Ibu Nurul tersenyum tipis. Ia segera menyiapkan segalanya di dapur. Setelah semua bahan siap, Gilbert memintanya untuk pergi. Sudah lama ia tidak mengasah kemampuannya di dapur sebuah keahlian yang ia pelajari saat bertahan hidup saat masih berkuliah dulu. Dengan cekatan, ia mengolah sayur sop yang bening namun kaya rasa, serta menggoreng ayam dengan bumbu rahasia hingga kecokelatan sempurna.

Pukul 18.50, semua sudah siap di atas meja makan. Uap panas masih mengepul dari mangkuk sop. Gilbert merasa puas. Ia pun naik ke lantai atas untuk mandi, ingin tampil segar saat menyambut Jenara. Namun, ia tidak tahu bahwa di belahan kota lain, Jenara sedang membangun benteng pertahanannya sendiri.

Di kantor pusat PT Digdaya Guna, suasana masih tegang. Jenara duduk di balik meja kerjanya, matanya yang merah menatap nanar pada layar laptop. Meskipun kebocoran data sudah teratasi berkat bantuan "tak terlihat" Gilbert yang menambahkan enkripsi tingkat elite pada servernya, Jenara tetap merasa belum cukup.

"Bu Jen, tolonglah... ini sudah jam tujuh malam," keluh Alexa yang berdiri di depan meja Jenara. "Posisi perusahaan sudah aman. Grafik saham mulai mendaki kembali. Kita hanya butuh waktu beberapa hari untuk stabil sepenuhnya."

Jenara tidak mengangkat kepalanya. Jemarinya masih menari di atas keyboard. "Aman bukan berarti selesai, Alexa. Aku harus memastikan tidak ada satu pun celah yang tersisa. Aku tidak mau bergantung pada bantuan luar selamanya."

"Tapi Tuan Gilbert sudah mengingatkan berkali-kali lewat pesan, Bu. Beliau menunggu Anda di rumah," Alexa mencoba mengingatkan dengan lembut.

"Dia bukan bosku," ketus Jenara. "Alexa, kau ini cerewet sekali seperti emak-emak komplek. Aku bukan anak kecil yang harus selalu diingatkan kapan harus makan dan kapan harus pulang."

Alexa menghela napas panjang, merasa geram sekaligus sedih. "Saya bukan emak-emak komplek, Bu. Saya sekretaris Anda yang peduli. Di dalam rahim Anda ada calon anak yang butuh nutrisi. Anda mungkin bisa menahan lapar, tapi janin itu tidak bisa."

"Keluar, Alexa! Kau mengganggu konsentrasiku!" bentak Jenara tanpa amarah, lebih kepada rasa frustrasi karena diganggu.

Alexa akhirnya melangkah keluar dengan bahu merosot. Ia tahu, jika Jenara sudah dalam mode dominan seperti ini, tidak ada yang bisa menyentuhnya. Bahkan seorang Gilbert Rahadiansyah sekalipun.

Waktu merayap hingga pukul 10 malam. Jenara masih di sana. Perutnya mulai bergejolak, rasa mual menyerang hebat akibat asam lambung yang naik karena belum makan. Kepalanya berdenyut-denyut. Namun, ego Jenara lebih besar daripada rasa sakitnya. Ia mengabaikan puluhan panggilan tak terjawab dari Gilbert. Baginya, pulang berarti menyerah pada aturan Gilbert.

"Ah, sial. Kenapa anak ini sangat merepotkan, sih!"

...**********...

Di meja makan yang luas, Gilbert duduk sendirian. Ia menatap makanan yang kini telah membeku. Lemak pada ayam goreng sudah mengeras, dan sop yang ia buat dengan penuh perasaan itu sudah kehilangan uapnya.

Ibu Nurul berdiri di kejauhan, menatap majikannya dengan rasa iba. Ia jarang melihat Gilbert menunjukkan sisi manusiawi seperti ini, memasak sendiri untuk istrinya. Namun, balasan yang diterima pria itu hanyalah pengabaian.

"Tuan... apakah ingin saya panaskan makanannya?" tanya Ibu Nurul hati-hati.

Gilbert tidak menjawab. Ia menatap ponselnya. Tidak ada balasan dari Jenara. Hanya pesan dari Alexa yang mengabarkan bahwa Jenara masih keras kepala di kantor.

"Baiklah, Jenara... jika itu maumu," gumam Gilbert, suaranya terdengar pecah di antara dinginnya ruangan. Tangannya mengepal kuat di atas meja.

"Ibu Nurul," panggil Gilbert tiba-tiba, suaranya kembali dingin dan datar.

"Iya, Tuan?"

"Buang semua makanan ini. Saya tidak ingin melihatnya lagi di atas meja. Jika ada kucing liar atau anjing di depan komplek, berikan saja pada mereka. Syukur-syukur dihabiskan oleh hewan liar daripada membusuk di sini."

Ibu Nurul tersentak. "Tapi Tuan, ini masakan Tuan sendiri... sayang sekali kalau dibuang—"

"Buang, Bu Nurul! Itu perintah!" potong Gilbert tajam. Mata pria itu menyiratkan kekecewaan yang sangat dalam, sebuah luka pada harga dirinya sebagai seorang pria dan suami yang mencoba membuka diri.

"Baik, Pak," jawab Ibu Nurul pelan.

Gilbert berdiri, hendak melangkah menuju tangga. Namun, ia berhenti sejenak. "Satu lagi... tolong bersihkan kamar tamu yang ada di bawah. Mungkin saja istri saya pulang dan dia ingin tidur di kamar lain. Pastikan AC-nya menyala."

Setelah mengatakan itu, Gilbert naik ke lantai dua dengan langkah berat, mengunci diri di kamar utamanya. Ia merasa bodoh karena sempat berpikir bahwa sebuah masakan rumah bisa melunakkan hati wanita seperti Jenara Sanjaya.

Ibu Nurul menghela napas panjang melihat kepergian Gilbert. Ia menatap makanan di atas meja. "Aduh, Tuan... jarang-jarang suami sukses seperti Anda mau repot di dapur. Pasti rasanya enak sekali." Ibu Nurul menjadi saksi bagaimana pria dingin seperti Gilbert berkutat di dapur begitu keren saat memegang pisau dan spatula.

"Sayang sekali jika makanan penuh cinta ini harus dimakan kucing atau dibuang."

Ibu Nurul memutuskan untuk tidak membuangnya. Ia membungkus makanan itu dengan rapi dan menyimpannya di penghangat. Ia berharap, ketika Nyonya-nya pulang nanti, beliau akan merasakannya dan menyadari perhatian Tuan Gilbert.

1
Renjana Senja
marahnya bisa dinego ternyata. kupikir marah ya marah aja gitu. ternyata bisa dinego.😂
Renjana Senja
gerah apa dingin sebenernya, Gilbert? kok dia pakai selimut, ente masuk selimut juga?
Renjana Senja
saling bertukar nafas tuh gimana rasanya. spill Gilbert, Jenara.
Three Flowers
iya, cepetan mandi... bahaya soalnya 🤣
Three Flowers
sama2 korban, sih... tapi jadinya mereka malah berjodoh🤣
☠🤎3Gˢ⍣⃟ₛ
kepedean sekali kalian berdua mau menghancurkan keluarga Althaf kau pikir semudah itu big mistake you know that 😏🤨
@dadan_kusuma89
Hilya, sejatinya kau sedang menyiksa dirimu sendiri. Justru hidupmu lah yang sebenarnya tidak pernah tenang akibat pikiran jahatmu itu.
@dadan_kusuma89
Hilya, pada dasarnya semua pria memang memiliki otak cabul. Namun ada yang remnya pakem dan ada yang tidak. Bahkan ada yang nggak punya rem. Namun, kebetulan Althaf remnya pakem 😁
MARDONI
Jenara kelihatan kuat di luar 😭🔥 tapi kalimat terakhir itu bikin aku sadar… dia takut. Takut banget. Aku ikut deg-degan nunggu reaksi Gilbert
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
wahhh, naikan gaji alexa, jenara
MARDONI
LANGSUNG DEG 😭🔥 Headline-nya aja udah bikin jantung copot. Jenara dan Albani??? Ini tuh nggak main-main.
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
butuh karena jebakanmu kan? kalo tidak, jenara gak akan sudi
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
Jangan bilang itu obat terlarang? perangsang kah?
Cahaya Tulip
waah Albani.. bakal ada CLBK kah ini? eh blm smpat cinta y.. tp jelas bakal bikin gil cemburu berat ini, jangan sampai dia tahu ya jen, kamu cari masalah aja sm babang gil😅
Miu Nuha.
tapi hati kecilny tetep aja was2 ya kan 🤭🤭
,, pokokny kalian berdua akn terus dihantui malam penuh ehem itu dn membuat kalian gk bisa tenang /Grin/
Miu Nuha.
terhina gk tuh bang /Chuckle/
minimal tertantang bang, kamu ice king dia ice queen,, ayo lawan! jangan kasih kendor /Determined/
Renjana Senja
Raina ini tuh umur berapa? kok kek nya obses terus. apa dia cemburu perhatian Gilbert diambil sama Jenara?
Renjana Senja
nah bener itu Raina. kamu harus segera sembuh biar ketemu sama Tante Jenara.
Renjana Senja
nah gimana tuh jawabannya Gilbert? bingung nggak diberondong sama pertanyaan itu?
Blueberry Solenne
Ah reader's kecewa kakak Thor, masa di gantung😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!