Berawal disalahpahami hendak mengakhiri hidup, kehidupan Greenindia Simon berubah layaknya Rollercoaster. Malam harinya ia masih menikmati embusan angin di sebuah tebing, menikmati hamparan bintang, siangnya dia tiba-tiba menjadi istri seorang pria asing yang baru dikenalnya.
"Daripada mengakhiri hidupmu, lebih baik kau menjadi istriku."
"Kau gila? Aku hanya sedang liburan, bukan sedang mencari suami."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kunay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengajaknya Jalan-jalan
Greenindia terbangun dengan kesadaran yang datang perlahan. Kepalanya terasa berat dan berdenyut, bukan hanya efek dari tangisan hebat malam sebelumnya, tetapi juga rasa lelah emosional yang luar biasa. Hal pertama yang ia sadari adalah kenyamanan. Ia tidak tidur di lantai dingin di dekat jendela, seperti yang ia ingat terakhir kali sebelum kesadaran sepenuhnya hilang.
Ia berada di atas kasurnya yang sempit, diselimuti oleh selimut yang hangat dan berbau detergen.
Siapa yang memindahkanku?
Hanya ada satu jawaban, dan itu membuat perutnya terasa mual karena malu. Rex Carson. Pria yang telah melihatnya dalam kondisi paling rentan, dan yang ia anggap sebagai sandaran sementara.
Greenindia segera bangkit. Ia menyempatkan membersihkan diri di kamar mandi, membiarkan air dingin membasuh wajahnya, berharap itu bisa menghapus sisa-sisa emosi yang terekam di matanya yang bengkak. Ia mengenakan kaus oversize dan celana pendek rumahan, lalu berjalan keluar kamar, sudah siap dengan dinding pertahanannya.
Di ruang tamu kecil itu, Rex Carson sedang duduk di sofa, dengan kaki yang lurus di atas bantalan, dan sebuah tablet tipis bertengger di pangkuannya. Cahaya pagi yang redup masuk melalui jendela, memantul di layar tabletnya. Rex mengenakan kemeja katun abu-abu longgar dan celana training.
Dia terlihat sangat fokus, raut wajahnya kembali ke mode 'CEO Sibuk' yang dingin.
"Kau sudah bangun, Nyonya Carson," sapa Rex tanpa mengalihkan pandangan dari layar, tetapi ia segera menekan tombol kunci dan meletakkan tabletnya.
"Jangan panggil aku begitu," balas Greenindia otomatis, berjalan menuju dapur. Ia meraih cangkir, berniat membuat kopi.
Rex tidak membalas sapaan Greenindia yang dingin. Dia hanya memerhatikan gerak-gerik wanita itu dengan tenang.
"Aku sudah membuat kopi. Aku meninggalkan pancinya di kompor," kata Rex, menunjuk ke arah dapur.
Greenindia melihat ke kompor kecilnya. Rex memang sudah menyiapkan kopi instan di dalam panci. Itu aneh. Rex biasanya lebih memilih mesin kopi mahal yang baru dibelinya daripada kopi instan murahan.
"Terima kasih," Greenindia bergumam pelan. Ini adalah pertama kalinya ia mengucapkan terima kasih tanpa sindiran.
Ia menuangkan kopi itu ke dalam cangkir, lalu duduk di kursi tunggal di seberang Rex. Keheningan terasa tebal, tetapi kali ini, itu bukan keheningan yang bermusuhan.
Rex menyadari Greenindia sedang menunggu dia membahas kejadian malam sebelumnya—baik itu tentang tangisan histeris, isakan "Ibu membenciku," atau konfrontasinya yang intens dengan Chester Anderson.
Namun, Rex sengaja mengabaikan semua itu.
"Bagaimana perasaan kakimu hari ini?" Rex bertanya, mengalihkan topik.
Greenindia mengerutkan kening. "Kakiku baik-baik saja. Kakiku tidak lumpuh sepertimu."
"Bagus," Rex mengabaikan sindiran itu. "Aku senang. Jadi kau bisa menemaniku keluar hari ini."
Greenindia menatapnya terkejut. "Keluar? Aku harus bekerja, Rex. Aku tidak bisa mengambil cuti seenaknya."
"Aku sudah menelepon manajermu," Rex berkata santai. "Antonio yang melakukannya, tepatnya. Dia memberitahu bahwa Nyonya Carson masih dalam pemulihan setelah operasi kecil. Kau mendapatkan cuti berbayar selama seminggu penuh."
"Kau gila!" Greenindia berdiri, tiba-tiba marah. "Kau tidak berhak melakukan itu! Aku tidak butuh uangmu!"
"Tentu saja kau butuh uangku, aku suamimu," Rex membalas, matanya sedikit menyipit. "Dan aku tidak gila. Kau hanya perlu istirahat, Green. Tubuhmu sudah mencapai batas. Minum alkohol, menangis, kelaparan, dan bekerja di tempat yang penuh asap. Itu bukan gaya hidup yang sehat untuk istriku."
"Aku tidak memintamu peduli dengan gaya hidupku!" Greenindia berteriak, amarahnya cepat tersulut. "Aku sudah bilang, ini hanya kontrak."
"Kontrak yang memaksaku bertanggung jawab atas kesejahteraanmu," Rex memotong, nadanya kini dingin dan dominan. "Kau jatuh sakit, aku panik di rumah sakit, aku yang menanggung biayanya, dan aku yang harus menahan rasa sakit di kakiku karenamu. Jadi, ya, aku punya hak untuk peduli dan mengatur jadwalmu."
Greenindia terdiam. Argumen Rex selalu logis dan sulit dibantah karena itu berlandaskan pada perjanjian mereka. Ia merosot kembali ke kursinya, frustrasi.
Melihat amarah Greenindia mereda, Rex mengubah nadanya lagi, menjadi lebih lembut, seperti yang ia lakukan malam sebelumnya saat memeluk wanita itu.
"Dengar, Green," Rex menghela napas. "Aku tahu kau sedang dalam kondisi terburukmu. Aku tidak akan membahas pesta itu, atau—kau bertemu artis papan atas, Chester, atau apa pun yang membuatmu menangis. Aku janji. Tapi aku juga tidak akan membiarkanmu mengurung diri di apartemen ini. Itu hanya akan menambah kesedihanmu."
Ia melanjutkan, nadanya kini penuh bujukan, seperti seorang psikolog yang berbicara kepada pasien yang bandel. "Jadi, mari kita keluar. Ke mana pun yang kau mau. Bukan untuk terapi, bukan untuk mencari tahu masalahmu, tapi hanya untuk mengalihkan perhatianmu. Bagaimana?"
Mendengar Rex berjanji untuk tidak menyentuh topik sensitif, kekakuan Greenindia sedikit mencair. Ia memikirkan tawaran itu. Kembali ke kamar hanya akan membawanya kembali pada memori tangisan semalam dan rasa bersalah terhadap Ayahnya.
"Ke mana pun?" tanya Greenindia, skeptis.
"Ke mana pun. Toko buku tua, taman kota, galeri seni, bahkan ke gunung—tapi aku akan menunggu di bawah, tentu saja," Rex menjawab, tersenyum kecil.
"Aku tidak bisa pergi terlalu jauh. Kau tidak bisa bepergian dengan kursi roda."
"Kursi roda ini tidak serapuh yang kau bayangkan. Kakiku juga sudah membaik. Aku bisa membawanya sendiri, dan aku punya Antonio di mobil jika dibutuhkan." Rex mencondongkan tubuh sedikit. "Jadi, di mana? Pilihlah, Green. Aku menunggumu."
Setelah berpikir sejenak, Greenindia akhirnya mengangguk. Entah mengapa, ia merasa sedikit lega. Kepedulian Rex, yang disamarkan sebagai keegoisan, terasa seperti pelukan yang ia butuhkan.
"Aku ingin ke pasar loak," kata Greenindia, matanya mulai menunjukkan sedikit minat. "Aku ingin mencari barang antik murahan. Tempat yang ramai dan... berdebu."
Rex terkejut. Pasar loak bukanlah tujuan yang ia bayangkan untuk wanita yang ia duga adalah pewaris konglomerat, tetapi ia segera mengangguk.
"Pasar loak? Menarik. Baiklah. Aku akan menyuruh Antonio menyiapkan mobil yang paling tidak mencolok yang kami miliki. Beri aku waktu lima belas menit."
Saat Rex mengambil ponselnya untuk menghubungi Antonio, Greenindia menatapnya. Ia merasa kehangatan yang asing. Kehangatan yang tidak pernah ia rasakan sejak Ayahnya meninggal. Ia tahu Rex sedang menyamar, tetapi untuk hari ini, ia memutuskan untuk menerima penyamaran itu.
Benar, hanya untuk hari ini.
..
..
Hai, Readers. Maaf, ya, sedikit lambat updatenya. Kemarin aku sedikit melakukan revisi untuk keseluruhan bab. Tapi tenang saja, tidak ada perubahan pada alur utama. Aku hanya menambahkan sedikit detail pada ceritanya. kalian bisa baca ulang dari awal kalau engga pun tidak apa-apa. Terima kasih. jangan lupa Like-nya.
semangat up