Mohon untuk tidak membaca novel ini saat di bulan puasa. Terutama disiang hari. Untuk malam hari, silahkan mampir jika berkenan.
"Aku tidak mau menikah dengan Pria tua itu, Ibu" kata Elina pada Ibu tirinya.
Elina di jual oleh Ibu tirinya pada seorang Pria yang tidak diketahui identitas aslinya. Sakit, jelas Elina merasa hatinya sangat sakit.
Apakah Elina bisa mendapatkan kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni J Kasim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Sudah sebulan Jonathan tidak kembali ke Apartemen, bahkan ia sering terlihat di layar kaca bersama dengan Niza. Bahkan Johathan tidak mengirimkan pesan atau menghubungi Elina. Di kediaman keluarga Javelis, Nyonya Alira telihat memainkan ponselnya mencoba menghubungi seseorang, Entah siapa yang ia hubungi.
"Ibu, aku ke sekolah dulu ya." Klara mencium pipi ibunya.
"Iya, sayang. Kamu hati-hati ya," Nyonya Alira tersenyum pada Klara sambil memegang pipi anaknya.
"Iya, Buk. Ibu jangan hawatir, aku akan jaga diri dari orang-orang jahat" ujar Klara berlalu pergi.
Di jalan, Klara hampir menabrak seseorang. "Maafkan aku, Kak" Klara menatap wanita yang hampir ia tabrak.
"Bukan kamu yang salah, tapi aku. Aku tidak melihat-lihat sebelum menyebrang"
"Kakak mau ke mana? Ayo aku antar," Klara menawarkan tumpangan sebagai ucapan maafnya.
"Tidak perlu, kamu pergilah jangan sampai terlambat ke sekolah"
"Nama kakak siapa?" tanya Klara sebelum pergi.
"Elina,"
"Semoga kita bertemu lagi kak," Klara melambaikan tangannya kemudian pergi meninggalkan Elina di pinggir jalan.
Perusahan Javelis
Jonathan menatap layar komputernya. Membaca satu persatu file yang dikirimkan oleh Rainex. Bukan hanya itu, Jonathan masih punya kesibukan lain.
"Maaf, Pa. Aku sudah melarangnya tapi..."
"Pergilah," ujar Jonathan pada asistennya.
"Natan, aku menghubungimu berulang kali tapi kamu tidak mengangkatnya" Niza mendekat menghampiri Jonathan.
"Aku sibuk!" balas Jonathan dengan datar.
"Setelah ini boleh kan kamu temani aku ke Mall?" ujar Niza sambil mengelus wajah Jonathan.
"Aku sibuk hari ini, besok saja baru kita ke sana" ujar Jonathan tanpa menatap Niza.
"Aku mau hari ini!!" Niza mendengus kesal.
"Akan semakin sulit jika aku menolaknya," batin Jonathan.
"Oke baiklah, setelah ini kita pergi."
---------
Mall
Jonathan membiarkan Niza memilih sesuatu yang ia suka. Di waktu bersamaan, Elina dan Melisa pun berada di Mall untuk ke Gramedia.
"Elin, bukannya itu Jonathan?" Melisa menunjuk ke arah Jonathan.
"Jonathan bersama wanita itu lagi," batin Elina.
"Awalnya aku mengaguminya tapi semakin hari aku semakin membencinya!!" Melisa terlihat begitu marah saat melihat Jonathan tersenyum ke arah Niza.
"Mel, ayo kita pergi." Elina menarik tangan Melisa. Ia merasa hatinya hancur saat menyaksikan senyum itu.
"Sepertinya aku melihat Elina," batin Jonathan.
--------
Penthouse At The Pierre/ Malam hari
Sebulan setelah Jonathan tidak kembali ke Apartemen, Elina menyibukan dirinya dengan membaca buku dan berlatih. Ia sering ke Apartemen Melisa begitupun dengan Melisa, ia akan datang untuk menemani Elina di Apartemennya. Namun, malam ini Elina memilih untuk tidak diganggu.
"Aku rindu senyum itu, kini senyum mu bukan untukku lagi." Elina menatap jauh ke arah Kota yang terlihat indah.
"Tuhan, apa aku tidak berhak bahagia. Ibuku menjualku dan di saat aku jatuh cinta pada suamiku, dia pergi bersama wanita lain. Aku tahu, aku hanyalah wanita yang dibeli. Apa aku tidak pantas dicintai?" Elina menangis terisak-isak. Matanya mulai sebam hingga membuatnya mengantuk. Elina tertidur di sofa dengan buku yang masih berada di tangannya. Hembusan napas terdengar dengan pelan, air matanya sempat menetes menandakan hatinya sangat terluka.
Terdengar langkah kaki seseorang sedang memasuki Apartemen, perlahan langkah kaki itu tak terdengar lagi. "Sesakit itukah lukamu hingga kamu tertidur dengan air mata. Apa sebulan ini kamu tidur seperti ini, jika memang iya maka maafkan aku. Aku mencintaimu, istriku. Semoga kamu bisa menungguku" batin Jonathan.
Jonathan membelai rambut istrinya, satu kecupan ia daratkan tepat di kening istrinya. "Selamat tidur istriku"
"Jonathan," Elina menyigau memanggil nama suaminya. Dengkuran halus terdengar saat Elina semakin hanyut dalam tidurnya, Jonathan tersenyum saat menyaksikan istrinya menyigau.
"Kamu merindukanku tapi kamu tidak menghubungiku," gumam Jonathan lalu tersenyum.
"Maafkan aku, Jonathan." Elina kembali menyigau. Jonathan mengelus kepala istrinya sampai Elina tak menyigau lagi.
"Maafkan aku yang menyelinap masuk," gumam Jonathan kemudian pergi meninggalkan Elina yang tertidur.
Malam telah berlalu, pagi mulai menyapa. Sinar cahaya menembus kaca Apartemen yang menyilaukan. Elina mengerjap, ia melihat bukunya berada di tangannya.
"Ternyata aku mimpi, ku kira Jonathan datang menemuiku tapi ternyata tidak. Mungkin aku terlalu merindukannya," gumam Elina. Elina beranjak dari sofa berjalan menuju dapur. Ia membuka kulkas, mencari apa yang bisa dimakan.
"Aku makan yang ini saja," gumam Elina saat melihat roti tawar di dalam kulkas. Elina melahap roti tawar yang diolesi selei stroberi. Setelah ia merasa kenyang, ia berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya. Elina keluar dari kamar mandi setelah 20 menit berada di dalam.
"Ini kan ATM yang pernah diberikan Jonathan padaku," gumam Elina saat melihat ATM berada di dalam lemari pakaiannya.
"Aku tidak membutuhkan uangmu, bahkan Apartemen ini tidak pantas untuk aku tempati" batin Elina. Elina ke luar dari Apartemen menuju Apartemen Melisa. Elina menekan tombol yang berada di samping pintu Apartemen. Tak berlangsung lama, Melisa membukakan pintu untuk Elina.
"Mel, bisa aku numpang tinggal sama kamu" Elina menatap Melisa dengan tatapan sayu.
"Ya ampun Elin... pintu Apartemen ku terbuka 24 jam untuk kau." Melisa tersenyum pada Elina.
Elina nampak bahagia. Ia berhambur memeluk sahabatnya. "Mel, sepulang dari Kampus aku angkat barang-barangku ya" ujar Elina dengan mata berbinar.
Melisa tersenyum lalu melepas pelukan sahabatnya. "Oke. Sekarang kita ke Kampus, aku takut dihukum Prof Alnero" kata Melisa lalu menarik tangan sahabatnya.
--------
Harvard University
Elina sudah terbiasa tanpa Jonathan tapi entah kenapa ia tiba-tiba merindukan sosok suaminya saat sedang mengajar. "Aku sering melihatmu berdiri di tempat duduk itu," batin Elina. Ia menatap kursi dosen yang berada di depan.
"Natan, aku lebih menyukaimu menjadi seorang dosen. Aku rindu sosokmu," tiba-tiba senyum Elina menghilang berubah menjadi kesedihan.
"Elin, ada Prof Alnero." Melisa membuyarkan lamunan sahabatnya.
"Elina...!!!" panggil Prof Alnero sedikit meninggikan suaranya.
"Maafkan aku, Prof. Aku kurang enak badan," ujar Elina menunduk.
"Melisa, antar Elina ke UKS!" titah Prof Alnero.
"I-iya, Prof." Melisa menuntun Elina untuk ke UKS. Di dalam UKS, Elina memejamkan matanya. Pikirannya melayang entah ke mana. Sejak kepergian suaminya, ini kali pertama Elina merasa berada dipuncak kerinduan yang sangat dalam.
"Tuhan, apa aku salah jika mencintainya. Aku harus bagaimana?" batin Elina saat ia memejamkan matanya.
"Elin, badan kamu panas sekali..." Melisa terlihat panik.
"Aku baik-baik saja, Mel" ujar Elina dengan mata yang masih tertutup.
"Kita ke Dokter ya," kata Melisa sambil memegang tangan sahabatnya.
"Tidak perlu, Mel. Paling juga akan sembuh." Elina menatap Melisa dengan senyum.
"Terimakasih, kamulah sahabat sekaligus keluarga untukku" tangis Elina pecah dalam pelukan Melisa.
Kreek...
Pintu UKS terbuka. Elina dan Melisa menoleh. Melisa memilih keluar saat melihat siapa yang datang.
.
.
.
.
Bersambung.....
Jangan lupa like dan bintang 5nya bagi yang belum ngasih bintang 😊
secara walopun udah nikah lama kan mrk selalu berantem n terpisah trus...