" Menikahlah dengan Nev". Kata-kata itu sangat mengejutkan Nara, bagaimana bisa Ia menikahi Nev yang notabenenya adalah kakak iparnya. " Ini adalah permintaan kakak yang terakhir". Nara semakin bingung dengan permintaan kakaknya ini. Di tengah kebingungannya ini, Ia teringat akan sosok kecil mungil Deril, anak Nev dan kakaknya Kamira. Sosok yang Ia sangat sayangi.
Apakah Nara akan akan memenuhi semua keinginan kakaknya? Apakah Ia harus memutuskan hubungannya dengan kekasihnya?.
Semua keputusan yang ia ambil akan menjadi masa depannya kelak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Sarah membuka matanya perlahan. Samar-samar dilihatnya bayangan seseorang berdiri didepan jendela. Bayangan itu perlahan menampakkan aslinya. Pemilik bayangan itu sendiri adalah Ergi. Ergi tersenyum melihat Sarah yang sudah bangun dari tidurnya.
" Kamu sudah bangun?", tanyanya. Sarah mengangguk. Ia mengeluh sakit pada kepalanya. Ergi memberikannya segelas air lalu memberikannya lagi agar sakitnya sedikit berkurang. " Bagaimana? masih pusing?".
" Sedikit lebih baik. Terima kasih dokter".
" Tidak perlu sungkan".
" Dokter Ergi".
" Hmm".
" Kenapa dokter ada disini?".
" Tentu saja aku ada disini, aku sangat khawatir padamu".
" Khawatir....., apa terjadi sesuatu padaku?".
" Kamu tidak ingat?".
Sarah menatapnya. Ia berusaha mengingat kejadian malam itu. Terakhir ia mengingat kalau seorang temannya membawanya dan setelah itu ia tidak tahu apa yang terjadi.
" Dokter Ergi, aku masih....". Sarah terdiam. " Tidak terjadi apa-apa padaku kan?". Ia menatapnya dalam. Bola matanya mulai berkaca-kaca.
" Sarah". Ergi berusaha menenangkan.
" Dokter, katakan padaku kalau tidak terjadi apa-apa padaku". Sarah mulai histeris karena Ergi tidak menjawab pertanyaannya.
" Tidak terjadi apa-apa padamu, kamu masih....". Ergi terdiam karena takut Sarah akan shock mendengar ucapannya. "Dia belum melakukan apapun padamu".
" Apa? dia? melakukan??". Sarah shock berat mendengar pernyataan dari bibir Ergi. " Dia....". Sarah tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. Dia perlahan mengingat pria yang terakhir bersamanya.
" Apa dia kekasihmu?".
" Bukan. Kami memang dekat tapi aku tidak menyangka dia akan melakukan ini padaku".
" Seharusnya kamu lebih waspada berteman, ada orang yang benar-benar tulus dan ada juga orang yang hanya ingin mengambil kesempatan. Kalau kami terlambat sedikit saja, entah apa yang terjadi padamu".
" Aku berpikir dia akan melindungiku tapi dia malah ingin mencelakaiku".
" Apa dia yang membawamu ke pesta itu?". Sarah mengangguk. " Kalian sudah kenal lama?".
" Lumayan".
" Dan kamu menyukainya?".
" Aku memang punya perasaan padanya".
" Aku tidak tahu kalau kamu sepolos itu. Bisa-bisanya kamu mengikutinya hanya karena perasaan sesama teman ataupun hati. Sejak awal aku bertemu denganmu waktu itu, wajahmu terlihat tidak bahagia. Tapi kamu memaksakan diri. Aku benarkan?".
" Iya. Aku merasa tidak enak untuk menolak ajakannya".
" Sarah, terkadang menolak sesuatu yang kamu anggap tidak sesuai dengan hatimu itu lebih baik ketimbang kamu menghargai seseorang tapi malah seperti ini jadinya. Terlebih jika kamu ada masalah, jangan hanya diam saja. Disini ada kakakmu, aku dan juga Nara. Kami siap membantumu. Kamu mengerti maksudku kan?".
" Aku mengerti, aku minta maaf sudah membuat semua orang khawatir. Dokter terima kasih sudah menolongku".
Ergi memeluknya.
" Iya dan tolong jangan seperti ini lagi. Aku benar-benar takut melihatmu malam itu". Sarah mengangguk membalas pelukannya.
Sarah tidak menyangka kalau orang yang sudah dikenalnya itu akan melakukan hal buruk padanya. Firasat yang tidak enak saat menghadiri pesta itu, ia buang jauh-jauh karena menghargai arti sebuah teman. Pesta yang sebenarnya membuatnya tidak nyaman. Terlebih mereka memaksanya meminum minuman yang memabukkan hingga membuatnya tak sadarkan diri. Hal itu membuatnya hampir saja kehilangan hal yang paling berharga dalam hidupnya. Jika saja Nev dan Ergi tidak datang, maka semuanya pasti akan berakhir dan akan menjadi penyesalan besar dalam hidupnya.
Ergi yang selama ini menjadi orang paling dihindarinya malah menjadi orang yang menolongnya. Orang yang dianggapnya teman malah membuatnya celaka.
Nara dan Nev hanya bisa memandangi mereka berdua dari depan pintu kamar. Mereka mengurungkan niat untuk masuk menemuinya. Saat ini Ergilah orang tepat untuk menenangkannya.
" Kakak tidak ke rumah sakit?", tanya Nara.
" Sebentar lagi", jawabnya. " Hari ini kamu tidak ada jadwal kuliah?".
" Ada, tapi agak siang".
ting tong...
" Biar aku saja yang buka", ujar Nev sesaat mendengar suara bel berbunyi. Nev pun turun untuk membuka pintu.
" Hai". Seorang pria dan seorang wanita menyapa Nev. Nev menatap pria yang ada dihadapannya ini, seseorang yang pernah dilihatnya sebelum ini.
" Wah...bukannya kamu pria itu", ujar Ergi tiba-tiba yang membuatnya bingung. Nev menyikut Ergi agar tidak bicara yang macam-macam.
" Kami temannya Nara. Namaku Meta dan ini Vino", ujarnya memperkenalkan diri. " Apa Nara ada dirumah?", tanyanya.
" Ada", jawab Nev.
Meta memandang Nev. " Anda suaminya Nara ya?". Nev mengangguk walaupun ia sedikit heran bagaimana ia tahu tentang itu. " Wah....Nara beruntung sekali", ujarnya kagum.
" Maaf??".
" Ah...tidak", ujar Meta menggaruk kepalanya. Ia tidak menyangka kalau suami temannya itu setampan ini. Sesaat meta kehilangan fokus dan hanya memandangi Nev.
" Kalian datang untuk menjemput Nara?".
" Iya dokter".
" Dokter?? darimana kamu tahu aku seorang dokter?".
" Tentu saja dari Nara. Dia banyak bercerita tentang dokter. Dia juga cerita kalau dia sudah menikah dan itu membuatku terkejut. Dia juga bilang kalau dokter itu sangat.....". Nara membungkam mulut Meta agar dia tidak bicara banyak lagi dan mengatakan semua yang pernah ia katakan.
" Nara??". Nev memandangnya.
" Kalian mau minum apa?", tanya Nara salah tingkah.
" Tidak usah repot", jawab Vino. " Kami datang hanya untuk menjemputmu. Bukankah kita harus menyelesaikan tugas yang kemarin".
" Oh iya, tunggu sebentar ya. Aku akan mengambil tasku". Nara bergegas mengambil tasnya. Ia pun turun dengan mengendong Deril. Meta segera menghampirinya begitu melihat Deril. Ia terpesona dengan Deril yang begitu menggemaskan.
Deril yang melihat Nev memintanya untuk digendong. Nara pun memberikan Deril pada Nev.
" Kak, aku pergi ya", pamitnya meminta izin.
" Iya, jangan pulang terlalu lama", ujar Nev. Nara mengangguk. Ia pun mencium anaknya itu lalu bergegas memasuki mobil.
" Pria itu benar-benar berani, padahal ia tahu kalau Nara sudah menikah", celetuk Ergi tapi Nev tidak memberikan respon. " Lihat saja kemarin dia berani memegang tangan istrimu itu".
" Mereka hanya menyeberang jalan".
" Harus dipegang gitu tangannya". Nev melotot padanya dan membuat Ergi tidak ingin menggodanya lagi. " Kamu pasti senang setelah tahu kalau Nara mengumumkan pada temannya kalau dia seorang istri dengan satu anak".
" Biasa saja".
" Oh ya!".
" Kak". Nev dan Ergi pun menoleh. Sesat perdebatan mereka terhenti.
" Sarah". Nev menyuruhnya duduk disampingnya. " Kamu sudah baikkan?".
" Sudah lumayan kak".
" Syukurlah. Kakak sangat khawatir denganmu".
" Kak, maafkan aku. Seharusnya aku tidak pergi ke tempat itu. Aku hampir saja merusak nama besar keluarga kita".
" Tidak sayang. Jangan bicara seperti itu. Mulai sekarang lupakan semuanya, jangan mengingat kejadian itu lagi".
" Iya kak".
" Kakak sudah bilang pada Mama kalau beberapa hari ini kamu akan tinggal disini".
" Terima kasih kak". Sarah memeluk kakaknya itu. " Aku tidak akan melakukan hal yang membuatmu kecewa".
" Aku tidak dipeluk juga nih?". Sarah memukulnya. " Bukannya dipeluk malah dipukul. Lihat tantemu Deril, dia jahat sekali".
cerita nya besttt
semangat author 🌹🌹🌹🌹🌹