Series ke dua dari novel 14 Februari, yang menceritakan kehidupan karir dan asmara seorang Charity Lilybelle Tjaidjadi, atau yang lebih akrab di sapa Lily.
Bagaimanakah kisah selanjutnya?
Baca terus novel Lily ya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER - 23
Acara grand opening Lily Blossom berlangsung sangat meriah, pasalnya acara tersebut bukan hanya di hadiri oleh keluarga dan teman-teman terdekat Lily, namun juga para pelanggan yang tak sabar menanti potongan harga yang di tawarkan Lily saat grand opening toko bungannya.
"Bismillahirrahmanirrahim" setelah membaca baca basmalah Lily menggunting pita, sebagai simbolis di resmikannya Lily Blossom.
Fay yang berdiri di sebelah kiri Lily langsung memeluk dan memberinya ucapan selamat. "Selamat ya sayang," ia sangat bahagia dan bangga atas pencapaian yang di raih oleh putri sulungnya. "Terima kasih mom," ucap Lily.
Lily nampak canggung ketika ia beralih ke daddynya yang berada di sebelah kanannya, terlebih ketika Kendra menarik putrinya ke dalam pelukannya. "Congratz, my little sweety," ucap Kendra, ia juga mencium kedua pipi putri sulungnya itu.
"T-tahank you, dad," Lily menarik tubuhnya menjauh dari Kendra, sekilas ia melirik ke arah Fay untuk melihat reaksinya, kemudian Lily memberikan sedikit sambutam dan mempersilahkan pengunjung untuk menikmati makanan yang telah Lily sediakan, sembari berbelanja aneka jenis bunga yang berada di dalam tokonya.
Tak hanya menjual bunga secara offline, Lily juga menjualnya secara online, ia menayangkan acara grand opening tokonya di IG Live, untuk memudahkan pelanggan yang tak sempat datang ke tokonya.
"Jadi kamu sudah menambah pegawaimu?" tanya Gavin, ia nampak asing melihat beberapa orang yang sedari tadi sibuk membantu Lily.
Lily mengangguk. "Ya, dua hari yang lalu sebelum grand opening aku merekrut tiga orang karyawan. Dua orang pria untuk kurir dan 1 wanita untuk membantuku dan Rere menjaga toko saat kami sekolah." Lily menunjuk ke arah Linda, karyawan barunya yang tengah menulis pesanan secara online, sementara Rere sibuk melayani pengunjung yang datang langsung ke toko.
"Kak, Ly," Tara yang tengah memegang hanphone untuk IG live berjalan menghampiri Lily dan Gavin, ia meminta Lily untuk mempromosikan rangkaian bunga yang masih tersisa di tokonya. "Vin, aku tinggal sebentar ke sana ya," ia menunjuk ke arah bunga yang terpajang di depan toko.
"Iya sayang," ucap Gavin, sebetulnya ia ingin sekali mengambil sehuah peran untuk membantu kekasihnya, namun sayangnya ia kalah cepat dengan Tara. Tara sudah terlebih dahulu menawarkan diri menjadi admin sosial media Lily Blossom saat grand opening, bahkan Tara pula yang kini memotret bunga-bunga untuk feed di IG dan brosur toko.
"Bunganya cantik-cantik sekali ya," ucap Luna mendekat ke arah putranya. "Tapi sayangnya Lily melarang mommy untuk membelinya." tersirat rasa kecewa di wajah Luna, namun ia sangat mengerti dan menghormati keputusan Lily yang menginginkan bunga-bunganya di beli oleh para pelanggannya bukan di beli oleh keluarga atau pun dirinya. Sehingga kedatangan Luna dan Gavin ke toko itu benar-benar hanya untuk mensuport dan membatu Lily menyiapkan makanan untuk para pengunjung yang hadir pada grand opening toko bunganya.
"Mba Lily dari dulu memang tidak pernah berubah," sabung Raline, tiba-tiba saja ia muncul dan menyalip di tengah-tengah antara Gavin dan Luna. "Dia agak sedikit sombong, padahal kalau di lihat-lihat toko bunga ini sangat aneh dan menyeramkan."
Gavin melirik Raline dengan tatapan sinis. "Apa maksudmu?" tanyanya, darahnya langsung naik ke ubun-ubun mendengar Raline terkesan menjelek-jelekan toko bunga kekasihnya.
Raline menyentuh lengan Gavin dengan lembut, kemudian sedikit menggesekkan kulitnya. "Kakak bisa lihat sendiri, dindingnya di dominasi dengan warna ungu gelap dan hitam, ini lebih terlihat seperti rumah hantu di bandingkan dengan toko bunga." Raline menoleh ke arah meja kasir, ia mengambil bunga kering dalam vas oniks hitam yang di pajang oleh Lily di mej kasir. "Dia memajang bunga kering dalam tokonya, benar-benar sangat aneh bukan?"
Luna menahan Gavin untuk meluapkan emosinya, ia tersenyum kepada Raline sembari mengambil bunga kering yang di cabut oleh Raline. "Menurut tante, ini ide sangat brilian. Toko bunga ini berani tampil beda dan sangat berani," ia menaruh kembali bunga kering itu ke dalam vas. "Tante setuju dengan pendapat Lily, bunga tidak hanya hadir dalam acara kebahagiaan saja, tapi juga di acara berkabung. Calon menantu tante memang sungguh luar biasa, dia memikirkan hal yang tak pernah di pikirkan oleh orang lain, tante semakin bangga padanya."
Calon menantu.
Wajah Raline seketika berubah menjadi kesal, mendengar Luna menyebut Lily sebagai calon menantunya, tanpa berbicara sepatah kata pun Raline pergi meninggalkan Gavin dan Luna.
Melihat Raline pergi, Luna tersenyum ke arah putra semata wayangnya, "Enggak perlu marah-marah menghadapi orang seperti dia," bisik Luna, ia mengelus bahu Gavin dengan lembut.
Luna memahami betul rasa risih dan tidak nyaman yang di rasakan putranya setiap kali Raline mencoba mendekatinya, ia cukup lega karena putranya tak mudah tergoda, namun Luna tetap terus mengingatkan Gavin agar tak membuka celah kepada siapa pun jika tidak ingin kehilangan Lily.
"Apa mommy tahu jika dia sekarang tinggal di Jakarta?" tanya Gavin.
Luna mengangguk. "Dia bahkan akan satu sekolah denganmu," ujarnya. Luna mengetahui hal tersebut sesaat sebelum acar di mulai, ketika dirinya tengah menyusun kue bersama dengan Icha, ibunda Raline.
Sebenarnya Luna tak begitu terkejut dengan berita perpindahan Raline ke Jakarta, kerena sebelumnya ia sudah memprediksi, saat ia melihat berita mengenai bisnis baby spa milik Kevin yang mulai menggurita di wilayah Jabodetabek.
"Oh my God," Gavin mengusap wajahnya dengan kasar ia tak bisa membayangkan jika Raline akan terus mengganggungnya saat di sekolah nanti. "Pokoknya aku dan Lily harus pindah sekolah," pinta Gavin.
"No!!" jawab Luna dengan tegas. "Mana bisa seenaknya pindah, beberapa bulan lagi kamu akan ujian nasional."
"Tapi mom..."
"Sudahlah Vin, tidak ada yang perlu di khawatirkan, dia hanya anak kecil," Luna memotong kalimat putranya. "Lebih baik kamu bantu Lily di depan sepertinya dia dan Tara sedang kerepotan. Mommy mau bantuin aunty Fay beresin kue." Luna menepuk bahu Gavin kemudian ia meninggalkan Gavin ke belakang.
Pokoknya sukses untuk semua karya²nya dan semangat berkarya ❤❤
Terimakasih banyak buat Irma yang sudah menghadirkan kisah Lily yang memberikan begitu banyak pelajaran hidup tentang cinta, kesetiaan dan kesabaran.
Semangat terus untuk berkarya dan semoga kesehatan, kesuksesan dan keberkahan selalu membersamai, Aamiin....