Cahya Kirana gadis berusia 17 tahun, yang hidup dipanti asuhan setelah kedua orang tuanya meninggal, dan hidup dalam derita dan dendam membara, karena kehancuran keluarganya, hidupnya pun berubah setelah berjumpa dengan Leon, seorang Presdir yang sombong, dibumbui intrik dan romantisme yang membuat hidupnya berliku, gimanakah akhir kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vibyza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. kembalinya Kinan.
Mentari siang ini tertutup oleh awan, angin berhembus sepoi sepoi terasa sejuk menyegarkan, suasana hening pun tercipta di ruangan itu.
Cahya membelai pipi yang kusut itu, airmata yang sedari tadi mengalir kini mulai terhenti dan hanya sesekali buliran itu jatuh tanpa suara.
" Ma,,, ini Cahya ma,,, kakak,,, ini Cahya,,, lihatlah wajahku tataplah mataku, ku mohon sadarlah kak,,, kumohon sadarlah ma,,, sampai kapan mama tidur dalam lamunan,,, ma,,, apa mama tak ingin bertemu dengan Cahya lagi,,, apa mama masih marah sama papa? Ma, bukalah hati mama,,, rasakan kerinduan kami pada mama,,, kumohon ma,,, sadarlah,,, papa dan Cahya sangat merindukan mama,,, kami butuh mama,,, apa mama tega membiarkan kami sedih setiap detiknya, menanggung kerinduan yang begitu berat pada mama,,, tiap detik kami bahkan tiap desah nafas kami berharap bisa memeluk mama, mencurahkan semua kerinduan, kesedihan dan kebahagiaan yang kami rasa, ma,,, tiada kebahagiaan yang paling membahagiakan bagi Cahya selain kesembuhan mama!"
Cahya membelai rambut Kinan dan menciumi tangannya, buliran bening itu kembali mengalir dengan deras membasahi pipi dan jatuh di telapak tangan Kinan.
" Sayang,,, sudah jangan menangis lagi, jika tiba tiba mama sadar dan liat kondisimu yang memprihatinkan kayak gini pasti beliau akan sedih nantinya, bukankah kau dilahirkan untuk jadi pejuang, kenapa jadi cengeng kayak gini, seharusnya kamu kuat, dan tak lemah seperti ini, yakinlah mama Kinan pasti akan sadar dan kita bisa bersama selamanya sampai maut memisah kita, bersabarlah sayang,,, fikirkan juga perasaan papa melihatmu seperti ini, pasti ia lebih hancur daripada kita!"
" Hai gucilku yang cantik,,, yang baik,,, yang penyayang,,, yang tangguh dan tak takut apa pun kecuali Allah,,, dimana perginya gucil ku itu kemana aku harus mencari gucil ku yang seakan sirna tiada berbekas sekarang!"
" Disaat seperti ini ku ingin gucil itu yang hadir disini bukan seorang Cahya Kirana yang lemah dan takluk dengan keadaan, kuingin yang hadir sekarang adalah pejuang tangguh tak pantang menyerah dengan situasi seburuk apa pun, kau adalah pewaris tunggal keluarga Hadiningrat yang bisnis mu tersebar di Asia dan Eropa maka kamu harus kuat laksana singa betina yang tangguh melindungi keluarganya!" Cahya Kirana bangkitlah sekarang dari keterpurukanmu, jadikanlah 1% kesembuhan mama menjadi 100% kesembuhannya, kamu harus optimis bisa melakukan yang terbaik !"
Leon memberi semangat pada istrinya dan memeluk serta mencium kening Cahya dan mengusap buliran bening yang jatuh itu.
" Lihat sayang,,, air matamu sudah memenuhi tangan mama, apa kamu nggak capek menguras energi, hati, fikiran dan matamu, kasihan mata indah ini pasti juga lelah jika bisa bicara,,, mungkin juga akan protes padamu dan mungkin akan melawanku,,, he,, he,,,!"
Leon mencoba mencairkan suasana sekarang dan mencium kedua mata Cahya.
" Denger ya Le,,, kalo mataku bisa bicara dia juga akan protes kalau sakit tiap liat loe,,, apa lagi loe cium,,!" ucap Cahya ketus
" He,,,he,,, he,,,,akhirnya istriku kembali lagi!"
Sambil memeluk Cahya dengan erat.
" Cukup Le,,, aku nggak bisa nafas ini, apa kamu mau membunuhku dengan kenikmatan?" suaranya meninggi.
Leon dan Leo terkekeh dengan ucapan Cahya.
" Nggak lah sayang,, mana mungkin gue mau ngebunuh loe yang ada gue mau makan loe sampai tak bersisa!" bisik Leon lirih
" Bluuusshh!"
Wajah Cahya langsung memerah mendengar bisikan Leon. Sungguh ia tak menyangka jika suaminya itu akan menggodanya disaat seperti ini.
" Dasar buaya mesum,,,!" ucapnya seraya mencubit pinggang Leon.
" Sayang,,, atit,,,!" gayanya seperti anak kecil yang terluka.
Cahya memalingkan wajahnya dan menggigit bibir bawahnya menahan tawa.Leo hanya geleng gelengkan kepalanya karena ulah kedua anaknya itu.
" Sudah bercandanya, sekarang ikut papa menemui dokter dulu, ada yang ingin kita diskusikan dengan kalian!"
Setelah mencium kening Kinan, Leo melangkahkan kakinya keluar ruangan, disusul Leon sedang Cahya masih duduk bersimpuh dan mencium tangan Kinan.
" Mama,,, mama,,, mama,,, Cahya akan berbuat apa pun untuk kesembuhan mama, kumohon jangan menyerah ikutlah berjuang bersama kami,, Cahya dan papa membutuhkan mama,,, kumohon sadarlah ma,,, Cahya sayang dan rindu belai kasih mama,,,sekarang putrimu ini akan pergi dulu ma,, besok aku akan kemari lagi, jaga diri mama baik baik!"
Mencium kedua pipi dan kening Kinan, lalu mencium kedua tangannya. Saat akan melangkah ke luar ia mendengar sesuatu yang mengejutkannya.
"Cahya,,,!"
Suaranya lirih dan bergetar. Cahya pun berlari mendekat dan menatap lekat wajah itu.
Airmata tak bisa dibendung nya lagi. Ia menangis dan memeluk tubuh Kinan.
" Mama,,, akhirnya mama sadar juga ma,,, Cahya sangat bahagia, jangan pernah tinggalin Cahya lagi ma,,, kumohon berjanjilah jangan tinggalin Cahya dan papa lagi. Kami sangat menderita karena jauh dari mama,,, cukup sudah penderitaan papa,,, jangan siksa
dia lagi ma,,, hikss,,, hikkss,,,, hiikkkssss!"
" Cahya,,, sayang,,,jangan tinggalin mama,,, mama nggak bisa hidup tanpa Cahya,,, lebih baik mama mati saja dari pada harus kehilanganmu nak!"
Mereka berdua saling berpelukan dan menangis tanpa mereka sadari seseorang datang dan memeluk mereka berdua.
" Sayang,,, akhirnya kau kembali, terima kasih Tuhan untuk anugerahmu, kini kalian bisa bersama lagi!"
Cahya dan Kinan pun melepas pelukan mereka dan melihat siapa yang telah memeluk mereka.
" Bunda,,,!"
"Oma,,!"
Mereka pun berpelukan dan saling menitikkan air mata bahagia.
Ruangan yang tadinya sepi kini berisik dengan suara Oma dan Cahya yang saling merajuk. Leon dan Leo yang menunggu Cahya diruang dokter pun memutuskan kembali keruang Kinan karena Cahya belum juga muncul. Saat tiba di depan ruang itu mereka curiga dengan suara berisik dari dalam. Saat mereka membuka pintu dan melihat pemandangan didalam sungguh mereka terkejut, Oma dengan Cahya sedang mendandani Kinan sesuai selera mereka. Sedang Kinan hanya pasrah dengan ulah keduanya.Leo segera masuk dan
" Hentikan semua!" bentaknya berteriak
Cahya dan Oma pun menghentikan aktivitasnya. Mereka hanya terdiam dan menunduk karena takut dengan tatapan tajam Leo.
" " Sayang,,, akhirnya kamu sadar dan kembali pada kami, Kinan maafkan aku,,, tolong maafkan aku!"
Leo bersimpuh di depan Kinan dan airmatanya pun mengalir.
" Le,,, kamu nggak malu nangis kayak anak kecil di depan putri kita,,, apa papa Cahya selemah itu,,, sungguh aku kecewa, Leo ku bukan orang yang lemah, ia kuat menghadapi semua cobaan, kau bukan Leo ku, pergi,,, aku tak mau melihatmu!" ucapnya lirih
Mereka semua terdiam dengan ucapan Kinan.
" Ma,,, ini papa ma!" bisik Cahya
" Pergi,,,!"" teriak Kinan.
bersambung💖💖💖💖💖