Luna Xaviera, gadis berusia 18 tahun terpaksa harus menikah dengan seorang pria yang tak lain adalah gurunya sendiri Devan Alexander.
Pernikahan yang tanpa di dasari rasa cinta di antara keduanya akankah berakhir dengan bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Setelah melakukan perjalanan selama dua puluh menit, akhirnya mereka bertiga sudah berada di depan gerbang mansion milik keluarga Alexander.
"Akhirnya sampai juga,'' cicit Aldo melirik Luna sekilas lalu turun.
Sedangkan Luna, gadis itu terlihat gugup dan masih diam di tempat. Entah apa yang sedang dipikirkan olehnya.
"Ayo kita turun Luna, mau sampai kapan kamu jadi patung di sini?" ujar Zelin terkekeh, ia tau kalau saat ini sahabatnya sedang gugup.
Wajar saja karena ini kali pertama Luna pergi ke rumah mertuanya dengan status yang berbeda.
"Jangan meledekku, bodoh! Karena aku benar-benar gugup."
Aldo membuka pintu samping Luna, lalu mengajak gadisnya untuk turun. "Ayah dan Ibu sudah menunggumu. Cepatlah. Jangan buat mereka kecewa."
Luna terpaksa menerima uluran tangan Aldo dan turun. Aldo bisa merasakan keringat dingin keluar dari telapak Luna. Ya, jika dirinya di posisi Luna pasti juga akan merasakan hal yang sama. Tapi sayang sekali dia seorang pria bukan.
Zelin mengikuti langkah kaki kedua sahabatnya yang berjalan masuk ke dalam.
''Selamat datang Tuan, Nona," sapa salah satu pelayan. "Nyonya sudah menunggu di ruang makan.''
"Ya aku tau. Terima kasih, Bik.'' pelayan tersebut segera pergi.
"Apa tidak sebaiknya aku pulang, aku takut menganggu acara makan malam kalian,'' celetuk Zelin merasa tidak enak hati.
"Kalau kamu pulang, ku pastikan kita bukan teman lagi,'' ancam Luna melirik tajam Zelin.
Zelin berdecak dan terpaksa menuruti kemauan Luna.
"Aku akan mengantarmu pulang nanti, sampai ke depan pintu rumah. Bahkan aku akan--''
"Kalian sudang datang?" sapa seorang wanita paruh baya, membuat Aldo mendengus kesal karena belum menyelesaikan ucapannya.
"Selamat malam, Nyonya," Luna mendekat dan meraih tangan Ibu mertuanya.
"Ibu sayang, karena sekarang kamu menantu kami. Aku tidak mau mendengar kamu memanggil dengan sebutan menyebalkan itu," gerutu Anna mengerucutkan bibirnya ke depan.
Luna dan Zelin melotot tak percaya.
Mereka pikir Nyonya Alexander itu adalah tipe wanita yang tegas dan dingin seperti rumor yang beredar. Namun ia terlihat humoris.
"Maafkan aku, Ibu.''
Anna memeluk Luna, kemudian matanya terfokus pada Zelin. Gadis cantik yang berada di samping Aldo.
"Tunggu, siapa gadis manis ini?'' Anna mendekati Zelin dan mengangkat sedikit dagunya agar menatapnya.
"Saya Zelin--''
"Kamu pasti kekasih Aldo.''
''What?!" pekik Aldo dan Zelin bersamaan.
Luna menahan tawanya. Kalau di lihat-lihat, mereka berdua memang nampak cocok. Mungkin akan lebih menyenangkan jika keduanya menjalin hubungan lebih serius.
''Aku dan dia? Mana mungkin, Bu. Zelin bukan tipeku," elak Aldo. "Lihat saja bentuk tubuhnya saja tidak menarik.''
Zelin yang mendengar ucapan Also merasa kesal. Anna yang melihat itu langsung melayangkan pukulan ke arahnya.
Plak!
"Sejak kapan kamu jadi mesum begini, hum?'' tanya Anna.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Saya sudah biasa mendengar mulut pedas Aldo yang pedasnya melebihi cabe setan!" Zelin sedikit menekan kata terakhirnya, membuat Aldo tak terima.
Terjadilah adu mulut di antara keduanya.
"Oh ya, Bu. Dimana Ayah?" Luna mencari keberadaan pria tersebut namun tak nampak sama sekali.
"Ikut aku, Ayahmu ada di kamar," Anna mengajak Luna menaiki tangga. Dimana tuan Bagas berada.
.
.
.
"Sayang, menantu kita sudah datang.''
Deg!
Luna menghentikan langkahnya saat melihat seorang pria yang sangat ia kenali menoleh bersamaan dengan masuknya dirinya ke dalam sana.
Jantungnya berdetak sangat kencang. Tenggorokannya tercekat seakan kehabisan kata-kata.
"Sudah lama ya tidak bertemu, istriku kecilku.''
Devan tersenyum tipis menatap Luna. Gadis yang selama ini membuat tidurnya tidak tenang.
"Kemari lah Luna." pinta Bagas meminta Luna mendekat.
"bagaimana kabarmu, Ayah? Aldo bilang kamu sakit. Tapi kelihatanya baik-baik saja."
Uhuk-uhuk.
"Aldo tersedak air liurnya sendiri saat mendengar ucapan Luna yang mengadu pada Ayahnya.
Bagas langsung melirik tajam Aldo seraya mengatakan kalau hukuman akan diterima olehnya nanti saat Luna sudah pergi.
"Ah ya, aku memang sakit menantuku. Tapi saat melihatmu, penyakit ku jadi sembuh," Bagas tertawa terbahak mencoba menyembunyikan amarahnya. Bagaimana bisa dia yang nampak sehat di bilang sakit?
"Syukurlah, aku lega mendengarnya.''
Devan yang sejak tadi berada di samping Luna mengusap pundaknya. Ada rasa rindu yang tidak bisa diungkapnya dengan kata-kata dalam hatinya.
"Apa kamu tidak merindukan suamimu, Luna?" bisik Devan lirih, membuat Luna meremang seketika.
"Dasar mesum!" gerutu Luna dalam hati.
"Malam ini menginap lah, Ibu akan menyiapkan kamar untuk kalian berdua," Anna yang mengerti melihat tingkah Devan segera menjalankan rencananya.
"A-apa? Menginap?''
Anna mengangguk mantap. "Apa ada yang salah jika kalian menginap?"
Luna menggeleng kikuk. "Tapi Bu, aku dan pak Devan--"
Anna mengernyit, jadi selama ini hubungan mereka masih sebatas guru dan murid? Oh astaga, pantas saja keduanya terlihat rikuh dan tidak berselera pada pasangannya.
"Pokoknya kalian malam ini harus menginap, titik! Tidak ada ada yang boleh membantah." Anna segera berlalu dari sana dengan seringaian tipis. 'Ku pastikan malam ini kalian akan memberikan cucu untuk keluarga Alexander'
...----------------...
ckk.. sok sokan nggak peduli aslinya cemburu