Harap bijak dalam memilih bacaan⚠️
Area 21++
Nadiyya Anita Putri seorang gadis yatim piatu yang kini hidup bersama ibu tirinya yang bernama Ibu Naya dan adik tirinya yang bernama Natasya Amora Silvia dirumah lantai dua peninggalan ayahnya.
Suatu hari ada seorang Nyonya besar dari keluarga Gonz'alez datang. Keluarga kaya raya dan sangat berkuasa di london - inggris.
Kedatangannya ke kediaman mereka karena ingin melamar seorang gadis untuk menjadikannya sebagai menantunya dan itu artinya dia akan menjadi istri dari putranya - Rahim Aditya Gonz'alez seorang yang berwajah dingin datar namun tampan dan sangat kaya raya.
Lantas siapakah yang dipilih oleh Nyonya besar untuk menjadi menantunya? apakah Natasya Amora Silvia atau kah Nadiyya Anita Putri?.
Dan bagaimana kah cerita perjalanan kisah pernikahan mereka yang tanpa adanya cinta sama sekali?.
Apakah ditengah tengah perjalanan pernikahan mereka nanti akan tumbuh benih-benih cinta? ataukah perceraian menjadi jalan terbaik?.
Yukkk ikuti cerita kisah mereka hanya di My Cold Husband
SLOW UPDATE 🙏🏻
NOVEL PERTAMA, MOHON DUKUNGANNYA ♥️
JANGAN LUPA KLIK FAVORIT ❤️, LIKE👍🏻, TINGGALKAN JEJAK 👣.
Tanpa kalian author bagaikan burung tak bersayap💔.
شكرا جزيلا♥️
Terimakasih banyak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22 - Cemburu
Mobil yang Rahim tumpangi melesat membelah jalanan yang nampak masih sepi, ya karena ini masih terlalu pagi. Jalanan yang masih berembun, langit biru yang nampak cerah. secerah senyum Rahim yang tak kunjung surut.
Sebenarnya Rahim ingin sarapan bersama dengan Nita tapi tidak bisa karena hari ini ada meeting penting dengan para koleganya.
Pak sopir sesekali menatap pada kaca spion dengan tatapan heran.
Tuan kenapa? Apa jangan jangan dia kemasukan Ghost!. dia bergidik ngeri sendiri.
Hingga mobil kini memasuki area parkir VVIP Gn.zles Company, Turun dan berjalan memasuki gedung. Di sana Vans sudah menunggu di Lobby. Vans menundukkan kepalanya hormat begitupun dengan para pegawai lainnya, tidak ada yang berani menyapa apalagi merayunya. Bisa-bisa mereka kehilangan pekerjaan saat itu juga jadi mereka hanya bisa memandanginya saja. Of course, very terrible. Oh no!
*****
Mansion Gonz'alez.
"Nona" panggil pak Razi keras. Membuat Nita dan para pelayan kaget dan langsung tersadar.
"Kak inaaa... apa benal Liyaa boyeh tin-gal di sini?" tanya Riyaa untuk ke 10 kalinya. Nita tidak tahu kalau Riyaa sudah puluhan kali menanyakannya karena dia tadi membatu akibat ulah Rahim.
"Ehhh... iya, apa sayang?" membelai lembut pucuk kepala Riyaa.
Riyaa langsung cemberut saat tahu kalau Nita dari tadi tidak mendengarkan nya. Nita jadi bingung, Mengapa Riyaa jadi cemberut?. Ia menoleh pada para pelayan, seperti bertanya kenapa?.
Namun hanya di balas cengengesan dan garukan kepala yang sebenarnya tidak gatal. Karena mereka tadi juga ikut membatu massal bersama Nita, sama tidak tahu.
Pak Razi tersenyum, sekarang ia juga mulai menganalisa Nona mudanya. Di lihat dari keterkagetan saat mendapatkan ciuman hingga membuatnya membatu dan wajah yang merah merona macam kepiting rebus.
Nita yang melihat senyum pak Razi untuk pertama kalinya bergidik ngeri.
"Pak! apa yang kau lihat?" tanya Nita berteriak, dia sedikit takut melihat pak Razi yang tersenyum saat menatapnya. Serentak para pelayan wanita menatap ke arahnya dengan tajam. Seperti bertanya, apa yang sedang kau lihat pak?.
Namun bukan pak Razi namanya kalau takut, dia membalas tatapan tajam para pelayan wanita dengan lebih tajam sontak mereka menundukkan kepala. "Kalian berempat cepat kembali ke tugas masing-masing! dan yang sisanya tinggal disini" segera mereka pergi. Mereka lupa kalau pak Razi adalah kepala pelayan. Damn!
"Riyaa sayang". panggilnya, masih membelai lembut rambut Riyaa dengan penuh kasih sayang. Namun anak kecil itu masih cemberut dan tidak mau berbicara.
"Riyaa... Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan?" tanya Nita dengan nada seceria mungkin agar menarik perhatian.
"Benarkah?" mendongakkan kepalanya.
"Ya benar, apa kau mau? hemmm?"
Cih. Apa ini Nita kenapa kau jadi seperti dia, berbicara hemm hemm.
"Mau mau mau" soraknya senang sambil melompat di atas tempat tidur.
Semua sisa mata yang ada di sana menatap ke arahnya dengan tatapan takjub.
Gimana caranya Nona menundukkan Tuan dan anak kecil itu!
Woooow! dengan mudahnya Nona mengentikan tangisnya!
Ahhh Nona apa kau punya Jampi-jampi! astaga! dia langsung ceria!
"E'hem" lagi-lagi pak Razi berdehem keras untuk menyadarkan para pelayan wanita yang sepertinya sangat mudah terhipnotis. "Kalian ikutlah dengan Nona"
"Dan sopir akan mengantarkan Anda Nona"
"Tidak pak... tidak perlu membawa mereka" tunjuknya pada para pelayan.
"Baiklah Nona" jawab pak Razi dengan seringai kecil di wajahnya.
Keluar dari mansion bersama Riyaa, Nita di buat terkejut saat melihat empat orang laki-laki berbadan kekar memakai jas hitam berdiri tegak mengelilingi mobil.
"Siapa kalian?"
Mereka menundukkan kepala hormat saat Nita mendekat.
"Mereka pengawal untuk Anda" pak Razi yang menjawab.
"Apa!"
Jalan-jalan yang sungguh tidak menyenangkan. Nita bisa membayangkan kalau ada yang mengawasinya maka pasti akan banyak larangan dan larangan!.
Really unpleasant!
Mall Taman Anggrek.
Merupakan mall yang sempat menjadi mall terbesar se-Asia Tenggara dengan luas 360.000 meter persegi. Terletak di Tanjung Duren Selatan, Grogol Petamburan Jakarta Barat. Mall dengan 7 lantai dan 528 toko.
Riyaa yang baru pertama kali pergi ke mall merasa sangat bahagia sekali, dia berlari kesana kemari membuat Nita kewalahan.
"Seharusnya aku tadi membawa para pelayan" gumamnya, menghela nafas.
"Riyaa... Riyaa jangan kesana!" pekik Nita saat melihat anak kecil itu berlari memasuki toko pakaian dalam. Astaga!
Nita langsung berlari menyusul. Akh sangat memalukan.
Tidak ada pilihan lain lagi.
"Anak siapa ini!" teriak manager toko yang sedang pms itu. Dia terlihat sangat emosi saat melihat seorang anak kecil bermain-main dengan lingerie.
Mendengar teriak 'kan dari manager toko para pegawai yang kocar-kacir segera berkumpul. Begitupun dengan Nita yang jua mendengar, dia berlari dengan kencang sampai mendorong pintu kaca toko dengan keras saking paniknya.
Nafasnya masih tersengal-sengal. Menyapu seluruh toko dia mendapati Riyaa yang memainkan lingerie dengan asiknya. Nita bingung harus bagaimana, dia menatap pada dirinya sendiri, kemudian tersenyum "Anak saya!" ucapnya tegas.
Semua orang yang ada di sana langsung mencari sumber suara, begitupun dengan manager toko yang sedang naik pitam akibat pms. Dia memutar badannya untuk manatap Nita yang masih berada di pintu masuk.
Manager toko itu menatap Nita dari atas sampai bawah. Banyak pakaian branded yang menempel di tubuh Nita, dari gaun, gelang, cincin, sepatu dan tas tangan. Semua itu barang-barang branded. Seketika itu juga wajah dan sikapnya berubah. "Silahkan masuk Nona" ucapnya ramah.
Nita tersenyum puas. Betul dugaannya, hampir semua orang menatap dari penampilan. Atau lebih tepatnya mereka menghormati uang bukan orang.
"Tentu"
"Silahkan duduk Nona" ucap manager toko lagi mempersilahkan Nita duduk di sofa dengan tangannya. Para pegawai toko kompak mengernyitkan alis mereka. Heran. Tadi sudah seperti kesetanan dan sekarang berubah 180° menjadi ramah.
Namun Nita tidak menghiraukannya. Dia berjalan cepat dan langsung menggendong Riyaa, dia melepaskan lingerie yang sedang anak kecil itu pegang. Anak kecil memainkan pakaian seperti ini! sangat tidak etis
"Tidak terimakasih, saya harus membawanya keluar dari sini... tidak baik bukan anak kecil bermain disini" tolak Nita dengan halus. Dan dia berusaha berfikir bijak seperti hal nya ibu-ibu sosialita zaman Now.
"Jangan khawatir saya akan membeli semua yang sudah anak saya pegang" Nita langsung bergegas menuju meja kasir, dia hanya ingin segera keluar dari toko pakaian dalam ini!.
Manager toko itu sigap mengambil berbagai macam lingerie. Bahkan ada lingerie yang tidak di pegang Riyaa tapi dia dengan sengaja masukkan ke dalam keranjang. Kesempatan bukan!.
Dua keranjang penuh lingerie berbagai macam model yang berhasil dia pungut dan membawanya dengan bangga ke meja kasir.
Nita tidak mempermasalahkan itu, mau dua, empat, atau delapan keranjang pun. Yang penting dirinya bisa segera keluar dari toko ini. Begitu yang dia fikirkan.
Membuka tas tangannya, dia mengeluarkan Black Card untuk membayar semua lingerie itu. Dan segera keluar dengan membawa delapan paper bag yang isinya hanya lingerie. Kalau tidak begini mana mungkin dirinya membeli pakaian yang kekurangan bahan.
Manager toko tersenyum sangat puas dengan hasil kerjanya saat melihat Nita yang sudah keluar tanpa ada protes apapun. Terus saja seperti ini maka aku akan cepat naik jabatan. Batinnya bergelora.
Dan sekarang para pegawai toko baru tahu akal bulus dari manager mereka.
"Kalian bawa ini" menyodorkan semua paper bag yang berisi lingerie pada para bodyguard yang setia menunggunya di depan toko. Bahkan mereka tidak malu berdiri di depan toko pakaian dalam.
"Riyaa kau harus ingat, tidak boleh lagi bermain main dengan benda tadi! apa kau mengerti" ucap Nita dengan sangat tegas. Dan terus berjalan menyusuri mall. Langkahnya terhenti saat melihat toko pakai anak, ada patung yang berjejer dengan berbagai macam pakaian anak perempuan didominasi dengan warna pink. Sungguh sangat comel.
Tidak menunggu waktu lama Nita langsung masuk ke dalam toko, dia dengan semangatnya memilihkan pakaian untuk Riyaa. Berbagai macam pakaian One set, Gaun, Hoodie, Celana Jeans, Celana kulot, bando, pita, sepatu, sendal. Dan banyak lagi lainnya
"Uh comel bangettt" ucap Nita melihat sepatu pink berlapis beludru silver, tak lupa dia juga mengait sepatu itu dan memasukkannya ke dalam keranjang.
Riyaa mencoba sepatu yang sudah berhasil menarik perhatian Nita, ternyata pas. Anak kecil itu langsung berlari lincah kesana kemari senang saat memakai sepatu baru.
Sekarang Nita dan Riyaa berada di gerai minuman OneZo. Gerai minuman yang katanya populer. Tentu setelah dia membayar semua belanjaan untuk Riyaa, karena terlalu bersemangat hingga membuatnya terlalu lelah. Hanya tersisa satu bodyguard, tiga lainnya membawa semua lingerie dan pakaian untuk Riyaa ke dalam bagasi mobil.
"Saya pesan With Brown Sugar Bubble mbak"
"Tunggu sebentar Nona"
"Iya"
Nita mengibas ngibaskan tangannya, ntah karena apa dia merasa gerah sekali padahal pendingin atau Ac sudah terpasang di seluruh ruangan, tapi tetap saja keringat bercucuran di pelipisnya.
Seorang pria yang duduk di sebelah tempat duduk Nita kini sedang melirik ke arahnya. Kemudian pria itu berbalik. "Ini" menyodorkan sebuah sapu tangan ke pada Nita.
Gadis itu mendongakkan wajahnya menatap pada pria tampan yang ada di sebelah tempat duduknya. "Terimakasih"
"Bukankah kamu orang yang pernah menabrak ku di depan caffe pasola?"
"Benarkah?" tanyanya terkejut, dia kembali mendongakkan wajahnya tapi segera mengalihkan pandangan ke arah lain. Rasa malunya masih ada saat mengingat kembali kejadian itu.
"Hei tidak usah sungkan padaku"
"Siapa nama mu? waktu itu kita tidak sempat berkenal bukan?"
"Nama ku Rahman" dia mengenalkan dirinya terlebih dahulu pada Nita. Seraya mengulurkan tangannya.
"Aku Nadiyya Anita Putri" jawab Nita menerima uluran tangan Rahman. Tanpa Nita sadari bodyguard yang bersama dengannya merekam semua yang dia lakukan. Namun bodyguard itu tidak tahu siapa pria yang bersama dengan Nonanya, karena posisi Rahman membelakangi nya.
"Nama yang sangat indah" puji Rahman. "Apa dia anak mu?" menunjuk pada Riyaa yang sedari tadi menempel pada Nita.
"Apa boleh aku minta nomor ponsel mu?" tanya Rahman lagi. Sepertinya dia ingin kenal Nita lebih dekat lagi.
"Ini bukan anakku... tapi sudah ku anggap seperti anakku sendiri" jawab Nita tersenyum. "Dan untuk ponsel aku----"
"Nona ini pesanan Anda With Brown Sugar Bubble" pelayan gerai memotong perkataan Nita.
"Ah iya... ini uangnya dan kembalinnya ambil saja"
"Maaf aku harus segera pulang... karena sepertinya Riyaa sudah mengantuk"
Belum sempat Rahman menjawab Nita sudah beranjak pergi menggendong Riyaa. Rahman tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dia memperhatikan punggung Nita sampai menghilang tanpa jejak.
*****
"Vans kau urus proyek pembangunan di London" ucap Rahim yang sudah berada di dalam ruangannya kembali. "Setelah rapat tadi, aku rasa aku tidak bisa pergi kesana." Dan meninggalkan istri ku sendiri. Tapi tidak di ucapkan nya
"Baik Tuan"
"Bagus" Rahim mengangkat tangannya ke atas meja untuk menopang dagunya. Lalu dia tersenyum, membayangkan berduaan dengan istrinya dengan kode ta'aruf. Ahhh aku tidak sabar untuk pulang.
Vans mengernyitkan alisnya. Mudah sekali sekarang dia tersenyum! padahal tadi Tuan ini marah-marah di ruang meeting.
"Vans... biasanya kalau orang berpacaran apa yang mereka berikan untuk pacarnya?"
Vans ternganga mendengar pertanyaan Rahim. Fikirannya melayang kemana mana.
"Aku ingin berpacaran dengan istriku" kata Rahim lagi, tak lupa dengan senyuman yang selalu mengambang di bibirnya.
Lagi dan lagi Vans mengernyitkan alisnya. Bukannya sudah menikah kenapa ingin berpacaran lagi, dan apa tadi yang kau bilang Tuan, istri!. Begitulah kira-kira yang dia fikiran.
"Terserahku!" menjawab acuh, seperti bisa membaca fikiran Vans.
"Kau tidak tahu karena kau itu jomblo" ejekan telak, yang mampu membungkam mulut Vans. Dia hanya tersenyum miris dan tidak menjawab.
"Pasti menyenangkan pacaran dengan nya bukan Vans?" beralih menyenderkan tubuhnya ke kursi dengan tangan yang terlipat untuk menopang kepala bagian belakang.
"Iya... iya Tuan pasti menyenangkan" menjawab hanya untuk menyenangkan Rahim.
"Heh apa kau bilang! dia itu istriku!" gausar sendiri.
Hah! apa salahku! bukankah kau tadi bertanya, tapi kenapa setelah di jawab kau marah!. Tunggu dulu, apa kau cemburu? Cih!.
"Tuan apa kau sedang cemburu?" tanya Vans tersenyum sampai matanya menghilang.
"Dengan mu? Cih!" sekarang giliran Rahim yang berdecih.
Vans menghela nafas, dia tahu kalau Tuan nya tidak akan pernah mengalah.
Ponsel Vans berdering, menandakan ada pesan masuk. Ternyata bodyguard yang bersama Nita mengirimkan sebuah foto padanya dengan pesan:
"Sepertinya Nona baru berkenalan dengan pria itu Tuan, karena posisinya membelakangi saya, jadi saya tidak bisa menatap wajahnya. Tapi saya yakin dia bukan siapa-siapa Nona"
"Baguslah"
"Siapa Vans?" tanya Rahim. Vans mengalihkan tatapannya dari layar ponsel ke Rahim. Ada sesuatu yang terlintas di otaknya. Dia menatap layar ponsel lagi bergantian menatap pada Rahim dengan seringai kecil di wajahnya.
Kemudian memberikan ponsel pada Rahim. Rahim menatapnya dengan teliti, dalam beberapa detik ekspresi Rahim berubah tidak bisa di artikan.
"Ayo kita pulang Vans!" langsung bangun dan berjalan keluar.
.
Babang Rahim kengapa nich?
.
Maaf banget baru bisa up🙏🏻 karena author terkena banjir massal jadi tidak ada waktu untuk nulis🙏🏻 thanks lho buat kalian yang udah dukung aku terussss... Aku suka baca komen-komen kalian... Alhamdulillah ada yang suka, ada juga yang minta up lagi, yang minta crazy up, yang minta panjangin, dan yang udah beri aku semangat 💪🏻 terimakasih banyak ya ♥️ kalau ga ada yang dukung, mungkin aku bakalan stop tengah jalan lho tapi karena ada kalian jadi aku usahain semampu aku, aku sayang kalian terimakasih banyak atas Vote, like, komen, saran, semangat yang kalian kasih ke aku. Semuanya pokoknya♥️♥️♥️