# YANG GA SABAR SAMA JALAN CERITANYA PASTI NYERAH DI TENGAH JALAN... #
( Bikin bingung kalo bacanya dari tengah. Saran penulis ikuti dari awal yaa. mksh...🙏😊)
Berawal dari misteri tentang kehamilan seorang gadis yatim piatu bernama Gendis akibat perbuatan seorang pria yang membuatnya terpuruk.
Dan pengalaman aneh yang dialami oleh sang adik yang bernama Patih, karena menolak cinta seorang wanita, membuatnya harus berjuang untuk bisa lepas dari pengaruh ilmu hitam.
Juga kehadiran anak indigo yang akan membantu mengungkap kisah mistis yang mewarnai perjalanan hidup para tokohnya, membuat kisah ini makin menarik.
Mau tahu...?
Simak kisahnya yuk...
( Mohon bijak dlm berkomentar. Kalo ga suka diskeep aja. Gampang kan ...? )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21 ( Terjawab )
Tiba-tiba Gendis menjerit keras saat mendengar suara tangisan bayi.
" Mama ..., jangan bunuh Aku Mama. Kenapa Kau buang Aku ?. Tempat ini kotor, gelap, sepi. Aku ga mau disini Mama. Tolong Aku Mama...," rintih seorang bayi sambil berusaha mendekati Gendis.
" Aku menyayangimu. Aku ga membuangmu. Aku memang pernah menyesali kehadiran mu, tapi belakangan Aku justru bahagia mengetahui Kamu tumbuh di dalam rahimku. Bukan Aku yang membuangmu tapi Mereka. Mereka yang membuatmu pergi ...," racau Gendis berulang-ulang.
Erna yang mendengar ucapan Gendis pun bingung sekaligus iba.
" Gendis, jangan kaya gini dong. Kamu kok makin ga terkendali gini sih. Inget Gendis, Anak Kamu ga suka ngeliat Kamu kaya gini...," bujuk Erna.
" Mereka orang jahat. Mereka yang bikin Anak Gendis pergi. Anak Gendis kesakitan dokter, dia ketakutan...," sahut Gendis sambil menangis.
Oyoh yang berada di samping Gendis juga nampak kewalahan menghadapi Gendis. Apalagi wanita itu juga kelelahan karena perjalanan jauh dan kurang tidur selama menemani Gendis.
" Gimana nih Bu dokter...?" tanya Oyoh cemas.
" Sabar Mak. Kita cari jalan keluarnya ya...," sahut dokter Erna yang diangguki Oyoh.
Keadaan Gendis yang kian memprihatinkan membuat Erna memutuskan memanggil seorang Ustadz untuk mengobatinya.
Kebetulan sang Ustadz adalah kenalan Adam.
" Jadi Kamu bisa ajak Ustadz ke rumah Aku sekarang...?" tanya Erna melalui sambungan telephon.
" Bisa. Aku ke rumahnya sekarang. Mudah-mudahan Ustadznya lagi di rumah dan mau Aku ajak ke rumah Kamu. Kamu jangan panik ya Sayang...," sahut Adam sekaligus menenangkan Erna.
Kalimat Adam membuat wajah Erna bersemu merah. Tapi tak lama, karena Gendis kembali menjerit dan membuyarkan lamunan Erna.
" Iya, makasih ya Dam...," kata Erna sambil menutup sambungan telephon.
Satu jam kemudian Adam tiba di rumah Erna bersama sang Ustadz.
" Silakan maksud Ustadz...," kata Erna ramah.
" Aku ga disuruh masuk...?" tanya Adam.
" Masuk dong, masa di depan pintu aja...," sahut Erna sambil tersenyum.
Adam pun tersenyum. Jika keadaan sedang tak genting, mungkin Adam akan segera memeluk Erna, wanita yang sangat dicintainya itu.
Di dalam rumah terlihat Oding dan Oyoh yang sedang menemani Gendis. Kecemasan jelas membayang di wajah keduanya dan sang ustadz pun paham apa yang terjadi.
Apalagi saat itu kondisi Gendis terlihat kacau. Matanya melotot, merah karena kurang tidur dan banyak menangis.
" Ini Ustadz Faiz, kenalan Saya. Beliau yang akan membantu Gendis...," kata Adam dengan santun.
" Terimakasih Pak Adam dan Pak Ustad, maaf kalo ngerepotin. Saya sama istri udah ga tau lagi harus gimana...," kata Oding pasrah.
" Insya Allah Saya bantu ya Pak...," kata Ustadz Faiz ramah.
Lalu ustadz Faiz meraih botol air mineral yang ada di atas meja dan mulai membaca doa dan beberapa ayat Al Qur'an. Sesekali ustadz Faiz meniup air mineral itu.
Saat ustadz Faiz membaca ayat-ayat Al Qur'an, Gendis pun bereaksi. Ia mulai menangis. Suaranya mirip suara anak kecil. Patih yang ada di ruang tengah dan sedang menonton TV pun ketakutan mendengar suara lain yang keluar dari mulut Gendis. Patih segera bergabung sambil mendekat pada bapaknya.
" Mama..., Aku sakit Mama. Dingin ... gelap ... kotor...," kata Gendis berulang-ulang.
" Dia mulai kerasukan...," kata Adam lirih.
Ucapan Adam mengejutkan semua orang kecuali ustadz Faiz.
" Kenapa disana ?. Kan di sana gelap, kotor lagi...," kata Ustadz Faiz dengan lembut.
" Aku dibuang disana. Aku masih mau sama Mama. Tapi Mama tinggalin Aku, hiks hiks. Mama jahat...," sahut Gendis pilu.
" Tapi ini bukan Mama Kamu. Jangan ganggu dia ya. Dia ga kenal sama Kamu," kata ustadz Faiz.
" Ini Mama Aku ...!" sentak Gendis sambil melotot.
Semua orang terkejut mendengar jawaban Gendis. Apalagi saat mengatakannya Gendis juga menepuk dadanya berkali-kali seolah makhluk halus dalam tubuhnya ingin mempertegas jika Gendis adalah miliknya.
" Kamu bohong !. Kamu bukan anaknya !. Karena saat ini Anaknya sudah ada di surga yang indah. Liat, liat ke atas...!" bentak Ustadz Faiz.
" Tapi dia Mama Aku. Aku sayang sama Mama, Aku mau ajak Mama biar ga sedih terus. Ayo Mama ..., kita pergi dari sini...," sahut makhluk dalam tubuh Gendis sambil menangis.
" Stop. Jangan bawa dia atau Aku ga akan segan lagi. Pergi dari sini...!" bentak Ustadz Faiz lalu kembali membaca ayat AlQur'an sambil menyentuh kepala Gendis dengan telapak tangan yang telah ditutupi sarung tangan itu.
Seketika Gendis menjerit panjang. Ia bahkan berontak saat Oding dan Adam mencoba membantu menenangkannya.
" Mama tolooonnng ...! sakiiit ... ampuunn ... ampuunn...!" jerit Gendis sambil menggelepar kesakitan.
Di bawah alam sadarnya Gendis merasa didekati sesosok anak kecil seukuran bayi yang berpakaian serba putih. Wajahnya sangat tampan dan sekujur tubuhnya mengeluarkan aroma harum. Bayi itu melayang mendekat ke arah Gendis sambil tersenyum padanya. Kedua tangan sang bayi terulur lalu menyentuh dan membelai kedua pipi Gendis.
" Mama..., Mama jangan sedih ya. Ini bukan salah Mama. Sekarang Aku udah bahagia di sana dan Aku ga sakit lagi. Aku tau Mama adalah ibu yang hebat karena Mama selalu jagain Aku dan melakukan yang terbaik buat Aku. Aku sayang sama Mama tapi Aku harus pergi. Jangan nangisin Aku lagi karena Aku ga suka liat Mama bersedih. Mama harus bahagia supaya Aku tenang ninggalin Mama. Kita ketemu lagi nanti ya Ma. Aku tunggu Mama di depan pintu surga...," bisik sang bayi sambil tersenyum.
" Ya Nak..., pergilah ... Mama ga akan nangisin Kamu lagi. Baik-baik disana. Tunggu Mama ya Nak...," sahut Gendis lirih.
Setelahnya Gendis pun jatuh pingsan dengan wajah penuh airmata dan senyum tersungging di bibirnya.
" Alhamdulillah...," kata Ustadz Faiz sambil mengusap peluh di dahinya.
" Alhamdulillah...," semua ikut mengucap hamdalah.
" Ada qorin jahat yang coba memanfaatkan keadaan Nak Gendis. Qorin ini dipelihara oleh dukun sesat untuk menakuti manusia...," kata Ustadz Faiz.
" Jadi yang merasuki Gendis tadi bukan anaknya Gendis, Ustadz...?" tanya Oyoh.
" Bukan Bu, ini semua kebetulan aja. Pas Gendis shock karena kehilangan anaknya, pas ada dukun yang perlu media buat nakutin manusia, jadilah seolah-olah janin Gendis yang mengganggunya. Padahal bukan...," sahut Ustadz Faiz.
" Tapi ini ga akan ganggu lagi Ustadz...?" giliran Oding yang bertanya.
" Tergantung manusianya Pak. Kalo dia abai dan membiarkan dirinya dipengaruhi setan, ya bisa aja terjadi kaya gini lagi, bahkan lebih parah. Makanya usahakan tetap ingat sama Allah, taat perintah Allah dan jauhi larangan Nya...," sahut Ustadz Faiz yang diangguki semua orang.
Tak lama kemudian Gendis siuman. Ia langsung memeluk Oyoh sambil tersenyum.
" Anak Gendis ga marah sama Gendis Mak. Dia cakep, ganteng, sehat, dan hidup bahagia di surga. Katanya Dia nungguin Gendis di pintu surga Mak...," kata Gendis bahagia.
Semua yang mendengar ucapan Gendis ikut terharu. Mereka tahu betapa Gendis sangat menyayangi anak yang tak sengaja hadir di dalam rahimnya itu. Saat mengetahui bayi itu lenyap, Gendis selalu menyalahkan dirinya sendiri. Gendis merasa dirinya bukan Ibu yang baik untuk anaknya. Tapi setelah pertemuannya dengan sang anak, semua keresahannya terjawab.
Perlahan Gendis bangkit berdiri lalu meninggalkan semua orang yang tadi menemaninya. Terdengar senandung kecil dari bibirnya pertanda kesedihannya selama ini lenyap dalam sekejap. Semua orang di ruangan itu ikut tersenyum senang.
Gendis kembali setelah membersihkan diri dan berganti pakaian.
" Maaf, ada yang lupa...," kata Gendis malu-malu.
" Apa...?" tanya semua orang.
" Terimakasih buat Bu dokter, Emak, Bapak, Pak Ustadz, Om Adam dan adikku tersayang, Patih. Maaf udah ngerepotin selama ini. Tapi Gendis janji, insya Allah kedepannya lebih hati-hati supaya ga kejadian kaya gini lagi...," kata Gendis sambil menunduk.
Semua orang saling menatap lalu tersenyum mendengar ucapan Gendis.
" Emang Kamu liat apa tadi...?" tanya dokter Erna penasaran.
Gendis pun menceritakan pengalaman spiritualnya tadi dengan lancar dan wajah berseri-seri. Semua mendengarkan dengan takjub. Betapa Maha kuasanya Allah Swt, dengan menunjukkan bukti kebesaranNya pada hamba yang beriman pada Nya.
bersambung