Di balik megahnya dinding Kerajaan Sanjaya, sebuah takdir kuno mulai terbangun. Pangeran Ares, sang pewaris takhta yang gagah namun menyimpan misteri di balik rajah di lengannya, terikat janji suci sejak balita untuk bersanding dengan Princess Ciara. Perjodohan ini bukan sekadar urusan politik, melainkan segel yang menjaga keseimbangan dua kerajaan besar.
Namun, bayang-bayang masa lalu mulai mengusik saat Naomi, seorang anak pelayan istana yang sederhana, menyimpan rasa yang tak seharusnya pada sang Pangeran. Kehadiran Naomi bukan sekadar bumbu cinta segitiga biasa; ada rahasia gelap dalam darahnya yang perlahan mulai memanggil kekuatan rune terlarang.
Tiga nasib terjalin dalam bayang-bayang masa lalu. Akankah Ares memilih kewajiban demi kedamaian kerajaan bersama Ciara?
Ataukah perasaan tulus Naomi akan menjadi kunci untuk menghancurkan kutukan yang selama ini menghantui Sanjaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilau Zamrud di Sisi Selatan
Aula agung Sanjaya perlahan kembali dipenuhi riuh rendah obrolan para bangsawan, meski aura ketegangan yang dibawa oleh rombongan Kerajaan Baitang Sang masih terasa pekat di udara. Di barisan kursi kehormatan yang terletak tepat di bawah podium raja, Naomi duduk dengan anggun. Gaun sutra marunnya terhampar indah, jatuh melingkari kursi kayu cendana berukir naga yang disediakan khusus untuk tamu agung dari Selatan.
Di sampingnya, Pangeran David Guetta duduk dengan bersandar santai, menopang sikunya di lengan kursi dengan wibawa seorang putra mahkota yang tak tergoyahkan. Tangan kirinya yang besar dan hangat bergerak perlahan, merangkul pinggang Naomi dengan protektif, menarik tubuh gadis itu agar sedikit lebih dekat ke arahnya. Sentuhan itu tidak kasar, melainkan sebuah gerakan yang penuh kepastian untuk menegaskan kepada seluruh isi ruangan bahwa wanita di sisinya adalah miliknya, sang Permaisuri Selatan yang tak boleh disentuh oleh siapa pun.
Naomi sempat menegang sesaat ketika merasakan hangatnya jemari David di pinggangnya, namun ia segera menguasai diri. Ia menegakkan punggungnya, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan ketenangan dan wibawa murni.
Sepasang mata hijau zamrud hasil sihir ilusi itu menatap lurus ke depan, memancarkan kecerdasan yang membuat para bangsawan yang mencoba mencuri pandang segera menundukkan kepala kembali karena sungkan.
Ketegangan dan keanggunan yang terpancar dari tubuh Naomi malam itu benar-benar mutlak. Di bawah temaram ratusan lampu kristal istana, sosok Putri Naonna tampak begitu mencolok, mengaburkan keberadaan wanita-wanita bangsawan lain di dalam aula, termasuk sang calon mempelai wanita, Princess Ciara.
Di sudut aula tempat persiapan mempelai, Princess Ciara berdiri diam dengan gaun pengantin peraknya yang bertabur permata Warden yang mahal. Namun, wajah cantiknya kini tampak mengeras, kehilangan binar kemenangan yang biasanya ia pamerkan. Matanya yang biru jernih tidak sedetik pun lepas dari sosok Putri Naonna yang duduk di seberang ruangan bersama Pangeran David.
Ciara mencengkeram kain satin gaunnya dengan tangan yang bergetar karena emosi. Sebagai putri tunggal dari Kerajaan Warden, ia terbiasa menjadi pusat perhatian ke mana pun ia melangkah. Kecantikannya yang dingin dan zirah peraknya selalu dipuja-puja. Namun malam ini, di rumah calon suaminya sendiri, kehadirannya seolah tenggelam, terkubur oleh pesona magis dan wibawa tak kasat mata yang dipancarkan oleh permaisuri misterius dari belahan Selatan itu.
Setiap kali Putri Naonna mengangguk kecil atau membalas sapaan para tetua dengan suara yang lembut namun tegas, Ciara merasa dadanya sesak oleh rasa tersaingi yang amat sangat. Keanggunan Naonna tidak tampak seperti sesuatu yang dibuat-buat atau dilatih di depan cermin istana; itu adalah jenis keindahan murni yang membuat gaun permata mahal milik Ciara mendadak terlihat seperti hiasan yang berlebihan dan murahan.
"Siapa sebenarnya wanita itu?" desis Ciara, suaranya bergetar menahan amarah yang tertahan di tenggorokan. Ia menoleh ke arah salah satu dayang setianya. "Mengapa Baitang Sang tiba-tiba membawa seorang permaisuri yang tidak pernah terdengar namanya di peta benua?"
Dayang itu hanya bisa menunduk ketakutan. "Hamba... hamba tidak tahu, Princess. Kabar dari Selatan mengatakan Pangeran David memang baru saja membawa pulang seorang wanita dari pengembaraannya, dan Ratu Micky langsung merestuinya sebagai permaisuri murni."
Jawaban itu sama sekali tidak memuaskan Ciara. Rasa tidak aman yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya kini merayap di dalam dadanya, mengubah malam pernikahannya yang seharusnya menjadi hari kemenangannya, menjadi sebuah panggung pembuktian di mana ia merasa kalah telak oleh seorang wanita asing bermata zamrud.
Sementara itu, Naomi bisa merasakan tatapan membunuh yang diarahkan Ciara kepadanya. Namun, alih-alih merasa terintimidasi, ia justru merasa kekuatan baru mengalir di dalam dirinya. Di bawah rangkulan tangan David yang menenangkan, Naomi melirik sekilas ke arah altar di mana pendeta agung mulai bersiap.
"Kau melakukannya dengan sangat baik, Naonna," bisik David sangat lirih di dekat telinga Naomi, suaranya tertutup oleh alunan musik petik istana. "Ciara tidak lagi melihat seorang pelayan dapur di atas kursimu. Dia sedang melihat seorang ratu yang siap merebut seluruh cahayanya."
Naomi tidak menjawab, hanya senyum tipis penuh rahasia yang terukir di bibirnya. Matanya kembali beralih pada Ares yang masih menatapnya dari kejauhan dengan pandangan yang dipenuhi sejuta pertanyaan. Permainan topeng sutra ini telah berjalan dengan sempurna, dan di balik keanggunan Putri Naonna, Naomi tahu bahwa waktu bagi Sanjaya dan Warden untuk membayar air mata kedua orang tuanya kini sudah semakin dekat.