"GADIS GILA! APA KAMU NGGA PIKIRKAN MASA DEPAN KAMU?!" bentak pemuda itu sambil menarik tangan Ana.
Ana memandang dengan takut tapi ia juga merasa lega karena sebenarnya, dia tidak berniat untuk bunuh diri.
Anabella Queena Tanaya, tidak pernah menginginkan wajah yang buruk rupa dan tidak memiliki teman itupun hanya bisa putus asa di atas atap apartemen yang sering ia kunjungi ketika merasa sedih.
Dua lelaki tampan datang ke hidupnya dan semuanya berubah dengan sangat drastis. "Apa aku bermimpi?"
Tekad gadis itu ingin jadi glow up, bukan main - main. Tahap demi tahap, bahkan ia berusaha menutupi luka masa lalu di sekolahnya yang lama, berbuah manis bahkan terlalu manis.
Tapi siapa sangka dengan dirinya yang sekarang, Ana malah dibuat bimbang dengan kejadian tak terduga di sekolah barunya.
Apa Ana akan bisa tetap menjadi Ana yang glow up tanpa ada yang tahu bahwa dia sebenernya korban pembullyan??
Atau ada seseorang dari masa lalunya yang mengetahui semua tentang Ana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Berliana Febbyola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 DENDAM YANG TAK PERNAH PADAM
Keesokan paginya, Kai masuk ke dalam kelas tapi tidak melihat Ana, biasanya dia sedang mengobrol dengan Jeje dan Sheila.
Melirik ke sekelilingnya, gengsi bertanya kepada sahabatnya Ana. Tak sengaja Kai mendengar obrolan Jeje dan Sheila.
"Pagi ini Ana pergi ke kelasnya Nathan, ada apa ya?"
"Dia usil ke Ana tapi sepertinya mereka lagi pengen ngobrol sesuatu. Soalnya Nathan tadi nggak seperti biasanya, menyapa Ana dan memberikan sebotol jus." jawab Sheila.
Mendengar hal itu, Kai langsung mengepalkan tangannya dan rahangnya mengeras.
Laki - laki itu beranjak keluar dari kelas.
Jeje dan Sheila terkejut, langsung saling memandang bingung.
"Dia kenapa?" tanya Jeje, Sheila menggelengkan kepala.
Disisi lain, Nathan duduk di kursi taman sekolah dan memainkan kunci motornya.
"Minta maafnya yang nggak tulus." sahut Nathan
"CK, iya iya."
"Maaf ya, siapa sih nama kamu? Aku lupa." jelas Ana tapi tiba - tiba, terdiam ketika melihat Kai ada di belakang Nathan.
"Nama aku? Masa nggak tau? Kamu lihat apa?" tanya Nathan sambil tersenyum manis, tapi ia baru sadar Ana terdiam dan pandangannya terfokus ke arah belakang Nathan.
[Sontak melihat ke belakang.]
"CK, merusak suasana aja." gerutu Nathan perlahan.
Kai menatap sinis ke arah Nathan begitupun juga Nathan yang tidak senang dengan kedatangan Kai yang dianggap pengganggu.
"Eh- kalian jangan berkelahi lagi. Udah stop! Aku mau pergi aja." pekik Ana, bersiap - siap akan kabur.
Nathan menahan tangan Ana, dan itu membuat Kai akhirnya bersuara.
"Lepaskan!" tegas Kai.
"Kalau aku nggak mau, kamu apa hah?!" jawab Nathan tak kalah tegasnya dengan Kai.
"Aku bilang lepaskan dia!" Menepis tangan Nathan untuk menjauh dari Ana.
Ana syok melihat mereka berkelahi di hadapannya.
"Eh, kalian kenapa sih? Jangan berkelahi disini!" tegur Ana, mulai cemas.
Tatapan keduanya semakin tajam, Nathan mulai maju mendekat.
"Ini hobi baru, hah?! Ganggu ketenangan orang lain?" geram Nathan.
"Aku nggak akan pernah biarkan kamu menghancurkan semuanya lagi, Nathan!" tegas Kai.
Baru kali ini, sosok yang dingin dan juga pendiam seperti Kai membuka suara dengan nada yang tegas.
Mengerikan.
Ana hanya terdiam karena tidak tahu cara memisahkan mereka berdua.
"Waduh, gimana ini?" bimbang Ana.
"Kamu pikir, aku yang selama ini menghancurkan persahabatan kita? Justru Kamu, dasar brengsek!" emosi Nathan tak terkendali dan kepalan tangannya melayang tepat di pelipis Kai.
DUAGH!!
Ana berteriak dan melihat pelipis Kai terluka. Saat Kai akan balas memukul, tiba - tiba dari arah samping suara Pak Garry (Guru BK) menghentikan mereka.
"BERHENTI! KALIAN INI DI JAM PELAJARAN PERTAMA BISA BISANYA RIBUT!"
"BUBAR!" timpalnya lagi untuk orang - orang yang menonton dari luar kelas mereka.
"Hadeuh merepotkan saja anak - anak berandalan ini. Kalian ikut saya ke ruang BK sekarang juga!" tegas Pak Garry.
Ana yang khawatir dengan keadaan mereka berdua pun turut ikut, tapi Pak Garry melarangnya.
"Heh kamu. Kamu nggak perlu ikut juga. Sana masuk ke kelas!"
"Tapi, Pak." sahut Ana, langsung melirik kedua laki - laki ribut mungkin karena dia.
"Aku nggak tau apa yang membuat mereka berdua nggak akur. Tapi, aku dengar kata 'persahabatan' berati mereka pernah sangat dekat." gumam Ana, lalu tak lama kedua temannya berlari menghampiri Ana.
"Ana! Kamu nggak apa - apa?" tanya Jeje khawatir, karena mereka tau dari beberapa orang kalau ada kejadian tak terduga disini.
"Wah cepat banget beritanya menyebar ya di sekolah ini?" tanya Ana sambil menggelengkan kepala.
"Pasti. Kamu harus ingat, sekolah ini punya prestasi emas tersendiri. Sekolah tercepat kalau ada gosip atau berita terbaru. Contohnya ya ini." jelas Sheila.
"Hah? Emang begitu ya." syok Ana, tapi dalam hatinya ada kekhawatiran jika rahasia wajah aslinya terbongkar pasti sangat cepat merambatnya seperti ranting pohon.
Disisi lain, Kai dan Nathan terlihat duduk berjauhan saat di ruang BK. Dan Pak Garry jalan bolak balik sambil melemparkan beberapa pertanyaan kepada mereka berdua.
"Jadi apa alasan kalian berkelahi?"
"Kalian tau ini sudah masuk jam pelajaran pertama? Kenapa nggak berkelahi diluar sekolah aja. Di gang atau di jalan raya. Sekalian di perlintasan rel kereta api aja."
Komedinya sangat tidak tepat waktu, malah terkena sengatan tatapan sinis dari keduanya.
Pak Garry menelan saliva nya,"Baiklah apapun itu, kalian jangan berkelahi. Apalagi sampai terluka. Bapak tidak ingin kalian bermusuhan. Kelas 10, apa kalian ingat? Kalian kayak sandal jepit yang nggak bisa dipisahkan. Tolonglah selesaikan masalahnya secara baik - baik, paham?"
Kai perlahan menunduk begitupun juga Nathan. Mereka sadar kalau mereka dulu sedekat itu. Sahabat sejati, dua orang yang saling melindungi tapi kini saling melukai.
Tak berapa lama, Kai dan Nathan berjabat tangan walaupun tak ada dari mereka yang saling menatap satu sama lain.
Sebelum salah satunya pergi ke kelas, Nathan memanggil Kai sekali lagi.
"Kamu suka sama Ana?" tiba - tiba ia bertanya seperti itu.
Kai menengok ke belakang, "Hm. Bisa dibilang begitu." dengan nada dingin.
"(Tertawa pahit.) Kalau begitu, aku nggak akan kalah bersaing untuk dapatkan Ana." jawab Nathan dengan ambisinya.
"Bukankah yang terpenting adalah perasaan Ana sendiri yang memilih?" sahut Kai.
"Kita lihat aja nanti." singkatnya, lalu pergi.
Kai kembali masuk ke kelas dan semua orang tampak sedang membicarakannya dan begitu dia masuk, semua orang di kelas langsung berlari ke tempat duduk masing - masing.
Ana memandang Kai dengan tatapan yang cemas tapi takut untuk bertanya, Kai hanya menatap dingin ke arah Ana sebelum duduk di bangkunya.
"Kenapa dia menatap aku kayak gitu? Aku salah apa?" batin Ana.
Mata pelajaran pertama pun dimulai, dan semuanya berjalan lancar sampai waktu pulang pun tidak ada hal yang terjadi kepada Ana.
Di Gerbang.
Tampak seorang wanita memakai jas kantoran, sedang memainkan ponsel di pinggir mobil berwarna kuning mengkilat.
Menengok ke arah Ana.
"ANA!! CEPAT!" teriaknya sambil melambaikan tangan. Itu adalah Citra yang sedang menjemputnya.
"Kak Citra?" terkejut Ana lalu berlari menghampiri kakaknya itu.
"Tumben." celetuknya.
TAK! Citra menyentil dahi Ana, "Aww! Sakit Kak!"
"Bukannya terima kasih. Yaudah ayo kita pergi." gerutu Citra tapi sambil tersenyum dan merangkul pundak Ana.
"Let's go!" pekik Ana, sangat senang.
Sesampainya dirumah Ana dan Citra pulang malam jam 9 karena mereka pergi jalan - jalan dulu.
Mereka bingung dengan situasi dirumah yang tak biasanya.
Ayah sibuk menelfon seseorang dan Ibu juga melakukan hal yang sama. Tapi wajah mereka tampak sangat khawatir.
"Halo? Apa dia juga nggak ada dirumah kamu, Andi?"
"Baiklah, nanti hubungi Tante ya."
Ana menghampiri Ibunya,
"Ibu. Ada apa ini?"
#Bersambung...