NovelToon NovelToon
ART Yang Diremehkan Itu Ternyata Pewaris Konglomerat

ART Yang Diremehkan Itu Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: ThiaSulaiman

Selama dua tahun, Elara Vasiliev bekerja sebagai ART di rumah keluarga Moretti. Diam, patuh, dan selalu menerima hinaan, ia dianggap hanya wanita miskin yang tak punya harga diri. Tidak seorang pun tahu bahwa Elara menyimpan rahasia besar tentang jati dirinya.
Saat Madam Seraphina Moretti menuduhnya mencuri kalung berlian dan mengusirnya di depan semua orang, deretan mobil mewah tiba di depan gerbang mansion keluarga itu. Seorang pria tua turun, membungkuk hormat, lalu berkata,
“Nona Elara, Tuan Octavian menjemput Anda. Seluruh Vasiliev Group menunggu pewaris sahnya.”
Keluarga Moretti seketika pucat. Wanita yang selama ini mereka hina ternyata cucu tunggal pemilik kerajaan bisnis terbesar di Eropa.
Kini Elara kembali… bukan sebagai pelayan, melainkan wanita berkuasa yang siap membuat semua orang yang meremehkannya menyesal. Namun di tengah balas dendamnya, Damian Moretti—pria dingin yang dulu tak pernah membelanya—mulai mengejar cinta yang telah ia sia-siakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThiaSulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 Dewan Direksi Meragukan Dia

Pagi itu, ruang rapat utama Vasiliev Group dipenuhi ketegangan bahkan sebelum rapat dimulai.

Langit di luar gedung tampak mendung.

Dan entah kenapa, suasana di dalam ruangan terasa lebih dingin dari biasanya.

Satu per satu anggota dewan direksi masuk dengan wajah serius.

Beberapa membawa map tebal.

Beberapa saling berbisik pelan.

Dan beberapa lainnya terang-terangan menatap Elara dengan keraguan yang tidak lagi disembunyikan.

Hari ini bukan rapat biasa.

Hari ini adalah rapat penentuan proyek terbesar tahun ini.

Proyek ekspansi pelabuhan internasional senilai miliaran dolar.

Dan untuk pertama kalinya…

Elara akan memimpin presentasi utama.

Elara duduk di kursinya dengan tenang.

Setelan hitam sederhana membalut tubuhnya rapi.

Tak ada perhiasan mencolok.

Tak ada usaha berlebihan untuk terlihat berkuasa.

Namun justru itu yang membuat auranya terasa semakin sulit disentuh.

Viktor berdiri di belakangnya sambil memegang beberapa dokumen tambahan.

“Sebagian besar direksi masih mendukung Tuan Gregor,” katanya pelan.

Elara membuka file tanpa ekspresi.

“Karena mereka takut perubahan.”

“Atau karena mereka tidak percaya pada Anda.”

Elara tersenyum tipis.

“Itu lebih baik.”

Viktor mengernyit.

“Lebih baik?”

“Orang yang meremehkanku biasanya terlambat sadar.”

Pukul sembilan tepat, rapat dimulai.

Octavian hadir.

Namun seperti biasa, pria tua itu hanya duduk diam di kursi utama tanpa banyak bicara.

Ia membiarkan ruangan bergerak sendiri.

Menguji.

Menilai.

Mengawasi.

Direktur senior bernama Harold membuka pembicaraan.

“Kita akan membahas proyek ekspansi pelabuhan timur.”

Ia melirik Elara sekilas.

“Dan Nona Elara akan mempresentasikan strategi baru.”

Nada suaranya sopan.

Namun jelas terdengar seperti ujian.

Layar besar menyala.

Elara berdiri perlahan.

Seluruh ruangan otomatis memperhatikannya.

Beberapa skeptis.

Beberapa penasaran.

Beberapa menunggu ia gagal.

“Ekspansi ini berpotensi meningkatkan keuntungan tiga belas persen dalam dua tahun.”

Suara Elara tenang.

Stabil.

“Namun sistem distribusi lama tidak mampu menopang peningkatan kapasitas.”

Ia mengganti slide.

Grafik muncul.

Data.

Rute distribusi.

Pergerakan logistik.

Semuanya detail.

“Kita membutuhkan restrukturisasi operasional sebelum pembangunan dimulai.”

Seorang direktur langsung menyela.

“Itu berarti biaya tambahan.”

“Elara mengangguk.”

“Benar.”

“Dan Anda ingin kami menyetujui pengeluaran besar sebelum hasil terlihat?”

“Ya.”

Pria itu tertawa kecil.

“Berani sekali.”

Elara menatapnya lurus.

“Bisnis besar tidak dibangun dari rasa takut.”

Ruangan langsung hening.

Direktur lain ikut bicara.

“Teori terdengar bagus. Tapi Anda belum pernah memimpin proyek sebesar ini.”

“Apa maksud Anda?” tanya Elara tenang.

“Pengalaman.”

Pria itu bersandar.

“Memimpin rumah tangga berbeda dengan memimpin perusahaan.”

Beberapa orang tersenyum samar.

Sindiran itu jelas.

Mereka sedang mengingatkan asal-usul Elara.

Mantan ART.

Mantan wanita yang dulu bahkan tidak dianggap ada.

Viktor langsung menegang.

Namun Elara tetap tenang.

Ia menutup remote presentasi perlahan.

Lalu berkata,

“Benar.”

Ruangan sedikit terkejut.

“Saya memang belum lahir di ruang rapat seperti sebagian besar Anda.”

Tatapannya menyapu seluruh meja.

“Tapi justru karena itu… saya tahu bagaimana rasanya berada di bawah keputusan orang-orang di atas.”

Tak ada yang bicara.

Elara melanjutkan,

“Orang yang hanya melihat angka akan membangun perusahaan besar.”

Ia berhenti sejenak.

“Tapi orang yang memahami manusia… akan membuat perusahaan itu bertahan.”

Harold menyilangkan tangan.

“Kata-kata yang bagus.”

“Tapi bisnis tidak berjalan dengan idealisme.”

“Dan bisnis juga tidak bertahan dengan kesombongan,” balas Elara.

Beberapa direksi langsung saling pandang.

Cassian yang duduk di sudut ruangan tersenyum kecil.

Ia tampak menikmati kekacauan itu.

Salah satu anggota dewan wanita akhirnya bicara.

“Kalau proyek ini gagal, siapa yang bertanggung jawab?”

Elara menjawab tanpa ragu.

“Saya.”

Jawaban itu membuat ruangan sedikit goyah.

Biasanya orang akan mencari alasan.

Membagi tanggung jawab.

Melempar risiko.

Tapi Elara justru menerimanya langsung.

Wanita itu kembali bertanya,

“Dan jika kerugian mencapai miliaran?”

“Kalau saya gagal…”

Elara menatap lurus.

“…saya akan keluar dari posisi saya.”

Sunyi.

Viktor bahkan menoleh cepat.

Cassian mengangkat alis.

Dan untuk pertama kalinya, beberapa direksi mulai benar-benar memperhatikan wanita itu.

Karena hanya ada dua kemungkinan:

sangat bodoh…

atau sangat yakin.

Gregor akhirnya bicara dengan nada dingin.

“Kau terlalu percaya diri.”

Elara menatapnya.

“Tidak.”

“Lalu?”

“Aku hanya tidak suka hidup setengah-setengah.”

Jawaban itu membuat rahang Gregor mengeras.

Octavian yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara.

“Lanjutkan presentasimu.”

Hanya satu kalimat.

Namun cukup untuk menghentikan semua serangan.

Karena semua orang di ruangan itu tahu:

selama Octavian belum menjatuhkan Elara…

mereka tidak bisa menyentuhnya.

Elara kembali menjelaskan strategi.

Kali ini lebih tajam.

Lebih detail.

Ia bahkan memaparkan kelemahan sistem lama yang selama bertahun-tahun tidak pernah dibahas.

Beberapa direksi mulai kehilangan ekspresi santai mereka.

Karena mereka sadar sesuatu:

Elara tidak datang hanya membawa keberanian.

Ia datang dengan persiapan.

Dan itu jauh lebih berbahaya.

Dua jam berlalu.

Rapat berubah menjadi perdebatan panas.

Beberapa mulai mendukung.

Beberapa masih menolak.

Suara-suara mulai meninggi.

Namun Elara tetap tenang di tengah kekacauan.

Sampai Harold akhirnya berkata,

“Kita tidak bisa menyerahkan proyek sebesar ini pada seseorang yang bahkan belum satu bulan berada di posisi ini.”

Beberapa mengangguk setuju.

Dan itulah kalimat yang sebenarnya mereka tahan sejak awal.

Mereka tidak percaya padanya.

Bukan karena strateginya buruk.

Tapi karena mereka merasa Elara tidak pantas berada di meja itu.

Elara perlahan berdiri lagi.

Tatapannya dingin.

“Kalau posisi ini hanya diwariskan pada orang yang lahir kaya…”

ia berhenti sejenak,

“…maka perusahaan ini sudah mati sejak lama.”

Ruangan membeku.

“Kalian meragukanku karena masa laluku.”

Ia menatap satu per satu wajah di hadapannya.

“Padahal justru masa lalu itu yang membuatku melihat hal-hal yang kalian abaikan.”

Harold tertawa sinis.

“Dan apa yang kami abaikan?”

Elara menjawab tanpa ragu.

“Orang.”

Ia berjalan pelan mengitari meja.

“Selama bertahun-tahun kalian hanya fokus pada angka, koneksi, dan keuntungan.”

Tatapannya tajam.

“Lalu heran kenapa loyalitas karyawan menurun.”

Tak ada yang menyela.

“Orang tidak menghancurkan perusahaan hanya karena gaji.”

Ia berhenti.

“Mereka menghancurkannya ketika merasa tidak dianggap.”

Ruangan sunyi total.

Karena sebagian dari mereka tahu…

itu benar.

Cassian bersandar sambil memperhatikan Elara.

Tatapannya berubah.

Bukan lagi sekadar tertarik.

Kini lebih seperti waspada.

Wanita itu berkembang terlalu cepat.

Dan itu mulai mengganggu banyak orang.

Harold akhirnya mendecih.

“Kau bicara seperti pahlawan.”

Elara menatapnya datar.

“Saya tidak tertarik jadi pahlawan.”

“Lalu?”

“Saya hanya tidak mau perusahaan ini dipenuhi orang yang takut berubah.”

Hening panjang memenuhi ruangan.

Lalu tiba-tiba—

tepuk tangan terdengar.

Satu kali.

Pelan.

Semua orang menoleh.

Octavian.

Pria tua itu menatap Elara tanpa senyum.

Namun matanya menunjukkan sesuatu yang jarang terlihat:

pengakuan.

“Voting,” katanya pendek.

Satu per satu suara diberikan.

Setuju.

Menolak.

Setuju.

Menolak.

Ketegangan memenuhi ruangan.

Viktor bahkan nyaris berhenti bernapas.

Dan akhirnya…

hasil akhir muncul di layar.

Proposal disetujui.

Selisih tipis.

Sangat tipis.

Namun cukup.

Beberapa direksi langsung terlihat tidak puas.

Harold menutup map dengan kasar.

Gregor keluar lebih dulu tanpa bicara.

Cassian justru tersenyum samar sebelum berdiri.

Saat melewati Elara, ia berkata pelan,

“Kau baru saja memenangkan perang kecil.”

Elara tidak menoleh.

“Dan kau terdengar seperti orang yang sudah menyiapkan perang besar.”

Cassian tersenyum tipis.

“Pintar.”

Lalu pergi.

Ruangan mulai kosong.

Viktor mendekat dengan napas lega.

“Anda berhasil.”

Elara menatap layar voting yang masih menyala.

“Tidak.”

Viktor bingung.

“Mereka tidak percaya padaku.”

“Bukankah hasilnya menang?”

“Menang bukan berarti dipercaya.”

Ia menutup laptop perlahan.

“Hari ini mereka hanya memberiku kesempatan untuk gagal.”

Octavian masih duduk di kursinya.

“Dan apa yang akan kau lakukan?”

Elara menatap balik.

“Memastikan mereka menyesal sudah meragukanku.”

Sudut bibir pria tua itu terangkat tipis.

Untuk pertama kalinya…

ia benar-benar melihat bayangan pewaris Vasiliev di dalam diri Elara.

Malam hari, berita rapat direksi mulai menyebar di kalangan elite bisnis.

Nama Elara kembali dibicarakan.

Sebagian memuji keberaniannya.

Sebagian menertawakan ambisinya.

Namun semua orang sepakat pada satu hal:

Wanita itu tidak bisa lagi dianggap remeh.

Di tempat lain, Damian membaca berita singkat itu dari tabletnya.

Matanya diam cukup lama pada satu nama.

Elara Vasiliev.

Dulu…

wanita itu berdiri diam menerima tuduhan tanpa pembelaan.

Sekarang…

ia berdiri di depan dewan direksi dan membuat mereka bungkam.

Damian tersenyum pahit.

Ia kehilangan seseorang…

tepat ketika wanita itu mulai menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.

Dan semakin Elara bersinar—

semakin jelas terlihat…

betapa besar kesalahan yang pernah ia buat.

1
Noey Aprilia
Msih aja iri.... orng kl udh biasa jd psat prhtian,trs tiba2 d acuhkn psti mkin bnci....pdhl kn dia sndri yg slah.....
Noey Aprilia
Mga aja elara udh mnyiapkn blsan buat spa aja yg mngusiknya,kli nu jgn ksih ampun.....bsmi smp k akarnya biar ga tmbuh lg s msa dpn...
Himna Mohamad
notif yg ditunggu2
Noey Aprilia
Yg koar2 emng biasanya krna ktakutan,yg diam jstru lbh brbhya...
tu nnek lmpir blm kapok jg rupanya,stlh dlu ftnah elara skrng pun mlkukn hal yg sma....tp syangnya dia bkln apes kali ni....tnggu aja blasannya....
Noey Aprilia
Mngkn krna dia trbiasa brkuasa,saat sprti itu pun blm jg sdar....mskpn kl dia dtng buat mnta maaf sm elara,blm tntu jg d maafkn...tp mnimal dia tau lh apa kslahnnya....ni mlah mkin dndam.....cckk....
Noey Aprilia
Apa lg yg lbih mnyiksa slain pnyesalan yg trlambat....dan damian sdng mrsakannya.....so,slmt mnkmti....
Noey Aprilia
Mkin d rgukan,elara mkin smngt.....
biarlh wktu yg mmbuktikn sglanya,kl dia bnr2 mmpu jd pmimpin.....smngtttt....
Nurhartiningsih
seru
Noey Aprilia
Dlu elara bkrja krna pelarian,skrng smua orng brgntung sm dia......tp ykin bgt kl dia bkln jd pmimpin yg tgas dn sukses d msa dpn.....
Himna Mohamad
lanjut kk
Istia Ningsih
luar biasah
Istia Ningsih
terimakasih 😍🙏
Himna Mohamad
ditunggu notifnya kk
Istia Ningsih: siaaapp
total 1 replies
Noey Aprilia
Ank orng kya mnja,trnyta jd pncuri d rmhnya sndri.....alasannya btuh uang,plus cmburu.....jdilh elara yg jd krban....glirn fkta trungkap,nyesel brjmaah.....🙄🙄🙄
Noey Aprilia
Hmmmm......
jd pnsran....sbnrnya elara ada prsaan ga y sm damian????mskpn dia psti kcewa sih sm skpnya dlu yg sllu diam,tp htinya spa yg tau.....
Istia Ningsih: tetappp semangaat tungguin updatenya
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjut kk
Noey Aprilia
Bgtulh mnusia.....
kl udh tau spa dia sbnrnya,bru mrsa brslah dn mnyesal....dlu kmna aja wooyyyyy.... 🙄🙄🙄
Himna Mohamad
kereeen kk👍👍👍👍👍
Istia Ningsih: alhamdulillah masya allah terimakasih
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjut kk
Istia Ningsih: siap siap
total 1 replies
Noey Aprilia
Brsa lngsng kna tikam,tepat d jntung....mngkn bntr lg bkln ada yg pingsan.....😛😛😛
Istia Ningsih: nacep bner yaa kaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!