NovelToon NovelToon
Yang Hilang Bukan Kamu, Tapi Aku

Yang Hilang Bukan Kamu, Tapi Aku

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: nita.mamitha

Aku pikir bertahan adalah bentuk paling tulus dari cinta.
Sampai aku sadar…
aku tidak sedang memperjuangkan hubungan,
aku hanya sedang menahan luka yang terus berulang.
Ini bukan cerita tentang kehilangan seseorang.
Ini cerita tentang
bagaimana aku perlahan kehilangan diriku sendiri
di hubungan yang tidak pernah benar-benar memilihku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Kadang, hidup tidak langsung berubah setelah kita memilih untuk selesai.

Tapi pelan-pelan…

ia mulai mempertemukan kita dengan hal-hal yang tidak pernah kita rencanakan.

Pagi itu terasa sedikit berbeda.

Bukan karena ada sesuatu yang besar, tapi karena Nara bangun dengan perasaan yang lebih ringan. Ia tidak lagi terbangun dengan pikiran yang penuh. Tidak ada lagi bayangan yang langsung muncul begitu matanya terbuka.

Ia hanya… bangun.

Sederhana, tapi cukup untuk membuatnya tersenyum kecil.

Hari itu, Nara berangkat kerja seperti biasa. Jalanan masih ramai, suara kendaraan bercampur dengan aktivitas orang-orang yang terburu-buru memulai hari.

Namun kali ini, Nara tidak ikut terburu.

Langkahnya tetap tenang.

Seolah ia sedang belajar menikmati hidup tanpa harus mengejar sesuatu.

Di kantor, suasana berjalan normal. Beberapa rekan kerja menyapanya, dan untuk pertama kalinya, Nara benar-benar membalas dengan lebih hangat.

“Lagi happy, ya?” tanya Dina, salah satu rekan kerjanya, sambil tersenyum.

Nara sedikit terkejut, lalu tertawa kecil.

“Kelihatan?” jawabnya.

“Iya. Biasanya kamu lebih diam.”

Nara tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum.

Mungkin… memang ada yang berubah.

Siang harinya, atasannya meminta Nara untuk pergi ke luar kantor. Ada dokumen yang harus diambil di sebuah tempat yang tidak terlalu jauh dari kantor.

Biasanya, hal seperti itu terasa merepotkan.

Tapi kali ini, Nara justru menganggapnya sebagai kesempatan untuk keluar sejenak dari rutinitas.

Ia mengambil tasnya, lalu berangkat.

Perjalanan tidak terlalu lama. Tempat yang dituju berada di sebuah gedung perkantoran yang cukup ramai.

Setelah menyelesaikan urusannya, Nara tidak langsung pulang.

Entah kenapa, ia memilih untuk berjalan sebentar di sekitar area itu.

Ada sebuah kafe kecil di sudut jalan yang menarik perhatiannya. Tempatnya tidak terlalu besar, tapi terlihat nyaman.

Tanpa banyak berpikir, Nara masuk.

Suasana di dalam cukup tenang. Musik pelan mengalun, dan hanya ada beberapa orang yang duduk sambil bekerja atau sekadar menikmati waktu sendiri.

Nara memilih tempat di dekat jendela.

Ia memesan minuman, lalu duduk dengan santai.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang nyaman.

Sampai seseorang tanpa sengaja duduk di kursi seberangnya.

“Maaf, tempat lain penuh. Boleh di sini?”

Suara itu membuat Nara sedikit terkejut. Ia mengangkat pandangannya.

Seorang laki-laki berdiri di depannya, terlihat ragu tapi sopan.

Nara sempat terdiam beberapa detik, lalu mengangguk.

“Iya, nggak apa-apa.”

Laki-laki itu tersenyum kecil, lalu duduk.

“Aku Arga,” katanya setelah beberapa saat, mencoba membuka percakapan.

Nara sedikit kaget dengan perkenalan itu. Tidak biasa baginya berbicara dengan orang asing.

Tapi entah kenapa, kali ini tidak terasa mengganggu.

“Nara,” jawabnya singkat.

Hening sejenak.

Bukan hening yang canggung, tapi lebih seperti dua orang yang sama-sama tidak terbiasa memulai percakapan.

“Aku sering ke sini,” kata Arga lagi.

“Tempatnya enak buat mikir.”

Nara tersenyum tipis.

“Iya… tenang.”

Percakapan itu berjalan sederhana. Tidak terlalu dalam, tidak juga terlalu penting.

Tapi ada sesuatu yang berbeda.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nara berbicara dengan seseorang… tanpa beban.

Tanpa rasa takut.

Tanpa membandingkan.

Hanya… menjadi dirinya sendiri.

Arga bukan tipe yang banyak bicara. Tapi dari caranya berbicara, terlihat ia cukup dewasa dan tenang.

Tidak memaksa.

Tidak juga terlalu ingin tahu.

Dan itu membuat Nara merasa nyaman.

Beberapa waktu berlalu tanpa terasa.

Sampai akhirnya, Nara melihat jam di ponselnya.

“Aku harus balik,” katanya pelan.

Arga mengangguk.

“Iya, aku juga sebentar lagi.”

Nara berdiri, mengambil tasnya.

“Senang kenal kamu,” ucap Arga.

Nara tersenyum kecil.

“Iya… aku juga.”

Ia melangkah keluar dari kafe dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Bukan perasaan spesial.

Bukan juga sesuatu yang langsung berarti.

Tapi cukup untuk membuatnya sadar…

bahwa hidupnya tidak lagi berhenti di masa lalu.

Di perjalanan pulang, Nara memikirkan pertemuan singkat itu.

Tentang bagaimana semuanya terasa ringan.

Tentang bagaimana ia bisa berbicara tanpa harus berpura-pura.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa bersalah karena merasa… baik-baik saja.

Malam itu, saat ia kembali ke kamarnya, Nara duduk diam sejenak.

Lalu tanpa sadar, ia tersenyum.

Bukan karena seseorang.

Tapi karena dirinya sendiri.

Karena ia mulai melihat sesuatu yang baru dalam hidupnya.

Sesuatu yang tidak ia rencanakan.

Tapi mungkin… memang ia butuhkan.

Dan tanpa ia sadari,

langkah kecil hari itu

telah membuka satu pintu baru

yang perlahan akan mengubah segalanya

1
Hariyanti
kisah yg TDK biasa menurutku🤔 berat dan butuh renungan. mungkin ini ttg perjalanan orang yang introvert dlm berinteraksi dan menjalin hubungan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!