Kirana, putri seorang menteri yang sedang naik daun, datang ke pedalaman demi meningkatkan citra politik ayahnya. Bersama reporter Carmen dan kameramen Dion, dia membuat konten kemanusiaan mengajar anak-anak desa dan memberi bantuan bersama prajurit TNI.
Kapten Damar ditugaskan mengawal kunjungan itu. sanf kapten menganggap Kirana hanyalah bagian dari panggung politik yang penuh pencitraan.
Semua berjalan lancar, hingga segerombolan pemberontak bersenjata menyerbu desa. Dalam kekacauan dan tembakan yang membabi buta, Damar harus membawa Kirana menyelamatkan diri ke dalam hutan.
Terpisah dari rombongan dan jauh dari sorotan kamera, Kirana untuk pertama kalinya menghadapi dunia tanpa privilese. Di tengah bahaya dan perjuangan bertahan hidup, tumbuh perasaan yang tak seharusnya ada antara seorang perwira yang terikat sumpah dan putri pejabat yang mulai melihat arti ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tak Ingin Menyerah
Sejak beberapa hari terakhir Kirana mulai berfikir mecari alasan sederhana untuk bertemu Damar lagi.
Dia akhirnya medapat sebuah ide di apartemennya, Kirana berdiri di depan kompor beberapa bahan sudah tersusun rapi.
“Cara penaklukan laki-laki adalah dengan membuatnya kenyang” gumamnya pelan.
“Di sini pasti susah cari makan yang enak.”
Tangannya mulai bekerja dengan telaten satu per satu dimsum dibentuk dengan rapi.
Tak hanya itu Kirana juga memasak beberapa lauk lain seperti rendang pepes ayam seketika aroma masakan memenuhi ruangan khas masakan rumahan.
Berbeda dengan suasana asing di negeri orang Kirana tersenyum kecil melihat hasilnya.
“Mudah-mudahan dia suka…” ucapnya pelan.
Tak lupa, dia juga menyiapkan beberapa camilan kering, semuanya Kirana tata dalam kotak-kotak cantik dan rapi dan penuh perhatian.
Tak lama kemudian Kirana sudah berdiri di depan lift.
Membawa beberapa kotak dan kantong berisi makanan lift bergerak naik menuju lantai 12.
Ding.
Pintu terbuka.
Kirana melangkah keluar langkahnya sedikit cepat ada rasa gugup yang dia tahan.
Kirana berhenti di depan unit Damar menarik napas sebentar lalu menekan bel.
Ting tong.
Beberapa saat Kirana menunggu dengan cemas.
Pintu terbuka Damar berdiri di sana rambutnya masih basah handuk tergantung di lehernya jelas terlihat baru selesai mandi Damar sedikit terkejut.
“Kirana?”
Belum sempat Damar berkata Kirana langsung masuk.
“Boleh masuk, kan.” Ucap Kirana
Damar menghela napas pelan terlambat untuk menolak.
“Kamu sudah makan?” tanya Kirana santai sambil meletakkan kotak kotak berisi makan di atas meja.
Damar menutup pintu.
“Belum,” jawab Damar singkat dalam hati Damar mulai berfikir usaha untuk menghindarinya kembali gagal dan kali ini karena dirinya sendiri yang membuka pintu.
“Kebetulan,” lanjut Kirana ceria, “aku bawain banyak makanan buat kamu.”
Damar mendekat menatap isi kotak-kotak itu.
alisnya sedikit terangkat.
“Kamu masak semua ini?” Tanya Damar terlihat takjub Kirana mengangguk bangga.
“Iya mau coba ini.” Kirana membuka kotak dimsum, lalu menyiapkannya di piring.
Damar ragu sejenak namun akhirnya duduk.
Mencoba satu lalu berhenti beberapa detik.
“Enak,” kata Damar jujur Kirana langsung tersenyum lebar.
“Serius?” Damar mengangguk.
“Kamu ternyata pintar masak.” Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Damar, Kirana sedikit tersipu.
“Kalau gitu, masuk kriteria dong?”
Damar mengangkat alis sedikit kikuk “Kriteria apa?”
“Kriteria kamu,” jawab Kirana santai, tapi matanya serius.
Damar hampir tersedak batuk kecil Damar hanya berdehem tidak berkomentar lalu dia kembali fokus ke makanannya.seolah itu cara paling aman.
Kirana tersenyum melihat reaksi Damar.
“Aku juga bawain lauk,” lanjutnya, mencoba mencairkan suasana Kirana membuka kotak lain.
“Ini rendang. Ini pepes ayam.” Kirana menatanya di meja.
“Kalau belum bisa dimakan sekarang, simpan saja di kulkas tinggal dihangatin nanti.” Damar memperhatikan Kirana dalam diam ada sesuatu yang terasa hangat tapi juga rumit.
“Kirana, terima kasih,” ucap Damar pelan agak canggung.
Kirana menatapnya beberapa detik lalu berkata lebih lembut.
“Damar…” Damar mengangkat wajahnya.
“Kehadiran aku jangan sampai bikin kamu nggak nyaman ya.” Damar terdiam memaksan senyumnya.
“Kamu boleh saja mengabaikan aku,” lanjut Kirana. “Kalau itu bikin kamu nyaman.” Kirana tersenyum tipis.
“Tapi, jangan suruh aku buat nggak peduli sama kamu.” Sunyi seketika.
Damar mengedipkan matanya beberapa kali.
Kalimat itu kena di hatinya. Damar tau betul bukan Kirana yang membuatnya tidak nyaman tapi dirinya sendiri Damar menunduk sedikit menghela napas panjang.
“Aku…” Damar berhenti sejenak, mencari kata. “Aku bukan terganggu sama kamu.”
Kirana menatapnya dia sedikit terkejut mendengar ucapan Damar.
Damar terdiam lalu akhirnya berkata pelan
“Aku takut.” Damar mengangkat wajahnya.
Menatap Kirana dalam.
“Takut Kamu merasa berhutang sama aku.” Suasana berubah lebih berat lebih jujur.
"Aku memang sangat berhutang budi, tapi perasaan ku tidak ada hubungannya dengan itu," Kirana menjelaskan membuat suasan menjadi semakin canggung.
"Kirana sekarang fokusku, tujuanku adalah karir," Ungkap Damar nafasnya terdengar berat
"Kamu benar-benar sangat menganggu pikiran ku,"
Ungkap Damar akhirnya dia berkata jujur.
“Dan aku nggak siap untuk itu menjalin hubungan romatis dengan siapapun.” Kirana terdiam namun kali ini dia tidak mundur Kirana justru tersenyum kecil.
“Kalau begitu…” katanya pelan “ pelan-pelan saja.”
Damar menatapnya Kirana Dalam.
“Aku nggak akan maksa kamu.” kata Kirana lagi dia beranjak dari tempat duduknya mulai merapikan kotak-kotak makanan itu memasukannya kedalam lemari es.
"Damar," Damar menoleh ke arah Kirana lalu menatapnya.
"Iya" Jawab Damar singkat.
“Tapi, maaf aku nggak akan berhenti.”
Damar terdiam menatap Kirana untuk pertama kalinya dia tidak tahu harus menjawab apa.