Rayna tak pernah benar-benar memilih. Di antara dua hati yang mencintainya, hanya satu yang selalu diam-diam ia doakan.
Ketika waktu dan takdir mengguncang segalanya, sebuah tragedi membawa Rayna pada luka yang tak pernah ia bayangkan: kehilangan, penyesalan, dan janji-janji yang tak sempat diucapkan.
Lewat kenangan yang tertinggal dan sepucuk catatan terakhir, Rayna mencoba memahami-apa arti mencintai seseorang tanpa pernah tahu apakah ia akan kembali.
"Katanya, kalau cinta itu tulus... waktu takkan memisahkan. Hanya menguji."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iyikadin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 - Ada Syaratnya!
"Semakin berganti hari, rasanya ada sesuatu yang tumbuh, tapi aku sendiri belum tahu apa namanya. Yang kutahu, kamu mulai menjadi alasan yang sering muncul di kepalaku tanpa aku minta."
...***...
Pagi itu cahaya mentari baru terlihat sedikit, yang lebih menonjol justru ekspresi kesalnya Ben. Dia sudah menaiki motornya, helm tergantung di kaca spion.
Ben menunggu Rayna yang berjalan di belakang. Dia sudah lebih dulu menghampiri motor karena masih kesal dengan perkataan Rayna tadi.
Rayna berjalan pelan menghampiri Ben.
"Lo marah ya?" tanyanya dengan suara lembut.
Ben tak menjawab. Dia hanya mengambil helm dari kaca spion dan memberikannya ke Rayna, lalu segera memakai helm full face-nya sendiri, menyembunyikan wajahnya.
Rayna mengambil helm yang diberikan Ben, memakainya dengan hati-hati sambil sering melirik wajah Ben yang tertutup helm. Lalu dia naik ke motor dengan langkah yang hati-hati, kedua tangannya perlahan menempel di pundak Ben.
Setelah itu, Ben langsung tancap gas tanpa berkata sepatah kata pun. Motornya melaju dengan cepat, membuat Rayna sedikit terkejut dan tangannya makin erat menempel di pundak Ben. Udara pagi menyengat wajah mereka, tapi tidak ada suara sama sekali kecuali hanya bunyi mesin motor yang membunyikan.
"Tumben gue pegang pundaknya gak di pindah ke pinggangnya," batin Rayna, sambil mata dia menatap punggung Ben yang kaku. Tangannya masih erat menempel di sana, tapi hati dia sedikit berdebar mikir hal itu, seolah ada yang berbeda hari ini.
"Ih masa dia marah gara-gara gue gak bawa hadiahnya sih?" pikirannya mulai berisik. Pikiran itu bikin dia semakin khawatir, tangannya juga makin erat menempel.
"Ben?! Lo kenapa sih? Diem aja dari tadi, biasanya juga ngoceh banget!" teriak Rayna sedikit, suaranya tertutup bunyi mesin motor. Dia menekan pundak Ben sedikit agar dia menoleh.
Ben hanya menggeleng kepala tanpa berhenti atau menoleh, motornya tetep melaju dengan kecepatan yang sama. Dia nggak buka mulut sama sekali, cuma tangannya yang lebih kaku memegang kemudi.
Rayna makin cemas, dia menempelkan telinganya ke punggung Ben biar bisa dengar kalau ada suara. "Ben, lo denger gak? Lo marah gara-gara gue ga bawa hadiahnya?"
Lagi lagi Ben hanya fokus mengendarai motornya, matanya tetep terpaku ke jalan depan. Dia bahkan tidak menggeleng kepala lagi, cuma tubuhnya yang kaku dan tangan yang erat memegang kemudi.
Udara pagi makin sejuk, tapi Rayna rasanya badan jadi hangat karena khawatir. Dia menempelkan wajahnya ke punggung Ben, bicara pelan-pelan meskipun tahu suaranya mungkin tidak kedengar, "Ben.. Yaudah ayo kita balik lagi ambil hadiahnya."
Ben tetap tidak menjawab, malah ia menekan gas lebih dalam, menaikkan kecepatan motornya.
Angin pagi menyengat lebih kencang, membuat Rayna terkejut dan langsung memegang Ben lebih erat, kedua tangannya melilit pinggangnya tanpa sadar.
Dia tidak berani berkata apa-apa lagi, cuma menempelkan wajahnya ke punggung Ben, hati berdebar karena campuran takut dan khawatir.
Sesampainya di sekolah, Rayna kembali membuka suara: "Ben, lo bener-bener marah cuma gara-gara itu?"
Ben yang sedang melepaskan helmnya langsung menatap arah Rayna, matanya ada nada yang tidak terkira. "Cuma? Lo bilang cuma?" suaranya sedikit kencang, membuat beberapa teman yang lewat ikut melirik.
Dia mengusap keningnya dengan jempol, seolah bingung bagaimana harus berkata.
"Gue susah payah loh bikin itu buat lo, tapi lo malah kaya gitu," ujar Ben dengan nada yang sedikit tertekan, matanya sudah tidak lagi menatap Rayna.
Rayna kaget mendengar perkataannya, pipinya tiba-tiba memerah. "Emm.. Ben.. Maaf, gue gak nyangka lo bakal semarah ini," jawabnya pelan, tangan terangkat seolah mau menyentuh lengan Ben tapi tak berani.
"Udahlah!" ucap Ben dengan nada sedikit tinggi, lalu langsung berjalan pergi meninggalkan Rayna yang masih berdiri terkejut di situ.
Langkahnya cepat, tidak mau melihat ke belakang sama sekali. Rayna hanya bisa menatap punggungnya yang semakin jauh, tangan yang mau menyentuhnya masih tergantung di udara, hati terasa sedikit sesak.
Dalam hatinya ia berpikir, "Apa mungkin karena Ben tak pernah dihargai sama mamanya, makanya dia semarah itu?"
Pikiran itu bikin hatinya terasa sesak. Lalu dia melanjutkan, "Mungkin dia berharap gue bisa excited nerima hadiahnya... Gue salah banget. Gue harus minta maaf sama Ben lagi, bener-bener maaf."
Dia menggigit bibirnya, matanya mulai sedikit basah sambil menatap arah kelas di mana Ben kemungkinan sudah masuk.
Rayna berjalan menuju ruang kelas, berharap ia bisa meminta maaf pada Ben. Tapi saat tiba di kelas, ternyata di sana sudah ramai orang. Suara gaduh langsung menyambutnya, membuat niatnya sedikit mengendur.
Dia mengurungkan niatnya dan hanya berjalan menuju mejanya, duduk dengan lesu sambil menatap buku yang ada di depannya. Hatinya masih gelisah, tapi dia tidak tahu harus mulai dari mana.
Akhirnya mereka tidak berbicara satu sama lain sedikit pun sampai jam pulang sekolah. Saat bel berbunyi, semua siswa berhamburan keluar kelas untuk segera pulang, menyisakan Ben dan Rayna di dalam kelas.
Ben berjalan keluar kelas, Rayna mengejar dari belakang. "Ben, lo masih marah sama gue?" tanyanya dengan hati-hati.
Ben berhenti sebentar, lalu menjawab singkat, "Menurut lo?"
"Emm.. Ben.. Maaf ya, gue gak bermaksud kaya gitu," kata Rayna dengan nada memohon.
"Hmm," jawab Ben tanpa ekspresi.
"Ben.. please maafin gue," pinta Rayna lagi, berharap ada perubahan.
"Kenapa gue harus maafin lo?" tanya Ben, kali ini menatap Rayna dengan tatapan datar.
"Ya karena kalau lo gak maafin gue, gue akan selalu merasa bersalah," jawab Rayna jujur, matanya berkaca-kaca.
Ben terdiam sejenak, lalu berkata, "Oke."
"Oke doang?" Rayna sedikit terkejut dengan jawaban singkat Ben.
"Terus lo maunya apa?" tanya Ben dengan nada datar.
"Gue maunya lo maafin gue," jawab Rayna dengan tulus.
"Ya oke, tapi ada syaratnya," kata Ben sambil menyeringai kecil.
"Apa?" tanya Rayna penasaran.
Ben melangkah mendekati Rayna dan berbisik, "Hari ini lo panggil gue 'Gantengku'," sambil memasang muka tengil.
"Ih apaan sih Ben, alay banget!" protes Rayna sambil memutar bola mata.
"Yaudah kalau gamau dimaafin," ancam Ben sambil mengangkat bahu.
"Ihh.. iya iya," jawab Rayna dengan nada kesal.
"Iya siapa?" goda Ben sambil tersenyum.
"Iya Gantengku!" ucap Rayna sedikit jutek dan agak malu, pipinya langsung memerah.
Ben cengengesan mendengar Rayna memanggilnya dengan sebutan itu, tapi di balik wajahnya yang tengil, ia merasa bahagia. Ada kehangatan yang menjalar di hatinya melihat Rayna yang biasanya cuek mau melakukan hal seperti itu demi meminta maaf padanya.
Dia menjulurkan tangannya, mengacak pelan rambut Rayna sambil tersenyum. "Gitu dong, baru gue maafin."
"Dasar nyari kesempatan ya lo," kata Rayna sambil memanyunkan bibirnya, tapi senyum kecil tetap terlihat di wajahnya.
"Ya gapapa kali, lagian kan wajar, orang kita udah tunangan," jawab Ben dengan nada bercanda, tapi matanya menatap Rayna dengan lembut.
"Hus Ben, jangan keras-keras ngomongnya, nanti ada yang denger," Rayna langsung menutup mulut Ben dengan tangannya, wajahnya panik.
"WAJAR KAN KITA UDAH TUNANGAN!" suara Ben malah meningkat, sengaja menggoda Rayna.
"Ih lo tuh ya nyebelin banget tau ga!" Rayna mencubit lengan Ben, tapi sambil tertawa kecil.
Ben cengengesan lagi. "Gak ada siapa-siapa koo, sisa gue dan lo doang, tenang aja," katanya sambil merangkul Rayna, membawanya berjalan keluar kelas.
Bersambung...
nanti kalau ada yang dekati kamu ga kaget