NovelToon NovelToon
RISA SAYANG BAPAK

RISA SAYANG BAPAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: hyeon'

Benar kata orang, tidak ada hal yang lebih menyakitkan kecuali tumbuh tanpa sosok ibu. Risa Ayunina atau kerap disapa Risa tumbuh tanpa sosok ibu membuatnya menjadi pribadi yang keras.

Awalnya hidup Risa baik baik saja meskipun tidak ada sosok ibu di sampingnya. Karena Wijaya—bapak Risa mampu memberikan kasih sayang penuh terhadapnya. Namun, di usianya yang menginjak 5 tahun sikap bapak berubah drastis. Bapak yang awalnya selalu berbicara lembut kini berubah menjadi sosok yang keras, berbicara kasar pada Risa dan bahkan melakukan kekerasan fisik.

“Bapak benci sama kamu, Risa.”

Risa yang belum terlalu mengerti kenapa bapaknya tiba tiba berubah, hanya bisa berdiam diri dan bersabar. Berharap, bapak akan kembali seperti dulu.

“Risa sayang bapak.”

Apakah Bapak akan berubah? Apa yang menyebabkan bapak menjadi seperti itu pada Risa? Ikuti terus kisah Risa dan jangan lupa untuk memberikan feedback positif jika kalian membaca cerita ini. Thank you, all💐

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hyeon', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 22

Kata orang cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya. Tapi kenapa aku beda? Bapak yang seharusnya menjadi cinta pertama, ternyata luka pertama ku. Bapak yang seharusnya menjadi tempat ku berpulang, ternyata seperti penjara bagiku. Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa takdirku seperti ini? Ketika anak anak lain terlihat senang bertemu ayah mereka. Aku malah ketakutan, takut akan pukulan bapak. Bapak sejahat itu ya, Bu? Kenapa bapak jahat? Apa salahku?

Risa menyeka air matanya yang terus keluar. Bukunya kini sedikit basah akibat tetesan air matanya. Salah satu kebiasaan Risa adalah menulis semua keluh kesah pada buku diary–nya. Semua lukanya ia tulis pada buku diary itu.

Risa pun menghentikan aktivitasnya. Ia taruh pulpen dan menutup buku diary–nya. Risa menghela napasnya panjang seraya menyenderkan bahunya pada kursi belajarnya. Tatapannya kini beralih pada langit langit kamarnya. Tidak bisakah waktu diputar ulang? Ia ingin merasakan kasih sayang bapak sekali lagi.

Risa pun sadar akan sesuatu. Ia kembali membuka buku diary–nya. Lalu mulai menuliskan sesuatu pada buku diary itu.

Akhir akhir ini bapak sedikit berubah, Bu. Bapak tidak lagi memukul ku. Tapi, tadi bapak hampir memukul ku. Namun, anehnya bapak mengurungkan niatnya. Apakah bapak mulai kembali seperti dulu, Bu? Aku harap begitu. Aku rindu bapak yang dulu.

Ya, Risa menuliskan akan perubahan sikap bapak. Bapak yang tak lagi memukulnya. Secuil harapan mulai muncul dalam benak Risa. Ia sungguh berharap bapak kembali seperti dulu. Bapak yang selalu sayang pada Risa.

Karena hari sudah mulai larut, Risa menyudahi aktivitasnya. Ia lantas membereskan semua bukunya. Tak lupa ia juga menutup gorden jendelanya. Ketika langkahnya berjalan menuju kasurnya, tiba tiba pintu terbuka dengan lebar. Risa pun terlonjak kaget akan kehadiran bapak yang tiba tiba.

Pikiran Risa sudah melayang ke mana-mana. Apakah bapak akan memukulnya? Risa menelan salivanya kasar. Kini dirinya teramat gugup.

“Ada apa?” Tanya Risa dengan menahan rasa gugup mati matian.

“Ikut bapak sebentar.” Tanpa menunggu jawaban dari Risa, bapak sudah lebih dulu pergi. Risa pun mengernyitkan dahinya. Bapak ingin mengajaknya ke mana? Banyak pertanyaan yang terlintas dalam pikiran Risa sekarang.

Tak mau membuat bapak menunggu, ia pun segera bergegas menyusul bapak. Risa sempat terkejut kala melihat keberadaan Alex di sana. Bapak melirik sekilas Risa yang sudah berada di bawah.

“Om, bapak mau ngajak ke mana ya?” Tanya Risa pada Alex yang sedikit berbisik. Alex pun tersenyum tipis melihat putri sahabatnya gugup setengah mati.

“Sejak kapan kita akrab?” Timpal Alex dengan sedikit mengejek. Risa pun lantas sadar akan sikapnya. Benar juga, sejak kapan dirinya akrab dengan sahabat bapak. Risa sontak menjauhkan tubuhnya dari Alex.

Melihat bapak yang mulai melangkahkan kakinya pergi, Risa mulai mengikuti langkah bapak. Namun, ia kembali menoleh ke belakang guna meledek Alex. Sungguh, ia masih kesal akan sahabat bapak yang malah meledeknya.

Alex hanya mampu tersenyum melihat Risa yang menjulurkan lidahnya. Sungguh lucu. Pikir Alex. Melihat sahabatnya yang mulai berubah membuat Alex begitu bahagia. Melihat Risa yang menjulurkan lidahnya membuat Alex teringat akan seseorang. Seseorang yang pernah ada dihatinya.

“Mereka begitu mirip.”

*****

Saat ini Risa tengah berjalan di belakang bapak. Di sepanjang jalan, Risa hanya diam, pun sebaliknya. Risa terus menatap punggung bapak. Melihat bapak yang tiba tiba berhenti membuat Risa menghentikan langkahnya. Entahlah, keadaan menjadi sangat canggung.

“Maju, jalan di samping bapak.” Risa sempat tertegun kala mendengar suara bapak yang berbeda dari biasanya. Jika biasanya bapak selalu menggunakan nada dingin, kasar, dan bahkan membentaknya. Kini, suara itu terdengar begitu lembut. Saking lembutnya, sampai membuat Risa termenung sejenak.

“Risa.” Risa pun sadar dari lamunannya. Ia begitu salah tingkah. Risa sontak mengikuti arahan bapak untuk berjalan di sampingnya. Bapak pun segera melanjutkan langkahnya.

Kini, mereka sampai di sebuah taman yang tempatnya tak jauh dari rumah. Di sana ada sebuah penjual batagor. Bapak menyuruh Risa untuk duduk terlebih dahulu salah satu kursi taman itu. Sedangkan bapak pergi membeli batagor.

Risa terus memandang bapak dengan tatapan yang sulit diartikan. Mendengar suara bapak yang begitu lembut tadi, membuatnya ingin menangis. Hatinya begitu tersentuh, ini kali pertama bapak berbicara dengan lembut kepadanya setelah bapak mulai berubah.

“Boleh nggak sih waktu berhenti di situasi ini. Gue pengen bapak kayak gini lebih lama.” Batin Risa penuh harap. Rasanya situasi ini benar benar membuatnya bahagia. Namun, Risa takut. Takut jika situasi ini tak berlangsung lama. Ia takut dibuat terbang lagi.

Setelah selesai membeli batagor, bapak berjalan menghampiri putrinya. Risa pun menerima batagor yang dibeli oleh bapak.

Netra hitam bapak melirik batagor yang hanya dipandang oleh Risa. Bapak menghela napasnya panjang. Bapak lantas menyuruh Risa untuk memakan batagornya.

“Makan.” Risa terkesiap akan suruhan bapak. Ia pun mulai membuka batagornya lalu menyuapkannya pada mulutnya. Melihat Risa yang mulai makan, bapak tersenyum tipis dan mulai melahap batagor itu.

Sekitar 10 menit keduanya menghabiskan dengan memakan batagor. Tak ada percakapan. Baik bapak maupun Risa fokus pada makanannya. Hingga, bapak selesai dengan makanannya. Melihat bapak yang sudah membuang bungkus batagornya, membuat Risa melongo.

Dilihatnya batagor miliknya tak kunjung habis. Entah karena porsinya yang terlalu banyak atau Risa yang tiba tiba merasa kenyang. Tak mau ambil pusing, Risa memutuskan untuk kembali menutup bungkus batagornya.

“Kenapa ditutup lagi?”

“Risa nggak habis.”

“Yaudah, bawa pulang, lanjut makan di rumah aja.” Risa mengangguk sebagai balasan. Kini, hari semakin larut. Dan tentunya, udara semakin dingin. Risa yang lupa membawa jaket mulai merasa kedinginan.

Bapak sadar akan Risa yang kedinginan. Awalnya bapak masih diam. Ingin memberikan jaketnya, namun bapak masih ragu. Sampai akhirnya bapak merasa tak tega melihat putrinya yang terus mengusap usap tangannya guna mencari kehangatan.

“Pakai jaket bapak.” Eh? Mata Risa terbelalak kala bapak memakaikan jaketnya pada tubuhnya. Apakah ini bentuk perhatian bapak? Jika bisa berteriak, Risa akan teriak sekarang.

“Terus bapak pake apa?”

“Kulit bapak kebal. Makanya lain kali bawa jaket, biar tidak merepotkan.” Risa langsung menundukkan kepalanya. Apakah ia benar benar merepotkan?

“Bapak pake jaketnya aja. Risa nggak papa.”

“Ck! Kamu sakit bapak bakal lebih repot. Sudah, pakai saja.”

“Bukannya biasanya bapak nggak peduli kalau Risa sakit?” Tak ada yang salah dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut Risa. Memang benar, biasanya bapak tak peduli jika Risa sakit. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi mampu menusuk hati bapak. Seakan terdapat banyak serpihan kaca yang menusuk hatinya.

“Ayo pulang.” Bapak beranjak lebih dulu. Risa yang belum sadar akan perubahan sikap bapak pun menurut saja. Ia mulai berjalan mengikuti bapak di belakang. Tanpa Risa sadari, bapak menitikkan air matanya.

“Aku gagal menjadi bapak yang baik untuknya, Nina …”

*****

HAPPY READING👀✨

Jangan lupaa untuk selalu vote dan tinggalkan jejak positif yaa teman teman♡

1
Esti Purwanti Sajidin
vite dine ayuk thor up yg buanyak
Dadi Bismarck
Suka banget sama ceritanya, harap cepat update <3
hyeon': terima kasih sudah berkenan membacaa, akuu pastiin secepatnya bakal update>⁠.⁠<
total 1 replies
fianci🍎
Wuih, nggak sabar lanjutin!
hyeon': aaaaa, terima kasih atas dukungannya. semogaa sukaaa yaa🥺💐
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!