Zuri Keilana Wesley adalah putri sulung dari keluarga Wesley.
Gadis naif yang selalu berharap ada yang mencintainya dan menerimanya.
Tepat beberapa hari setelah kekasihnya yang telah ia taksir selama 20 tahun melamarnya, pria itu justru melakukan perbuatan tercela yang tak bisa Zuri maafkan meski ia berlutut memohon ampun.
Ethan Aviel Leon, tunangan Zuri kedapatan telah berselingkuh dengan adik kandung Zuri yaitu Leona Agatha Wesley.
Marah dan sakit hati membawa Zuri pada situasi yang pelik serta rumit.
Dan disaat itulah ia memikirkan balas dendam pada kedua pengkhianat itu dengan membuat perjanjian nikah bersama pria yang paling ia benci yaitu Davian Maverick Junior yang juga sedang diincar oleh Leona adiknya.
Davian dan Zuri sama-sama memiliki kepentingan dalam pernikahan ini.
Akankah pernikahan kontrak itu berubah jadi pernikahan manis atau sebaliknya?
yuk simak...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kunjungan ke villa kakek Edgar
Mentari menyeruakkan sinarnya, menggantikan peran sang rembulan.
Ini hari kedua Zuri menemani Davian tugas luar kota.
Jika di hari pertama dia menghabiskan waktu dengan tidur dan bersantai di kamar maka dihari kedua ini ia mengalami sebuah kebosanan.
Selesai sarapan, Davian sudah meninggalkan hotel bersama Gama dan meninggalkan Zuri sendirian dikamar.
Zuri telah meminta izin untuk berjalan-jalan disekitaran hotel namun Davian melarangnya dengan alasan dia tidak mau repot jika Zuri hilang dikeramaian.
Zuri berdiri di depan sebuah kaca lebar yang ada di pojok ruangan.
Sejauh mata memandang hanyalah kendaraan yang lalu-lalang serta warga yang beraktifitas.
Huft...
Hembusan nafas kasar Zuri lepaskan.
"Dasar egois... Dia pikir aku anak kecil yang gampang tersesat... Sedangkan London yang notabene negri orang saja aku berani masa disini aku harus diam dikamar sambil nungguin orang yang bahkan pulang saja hingga larut malam..."
Zuri terus mengumam seorang diri.
Ia kembali menghentakkan kakinya dan melompat keatas ranjang persis seperti balita yang sedang ngambek pada ibunya karena dilarang main hujan.
Ting..
"Bersiaplah, kita berangkat ke Wonosobo siang ini"
Sederet pesan singkat masuk ke ponselnya dari Davian.
"Haaahhh... ini orang hobinya bikin jengkel..." rutuk Zuri tapi tetap melakukan apa yang diminta Davian melalui pesan chat tadi.
Alhasil, dua koper telah selesai dipersiapkan oleh Zuri. Satu koper miliknya dan satu lagi milik Davian. Beruntung Zuri tidak membongkar banyak isi kopernya sehingga tidak butuh lama untuk berkemas.
Tak lama 2 orang bellboy mengetuk pintu kamarnya dan membantu Zuri membawakan koper-koper miliknya.
"Kau disini?Gama mana?" tanya Zuri saat melihat suaminya di lobi hotel.
Davian memicing tak suka saat Zuri bertanya perihal asistennya itu.
"Gama tetap tinggal dan langsung pulang ke Jakarta setelahnya... Kenapa kau menanyakan dia? Apa tidak suka jika aku yang menjemputmu?"
"Heeh... Bukan begitu... Biasanyakan kau selalu bersama Gama... "
"Ya sudah... mobil kita sudah menunggu...." ujar Davian berjalan lebih dulu dari Zuri yang masih mencerna perubahan sikap pria itu.
"Dia kenapa sih...? Makin lama makin aneh saja" batin Zuri sembari mengekori Davian dari belakang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Zuri terkagum-kagum sepanjang perjalanan.
Dengan ponselnya, dia mengabadikan setiap sudut kota yang mereka lalui.
"Awas kepalamu jangan sampai keluar... seperti anak kecil saja..." ujar Davian tanpa mengalihkan pandangan kearah Zuri.
Zuri melirik sinis pada Davian yang masih sibuk dengan tablet ditangannya.
"Kau tidak bisa sebentar saja melepaskan tablet mu itu? Apa segitu pentingnya pekerjaanmu?" tanya Zuri mulai jengah.
"Jika aku melepaskannya maka kau harus bersiap kompensasimu tidak bisa aku bayar nantinya" sahut Davian acuh.
"Ya...ya... silahkan nikmati pekerjaan mu itu..." Zuri bersungut-sungut.
Davian menghentikan jari-jarinya yang sedang menari-nari diatas layar tablet. Ia melepaskan kacamata yang selalu bertengger di hidungnya sejak mereka berangkat dari hotel tadi.
Perlahan Davian mendekatkan wajahnya kepada Zuri.
"Ka... kau mau apa?" ujar Zuri tergagap sambil memundurkan kepalanya hingga hampir saja membentur bingkai pintu mobil jika saja Davian tidak menahannya.
"Dasar ceroboh... jika kepalamu terbentur, maka otakmu yang kecil itu akan semakin menciut... Aku tidak ingin punya istri yang memiliki otak sebesar biji kecambah" ujar Davian dengan nada suara rendah.
Hangat nafas mint Davian bisa Zuri rasakan.
"Tidurlah jika kau mengantuk... perjalanan kita masih dua jam lagi..." ujar Davian menjauhkan wajahnya dari Zuri.
Pria itu merapatkan mantel rajut yang ia kenakan. Matanya memejam seketika.
Zuri yang masih dilanda kegelisahan usai tindakan Davian barusan juga melakukan hal yang sama.
Jangan tanyakan pak supir yang berada didepan. Pria yang usianya tak jauh dari Davian itu hanya bisa tersenyum kaku saat melihat kelakuan sepasang suami istri tersebut.
"Jadi kangen istri kalau begini...." batinnya.
Perjalanan yang memakan waktu hampir tiga jam itu berakhir di sebuah villa yang jika dilihat dari luar begitu sederhana.
Sebuah peternakan dan perkebunan menjadi satu kawasan yang bernama SAG.
"Selamat sore tuan Davian dan nona Zuri..." sapa pria tua seusia Rodeo yang bernama Joedi menyambut keduanya.
Dia merupakan sepupu dari Rodeo dan juga orang yang dipercaya oleh Edgar mengawasi villa dan segala aktivitasnya.
"Selamat sore juga Joedi... Kau makin terlihat muda dan juga sama dengan Rodeo yang hobi mewarnai rambut" ujar Davian berkelakar yang disambut salah tingkah Joedi.
"Saya mengganggapnya sebagai pujian tuan Davian... mari, saya antar kekamar karena sepertinya nona terlihat lelah" ujar Joedi menarik koper majikannya.
Zuri tak henti-henti menatap kagum pada isi villa.
"Aku tidak tahu jika kakek Edgar ternyata sekaya ini..." bisik Zuri yang berjalan di samping suaminya.
"Kau tidak tanya... "
"Lalu kenapa kau lebih tertarik pada perusahaan keuangan dibanding mengurus ini semua?" tanya Zuri penasaran.
"Not my style " sahut Davian angkuh.
Zuri mencibir. Ia geli dengan kalimat itu apalagi di ucapkan oleh pria yang dikenal dingin sekaligus angkuh seperti Davian.
"Silahkan tuan... Nona... Kamarnya sudah saya bersihkan dan saya harap tuan dan nona nyaman selama menginap disini" ujar Joedi saat membuka pintu kamar yang biasa ditempati oleh Davian jika berkunjung kesana.
"Terima kasih... " sahut Zuri sedangkan Davian?
Entah kemana perginya pria itu setelah masuk kekamar itu.
Kamar yang ditempati mereka cukup luas melebihi kamar yang ada di penthouses.
Dari jendela kamar, Zuri bisa melihat hamparan kebun sayur-sayuran yang menghijau dan juga padang rumput yang luas dimana sapi-sapi masih bebas berkeliaran kesana kemari dalam kerumumannya.
"Kau suka tempat ini?" tanya Davian yang entah muncul darimana.
"Kau dari mana?" balas Zuri bertanya.
"Dari kamar mandi... udara dingin membuatku sering buang air...." sahut Davian sekenanya.
"Kau belum jawab. Kau suka tempat ini?" lagi Davian bertanya.
Zuri tersenyum sumringah. "Sangat... ini tempat paling indah yang pernah aku datangi.. Kalau di luar tuh vibesnya seperti Switzerland...." jawabnya.
"Hmmm... kau benar... Anggap ini Switzerland versi lokal"
Tawa Zuri pecah seketika mendengar jawaban Davian.
"Mandilah... Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu"
"Eh... Tumben sekali" ujar Zuri kaget.
"Aku lagi baik.... Sudah sana!"
Zuri membongkar isi kopernya dan mengeluarkan sepasang piyama lalu membawanya ke dalam kamar mandi.
Davian memilih keluar sembari melihat-lihat kondisi sekitar villa.
Ada Joedi yang berada di depan pintu masuk peternakan peliharaan SAG.
"Tuan Davian... Anda disini?" sapa Joedi saat melihat Davian berjalan mendekat kearah kandang.
"Bagaimana bisa sapi-sapi kita terkena virus? Apa dokter hewan disini tidak mengawasinya?"
"Maaf sebelumnya tuan... Tapi sebelum saya menjelaskan duduk persoalannya, baiknya tuan lihat kekandang sebentar... mungkin dari situ tuan bisa memahaminya "
Davian mengikuti langkah Joedi menuju kandang yang dimaksud.
"Beberapa bulan lalu tuan Edgar dititipi beberapa induk sapi perah... Saya kebetulan sedang berada di luar pulau sehingga lolos dari pemeriksaan dan pengawasan saya... Dan setelahnya, sejak sapi-sapi perah itu mulai berbaur dengan sapi-sapi kita, mulai muncul hal aneh... seperti beberapa indukan sapi yang gampang mengamuk serta stres bahkan ada yang mati sehingga susu yang dihasilkan kurang berkualitas..." jelas Joedi panjang lebar.
"Lalu apakah sapi-sapi titipan itu sudah diperiksa dilab?"
Joedi mengangguk "Sudah tuan dan hasilnya positif mastitis (radang ambing) sehingga produksi susu-susu kita menurunkan produksi susu" jelasnya.
Davian menyimak semua penjelasan Joedi. Meski kurang memahaminya tapi dia akan berusaha membantu sebisa dan semampunya karena ini permintaan sang kakek.
"Baiklah... nanti berikan laporan pemeriksaannya padaku..."
Davian lalu kembali ke villa karena udara yang semakin dingin.
Dia belum terbiasa akan perubahan udara seperti ini sehingga reaksi tubuhnya cepat mengigil meski ia telah memakai beberapa lapis baju yang menghangatkan tubuh.
bersambung....