Nur Ratih, gadis kampung yang nekat pergi ke ibukota demi melunasi hutang alm. Ayahnya agar ia tidak dijadikan istri kesekian oleh juragan di kampungnya. Melalui sebuah agen PRT, Ratih berhasil mendapat pekerjaan untuk menjadi pembantu di salah satu keluarga kaya disana.
Awal bekerja disana, Ratih merasa nyaman dengan lingkungan barunya, namun hal itu tidak berjalan lama. Kepulangan sang majikan muda dari perjalanan bisnisnya, membuat hari-hari Ratih terasa sesak. Dialah, Nathaniel Ryker, sang majikan yang terobsesi padanya sejak pertemuan pertama mereka.
Ratih merasa tidak kuat dalam melakukan pekerjaannya, sang majikan terus saja menganggu dirinya. Ia ingin pulang, namun kala teringat hutang-hutangnya ia merasa harus bertahan.
Bagaimanakah kehidupan Ratih di rumah itu? Apakah ia bisa menghentikan obsesi majikannya? Ataukah ia malah terjerumus di dalamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Ragu
Denting sendok dan garpu yang saling berbenturan memenuhi ruang makan seorang pria yang tengah menikmati sajian paginya. Bak seorang raja, ia duduk di kursi utama dan dikelilingi oleh beberapa pelayan yang berdiri dengan sikap hormat.
Nathan menikmati steak dengan tingkat kematangan rare dengan tenang seolah tidak ada yang terjadi di rumah ini. Sebelumnya, pria itu meminta Sam untuk mengundang secara khusus seorang koki terkenal untuk memasakkan santap pagi untuknya.
"Ini Tuan, silahkan dinikmati," ucap seorang pria yang berprofesi sebagai koki.
Koki itu meletakkan sepiring greek salad yang berisi tomat, timun, paprika hijau merah kuning, irisan bawang merah, feta cheese, buah zaitun, dan menggunakan dressing saus dari olive oil dan campuran bubuk oregano.
"Siapa namamu tadi?" Tanya Nathan.
"Vincent."
"Ah ya Vincent, kau mau bekerja disini?"
"Saya senang Tuan menikmati makanan yang saya siapkan."
Nathan terkekeh, "Makanan enak di pagi yang menyenangkan, aku sangat suka itu."
"Maaf Tuan, saya masih mempunyai pekerjaan," jawabnya dengan sopan.
"Daripada kau bekerja di sebuah restoran, bukankah lebih baik kau bekerja secara pribadi untukku."
"Maaf Tuan."
Nathan menatap Sam yang berdiri di sampingnya, "Lihatlah Sam, ada yang menolak tawaranku."
"Tuan, kita harus menghormati keputusannya," saran Sam.
Nathan mengangguk pelan, "Kau mungkin benar, oh iya kau boleh pergi, Sam yang akan mengantarmu, aku masih ingin menikmati santapanku."
"Mari," ucap Sam menunjukkan arah ke luar.
Mereka berdua pun keluar dari ruang makan.
Sementara Nathan menatap empat pelayan yang berjaga di ruang makan itu. Ke empatnya hanya menunduk dengan ekspresi datar.
"Kalian keluarlah!" perintah Nathan, menurutnya orang-orang itu mengganggu pemandangannya.
"Tuan anda perlu sesuatu?" Tanya Hania yang sejak kapan sudah berdiri di samping meja Nathan.
Nathan memicingkan matanya, "Apa yang kau lakukan disini?"
"Mmm saya lihat tidak ada pelayan disini, saya pikir anda memerlukan sesuatu."
"Pergilah," ucap Nathan lalu memerintahkan Hania keluar dengan kibasan tangannya.
Hania mengangguk patuh lalu pergi. Saat melihat Ratih dan Sofia yang berjalan ke gudang, ia langsung menghampiri mereka.
"Hei tunggu aku," ucap Hania sambil merangkul kedua temannya.
"Kau darimana?" Tanya Sofia.
"Melihat Tuan."
"Untuk apa kau melihatnya?" Tanya Sofia lagi sementara Ratih hanya mendengarkan pembicaraan keduanya.
"Tadi aku lihat tidak ada pelayan di ruang makan, kupikir Tuan membutuhkan sesuatu."
"Mungkin Tuan mengusir mereka, kau tahu sendiri sifat Tuan memang suka berubah-ubah," ucap Sofia.
"Benar sekali," sahut Ratih tiba-tiba yang membuat Sofia dan Hania saling berpandangan.
"Sejujurnya aku ingin melihat koki itu lagi, tapi sayangnya dia sudah pergi," lirih Hania.
Sofia tertawa, "Wah sepertinya ada yang jatuh cinta."
Hania tersenyum malu-malu, "Haaahh, sudah tampan, pintar masak, sangat pas jika menjadi pendamping ku," ucapnya sambil membayangkan sesuatu yang indah.
Sofia sedikit menyentil kepala Hania, "Jangan membayangkan sesuatu yang sulit terjadi."
"Siapa tahu menjadi kenyataan, iya kan Ratih?"
Gadis yang diajak bicara itu hanya diam tidak menyahut.
"Ratih! Kau kenapa?" Hania memanggil Ratih lagi.
"Apa?" Tanya Ratih dengan polosnya, ia tidak tahu kenapa Hania memanggilnya.
"Kau sedikit aneh," ucap Hania.
Sofia yang melihat itu segera menyeret mereka ke gudang untuk mengambil alat kebersihan.
"Sudah-sudah, ayo bekerja," ucap Sofia.
"Tunggu dulu," ucap Ratih yang menghentikan pergerakan mereka.
"Aku ingin ke kamar mandi," ucapnya.
"Baiklah, segera kembali," ucap Sofia.
Setelah Sofia dan Hania hilang dari pandangan, Ratih pun segera menjalankan aksinya. Bukan ke kamar mandi, ia melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan.
Ia akan menemui pria itu untuk meminta penjelasan atau bahkan meminta pengakuan yang sejujur-jujurnya. Walaupun ia ragu, apakah pria itu bisa dipercaya?
Di sana ia menemukan Nathan yang sedang memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya.
"Kau mencariku?"
Nathan meletakkan alat makannya, lalu menyeka sekitar mulutnya dengan napkin yang ada di atas meja.
"Aku ingin meminta penjelasanmu," ucap Ratih yang berdiri di ambang pintu.
"Aku tidak dengar," jawab Nathan dengan pandangan luruh ke arah gadis itu.
Ratih berdecak sebal lalu dengan langkah malas mendekati Nathan dan berdiri di sampingnya.
"Duduklah," ucap Nathan sambil sedikit mendorong kursi yang ada di sebelahnya ke belakang.
"Tidak perlu," jawab Ratih dengan nada dingin.
Nathan menyandarkan punggungnya sambil menatap Ratih dengan bingung. Pria itu sama sekali tidak ingin melepaskan pandangannya. Walaupun gadis itu memilih memandangi barang-barang yang ada ruang makan itu
"Aku tidak membunuhnya," ucap Nathan yang langsung membuat Ratih menoleh padanya.
"Aku belum bertanya!"
"Aku sudah tahu isi pikiranmu."
Dugaan Ratih memang benar, pria itu memiliki indera keenam.
"Aku tidak percaya denganmu."
Nathan bersedekap dada, "Aku tidak memintamu untuk percaya padaku, tapi yang jelas aku tidak membunuhnya."
"Kalau begitu kau yang menyuruhnya mati," ucap Ratih yang membuat Nathan tertawa.
"Kenapa kau tertawa?" Ratih terlihat bingung.
Nathan berdiri lalu mendekati Ratih. Di setiap langkah pria itu, Ratih selalu berdoa semoga tidak ada hal buruk yang akan menimpanya.
Nathan menunduk menatap kepala Ratih, karena gadis itu memilih memandangi lantai. Tangan Nathan meraih dagu Ratih secara paksa dan berhasil membuat gadis itu mendongak dan beradu pandang dengannya.
"Berapa film yang kau tonton, sampai-sampai memikirkan teori seperti itu," ucap Nathan dengan nada rendah namun berhasil membuat darah Ratih berdesir.
"Tapi selain kau, tidak ada yang bisa melakukannya," ucap Ratih namun masih berpandangan dengan Nathan.
Nathan mendekatkan wajah mereka. Memandangi wajah Ratih yang terlihat berani namun ada raut takut yang coba ia sembunyikan.
"Aku tidak membunuhnya," tegas Nathan lagi.
Tatapan Nathan turun dari mata Ratih menuju ke bibir ranum yang sudah menjadi candunya. Akan menyenangkan jika mencumbu gadis itu sekarang.
"Kau mau apa?!!"
Ratih mengundurkan wajahnya saat Nathan mendekatinya, salah, bukan wajahnya tapi bibirnya. Pria itu bahkan sudah memiringkan wajahnya.
Entah bisikan setan dari mana, Ratih malah memejamkan matanya. Hal itu sontak membuat Nathan menaikkan ujung bibirnya.
"Tuan," panggil Sam yang tiba-tiba datang.
Nathan memejamkan matanya menahan frustasi. Tinggal sedikit saja, ia berhasil menyatukan bibirnya dengan bibir Ratih. Tapi sekali lagi, Sam kembali mengganggu kegiatannya.
Ratih membuka matanya dan mendorong dada Nathan agar menjauh darinya. Ia tidak berani menatap Sam.
"ADA APA?!"
Sam dibuat bergidik ngeri setelah mendapat pertanyaan yang seperti bentakan itu.
"Maaf Tuan, saya akan pergi," ucap Sam sambil buru-buru melangkahkan kakinya keluar.
"Kembali!"
Nathan mengendorkan dasi yang terasa mencekik lehernya. Suasana hatinya sudah tidak sebaik tadi.
"Iya Tuan." Sam kembali berdiri dihadapan Nathan.
"Jelaskan padanya, apa saja yang kulakukan semalam," perintah Nathan pada Sam yang membuat Ratih bingung.
"Nona, semalam Tuan tetap bersama saya, bahkan saya juga tahu kalau Nona tidur di kamar Tuan."
Ratih hanya bisa pasrah setelah mendengar pengakuan Sam. Semoga pria itu tidak memberitahukan kepada orang lain.
"Ehh Nona tidak perlu khawatir, saya tidak akan membocorkannya, lagipula saat menyusul Tuan ke ruang kerjanya, kami berdua langsung pergi ke perusahaan untuk mengurus sesuatu, baru kemudian tadi pagi kami kembali karena saya dikabari Adhisti kalau ada sesuatu yang terjadi," jelas Sam dengan nada yang bersungguh-sungguh.
Ratih menatap Nathan dengan ragu. Apakah benar yang dikatakan Sam? Sam adalah tangan kanan Nathan, tentu mereka sehati. Sam pasti akan selalu menaati perintah Nathan.
"Sudah puas?" Tanya Nathan.
Ratih bingung untuk merespon apa, "Aku tidak tahu."
Gadis itu merasa ada yang tidak beres, tapi ia tidak punya bukti. Apalagi ia belum tahu kebenaran tentang hubungan Nathan dan Juwita. Pria itu terlihat sedang berusaha menyembunyikan hal itu darinya.
"Aku bahkan belum membalas perlakuannya padamu," ucap Nathan.
"Dia sudah ku maafkan," ucap Ratih.
"Tapi aku tidak," jawab Nathan lalu tangan kekarnya membelai pipi Ratih.
"Sudahlah, mungkin ini yang terbaik untuknya, aku tidak ingin pembahasan apapun soal wanita itu, kau mengerti Sam?"
"Baik Tuan."
"Aku harus pergi ke kantor," ucap Nathan dengan senyuman.
Ratih tidak membalas ucapan pria itu.
Nathan menjauhkan tangannya dari wajah Ratih, tanpa kata-kata lagi, ia berjalan keluar dari ruangan lalu diikuti Sam.
Ratih menatap kedua punggung yang sudah ditelan habis oleh pintu itu dengan tatapan penuh keraguan.
Pria itu, Nathan, yang bahkan sudah pernah membunuh pelayanannya sendiri. Bukankah berkemungkinan besar juga bisa melakukannya lagi kepada pelayannya yang lain?