Lama mengasingkan diri di Pulau Kesepian membuat Pendekar Tanpa Nyawa tidak tenang. Sebagai legenda tokoh aliran hitam sakti, membuatnya rindu melakukan kejahatan besar di Tanah Jawi.
Karena itulah dia mengangkat budak perempuannya yang bernama Aninda Serunai sebagai murid dan menjadikannya sakti pilih tanding. Racun Mimpi Buruk yang diberikan kepada Aninda membuatnya tidak akan mengenal kematian. Dia pun diberi gelar Ratu Abadi.
Satu-satunya orang yang pernah mengalahkan Pendekar Tanpa Nyawa adalah Prabu Dira Pratakarsa Diwana alias Joko Tenang tanpa melalui pertarungan. Karena itulah, target pertama dari kejahatan yang ingin Pendekar Tanpa Nyawa lakukan melalui tangan Aninda adalah menghancurkan Prabu Dira.
Aninda kemudian membangun kekuatan dengan menaklukkan sejumlah pendekar sakti dan menjadikannya anak buah.
Mampukah Aninda Serunai menghadapi Prabu Dira yang sakti mandraguna? Temukan jawabannya di Sanggana 8 yang berjudul "Dendam Ratu Abadi".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raab 22: Tugas untuk Adipati
*Ratu Abadi (Raab)*
Aninda Serunai duduk di sebuah kursi yang seharusnya diduduki oleh seorang pejabat. Tidak ada meja yang tersedia di depannya. Apalagi kopi pahit atau manis.
Yang tersedia di depan Aninda Serunai adalah sekumpulan manusia yang duduk bersimpuh di lantai. Laki-laki dan perempuan. Mereka tidak lain adalah Adipati Rempah Alot dan keluarganya tanpa mengikutsertakan cucu-cucunya.
Adipati Rempah Alot dan Kandar Wulat masih dalam kondisi terluka parah. Sementara Wadi Mukso memilih menyerah sebelum bertarung. Dia sadar diri.
Para pelayan dan prajurit dijauhkan dari teras rumah yang diterangi oleh cahaya obor.
“Adipati, aku tidak akan merebut kadipatenmu selama kau hidup. Namun, jangan memancingku untuk membunuhmu atau membunuh keluarga tercintamu,” ujar Aninda Serunai penuh wibawa, seolah-olah dia sudah menguasai tekhnik-tekhnik agar terlihat berwibawa.
“Baik,” ucap Adipati Rempah Alot patuh.
“Sebut aku Gusti Ratu. Gelarku adalah Ratu Abadi,” perintah Aninda Serunai.
“Kurang ajar! Wanita Setan!” maki Adipati Rempah Alot marah. Namun, itu hanya di dalam hati.
“Baik, Gusti Ratu.” Itu yang diucapkan oleh lisan sang adipati. Dia sudah tidak berani membuat gadis muda itu marah.
“Aku seorang wanita pendendam. Jadi….”
“Aku tidak bertanya,” kata Wadi Mukso meledek. Namun, itupun hanya di dalam hati. Wadi Mukso memang memiliki hobi meledek di dalam hati, tapi sangat cool di lahiriahnya.
“Aku sangat mudah melampiaskan dendamku kepada siapa pun,” kata Aninda Serunai dengan sorot mata yang berubah tajam kepada Adipati seorang. Itu bukan tanda jatuh cinta.
Rupanya perubahan ketajaman tatapan itu cukup membuat jantung Adipati yang sedang sakit berdetak lambat, seperti mau mati. Melemahnya energi tubuhnya secara drastis membuatnya mau tumbang ke belakang.
“Ayah!” sebut Kandar Wulat terkejut sambil cepat menahan gerak jatuh tubuh ayahnya.
“Kakang!” sebut sang istri cemas lagi sambil ikut memegangi lengan suaminya yang besar, meski tidak sebesar gairahnya.
Adipati Rempah Alot akhirnya terduduk dengan bersandar pada tangan putranya. Melihat Adipati kondisinya sangat lemah, sang istri, anak dan menantu jadi cemas semua.
“Ayolah, Cantik. Tidak usah unjuk kesaktian lagi. Cepatlah bicara, lalu pergi. Kami mau tidur tenang,” kata Wadi Mukso, tapi di dalam hati dengan wajah yang menunduk.
Memang, ilmu Tatap Lemah Nyawa yang membuat Adipati jadi lemas seperti mau mati saja. Pandangannya saja menjadi sangat buram, sehingga dia melihat Aninda Serunai hanya bayangan yang tidak jelas.
“Selain Raja Kerajaan Pajajakan, siapa orang yang punya kekuasaan besar di Kerajaan?” tanya Aninda Serunai yang sudah berhenti menatap aneh kepada Adipati.
“Pangeran … Pangeran Ulur Langit dan Pangeran Tarik Bumi, Gusti Ratu,” jawab Kandar Wulat.
“Siapa yang lebih tua?” tanya Aninda Serunai, benar-benar bertanya, bukan sebagai penanya cerdas cermat ceria.
“Pangeran Ulur Langit, Gusti,” jawab Kandar Wulat lagi.
“Tiga pekan kemudian aku akan datang lagi ke sini. Adipati, kau harus sudah memastikan Pangeran Ulur Langit akan datang ke sini saat aku datang lagi. Ingat, ribuan prajurit tidak akan mampu menghentikanku. Jika kau berbuat macam-macam, bukan hanya kau dan keluargamu, semua prajurit kadipaten ini akan aku musnahkan,” kata Aninda Serunai yang ujung-ujungnya mengancam.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Kandar Wulat patuh.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Adipati pula dengan suara yang jauh lebih lemah. Dia merasa perlu menyahut agar wanita sakti itu cepat pergi.
Ternyata benar, Aninda Serunai bangkit berdiri setelah itu. Dia melangkah pergi begitu saja keluar dari teras. Tidak ada prajurit yang berani bergerak dari tempatnya agar tidak dianggap melakukan gerakan provokatif.
Ada kelegaan di hati Adipati Rempah Alot dan keluarganya setelah melihat Aninda Serunai benar-benar pergi keluar dari halaman, lalu hilang di kegelapan malam. Padahal tadi siang mereka tidak mimpi yang aneh-aneh.
Entah seperti apa Aninda Serunai? Seorang gadis cantik jelita berjalan seorang diri malam-malam di jalan kota Rempong yang gelap dan sudah sepi. Hanya ada satu dua cahaya dian di dalam rumah warga, menunjukkan penghuninya belum semua tidur.
Tak tak tak!
Aninda Serunai yang berjalan di dalam kegelapan, tiba-tiba mendengar suara langkah kaki kuda yang lambat. Irama sepatu kuda itu terdengar melangkah selangkah demi selangkah, seolah-olah si kuda sedang berjalan di atas catwalk.
Sumber suara langkah kuda itu berada di arah depan Aninda Serunai dan sedang datang mendekat perlahan. Aninda Serunai memilih berhenti berjalan dan dia berdiri di tengah jalan. Dia sudah dapat memperkirakan orang golongan apa yang sedang menunggang kuda dengan santai di kegelapan malam seperti itu.
Penunggang kuda yang tidak jelas sosoknya tersebut, tidak melihat atau mengetahui keberadaan Aninda Serunai di arah depannya. Itu awalnya. Namun, setelah jarak tinggal lima tombak, penunggang kuda itu menghentikan laju kudanya. Dia menatap serius ke arah depan.
Selain melihat ada warna yang lebih hitam dari kegelapan di tengah jalan, penunggang kuda itu juga bisa mendeteksi kehadiran orang lain di jalan itu, yaitu siluet yang lebih hitam dari gelapnya malam.
“Hei! Kisanak atau Nisanak di depan! Apakah kau manusia atau jurig?” seru penunggang kuda yang ternyata seorang lelaki.
Pset! Bruk!
Ehehehek!
Tiba-tiba terdengar satu suara seperti sabetan dan tahu-tahu si kuda tersungkur jatuh kepala dan badan depannya. Itu membuat si kuda meringkik keras. Tidak jelas dia sedang bernyanyi atau kesakitan. Pasalnya dua kaki depannya telah buntung. Yang jelas, si lelaki penunggang kuda jatuh berguling di tanah.
Set!
Dalam jatuhnya, lelaki itu langsung melesatkan suatu benda. Benda yang tidak terlihat karena gelap, melesat terbang dengan sangat cepat.
Deg! Bset!
Meski gelap, Aninda Serunai sangat merasakan kedatangan benda terbang itu. Dengan menggunakan tangannya yang bertenaga dalam tinggi, Aninda Serunai cukup menepis benda tersebut, membuat si benda yang belum mau mengaku apa jenisnya itu melesat merobek batang pohon, lalu melesat lagi ke tangan pemiliknya.
Mengetahui senjatanya dimentahkan oleh sosok yang masih tidak mau bersuara, lelaki itu lalu menyalakan senjatanya seperti lampu neon di kegelapan, tapi sinar hijaunya tidak menerangi area sekitar.
Dengan menyalanya senjata itu, maka terlihatlah benda apa itu. Itu adalah sebuah caping. Samar-samar wajah lelaki itu juga terlihat, meski berwarna hijau oleh bias cahaya caping. Lelaki itu masih muda dan tampan. Warna bajunya hijau.
Sets!
Pemuda itu kembali melesatkan senjata caping bersinarnya.
Pset! Ctar!
Namun, baru setengah jalan, satu energi yang tidak terlihat sudah menghantam caping terbang tersebut. Caping bersinar hijau terpental dan jatuh pada satu tempat, lalu padam.
“Siapa kau, Kisanak?” tanya Aninda Serunai. Dia akhirnya bersuara.
Terkejut pemuda itu saat mendengar suara wanita lawannya. Dia benar-benar tidak tahu pada awalnya bahwa orang yang menghadangnya adalah wanita.
“Aku Angger Sepakodol. Julukanku Pendekar Caping Hijau!” seru pemuda itu dengan lantang, bernada bangga punya julukan yang menurutnya sekeren ketampanannya.
“Aku ingin kau mengabdi dan tunduk kepadaku,” ujar Aninda Serunai seenaknya.
“Welleh!” pekik Angger terkejut. “Aku tidak mau berhubungan badan dengan wanita gelap sepertimu. Kau keluyuran malam-malam seperti ini pasti memang sengaja mencari mangsa.”
“Dan kau adalah mangsaku!” seru Aninda Serunai lalu melesat menerobos kegelapan menyerang Angger.
Si pemuda terkejut dan cepat bereaksi. (RH)