KARYA INI MERUPAKAN KARYA JALUR KREATIF.
"Jejak Virtual SAGA" adalah sebuah novel fiksi yang menggambarkan perjalanan Gaffi dan Salsa di dunia virtual demi sebuah Misi.
Gaffi dan Salsa adalah dua orang dari seratus programmer yang mengembangkan aplikasi cerdas untuk masa depan. Mereka menciptakan aplikasi revolusioner yang memungkinkan pengguna untuk memasuki dunia virtual yang mendalam dan menarik.
Ditengah kebahagiaan atas sempurna nya aplikasi itu. Satu kabar justru harus mereka dengar dari Tim Profesor.
"Tidak ada jalan lain.Semua programmer sudah di uji. Hanya Kalian yang bisa masuk ke dunia Virtual itu. Kita harus mencegahnya. Jika tidak masa depan generasi kita akan hancur." Ucap Professor Kim.
"Tapi kenapa harus menikah?!" Teriak Gaffi dengan tatapan marah.
"Karena hanya sepasang orang yang menikah di dunia nyata yang bisa memiliki hologram itu. satu-satunya cara menyelamatkan aplikasi ini dari virus itu."
Salsa dan Gaffi terpaksa menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sebutir Debu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22 Andai ada Testpack
Profesor Kim melihat dua orang yang tak asing, mereka duduk di sofa berwarna merah menyala.
"Maaf apakah kita pernah bertemu?" tanya Profesor Kim seraya memakai kacamata yang tadi ia gantungkan di lehernya.
"Kami kemari berdasarkan kabar dari BIN di Australia. Bahwa putra kami dan menantu kami berada di sini. Dan kami ingin tahu apa yang mereka lakukan disini. Kenapa mereka menutupi yang harusnya kami ketahui." ucap Tuan Ammar cepat. Ia bahkan berdiri ketika melihat kedatangan Profesor Kim.
"Tuan Ammar?" Gumam Profesor Kim. Lelaki berambut putih itu bergegas ke arah meja nya. Ia mempersilahkan sepasang suami istri itu duduk di kursi mejanya.
"Duduklah dulu, saya bisa jelaskan." Ucap Profesor Kim tenang.
Tuan Ammar menarik satu kursi dan ia persilahkan sang istri untuk duduk. Ia duduk di kursi lainnya. Tuan Ammar menyerahkan satu amplop berwarna biru kepada Professor Kim. Lelaki kelahiran Osaka itu menerima map itu. Dahinya berkerut dan melirik Ummi Arumi.
"Apakah kalian pernah bergabung dalam satu misi dulu?" Tanya Profesor Kim. Ia menduga jika Tuan Ammar adalah mantan intelegen yang bergabung dalam sebuah misi yang dulu sempat menjadi perbincangan hangat di dunia intelejen internasional. Dimana beberapa orang agen dianggap gagal menjalani misi, tapi kabarnya mereka sengaja di singkirkan karena ada intelejen lain yang menyingkirkan mereka.
"Bukan saya tapi istri saya." Jawab Tuan Ammar.
Professor Kim terbelalak. Ia menatap penampilan Ummi Arumi, logikanya menolak. Bagaimana bisa Perempuan yang ia anggap fanatik dalam beragama bisa masuk ke dunia intelejen dimana tidak bisa menolak misi, dan kebanyakan partner misi mereka adalah lawan jenis.
"Bagaimana anda tahu tentang itu?" tanya Ummi Arumi.
"Aku adalah salah satu peneliti yang tahu kebenaran bahwa ada 3 agen hebat yang saat itu selamat. Tetapi harus dianggap mati karena demi keamanan misi itu sendiri." Ucap Profesor Kim menatap sebuah foto.
"Lalu, apakah Gaffi dan Salsa masuk ke dunia intelejen?" Suara Ummi Arumi terdengar cukup tegas. Walau sebenarnya hati nya sedang tidak baik-baik saja.
"Ku rasa dunianya sama, tapi berbeda." tiba-tiba pintu ruangan Professor Kim di ketuk.
"Masuk."
Ken tampak membawa selembar kertas dan menyerahkan kepada Profesor Kim.
"Tidak...! Bangunkan mereka!" suara Profesor Kim terdengar khawatir. Rona wajahnya terlihat pucat ketika membaca isi kertas dari Mia.
"Tidak bisa Prof. Sebelum misi itu berakhir sendiri. Anda tidak lupa tentang perjalanan virtual ini bukan?" Ingat Ken pada Profesor Kim. Lelaki tua itu menatap kedua orang tua Gaffi. Ie menghela napasnya pelan lalu meminta Gaffi untuk menelpon seseorang.
"Hubungi Dokter Shidqia. Dia yang... Tunggu. Bukankah dia..."
"Shidqia Nafisah?" Beo Tuan Ammar.
Professor Kim mengangguk.
"Dia bibi Gaffi." Ucap Ummi Arumi. Seketika pikiran Ummi Arumi tertuju kepada menantunya. Ia memang tak lagi muda, tapi ia bisa menelisik bahwa terjadi sesuatu dengan menantunya.
"Apakah Salsa hamil.?" tanya Ummi Arumi.
"...." Professor Kim tak mampu menjawab pertanyaan yang butuh penjelasan panjang dan lebar.
"Hamil? Salsa? Ayolah... Bisakah kalian menjelaskan nya? Aku tidak bisa membaca apa yang kalian pikirkan hanya dengan menatap wajah kalian." Gerutu Tuan Ammar yang bingung bagaimana istrinya bisa menebak hal itu. Sedangkan Professor Kim hanya diam, belum lagi bagaiamana Qiya, adiknya bisa bekerjasama dengan Profesor Kim.
"Dimana mereka?!" Suara datar dan tatapan Umi Arumi kepada Professor Kim.
"Kini aku tahu bagaimana Gaffi bisa begitu hebat. Ternyata teori yang mengatakan jika kepandaian di turunkan oleh ibu kepada anaknya, tampaknya benar. Ikuti aku, surat ini tak mampu membuat aku menutupi nya dari kalian." Professor Kim menghempaskan surat tersebut. Ken justru masih terpaku di sisi meja Professor Kim.
"Ken?! Apa kau tidak mendengar perintah ku tadi?" Tanya Profesor Kim kesal.
"Untuk menghubungi dokter Shidqia?" Tanya Ken.
"Aku tak akan mengulangi nya Ken. Bilang kode merah." Ucap Professor Kim. Tiga orang itu pun menuju ruang laboratorium melalui sebuah lift yang turun kebawah. Tiba di lantai dasar, semua tim yang berada di ruang kontrol menoleh dan menatap aneh Ummi Arumi juga Tuan Ammar.
"Apa mereka tidak pernah melihat perempuan bercadar hingga harus melongok seperti melihat setan?" Bisik Umi Arumi pada sang suami.
"Sejak kapan istri ku jadi sibuk dengan penilaian orang." balas Tuan Ammar. Mereka masih mengikuti Profesor Kim.
Tiba di depan ruang Virtual, Professor Kim menekan tombol loud speaker.
"Mia, buka pintunya. Ada kedua orang tua Gaffi." Ucap Professor Kim.
Seketika dari arah dalam, Mia cepat menutup kapsul yang berisi Gaffi juga Salsa. Ia bergegas membuka pintu tersebut.
Kedua pasang mata yang baru tiba diruang virtual itu menatap ke arah kapsul, mereka bisa melihat wajah Gaffi dan Salsa.
"Gaffi. Salsa." Gumam sepasang suami istri itu.
"Mereka adalah programmer terbaik kami...." Professor Kim duduk di sisi kapsul tersebut. Ia menceritakan semua yang terjadi dengan perjalanan mereka hingga akhirnya sepasang suami istri itu pergi ke Dunia Virtual.
"Jejak Virtual?" Beo Tuan Ammar.
"Lantas apa tujuan hacker itu?" Tanya Tuan Ammar.
Professor Kim menjelaskan detail alasan sepasang suami istri yang merupakan menantu dan anak Tuan Ammar hingga menjadi agen dalam perjalanan virtual itu. Umi Arumi tampak mengamati semua lembaran yang di catat oleh Mia.
"Lalu... jika di dunia nyata Salsa Hamil..Maka ia akan hamil juga di dunia virtual?" Tanya Umi Arumi.
Mia tak berkedip, ia menatap Umi Arumi. Ia bingung bagaimana perempuan itu bisa membaca catatan medis dan asumsi nya.
"Beliau ibu Gaffi. Beliau adalah mantan agen juga." Ucap Professor Kim pada Mia yang tampak menganga mulutnya karena kagum dan shock. Ia pikir Umi Arumi orang awam.
"Bagaimana detak jantung Salsa. Ku lihat catatan medis mu, dia mengalami alergi sesuatu dan menyerang pernapasannya." Ucap Umi Arumi lagi.
Mia mengeluarkan catatannya dan menjelaskan kepada Umi Arumi. Bahwa kemungkinan besar, Salsa harus menjalani kehamilan di dunia Virtual jika dugaannya tak meleset. Ia justru khawatir kondisi Salsa dan janinnya jika memang mereka harus menjalani misi itu. Sedangkan misi bisa berakhir jika hacker sendiri menghentikannya.
"Tidak bisakah di hentikan?" cicit Umi Arumi menatap kapsul itu.
"Hanya hacker itu. Kami masih melacak tempat keberadaan hacker itu. Jika kita bisa melacak keberadaannya. Maka kita bisa menghentikannya." Jelas Professor Kim.
Di saat di dunia nyata, Professor Kim di buat khawatir bersama kedua orang tua Gaffi. Namun Gaffi dibuat stress karena tingkah Salsa.
"Menjauhlah... Aku mau muntah." Ucap Salsa seraya menutup kedua hidungnya rapat.
Gaffi merasa kesal.
"Maksud mu? Aku harus menuntun kuda, sedangkan kamu duduk diatas nya?" Gaffi memandang Salsa. Namun saat Gaffi baru akan mendekati kuda yang sudah ditunggangi Salsa, langkahnya terhenti.
"Huekk... A-ku...Huek... Menjauhlah...!" Teriak Salsa yang merasa mual karena mencium aroma tubuh Gaffi.
"Jangan bilang...."
"Aku sedang haid!" Salsa cepat menjawab kecurigaan Gaffi.
"Haid? Tapi..."
"Hueekkk...." Gaffi mundur beberapa langkah.
"Bagaimana?" Ucap Gaffi.
Salsa mengangkat tangannya menandakan bahwa ia lebih baik.
'Tidak mungkin... Apakah aku hamil... Ah tidak mungkin... Aku butuh testpack.' Batin Salsa.
"Adakah apotek atau obgyin di tempat antah berantah ini..." Gumam Gaffi yang menuntun kuda mereka. Matahari kian meredup tanda hari mulai malam. Gaffi melihat sebuah pohon besar, mereka memutuskan untuk bermalam di sana.
"Makanan kita tinggal ini. Makanlah, aku akan makan besok." Ucap Gaffi seraya menyerahkan sebuah roti buah yang hampir busuk. Ia juga melihat wadah minum mereka yang terbuat dari sebuah buah kering berbentuk seperti terong sudah tinggal setengah. Salsa menatap Gaffi yang mengumpulkan ranting-ranting dan mencoba menyalakan api dengan memutar kayu-kayu tersebut. Namun masih tak berhasil. Salsa mendekati Gaffi lalu ia mengeluarkan dua buah batu. Ia benturkan dua buah batu itu hingga mengeluarkan percikan api. Kini tumpukan kayu kering dan ranting-ranting itu telah di lahap api sehingga menjadi penerang juga penghangat tubuh mereka.
Suami istri itu saling pandang seraya menjulurkan telapak tangan mereka ke arah api, mereka mulai kedinginan. Angin malam membuat tubuh mereka menggigil. Salsa mengeluarkan sehelai kain yang berwana putih.
"Kemarilah, anginnya begitu kencang." Ucap Salsa seraya membentang kain itu. Ia jadikan selimut.
Malam itu sepasang suami istri itu sibuk dengan pikiran yang sama. Mereka sama-sama berpikir apakah Salsa betul-betul hamil.
'Kalau dia hamil... Maka...'
'Kalau aku hamil... Lantas darah apa yang keluar tadi... Andai...'
anak dari alleyah dalam novel istri yang dianggap buta?????