Menjadi pewaris pertama perusahaan dan hotel membuat Kevin Pranadja memiliki sikap yang arogan dan pemilih. Ia adalah putra pertama dari Dion Pranadja dan Amora Marco.
Kevin suka mengambil keputusan sesuai hatinya tanpa memikirkan pendapat orang lain di sekitarnya, kedua orang tuanya bahkan sangat sulit mengatasi sikapnya itu. Dengan berat hati, Dion maupun Amora mengirimkan putra pertamanya ke Inggris untuk mengurus cabang Novotel disana.
Pendapatan Novotel di Inggris semakin meningkat, itu karena ada chef cantik yang bekerja disana. Ia adalah Veronica Jukler. Wanita cantik itu bekerja di Novotel sudah hampir 3 tahun. Wanita itu mirip seperti Amora yang memiliki daya tarik tersendiri.
Awal pertemuan Kevin dan Veronica kurang baik, keduanya terus saja bertengkar setiap kali keduanya bertemu. Sampai akhirnya Kevin baru mengetahui jika wanita yang menjadi musuhnya adalah chef di hotelnya. Akankah keduanya mengubah benci menjadi cinta???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belum Jelas
Kevin terus menarik tangan Veronica melewati restoran sampai menuju lift membuat karyawan hotel bertanya tanya apa yang terjadi pada keduanya. Veronica berupaya melepaskan tangannya dari genggaman Kevin yang erat.
"Lepaskan tanganku tuan Kevin, semua orang menatap kita." ujar Veronica.
Kevin menatapnya tajam tapi tak mengindahkan permintaan wanita itu, ia terus menarik Veronica hingga masuk ke dalam lift. Kevin menekan tombol lift lantai paling atas.
"Aku mohon lepaskan tanganku." pinta Veronica lagi. "Anda ingin membawaku kemana?" tanyanya.
Kevin bergeming, ia sama sekali tak mendengarkan ucapan Veronica. Pria itu justru terlihat sangat marah membuat Veronica takut. Genggaman tangannya pun semakin kuat.
Mereka keluar dari lift, ternyata Kevin membawa Veronica ke atap Novotel. Pria itu belum melepaskan tangan Veronica.
"Tuan Kevin, anda menyakitiku." ujar Veronica.
"Apa kau bodoh?" bentak Kevin seraya melepaskan tangannya. "Mengapa kau mau direndahkan seperti itu Vero?" sambungnya dengan marah.
Veronica menatapnya, matanya berkilat ikut emosi. "Bukankah anda yang menginginkan aku dihina seperti itu, anda yang mengatakan tamu adalah raja. Apa aku salah melakukan hal yang diinginkan tamu hotel?" bentak balik Veronica.
"Aku tak pernah merendahkan siapapun. Kau benar, tamu adalah raja tapi mereka juga memiliki batasan untuk meminta pelayanan dari hotel." teriak Kevin.
"Jangan berteriak padaku tuan Kevin, aku bukan budakmu, aku bukan siapa siapa bagimu. Aku tak butuh pembelaan tuan Kevin, bukankah mereka kekasihmu. Aku melihat sendiri bagaimana kalian sangat bahagia bersama."
Kevin tertawa. "Apakah aku butuh kekasih sebanyak itu? Kau pikir aku pria seperti apa?"
"Mana aku tahu, anda bahkan secepat itu melupakanku." jawab Veronica tanpa sadar.
Kevin mendekati wanita itu, Veronica terus mundur. "Apa yang kau katakan barusan nona?"
"Tidak, aku...aku..."
Veronica terjebak di sebuah dinding diesel, ia tak bisa mundur lagi. Kevin terus mendekatinya hingga jarak diantara mereka hanya beberapa sentimeter saja.
"A.a..apa yang anda lakukan?" tanya Veronica gugup.
"Bagaimana rasanya kau melihatku bersama wanita lain?" tanya Kevin.
Veronica menghindari tatapan Kevin, ia semakin gugup saat tangan pria itu memerangkap tubuhnya.
"Jawab pertanyaanku Vero, bagaimana rasanya melihatku bersama wanita lain? Apa kau tidak merindukanku selama satu minggu ini?" tanya Kevin lagi.
Veronica menundukkan kepalanya, jantungnya berdetak lebih keras hingga ia merasa bisa mendengar detak itu sendiri di telinganya. Tangan Kevin membelai pipinya dengan lembut. Nafas Veronica tercekat saat merasakan sentuhan itu.
"Katakan padaku Vero, apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Kevin.
Veronica tak mampu menjawab pertanyaan Kevin karena ia sendiri belum yakin dengan perasaannya sendiri. Kevin tak mampu lagi menahan dirinya, ia menarik dagu Veronica seraya mencium bibir wanita itu. Veronica terbelalak, lagi lagi ciumannya diambil disaat seperti ini. Tapi hatinya berbeda, ia menginginkan Kevin dan sangat merindukan pria itu. Kevin menarik punggung Veronica hingga tak ada lagi jarak diantara mereka.
Veronica mengangkat kedua tangannya, tanpa sadar ia justru memeluk pria itu. Mendapat persetujuan dari wanita itu, Kevin semakin berani untuk menciumnya.
"Apa kau merindukanku?" tanya Kevin di sela ciumannya.
Veronica akhirnya menganggukkan kepalanya. Kevin tersenyum, ia kembali menarik Veronica. Keduanya saling berciuman, memiringkan kepala mereka ke kanan dan ke kiri. Ciuman itu semakin dalam dan terasa panas.
*****
Sudah lebih dari satu jam sejak kejadian di atap Novotel itu, Veronica meneruskan pekerjaannya. Tapi wajahnya terus menerus merona saat mengingat ciumannya dengan Kevin Pranadja. Walaupun status mereka masih belum jelas, tapi kejadian itu bisa membuat Veronica sulit untuk melupakannya.
Kevin juga tak terlihat sejak pria itu menciumnya, hanya ucapan terakhir yang Veronica ingat. "Aku tunggu malam ini di kamar ku."
Itulah yang ia dengar saat mengantarkan Veronica kembali ke restoran. Clinton terus saja mendesaknya karena ingin tahu apa yang terjadi padanya dan Kevin.
"Nanti saja Clinton, aku masih banyak pekerjaan." ujar Veronica.
"Ketiga wanita itu sangat marah, setelah selesai makan, mereka keluar restoran dan langsung check out dari Novotel." ujar Clinton.
"Bukan urusanku, setidaknya mereka membayar makanannya."
"Aku tahu chef, tapi wajah tuan Kevin sangat marah saat menarik anda keluar."
"Dan aku diteriaki beberapa kali olehnya karena mau direndahkan ketiga wanita itu." jawab Veronica.
"Bukankah tuan Kevin juga ikut merendahkan anda?" tanya Clinton.
Veronica mengangkat bahunya dengan acuh. "Pesanan meja 8 siap." ujarnya.
Clinton menghela nafasnya, ia masih juga belum mendapat jawaban atas pertanyaannya. Pria itu mengambil makanan itu dan segera menyerahkan ke pelayan restoran.
"Aku juga belum tahu apa yang sebenarnya terjadi Clinton, aku hanya bisa menebak jika Kevin sengaja melakukan itu untuk membuatku kesal dan cemburu." pikir Veronica sambil tersenyum. "Ya Tuhan, sadarlah Vero, kau bahkan menyebut nama pria itu." sambungnya sendiri.
Clinton kembali lagi ke dapur, ia melihat chef Veronica kembali sibuk dengan pesanan yang lain.
"Sepertinya ada yang terjadi diantara mereka, chef Vero tak lagi marah marah, ia justru terlihat senang dan wajahnya terus saja merona, aku yakin akan hal itu." pikir Clinton.
"Jangan menatapku seperti itu Clinton, tidak ada yang terjadi padaku dan tuan Kevin." ujar Veronica berbohong. "Tuan Kevin hanya marah dan mengatakan agar diriku tak direndahkan orang lain termasuk tamu hotel." sambungnya.
"Tapi bukankah tuan Kevin selalu seperti itu, sejak kapan ia membela anda." kata Clinton.
"Jika kau sangat penasaran, tanya sendiri padanya." jawab Veronica.
Clinton bergidik. "Sampai matipun aku tak mau bertanya, aku tak ingin di pecat."
Veronica tertawa. "Kalau begitu diam saja, jangan terlalu penasaran. Kami tak ada apapun."
Clinton cemberut. "Aku kalah..."ujarnya. "Tapi aku heran saja, anda biasanya akan marah marah setelah diperlakukan seperti itu oleh tuan Kevin. Sekarang anda justru terlihat sangat senang, seperti sedang jatuh cinta." sambungnya.
Wajah Veronica merona. "Stop it, berhentilah bergosip."
Clinton hanya menghela nafasnya, ia kembali membantu Veronica memasak di dapur. Tapi tiba tiba Cleo datang tergesa-gesa.
"Kau mengejutkanku." ujar Clinton.
"Chef Vero, di depan ada tuan Frans." ujar Cleo dengan nafas yang memburu.
"Apa?" tanya Veronica terkejut. "Bagaimana pria itu bisa kemari, bukankah tuan Kevin sudah melarang pria itu untuk datang ke Novotel." sambungnya.
"Aku juga tak tahu, tapi pria itu bersama beberapa pria dan pak Leo mengatakan pria yang bersamanya adalah rekan bisnis Novotel. Anda dipanggil, mereka di ruang VVIP." jawab Cleo.
"Dimana tuan Kevin, mengapa ia tak melihat kedatangan Frans. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?" pikir Veronica.
"Baiklah, aku akan segera kesana." ujar Veronica. Ia melepaskan apron nya dan membersihkan dirinya.
Beberapa menit kemudian, ia menuju ruang VVIP. Baru sampai pintu, seseorang menahannya dan tentu saja ia adalah Kevin Pranadja. Veronica menatap pria itu dengan bingung.
"Kembalilah ke dapur, aku akan menanganinya." ujar Kevin, ia melihat keraguan pada wajah wanita itu. "Jika kau memaksa masuk, aku akan menghukummu sayang." sambungnya seraya masuk ke ruang VVIP.
Veronica masih terpaku, kata "Sayang" yang ia dengar membuat jantungnya kembali berdetak dengan cepat. Ia mengendalikan dirinya lalu segera kembali ke dapur.
*****
Apa yang akan terjadi??? Nantikan Episode Selanjutnya...
Happy Reading All...😘😘😘
Bahagia selalu Dion dan Amora
Bilang aja sama Clinton kalo semalam tidur sama Kevin 😄😄😄🤭🤭🤣🤣
Peluk Kevin hehehe
Semoga Vero bisa jatuh cinta sama Kevin
Bucin deh kamu Vin
Cepet jadian ya Vero dan Kevin wkkwkq
Kalian pasangan serasi wkwkka
Kevin lama lama bucin sama Vero Hahhaha
Semoga Kevin cepat sadar
Kevin harus bisa berubah
Kevin harus bisa berubah
tapi lupa² ingat