sekuel dari novel KEPEDIHAN
Tere Anderson, adik sepupu dari Ziko Anderson, karena kekejamannya di masalalu, Tere dikirim ketempat terpencil, dimana tempat anak buah Ziko tinggal, dia diberi hukuman atas segala perbuatannya, Agar tidak pernah melakukan kekejaman dimasa yang akan datang, namun siapa sangka ditempat yang baru Tere di dampingi oleh pria yang selama ini menyiksanya, bahkan orang yang dengan tega menghancurkan hidupnya, namun karena kebencian dan ketakutan Tere padanya, Tere lebih memilih bungkam.
Jay Kusuma, dia sejujurnya sangat tidak suka diperintah untuk merubah perilaku Tere yang menurutnya tidak punya etika sama sekali, namun ketika Jay mengingat perbuatan Tere, dia bersemangat untuk memberi pelajaran pada wanita tidak punya sopan santun itu.
bagaimana kisah keduanya, yuk kita simak bersama
happy reading 💞💞💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia pakes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS-22
"Bagaimana bisa, papah merahasiakan ini semua dari mamah, mamah tahu Tere salah, tapi kenapa papah juga harus menyembunyikan ini semua dari mamah?" Tanya nyonya Dara dengan menggebu, setelah tahu jika putrinya tidak dikirim keluar negri, melaikan dibawa oleh Jay kusuma, bahkan dirinya dilarang menghubungi putrinya itu oleh tuan Agung Anderson, andai saja dia tidak sengaja mendengar obrolan suaminya dengan Ziko, mungkin hingga sekarang mamah Dara tidak akan tahu.
"Maafkan papah, papah hanya ingin putri papah menjadi wanita yang baik," lirih tuan agung, bagaimanapun dia juga tidak tega, apa lagi putrinya itu tidak bisa hidup tanpa kemewahan, namun demi kebaikan bersama, tuan agung rela melakukan ini, sebab dia akan lebih sakit jika melihat putrinya dibalik jeruji besi, namun resiko yang harus dia tanggung adalah kemaran sang istri.
"Tapi pah-"
"Mamah sudah tahukan perbuatan Tere, apa mamah masih bisa seperti ini, jika yang celaka adalah Tere."
Mamah Dara langsung terdiam, dia tahu dia tidak boleh egois, namun apa daya, dimanapun seorang ibu tidak akan Tega mendengar putrinya dalam kesusahan, apa lagi putrinya itu tidak bisa berbuat apa-apa, jangankan membersihkan rumah, menggoreng telur saja tidak bisa, itu yang mamah Dara pikirkan.
Tuan agung yang paham keresahan istrunya pun beranjak dan langsung membawa mamah Dara kedalam pelukannya, "yakinlah mah, Ziko tidak akan mengecewakan kita, dan dia juga tidak mungkin membuat putri kita menderita, jadi papah mohon, bersabarlah mah." Tuan Agung terus mengelus kepala sang istri, demi bisa membuat istrinya tenang, Tere putri tunggal mereka, jadi wajar saja, jika mereka begitu hawatir.
Mamah Dara hanya mengangguk didalam pelukan tuan Agung, dia hanya bisa berdoa, agar putrinya selalu dalam lindunganya.
"kapan papah akan menjemputnya?
Tuan Agung tidak menjawab, dia hanya menghela nafaa dengan kasar.
"pah!"
"tunggu sampai Ziko mengbubungi papah." tuan Anderson sendiri tidak bisa menjanjikan apapun untuk sang istri.
Sedangkan dikantor, Tere tengah megumpat habis-habisan pria yang kini berada dihadapnnya dan membelakangi dirinya dengan kemeja yang sedikit terbuka, ingin rasanya Tere memberikan balsam sebanyak mungkin untuknya, agar merasa panas dan kapok meminta untuk selalu dipijat.
"Apa kamu tidak bersedia memijatku!" Karena jujur saja, tangan halus itu seperti menekannya dengan kuat berulang kali, jadi tidak menutup kemungkinan jika Tere memang sengaja seperti itu.
"Jawaban apa yang anda harapkan tuan Jay?" Ucap Tere dengan senyum mengejek, namun sayangnya, Jay tidak bisa melihat itu, andai saja berhadapan langsung, mungkin saja Tere tidak akan berani.
"Sesuai dugaanku!"
"Berarti anda cukup cerdas, untuk menjawab sendiri pertanyaan Anda," jawab Tere tanpa keraguan.
Kedua bola mata Jay lansung melotot dan menatap kebelakang, sehingga baby oil yang berada ditangan Tere tumpah mengenai kemeja Jay.
"Kau!"
"Kenapa saya, bukannya anda sendiri yang banyak gerak, jangan salahkan saya, lagian anda seperti bayi saja menggunakan baby oil," cerocos Tere dengan kesal, bagaimana tidak, hampir dua jam dia memijat pria didepannya ini, namun tetap saja tidak kunjung usai, sehingga dia mulai lapar kembali.
"saya akan makan siang," Tere beranjak dan berlalu dari sana, namun saat akan membuka pintu, lagi-lagi Jay menghentikannya.
"bantu saya mengganti baju, baru kamu bisa keluar dari sini" Jay beranjak dari sana dan langsung menuju kamar yang berada didalam ruangan itu, tanpa peduli protesan Tere.