“Baiklah, kita akan mengambil jalan masing-masing. Aku akan melepaskanmu kali ini. Jika selanjutnya kita berjumpa, aku akan membunuhmu.”
“Jika selanjutnya kita berjumpa, aku akan menyelamatkanmu."
genres:
DARK FANTASY • DARK ROMANCE • SCI-FI • ACTION • MYSTERY
tropes:
ENEMIES TO LOVERS • STRONG FEMALE LEAD • SECRET INDENTITY • FORCED PROXIMITY • REVENGE
[ SINOPSIS ]
Rozeale harus kembali ke tanah kelahirannya yang sudah lama ia tinggalkan, yakni Aplistia, sebuah kerajaan masa depan di abad ke-22 yang kental dengan budaya leluhurnya, bangsa Yunani. Selain untuk mengklaim kembali takhtanya, ia menyimpan maksud tersembunyi yang berbahaya. Bangsawan yang tidak becus baginya tak lebih dari sekadar sampah. Dan, daripada mendaur ulang sampah, ia lebih suka "membakarnya". Namun, akankah apinya tetap membara, di saat hatinya dipertaruhkan?
"We get dirty so the world stays clean."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xrubberbandx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. If It Was You
Hatinya teriris, lapisan demi lapisan, namun matanya mustahil berpaling dari sepasang kekasih yang sedang berdansa dengan sempurna di pusat aula. Tangannya meremas bahan hitam dari gaunnya. Warna yang sengaja ia kenakan karena ia sedang berduka. Berduka akan hatinya, masa depannya.
Untuk apa ia berjuang jika di awal ia telah ditakdirkan untuk gagal?
"Luna."
Seseorang memanggil namanya, dan ia mengenali warna suaranya; berat, dalam, dan perseptif. Hanya dimiliki oleh satu orang, seseorang yang pantas menyandang predikat sebagai sahabat baiknya.
"Apa?" Luna menjawab dengan nada muram tanpa menatapnya.
"Kau ingin aku mengambilkanmu minuman?"
Ia menggeleng. Ia tidak ingin apapun. Sudah tidak ada lagi yang ia inginkan.
Sebuah lengan kokoh tiba-tiba merangkum pinggangnya. Luna menoleh ke kiri dan termangu. "Driko..."
Driko tersenyum tipis, "Berdansalah denganku." Ditariknya Luna agak ke tengah karena sejak kedatangannya, gadis itu menyisihkan dirinya di pojok ruangan. Mereka pun berdansa diiringi denting piano, bergabung dengan pasangan lain.
Tokoh utama lantai dansa adalah sepasang kekasih di tengah aula, di bawah lampu gantung pertama. Semua mata terpaku kagum pada mereka, seolah tersihir, tak terkecuali Luna. Bahkan ia lebih sering memperhatikan mereka dibanding pasangan dansanya sendiri.
"Luna."
Panggilan itu mengusir matanya dari mereka.
"Lihat aku," tekan partner dansanya dengan sorot mata mengeras.
Luna mengangguk. Benar, sekarang ia sedang bersama Driko. Matanya hanya boleh terpaku padanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=
"Ini mengejutkanku." Kion mempererat dekapannya pada pinggang ramping Zeze. "Siapa yang bakal mengira seorang Artemis mahir berdansa?"
"Kau tidak tahu saja. Aku suka menari dan melihat orang menari," Zeze berbisik dengan kedua tangan mengalungi leher Kion.
Dalam bisikan, Kion mulai membeberkan hal-hal dasar yang perlu Zeze ketahui mengenai situasi terkini di pergaulan kelas atas, juga tentang siapa saja yang patut Zeze jauhi dan yang bisa ia percaya. Tak ketinggalan Kion memperkenalkan kepadanya perwakilan dari kesembilan keluarga pendiri kerajaan yang memenuhi undangannya ke pesta ulang tahunnya.
"... Aleco Qiess Enochlei, Helen Re Zilevo, Amartha J. Haedas ...."
Pandangan Zeze berlama-lama di laki-laki yang memeluk pinggang Putri Amartha. Wajahnya familier. Sering dilihatnya berbaur dengan kelompok Kai, Raven Kronicles. Keturunan kerajaan dengan putra bangsawan tingkat rendah? Zeze mengangkat alis pada pemandangan langka itu, menarik.
"Kau akan banyak menemukan kasus seperti itu," kata Kion tiba-tiba; Zeze berpaling menatapnya penuh tanya. "Kita para keturunan kerajaan sepertinya dikutuk oleh para Dewa soal romansa."
"Tapi mereka tidak bisa bersama, bukan?" Tanya Zeze.
"Asalkan tidak resmi. Tidak sedikit keturunan kerajaan yang mengambil selir dari status sosial yang lebih rendah. Tapi sangat sedikit yang mengekspos simpanan mereka. Amartha adalah perempuan yang bergerak seperti ombak. Dia melakukan apa pun sesuai panggilan hatinya. Terkesan tak tertandingi, terombang-ambing, dan mengguncang apa pun yang dilewatinya. Tetapi ketika dia mencintai, dia melakukannya dengan sepenuh hatinya. Sebaliknya. Kau tidak akan mau menjadi musuhnya. Dia mendendam dengan segenap jiwanya."
Zeze langsung teringat saat Raven mencoba merayunya di kantin. "Dia harus jauh-jauh dari perempuan menakjubkan sepertinya," tatapannya kembali ke mata Kion yang kelihatan spekulatif. "Aku akan menyembunyikannya—simpananku. Kau?"
Sudut-sudut bibir Kion terangkat. Giginya berkilauan di bawah cahaya. Matanya membentuk bulan sabit. Dia terlihat benar-benar terhibur. "Kau mau aku memperkenalkannya padamu?"
Nada terakhir piano menghentikan dansa mereka. Kion membebaskan Zeze yang tertegun dan meraih tangan kanannya, membungkuk untuk memberi kecupan pada punggung tangan ramping berlapiskan sarung tangan emas itu, diiringi dengan letupnya jeritan tertahan dari para tamu wanita.
Rahang Zeze menggertak saat menyaksikan pertemuan antara bibir penuh dan tebal itu dengan punggung tangannya. Itu bukan pengalaman pertamanya. Tak jarang ia menerima perlakuan serupa dari kakak-kakak lelakinya yang mengajaknya berdansa setiap kali mereka mengadakan pesta-pesta konyol untuk merayakan kemenangan. Akan tetapi, entah mengapa dengan Kion ia merasakan kegelisahan yang tak terjelaskan.
Mungkinkah karena ia telah lama tidak diperlakukan seperti itu olehnya? Pertanyaan itu tumbuh di kepalanya. Di masa mereka kecil, Kion tak pernah absen mengecup punggung tangannya setiap kali lelaki itu berpamitan. Dulu dia juga tak jarang mencium pipinya. Namun semua itu telah berlalu. Kion berubah, begitupun dengannya. Semua orang berubah.
Seorang pemuda berambut cokelat terang, nyaris emas, datang menghampiri mereka. Dia mengenakan setelan cokelat-emas, kemewahannya nyaris menyamai pakaian Kion. Zeze mengenalinya berkat penjelasan Kion. Seorang keturunan kerajaan dari Keluarga Enochlei, Aleco Qiess Enochlei.
"Kion," sapanya dengan senyuman.
“Alec.” Kion mengangguk. “Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk datang. Kudengar kesehatanmu akhir-akhir ini sedang tidak stabil. Bagaimana dengan sekarang?”
“Bukan masalah besar,” Begitu mata hazelnya bergeser pada Zeze, kehangatan dalam senyuman itu membuyar. Untuk sementara waktu, dia kelihatan seperti sedang menilai. Kemudian dia berkata, “Jadi ini putri dari Bibi Vourtsa? Dia cantik. Kau beruntung, Kion. Senang bertemu denganmu.”
Zeze hanya melemparkan senyuman tipis, yang pastinya ia lakukan dengan setengah hati.
"Selamat ulang tahun, dan selamat atas pertunanganmu. Semoga kalian kekal hingga ke pelaminan."
"Terima kasih banyak. Harapanmu sangat berarti untukku," Kion tersenyum simpul.
Aleco pun berlalu meninggalkan mereka setelah sejumlah percakapan kecil yang sama sekali tidak menarik bagi Zeze.
"Dia bukan orang yang tepat untuk kau percaya," ujar Kion saat Aleco sudah jauh dari pandangan.
"Aku tahu," gumam Zeze tanpa menatapnya. Tidak sulit untuk mengetahuinya. Setelah berpengalaman menghadapi berbagai macam pertarungan yang tak hanya menguras energi tapi juga emosi, mana mungkin ia melewatkan kilatan misterius di mata laki-laki itu?
Lalu, sesi kunjungan para bangsawan dan konglomerat untuk mengucapkan selamat kepada Sang Pangeran, kembali dibuka.
"Oh, sial. Anak kecil!" Zeze mengerang saat melihat seorang ayah dan putranya mendekat untuk memberi salam. Segera ia bergeser sedikit ke belakang tubuh Kion, merapat padanya, berharap itu bisa membuatnya kasat mata. Kion hanya mengangkat alis padanya, merasa terhibur. Selama sang Pangeran dan tuan bangsawan itu berbincang, Zeze melotot diam-diam kepada sang bocah yang tidak pernah berhenti memandanginya. Setelah mereka pergi, Zeze langsung berkomentar, "Kau perlu meninjau ulang calon tamu untuk acaramu lain kali. Tidak ada hal baik yang akan datang jika meloloskan makhluk seperti anak-anak."
"Aku menerima saranmu."
Zeze mengetuk-ngetukan sepatunya ke lantai dengan tidak sabar sementara Kion meladeni orang-orang yang tiada habisnya. Ia membawa mata birunya berkeliling dan tak sengaja menangkap sosok Aiden Laktisma yang tengah berdiri kaku di dekat pintu menuju balkon. Memandang hampa ke arahnya.
Oh... benar... dia juga seorang Laktisma.
Pertemuan terakhir mereka terjadi di kebun mawar belakang sekolah, saat di mana Zeze menghubungkan tendangan mautnya dengan punggung lelaki itu. Ia tidak sempat memperkirakan seberapa besar kekuatan yang dikerahkannya karena sedang cemas dan terburu-buru. Bagaimanapun, sekalipun lelaki itu terluka parah, itu bukan urusannya, pikir Zeze. Salah sendiri karena macam-macam dengannya. Bagaimanapun, harus Zeze akui, orang itu cukup berbahaya. Ia bertekad untuk selalu mewaspadainya, meskipun ia ragu lelaki itu sebodoh itu untuk mengusik seorang royalti.
Zeze berpaling dari Aiden ketika Aplisto berjalan mendekatinya. "Yang Mulia, selamat ulang tahun. Rasanya sangat memalukan karena saya hanya bisa memberikan sebuah pedang kuno warisan keluarga untuk Anda."
Kion tersenyum, "Apa yang Paman bicarakan? Pedang itu adalah benda bersejarah yang sangat istimewa. Justru aku tidak percaya kau memberikannya padaku. Lagi pula, aku sangat berterima kasih karena Paman sudah repot-repot menyiapkan pesta semengagumkan ini."
Tersanjung, Aplisto membungkuk sebelum berpaling ke Zeze, "Kalau boleh saya tahu, hadiah seperti apa yang Tuan Putri berikan untuk Yang Mulia Pangeran?"
Bahu Zeze merosot. Mata layunya mendarat pada Kion yang menjulang di sisi kirinya. Ia sama sekali tidak membawa apa pun kecuali ponsel dan uang receh. Jika diberitahu sejak awal, ia pasti akan menyiapkannya. Meskipun ia ragu hadiah itu akan lebih bernilai dari sendok yang biasa dipakai sang pangeran di meja makan.
Kion hanya memberinya senyum hangat, "Dia hadiahku, Paman."
Aplisto mengerjap mendengarnya. Kemudian, suara tawa tumpah dari mulutnya yang ditudungi kumis, "Bagus, bagus sekali!" serunya.
"Tapi dia benar," tiba-tiba Zeze berbicara. "Aku harus memberikan sesuatu."
Kion dan Aplisto bersamaan memandangnya dengan penuh tanda tanya.
"Bolehkah aku meminjam piano itu?"
Mata Aplisto membulat, "T—tentu. Silakan, Yang Mulia."
Zeze menjauhkan pinggangnya dari lingkaran lengan Kion untuk menghampiri piano klasik di sudut ruangan, ketika matanya tanpa sengaja berjumpa dengan Glen yang masih mengasingkan diri dari kerumunan dengan menepi ke tembok.
Zeze membuang muka. Setibanya di sisi pianis, ia langsung mendapatkan persetujuan setelah menyampaikan maksud kedatangannya. Begitu ia menduduki sebuah kursi kecil berwarna cokelat di belakang piano, semua adalah tentang dirinya. Setiap mata menancap padanya tanpa kecuali.
Kesepuluh jarinya yang panjang kurus memulai perjalanan di atas tuts piano, bergerak natural bahkan tak perlu ditemani oleh sepasang matanya yang memejam rapat. Ia bermain seakan piano itu adalah bagian dari dirinya.
Bibirnya merekah, melisankan emosi yang ia rasakan lewat sebuah nyanyian.
Why is it so hard for you to properly see me trying?
I get shocked to see how much I can hurt because of you.
My days are a struggle. Even my dreams are painful.
If it was you... how would it be?
If these crazy days became yours?
If you break down as much as me?
Will you know, all the pain that fills me to the point where my heart is about to explode...
...and how much I want you?
If I was you, I would just love me.
Dengan alunan nada yang mengisi kekosongan, Zeze berhenti bernyanyi. Tak sampai sedetik, permainan pianonya dikalahkan oleh suara tepuk tangan yang menggelegar dari segala penjuru.
Zeze memulai lagi.
My heart is endlessly down in the ground.
I'm afraid of everything that surrounds me.
They said "you'll be happy when you fall in love"... were they sure about that?
Bulir air lolos dari mata Luna, melintasi pipi merahnya saat bait itu dinyanyikan, bait yang seakan mewakili segenap perasaannya.
I know you already answered me.
I know the meaning of that answerless answer.
But I pretend I don't know anything and I'm lingering.
Do you even know how I'm doing these days?
Dari kejauhan, Glen menangkap perubahan pada sudut mata Zeze yang berkerut layaknya tengah menahan sakit.
I can't even fall asleep, I can't even swallow anything...
Do you know that I'm becoming more ruined as I look at your eyes?
Even though I feel like dying...
Even though there's no way you'll come to me...
Even though I know you're looking somewhere else...
But...
I don't think that I can let go of you.
Perjalanan kesepuluh jari lentik itu mencapai titik akhir, melahirkan hening yang menggenggam suasana. Hanya tersisa suara isak tangis yang entah dari mana datangnya. Rasa peduli Zeze terhadap sekitar telah sepenuhnya lenyap. Baginya di momen itu, di dunia itu, hanya ada dirinya dan lelaki yang menjadi tujuan dari lagunya.
Namun suara isak tangis itu semakin lama semakin kuat sehingga berhasil memaksanya untuk memeriksa keadaan. Zeze menoleh ke kiri dan menemukan sang pianis sedang menangis sesenggukan dengan punggung tangan sebagai topengnya.
Zeze tersentak kaget, apa yang terjadi?
Kemudian ia melarikan pandangannya ke kanan. Para pelayan yang bersiaga di balik bayang-bayang pun meledak akan tangisan. Lebih mengejutkan dari itu, sebagian besar tamu ikut tersedu-sedu!
Zeze melongo, lalu meneguk ludah. Sepertinya banyak yang senasib denganku.
Tak lama kemudian, tepuk tangan dan pujian membanjirinya dari segala penjuru. Zeze bangkit dari kursi piano dan kembali ke sisi Kion, yang masih setia berpijak di jalurnya.
"Yang Mulia... tadi itu indah sekali."
"Dewa, suara apa itu? Itu seperti suara yang kau dengar ketika menginjak surga."
Limpahan pujian Zeze balas dengan senyum sambil menyusupkan kembali tangan kanannya ke dalam genggaman Kion.
Pada saat mereka membelah kerumunan, di momen yang relatif singkat, Zeze merasa seperti telah mendengar sebuah suara mengatakan “tadi itu bahkan bukan untukku”, namun ia tidak yakin apakah itu benar yang didengarnya. Ia juga tidak tahu siapa yang telah mengatakannya, terlalu lirih sehingga suaranya sulit dikenali.
Cukup memikirkan hal-hal yang tidak penting. Sekarang adalah waktunya berburu.
Zeze mendekat pada Kion dan berbisik tanpa menatapnya, "Kau tahu, aku menunggu kontribusimu."
Kion tersenyum tipis lalu balas berbisik, "Kau lihat pria paruh baya berambut merah di sana itu?"
"Yang memegang wine?"
"Ya."
"Bukankah dia orang pertama yang mendatangi kita? Kalau aku tidak salah ingat, Evan Xeveruz. Ada apa dengannya?"
"Dia adalah seorang jendral yang berada di bawah komando keluarga Marquess Barier. Kau dan teman-temanmu pasti akan suka berurusan dengannya. Aku jamin itu."
"Aku menantikannya," Zeze tersenyum sengit, "Ada lagi?"
Kemudian, Kion menunjuk tiga tamu lagi dan membeberkan secara singkat mengenai “hal buruk” yang diduga mereka lakukan. Dua di antaranya adalah mereka yang telah menjabat tangan Zeze.
Aku bersumpah aku akan mencuci tanganku dengan disinfektan setelah acara ini berakhir, Zeze membatin sambil menelan perasaan jijiknya.
Setelah Kion menyudahi wawancara di antara mereka dengan kalimat "itu saja", Zeze menyusun semua informasi di kepalanya agar tertata rapi, kemudian mengernyit.
Mengapa aku merasa bahwa orang-orang yang ditunjuknya adalah orang yang tidak disukainya?
Diam-diam Zeze mengamati Kion yang kini sedang berbincang dengan Driko.
Yah, tapi aku akan tetap menambahkan nama-nama mereka ke dalam daftar hitamku. Aku yakin Kion bukan tipe orang yang ingin untung secara sepihak. Kion adalah orang yang bertanggung jawab, setidaknya jika dia masih orang yang sama dengan Kion yang dulu kukenal.
Zeze menghela napas, aku tidak akan membantah bahwa memilikinya sebagai sekutu cukup menguntungkan, sebab aku tidak perlu repot-repot memasang topeng manis untuk mendekati para sampah itu satu per satu dan tersiksa oleh bau busuk mereka.
Lima belas menit sebelum acara berakhir, Zeze dan rombongan Kion beristirahat di ruangan yang sebelumnya Zeze datangi saat baru tiba di tempat pesta.
"Terima kasih," ucap Zeze selagi menerima minuman yang ditawarkan oleh nona bangsawan yang sebelumnya mengemudi untuknya, lalu ia duduk di dekat lengan sofa, di sebelah kanan Kion yang sedang asyik membaca buku.
"Tadi itu benar-benar menakjubkan. Aku tidak menyangka kau pandai bernyanyi," komentar dari Airo yang duduk di sofa yang berbeda dengan Zeze dan Kion.
“Kau benar, penampilan Tuan Putri sungguh memesona! Emosi Anda tersampaikan kepada kami lewat lagu itu. Aku bahkan sampai bisa mendengar suara tangisan Luna,” Volta, yang duduk di sebelah kiri Airo, menimpali dengan semangat.
Di sebelah kiri Volta, Luna langsung melayangkan tepukan yang cukup keras pada lengan putri Duke Gahernam itu. Wajahnya merah padam.
"Hei, aku bicara kenyataan! Tak hanya kau, aku bahkan menangkap basah Driko sedang mengusap sudut matanya." Volta membela diri sambil mengusap-usap lengannya yang memerah.
Merasa terpanggil, Driko mengangkat matanya dari layar ponsel dan lantas mengelak, "Apa!? Aku tidak menangis! Mataku kemasukan debu!"
Volta terkekeh, "Alasan yang klise. Tidak perlu malu." Tatapannya beralih ke gadis berambut cokelat panjang di samping Luna, "Bahkan lagu itu berefek pada Kak Froura yang kita kenal sangat pendiam."
Si nona bangsawan, Froura, mengangkat wajah datarnya.
"Apa yang dia tangisi? Apakah Saga melakukan hal buruk padamu?" Airo menyeletuk, dan langsung dihadiahi tatapan tajam dari Saga yang duduk di sebuah single sofa.
Zeze masih sibuk menikmati minuman tanpa bermaksud ikut campur dalam percakapan mereka. Sementara Sang Pangeran tentunya tengah sibuk berkencan dengan Sang Buku. Rupanya hal itu mengundang rasa penasaran Zeze. Matanya pun melirik ke arah Kion, dan kemudian ia tersedak oleh minumannya sendiri.
"Anda baik-baik saja, Yang Mulia?" Tanya Froura khawatir.
Tanpa menjawab, Zeze berhenti bersandar pada lengan sofa, tubuhnya menegak seperti papan. Ia rebut paksa buku itu dari tangan Kion dan lantas menutupnya dengan tergesa-gesa.
Yang lain dikagetkan dengan tingkah lakunya, sementara Kion hanya memperhatikannya dengan tenang.
"Ini..." Zeze tidak dapat menyelesaikan kalimatnya begitu melihat sampul depan buku tersebut.
"Bagaimana bisa?" Ditatapnya Kion dengan sorot menagih penjelasan. "Apakah kau sudah tahu?" Tuntutnya.
Punggung Kion makin tenggelam di sofa, "Tahu apa?"
Zeze berdecak. Apakah orang ini sungguh tidak tahu atau hanya pura-pura!?
"Kalau aku penulisnya!" Sergah Zeze tidak sabar lagi.
Pernyataan itu mengejutkan semua orang kecuali Kion. Ternyata buku yang akhir-akhir ini dibaca dengan serius oleh pangeran mereka adalah buku yang ditulis oleh tunangannya sendiri!
Kion hanya mengeluarkan sebuah senyum miring yang sukses membuat barisan gigi Zeze menggertak dengan kesal.
"Kau sudah tahu atau belum?" Zeze kembali mendesak.
Walau Zeze telah menusuknya dengan tatapan setajam mungkin, ekspresi tenang di wajah pangeran itu masih tak tergoyahkan.
"Itu buku yang bagus." Alih-alih menjawab, dia malah berkomentar, berdiri, lalu membuka jubah serta jas kerajaanya, menyisakan kemeja hitam di badan.
Froura yang melihat itu bergegas berdiri dan mengambil alih jas serta jubah itu dari tangan tuannya.
Kion menggulung lengan kemeja ke siku dan mengendurkan ikatan dasinya. "Kuharap ada kelanjutannya," ujarnya kepada Zeze sebelum berjalan ke arah pintu yang segera dibuka oleh Froura, meninggalkan Zeze yang hanya bisa melongo menatap kepergiannya.
Sialan...
di 2025 aku masih nunggin, lanjut update ya aku tunggu kak lin
aku smpe nyari ksna kmari aspyxia krna udh lma g buka noveltoon dan kangn pngen baca kirain udh nmbah krya yang lain ny...syang bangt/Cry//Cry//Cry/
brasa bca novel trjemahan