"Aku bersumpah demi setiap tetes darah Chaca yang menyatu dengan air, demi setiap air mata yang ia keluarkan hari ini, dan demi setiap detik rasa sakit yang ia rasakan. Kau ... Devon Albara dan yang lainnya, jika suatu hari nanti kalian tahu kebenarannya, kalian akan merasakan yang namanya kematian itu lebih baik daripada hidup dalam bayang-bayang penyesalan. Dan untukmu Darent Al Jeck, semoga kau bahagia setelah menghianatiku dan memilih dia. Sekarang aku sudah tidak memiliki harapan untuk hidup, semuanya sudah terbawa bersama buih lautan darah Chaca, jadi untuk apa aku tetap tinggal di dunia ini, selamat tinggal, semoga suatu hari kita bisa dipertemukan lagi di akhirat teman-teman."
~Lisa~
"Enggak ada gunanya gue hidup, semua teman-teman gue udah pergi menyusul Chaca, dan satu-satunya orang yang gue cintain ternyata tega ingin membunuh gue karena rekaman palsu yang di buat seseorang, jadi ... selamat tinggal."
"Tidaaaakkk!"
~Lista~
__________________
JAUH JAUH SANA PLAGIAT!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cha_Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chaca x Devon
Bandara....
"Ih! Kok dari tadi telpon gue di reject-nya mulu," runtuk Lista kesal.
"Ronald juga dari tadi ngereject telepon gue mulu, dan sekarang malah gak aktif lagi. Akhh!" Ralia frustasi dan hampir saja membanting handphonenya.
"Lo pada masih mending di reject telepon dong, lah gue di reject dari kehidupannya cuy!" koar Lisa.
"Oh iya ya, kita lupa kalau di sini ada yang bertransformasi jadi jomblo ngenes lagi," ejek Lista bercanda.
"Yeee ... lama-kelamaan gue sumpel juga tu mulut! Sekolahin dulu nape ...," celetuk Lisa sebal.
"Kalau ada juga dari dulu gue sekolahin nih mulut," balas Lista.
Ralia memutar bola matanya dengan malas, lalu detik berikutnya ia melihat sepasang Adam dan Hawa lagi gandengan tangan ke arah mereka.
"Cie ... Dianterin sama sang kekasih cie ... cie ...," oceh Ralia dan Lista bersamaan.
"Yee ... sirik aja lo berdua, emang pangeran kalian pada kemana? Masa pacarnya mau pergi 2 minggu ke negeri nan jauh, mereka pada gak nganterin kalian ke bandara sih," tanya Chaca.
"Tau tuh, dari tadi mereka udah kek orang gila gara-gara telepon mereka di reject mulu sama doi," ejek Lisa membalaskan dendamnya.
"Eh ... masa sih mereka pada gak dateng? Atau mungkin mereka gak sanggup melepas kalian pergi yah, makanya gak dateng," tebak Devon.
"Tapi ... kita kan mau liat mereka untuk terakhir kalinya sebelum berangkat ke China," sedih Lista.
"Perhatian kepada seluruh penumpang Pesawat Airline dengan tujuan China, pesawat akan segera lepas landas dalam 10 menit lagi. Sekali lagi kami ingatkan kepada para penumpang Pesawat Airline, pesawat akan segera lepas landas dalam 10 menit kedepan, di mohon untuk segera menaiki pesawat. Sekian dan terimakasih."
"Eh ... udah dipanggil tuh kita ... udah yuk cepetan, entar kita ketinggalan pesawat lagi," ajak Lisa menarik Ralia dan Chalista.
"Yank ... aku pergi dulu yah. Jangan lupa sarapan setiap pagi, jangan begadang terus buat main game, jangan malas minum obat kalau kamu sakit, jangan—" katanya terpotong karena Devon tiba-tiba membekap mulut Chaca dengan bibirnya.
Seketika wajah Chaca berubah menjadi semerah tomat, matanya melotot karena tidak percaya dengan tindakan reflek dari Devon yang tiba-tiba saja menciumnya di depan umum.
Chaca berusaha untuk melepaskan ciuman mereka, tapi Devon malah semakin memperdalam ciuman mereka.
Hingga Devon merasa bahwa mereka berdua telah kehabisan nafas, dengan tidak rela ia menghentikan kegiatan mereka.
"Huh ... huh ... hah ...," Chaca menarik napas dengan tergesa-gesa.
"Kamu tuh yah ... selalu aja mau bikin aku jantungan, kamu mau aku secepatnya mati apa, hah!" kesalnya.
Devon malah cengingisan gak jelas sembari menggaruk-garuk tengkuknya yang tiba-tiba gatal.
"Habisnya kamu ngoceh mulu dari tadi, kan aku udah bilang ke kamu kalau kamu cerewet, aku bakalan cium kamu sampai aku puas sebagai hukuman," ucap Devon mengingatkan.
"Gak bisa gitu dong Yank, kamu aja selalu minta jatah 3 kali sehari, masa kamu ma—" terpotong karena segera di bekap oleh Devon.
"Yank! Jangan ngomong gitu dong, entar orang-orang pada ambigu dengan ucapan kamu barusan," runtuk Devon yang di buat malu oleh Chaca di depan umum.
"Orang kenyataanya kok, kamu emang selalu minta jatah ciuman dari aku 3 kali sehar lagii, bahkan kadang lebih," ucap Chaca dengan polosnya sehingga membuat semua pasang mata semakin memperhatikan mereka dengan tatapan aneh, membuat Devon juga semakin di buat malu mempunyai pacar seperti Chaca.
"Untung sayang, kalau enggak ...," gumamnya pelan, namun masih bisa di dengar oleh Chaca.
"Kalau enggak kenapa?" tanya Chaca dengan aura yang menindas.
"Kalau enggak, bakalan aku ... Aku buat jadi kesayangan aku," kata Devon yang seketika membuat Chaca blushing.
"Unch ... pacarnya siapa sih ini, kok ngegemesin banget." Devon mencubit kedua pipi Chaca dengan gemas.
"Aduh ... sakit Yank, entar pipi aku jadi kendor, kamu mau tanggung jawab emangnya? Hah!" kesal Chaca untuk menutupi kesaltingannya.
"Biarpun udah kendor, aku tetep sayang," ucap Devon yang seketika mendapat jitakan dari Chaca.
"Kamu tuh yah, kalau ngomong di tuh disaring dulu napa, entar orang lain pada ambigu lagi. Tuh liat, gara-gara ucapan kamu barusan, mereka semua pada ngelirik ke kita dengan tatapan aneh tau!" desis Chaca mengomel pelan.
"Baru nyadar mbak?" gumam Devon sinis.
"Kamu bilang apa barusan?" tanya Chaca karena tidak mendengar dengan jelas perkataan kekasihnya.
"Aku bilang kamu cantik banget kalau lagi marah kek gini ke aku," bohongnya.
"Jadi kalau aku gak marah, aku gak cantik gitu dimata kamu!" bentak Chaca yang kini ngambek pada Devon.
"Sabar Von, sabar, ini ujuan" batin Devon.
"Bukan gitu Yank. Maksud aku tuh, kamu marah aja udah cantik, apalagi kalau gak marah. Cantiknya bahkan sampai melampaui panjangnya katulistiwa, mengalahkan sinarnya mentari dunia, dan membuat iri para bidadari-bidadari surga," gombal Devon mengeluarkan jurus andalannya.
"Gombal ...." Chaca mencubit kecil perut Devon, sehingga timbul erangan kecil dari mulutnya.
"Udah ah, kalau aku ladenin kamu terus, entar aku gak jadi berangkat ke China lagi," ucap Chaca yang seketika membuat Devon menjadi ceria.
"Bagus dong, jadi aku gak perlu nahan sakit lagi karena kamu," balasnya.
"Maksud kamu apa bilangin aku ini penyakit untuk kamu?" tanya Chaca kembali kesal mode on.
"Iya, kamu tuh penyakit buat aku ... penyakit yang selalu buat aku rindu deket kamu, eak!" gombal Devon sekali lagi membuat Chaca blushing.
Dengan kesal Chaca menghentakkan kakinya ke tanah dan secepatnya berlalu pergi meninggalkan Devon sejauh mungkin.
"I Love You my bunny Chac!" teriak Devon dari kejauhan.
"Bukan pacar gue cop, pacar gue gak malu-maluin kek gitu ...," gumam Chaca sambil berusaha menutupi wajahnya saat semua orang menatap kearahnya.
Sedangkan Devon hanya cengingisan gak jelas melihat tingkah menggemaskan Chaca dari kejauhan.
Lalu detil berikutnya, ekspresinya langsung berubah. Yang tadinya sangat ceria, sekarang menjadi dingin dan datar seakan ingin memangsa siapa saja yang mengusiknya.
Begitulah Devon yang sebenarnya, ia hanya ingin menunjukkan sifat humoris, ceria, dan murah senyumnya untuk orang-orang yang ia sayangi dan cintai.
Ketika ia ingin beranjak pergi, tiba-tiba handphonenya berbunyi.
"Halo! Gue tebak, lo pasti nanya kabar Lista kan? Lo telat bro, dia dan yang lain udah berangkat barusan." kata Devon langsung memotong perkataan Leo di telpon.
"...."
"Maksudnya?" tanyanya bingung.
"...."
"APA!" teriaknya tak sadar.
"Jangan bercanda dong lo," ingatnya.
"...."
"Ok, gue ke sana sekarang." Devon langsung memutuskan panggilan tersebut secara sepihak dan segera menuju ke tempat yang di maksud Leo.
semngat thor..
pada nunggu nih kita kita
apa ni crita mau di berhentikankah thor
kok udah habis sih 🥺🥺🥺🥺
Lagi dong, please🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Next....
Semangat buat kelanjutan ceritanya ya...
Semangat....
ih jahat banget sih🥺🥺🥺🥺