Ayuna putri yang akrab dipanggil Yuna ini terpaksa menikah dengan pria yang tidak dikenal sebelumnya karena berdasarkan tradisi adiknya tidak boleh menikah terlebih dahulu sebelum sang ayah kakak
Awalnya ia setuju tapi saat dirinya sah menjadi istri dari Yusuf Mahendra malah dipertemukan dengan pria yang selama ini ditunggu.
Yang tidak lain adalah pria yang ingin dinikahi oleh adiknya sendiri
Bisakah Yuna menerima kenyataan yang ada di depan matanya? Dan menerima Yusuf suaminya seutuhnya?
maraton bacanya entah bagaimana kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marianay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anggota Keluarga
Lepas dari Bang Yusuf aku berlari menuruni ingin sarapan. Sangat lapar. Hari ini hari libur, kami akan belanja sedikit dan membawanya ke rumah Ibu mertua. Ahh. Tak sabar. Bang Yusuf yang baru turun langsung duduk tepat disebelahku, kulayani seperti biasa. Saat menaruh kembali piringnya, kulihat dia mengedipkan mata.
Dasar mesum. Argghh..
Aku kesal sepanjang waktu makan, dia benar-benar membuat darahku naik, bukan hanya mengedipkan mata, beberapa kali juga dia menyenggol hingga aku menoleh, kadang seperti mencium jarak jauh dan mengedipkan mata lagi. Hingga aku kesal sendiri dibuatnya.
Karena sudah terbiasa dengannya akhirnya tak dipedulikan lagi. Entah dari mana ide konyol selalu ada dalam pikirannya. Usai makanan dipiring habis segera kutinggalkan dia, aku kesal tingkat tinggi jika terus didekatnya.
Setelah mandi dan berpakaian rapi terpilih tentunya. Bang Yusuf memilihkan baju untukku, dan aku juga memilih baju untuknya. Kami memilih bersamaan tapi entah kenapa warnanya sama, aku juga sudah packing sebagian baju untuk dibawa kerumah mertua.
Menuruni tangga bersamaan dengan koper dibawah oleh Bang Yusuf, baik sekali dia, tapi kadang menyebalkan tingkat akut.
Kami berdua pamitan terlebih dahulu, ingin membeli hadiah untuk anggota keluarga bang Yusuf, jadi setelah selesai langsung kerumah mertua tak perlu balik kerumah orang tuaku lagi. Kita anggap ini kencan setengah hari. Hehe.
Didalam mobil pun aku ragu bertanya bagaimana sih keluarga bang Yusuf sebenarnya. Setelah menimang-nimang akhirnya kuputuskan bertanya saja dari pada tak tau
"Bang!"
Panggilku pelan aku yakin dia dengar walaupun jalanan ramai karena hari libur.
"Hmm"gumamnya
"Emm. Ceritain dong tentang keluarga Abang, aku kan gak deket sama mereka"tanyaku ragu dengan hati-hati
Jujur memang aku hanya beberapa kali berjumpa dengan keluarga bang Yusuf, hanya saat lamaran dan pernikahan saja.
"Emm. Mulai dari mana ya?"tanya Bang Yusuf nampak berfikir.
"Dari Mama, iya Mama dulu. Mama gimana orangnya?"
Saranku, karena dulu saat berjumpa hanya melihat beliau sekilas beberapa kali memberi nasehat, dan petuah yang baik aku yakin Mama orangnya baik juga.
"Buka handhone abang, lihat ada foto beliau disitu yang pakai jilbab maroon"titahnya
Menurut aku membuka galeri dan ya ada foto keluarga disini, jadi Ini Mama mertua agak beda.
"Beliau orang baik, suka sama hal-hal kecil, tak perlu mahal yang penting kita pilih sendiri. Jilbab yang dipakai itu, Abang belikan waktu pulang dulu. Beliau sangat senang, padahal itu temasuk benda biasa." Bang Yusuf menghela nafas sebentar memberi jeda.
"Pernah abang pernah memberi Mama hadiah berupa kalung emas dan lain berdasarkan saran temen karena bagus tapi raut wajahnya biasa saja, beliau memang gak terlalu suka barang mewah gitu, cocok deh kalau sama kamu. Pasti dimanjain." jelasnya
"Masa sih?" tanyaku,
"Iya, bener. Kamu aja tampilan sederhana juga, kan cocok. Asal kamu tau dek, Mama juga pandai masak menu-menu baru, dan masakan Mama enak-enak banget, nanti kamu bisa belajar atau tanya makanan kesukaan Abang pasti diajarin semua"jelas bang Yusuf panjang lebar.
"Oh ya jadi gak sabar nih, kalau ini yang jilbab navy siapa?" tanyaku lagi, melihat perempuan cantik dengan tampilan fashionable tapi tetap anggun dengan hijapnya
"Itu Bella, umurnya satu tahun dibawah kamu. Dia kuliah semester akhir. Dia termasuk anak manja maklum anak terakhir."jelasnya
'Bella' ah ya ini kan yang namanya ada diponsel bang Yusuf kemaren tuh.
"Masa sih bang, kok masih besar dia dari pada aku?" mengekspresikan wajah pura-pura bodoh.
"Itu salah kamu sendiri, kurang gizi. Haha."
Aku cemberut sendiri mendengar jawabannya. Menyebalkan, aku bukan kurang gizi, tapi kurang tinggi.
"Kalau Bella ini walau manja, tapi penyayang orangnya. Kalau masalah tinggi atau besar, kelaurga Abang memang tinggi besar kamu lihatkan Mama sama Ayah gimana?"tuturnya menjelaskan
"Emm. Iya juga ya rata-rata difoto ini tinggi besar semua. Jadi Bella gimana orangnya? "
"Ya gitu dia penyayang baik sama sesama atau sama hewan, dia punya kucing peliharaan dirumah warna putih kayak kucingmu tuh dirumah. Dulu waktu kucingnya pernah sakit dia sampe nangis selama kucingnya sakit"
"Trus gimana?" Penasaran hingga aku hampir bak seorang wartawan, bertanya banyak pertanyaan padanya
"Ya kucingnya udah sembuh sekarang"ucapnya santai
"Syukur, nah kalau laki-laki kemeja biru langit ini siapa"
"Itu Abang ipar, suami Kak Nara yang disebelahnya itu, penasaran banget kamu sama lelaki"ujarnya dengan nada entahlah, aku belum begitu hafal.
"Kan cuma nanya, beneran nih, kukira Abang punya Abang lagi soalnya agak mirip gitu sama-sama besar tinggi"
" Bener sih bener. Ck.. sekarang mereka udah punya anak, Rico namanya."
"Rico?"
"Iya, Rico tuh juga anak manja, masih 3 tahun, dia gak bisa dirawat sama baby sister, karena selalu nangis, jadi Ibunya yang rawat sampai sekarang. Padahal Kak Nara termasuk wanita karir dulu sebelum punya anak."jelasnya lagi
"Kamu jangan cepet ambil hati perkataan kak Nara, dia baik hanya saja bicaranya agak blak-blakan, kalau baik ya baik juga di dia, kalau jahat jangan ditanya, bisa malu nanti"jelasnya tentang Kak Nara
"Emm. Gitu. Kalau Ayah abang gimana?"
"Ayah, beliau bijak, penasehat yang baik. Pokoknya berwibawa lah. Dulu pernah kami bertengkar, abang dan kak Nara karena hal sepele, bukannya memarahi didepan semua orang tapi beliau menyuruh kami masuk kamar masing-masing, dan menasehati baik-baik. Tak membela dan tak menyudutkan"tuturnya
"Hal sepele apa sih bang?"
Hal sepele apa sih yang bikin berantem, perasaan gak ada deh.
"Ketumpahan mie"
"Apa!!" jangan tanya, aku benar-benar terkejut akan hal ini
"Iya, kalau gak salah waktu itu Abang waktu itu lagi mulai nyusun skripsi, dan banyak tugas dari dosen, itu bikin pusing banget kalau kamu gak tau." terangnya
"Tau lah, paling kesel kalau salah dikit disuruh ketik ulang. Mumet"ucapku menimpali
"Jadi waktu itu abang marah sendiri pertama. Karena kamar terlalu terbatas untuk berfikir abang ngerjain diruang tamu. Entah dari mana datang kak Nara dengan santai berjalan dan kesandung ujung kursi. Hingga mie yang dipegang tumpah dimakalah tugas yang udah abang kerjain, Jelas marah dong, kak Nara juga marah, karena merasa sakit dikakinya hingga kami berdua adu mulut"jelasnya panjang lebar, masalah cukup sulit. Aku hanya manggut-manggut mendengarnya
"Terus-terus gimana?"
"Ya gitu, Ayah yang baru pulang bukan marah malah menyuruh kami masuk kamar, abang nunggu dikamar dengan marah masih di kepala, hingga Ayah datang ngejelasin kalau Kak Nara memang gitu karena lagi datang bulan jadi bawaannya marah, ditambah kakinya juga sakit. Ya abang maklumin itu"
"Terus tugasnya gimana?"
"Ya dikerjain berdua sama kak Nara, Dia juga merasa bersalah gak segaja katanya. Terus karena tugasnya mepet juga"jelasnya
"Hihi. Lucu ya" benar-benar lucu, tapi uniknya masih mau membantu
"Lucu kamu lagi"ujarnya sambil mencubit pipiku pelan
"Eh? Masa sih?"tanyaku bingung
"Iya dong"
Diraihnya tanganku, menciumnya beberapa kali. Meleleh adek bang ini manis sekali
"Iss. Apaan sih bang, lepasin tanganku"ucapku memalingkan wajah malu.
jgn lupa untuk mampir ya
di Mr. Latto- latto- mencari cinta sejati