Beberapa bab akan mengandung konflik keras. Tidak diperkenankan berkomentar buruk dan sok tau sebelum membaca sampai bab terakhir. Yang tidak kuat harap SKIP.
Bukan aku tidak mencintai gadis impianku, Bukan tidak menyayangimu. Aku menjaga dirimu dan kehormatanmu. Memilihku adalah pilihan berat untukmu, Jika kamu sabar..tunggulah aku. Kulindungi wanita pilihanku, Karena aku mencintaimu selalu walau Nyawa ada di ujung peluru.
Aku Ardian Putranto, Lettu Ardi.. memilihmu dalam hatiku Adinda ku...
Bersama kisah Lettu Rama Satria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Keributan.
Adinda senang sekali berada di kebun teh, mungkin inilah yang di namakan bulan madu. Namun sayang.. semua tidak seratus persen Dinda nikmati. Karena kondisinya yang sedang hamil ia juga membatasi diri untuk tidak terlalu banyak aktifitas.
"Ayo duduk dulu!" ajak Ardi.
"Sebentar bang" tolak Dinda.
"Kamu sudah capek sekali. Abang tau.. dan kamu jangan maksa. Sampai malam kamu boleh tetap disini. Tapi harus istirahat juga"
"Ya sudah bang" kata Dinda menyerah.
Saat Ardi mengulurkan tangan ada seorang wanita bersama temannya sedang berwisata ke kebun teh itu juga.
"Mas Ardi.. mas disini?" sapa wanita itu. Ardi menoleh pada sosok yang ia kenal.
"Safira??" Ardi sampai tak berkedip melihat wanita yang pernah singgah di hatinya dulu.
"Iya mas. Ini pacar mas Ardi?" sapa lembut Fira.
"Bukan" jawab Ardi singkat tertahan. Safira tersenyum sebelum senyum itu pudar.
"Ini Adinda istri mas Ardi" ucapnya datar.
"Oohh.. selamat ya mas. Semoga pernikahan kalian berdua selalu bahagia" ucapnya tulus.
"Mari Dinda, mas Ardi..kami mau jalan lagi" senyum Fira pada Adinda.
Ardi menatap punggung Safira yang pergi menjauhi dirinya. Tak ada rasa lagi pada Safira. Tapi Adinda melihat ada yang berbeda dari tatapan mata suaminya.
"Siapa dia bang?" tanya Adinda.
"Hanya teman saja sayang" jawab Ardi dengan senyum yang seolah di paksakan.
Tiba-tiba rasa tidak nyaman mendera Adinda. Ia tidak ingin lagi berjalan-jalan. Rasa inginnya sudah hilang begitu saja.
"Setelah ini kita kembali saja ke hotel" kata Dinda.
"Kenapa sayang? kita belum lihat semua!"
"Dinda mau ke toilet sebentar bang" pamit Adinda.
"Abang antar!"
"Nggak usah bang" tolak Adinda masih kesal.
"Ayo jalan. Disini licin. Takut jatuh" kata Ardi berucap cemas.
-_-_-_-_-
"Ibunya tidak suka padamu, tapi memilih gadis itu untuk menjadi menantunya" ucap salah seorang teman Safira.
"Itu sudah jodohnya.Mau bagaimana lagi?" jawab Safira.
"Mas Ardi berubah ya. Dulu keluar masuk club malam bersamamu"
Safira hanya diam menyunggingkan senyum.
Tak disangka di sana Adinda sudah mendengar semuanya. Ia segera keluar dari dalam toilet.
"Sudah sayang??" tanya Ardi
"Siapa sebenarnya Safira bang? Dinda tidak percaya dia tidak ada hubungan dengan Abang dulu" tanya Adinda tiba-tiba.
"Teman saja dek" jawab Ardi santai.
"Teman main di club malam???" tatap Adinda tegas.
Ardi masih diam tidak bisa menjawab.
"Itu hanya masa lalu dek. Abang khan pernah cerita. Masa lalu Abang sangat buruk" kata Ardi.
"Abang dan Safira saling mencintai. Safira hanya di tolak ibu. Kalau kalian mendapat restu ibu pasti kalian sudah menikah khan" ucap Adinda dengan kesal, ia berlari meninggalkan Ardi.
"Dek.. jangan salah paham. Tunggu Abang" Ardi ikut mengejar Adinda di jalanan yang licin.
Adinda terpeleset di sana tapi untungnya Ardi masih sigap menangkap tubuh Adinda.
"Kalau boleh ungkapkan semua marah dan kesalmu sama Abang, jangan lukai anak kita!!!" bentak Ardi kuat, tapi itu semua sungguh tanpa sadar dan hanya itu karena rasa cemasnya.
"Abang suka ke club malam sama dia buat apa? Mabuk??? Atau berkencan berdua???" ketus Dinda.
"Dindaaaa!!!! Jaga bicaramu"
Adinda menangis dan menepis tangan Ardi lalu berjalan lagi.
"Biar Abang jelaskan. Kamu jangan marah terus seperti ini" kata Ardi.
"Abang nggak jujur, padahal Abang tau masa lalu Dinda" kesalnya.
"Abang tidak ada niatan seperti itu. Belum tepat saja waktunya untuk menceritakan ke kamu" kata Ardi.
"Kalau nggak ada masalah hari ini.. Abang tidak akan pernah bilang sama Dinda kalau kalian sering menghabiskan waktu di club malam.
"Ya Allah dek. Dengar dulu kata Abang. Emosi seperti ini tidak baik untuk perkembangan anak kita sayang" bujuk Ardi.
"Jangan bujuk Dinda bang. Lebih baik Abang bujuk saja Safira nya Abang itu.
Ardi menghela nafas panjang. Ia tau tidak ada gunanya berdebat dengan ibu hamil yang sangat sensitif.
"Abang salah.. Sampai hotel Abang ceritakan"
"Nggak perlu bang. Dinda sudah kesal" ucapnya sambil berlinang air mata.
"Ya Allah bumil. Sabar kan hamba Tuhanku" gumam Ardi dalam hati.
.
.
kalau ibu yg seperti ini, hanya ada neraka bagi kehidupan anaknya... 😡