Cinta bisa membuat pertemanan, lalu mampu membuat ikatan itu hancur berantakan. Ketika dia diberi pilihan, ia harus memilih siapa? Kekasih atau teman? Pilihan berat, bukan?
Widya, Karin, dan Kartika bersahabat baik sejak duduk di bangku SMP. Kehadiran Harsa, Edo, dan Zakir mengenalkan mereka pada cinta. Bisakah cinta itu menguatkan tali persahabatan mereka? Atau justru karena cinta persahabatan mereka hancur berantakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eska'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Pendekatan
...Hey, Gengs .... ...
...Maafkan Eska'er yang baru up lagi, berhubung kemarin tahun baru Eska'er juga butuh refresing buat nyari pangsit 🤭...
***
Akhir-akhir ini Widya merasakan sikap Harsa yang tidak seperti biasanya. Harsa sering mengumbar senyum ketika tatapan mata mereka tanpa sengaja bertemu. Tidak seperti dulu ketika Harsa masih menjadi kekasih Karin. Dulu Widya sempat berharap lebih akan hubungan mereka, Widya salah mengartikan sikap Harsa yang selalu baik terhadapnya. Widya merasa Harsa telah memberi harapan yang membuat hatinya berangan setinggi langit. Namun, Widya salah terlalu cepat menjatuhkan hati kepada Harsa karena pada kenyataannya Harsa lebih memilih Karin, sahabat karibnya.
Rencana licik yang mengusik pikiran Harsa pun semakin jelas tergambar di angannya. Ya, Harsa mulai mendekati Widya meskipun kesempatan itu hanya seujung kuku. Widya baru saja duduk di bangkunya, ketika dia menemukan sebatang coklat di laci meja dengan sebuah tulisan terselip di sana.
‘Izinkan gue melihat senyum lo lagi!’_Harsa.
Widya yang terkejut seketika menoleh ke arah Harsa yang duduk di belakang. Terpampang senyum di wajahnya seolah menjawab segudang pertanyaan yang terpancar dari sorot mata Widya. Widya pun segera memalingkan wajahnya, menata irama napas dan detak jantungnya yang tiba-tiba saja berubah.
“Gue kenapa?” Widya bertanya pada dirinya. Sesulit itukah Widya mencoba move on dari rasa cintanya ke Harsa? Bel tanda pelajaran dimulai menggema di seluruh ruangan. Widya mencoba mengabaikan perasaan aneh yang baru saja menghampirinya.
***
Sejak saat itu, tiap pagi Widya selalu menemukan ucapan selamat pagi di laci mejanya. Seperti pagi ini Widya mendapatkan sekuntum mawar berwarna jingga. Hanya mawar tanpa pesan dan kata-kata.
“Cie, yang dapat kiriman mawar orange.” Cindy mengedipkan mata dengan senyum jahilnya.
“Dari siapa?” tanya Cindy. Widya hanya mengangkat kedua bahunya menjawab pertanyaan Cindy. Ia tidak mau memberikan jawaban yang belum pasti. Widya tidak berani menoleh ke belakang, ia takut menemukan sesuatu yang akan kembali mengusik hatinya.
“Emang apa arti mawar orange?” tanya Widya memicingkan matanya.
“Nih jawabannya, mawar orange artinya rasa cinta yang datang kepada seorang sahabat,” jawab Cindy memperlihatkan pencariannya di ponsel.
“Dari Nathan, ya?” tebak Cindy.
“Nggak tahu,” jawab Widya singkat. Dia enggan membahas mawar tersebut lebih lanjut. Widya takut hatinya berharap terlalu jauh.
***
Riuh siswa di kantin tidak mengusik lamunan Widya yang asyik dengan dunianya sendiri. Widya seakan lupa jika di sampingnya ada Nathan.
“Ngelamunin apa, sih? Gue masih di sini, Sayang. Nggak usah dilamunin,” celetuk Nathan sekenanya meniup pipi Widya dari samping.
“Apaan, sih!” Tangan Widya mendarat di lengan Nathan.
“Aduh, jangan sakiti gue, dong! Semua bisa kita bicarakan baik-baik,” celoteh Nathan dengan segala kekonyolannya. Widya diam enggan membalas candaan itu.
Di sudut kantin, Harsa mengamati interaksi mereka dengan teliti. Makin ke sini Harsa semakin sadar jika di hatinya pernah singgah sebuah rasa istimewa untuk Widya hingga melihat kedekatan Widya dan Nathan membuat Harsa sulit mengartikan perasaannya.
***
Hari Minggu Harsa melajukan mobilnya menuju rumah Widya. Dia tidak akan menyerah untuk mengambil hati Widya. Namun, rencananya terancam gagal ketika melihat motor Nathan terparkir di halaman rumah Widya. Harsa menghentikan mobilnya di tempat yang agak jauh dari rumahnya. Tiga jam kemudian Harsa melihat Nathan meninggalkan rumah Widya. Harsa tidak mau melewatkan kesempatan ini dan melajukan mobilnya pelan mendekati rumah Widya. Dia berhenti tepat di depan rumahnya, kemudian turun dan melangkah memasuki halaman rumah Widya.
“Apalagi, sih?" Widya tercekat, ternyata dia salah orang ketika membuka pintu untuk tamunya, "Eh, maaf, gue kira Nathan!” hardik Widya dengan wajah bersemu dan tersenyum malu.
“Gue ganggu, ya?” Harsa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Enggak, kok. Ayo masuk!” ajak Widya. Mereka pun melangkah menuju sofa ruang tamu dan duduk dalam keheningan yang tiba-tiba saja mendekap.
“Hm … lama nggak main ke sini. Suasananya masih nggak berubah.” Harsa mencoba mencairkan suasana dan menghilangkan kegelisahan hatinya.
“Oya, mau minum apa?” tanya Widya gugup. Entah mengapa semenjak Harsa mengirim coklat, Widya merasa canggung berada di dekat Harsa.
“Apa saja boleh,” jawab Harsa singkat. Widya pun berlalu dari hadapannya. Harsa mengambil napas dalam. Harsa sendiri bingung alasan apa yang membuat dia mendatangi Widya.
“Diminum, gih!” Widya duduk di hadapan Harsa.
“Oya, kalau boleh tahu ada perlu apa, ya? Tumben datang ke rumah.” Widya mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
“Pengen ke sini aja. Kangen suasana rumah ini. Bukankah tak ada alasan untuk mengenang sesuatu yang sempat terlewatkan?” jawab Harsa sekenanya membuat Widya mengerutkan keningnya.
“Lho, ada nak Harsa, to?” sapa Arini yang hendak keluar rumah.
“Iya, Tan. Apa kabar?” Harsa bangkit menghampiri Arini dan mencium punggung tangannya.
“Kabar tante baik. Kamu sendiri gimana? Lama nggak main ke sini, kan?” Arini pun ikut gabung bersama mereka.
“Iya, Tan. Harsa kangen suasana rumah ini. Makanya Harsa kemari,” cetoleh Harsa.
“Udah nggak sibuk, nih? Kok, tumben sempat ke sini,” goda Arini.
“Iya, Tan. Mulai sekarang boleh, kan, kalau Harsa bakalan sering main ke sini?” Harsa menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum.
“Boleh, tante malah senang. Apalagi kalau bisa barengan sama Nathan, pasti bakalan rame. Iya, ’kan, Wid?” Arini menatap putrinya.
“Bunda apaan, sih!” Widya cemberut.
“Oya, tante tinggal ke warung depan sebentar, ya.” Arini berlalu dari ruangan itu.
“Iya, Tan. Hati-hati!” jawab Harsa.
Melihat keramahan Arini, Harsa sadar dan merasa bodoh selama ini tidak peka akan perasaan Widya. Sekali lagi Harsa ingin waktu bisa diputar kembali, seandainya dia dulu lebih memahami hatinya.
***
Seperti biasa Harsa berangkat pagi-pagi sekali sebelum teman-temannya sampai di sekolah. Kali ini Harsa membawa cake kecil yang terbungkus rapi kemudian dia letakkan di laci meja Widya. Tak lupa dia tuliskan pesan.
‘Ini bukan kue ulang tahun gue. Hanya mau ingetin saja jika lo semanis kue ini.’
Setelah semuanya beres, Harsa melesat menuju kantin untuk sarapan.
Widya kembali menemukan sesuatu di laci mejanya. Sudah seminggu ini dia mendapatkan kado kecil setiap pagi. Meskipun tanpa nama, Widya tahu jika itu dari Harsa. Selama pelajaran semua berjalan normal seperti biasanya. Bel tanda istirahat pun berbunyi. Semenjak hubungannya dengan Karin merenggang, Widya tidak pernah lagi ke kantin bersama Kartika.
“Yuk, cari makan!” ajak Nathan menarik tangan Widya.
“Eh, lo bisa sopan nggak, sih!” tiba-tiba Harsa membentak Nathan membuat mereka terkejut.
“Kalau mau ngajak nggak usah narik-narik gitu, kan, bisa!” imbuh Harsa.
“Ngapain lo peduli ke kita!” tantang Nathan.
“Sudah … sudah! Gue nggak papa, kok. Lagian Nathan juga nggak nyakitin gue,” lerai Widya bangkit dan menarik Nathan keluar dari kelas.
Sesampai di kantin, seperti biasa mereka duduk di pojok. Hanya saja sekarang mereka hanya berdua, tidak seperti dulu bersama yang lain. Sejak masalah Karin terbongkar dan surat cinta Widya menjadi viral, mereka seperti saling menjauh. Hanya Nathan dan Widya yang masih selalu bersama. Mereka berdua menikmati makanan sambil bercanda dengan akrabnya.
Sementara di sisi lain, Harsa mengamati kebersamaan mereka dengan rasa yang sulit dijelaskan. Apakah ini rasa cemburu? Harsa tidak mempunyai keberanian untuk membenarkan perasaannya. Namun yang pasti Harsa merasa tidak suka akan kedekatan Widya dan Nathan. Melihat Nathan meninggalkan Widya, Harsa tidak mau melewatkan kesempatan ini. Harsa segera menulis pesan di ponselnya.
^^^Nanti pulang bareng, yuk!_ Harsa.^^^
Merasakan getaran di sakunya, Widya segera mengambil ponsel dan membukanya.
Maaf, gue nggak bisa. Nanti ada janji sama Nathan mau ke toko buku._Widya.
^^^Kapan ada waktu buat gue?_Harsa (dengan emoticon sedihnya)^^^
Ketika Widya hendak membalas pesan Harsa, Nathan sudah berada di dekatnya sehingga Widya segera memasukkan ponsel ke sakunya kembali.
Harsa merasa kesempatannya untuk mendekati Widya sangatlah kecil. Dia melihat bagaimana Nathan sangat menjaga Widya. Seketika hatinya terasa perih, Harsa bertekad untuk mendapatkan Widya kembali apapun resikonya.
***
Mulai main api si Harsa. Kudu disiram kayaknya, nih 🤭
Udah Senin, Gengs. Yang punya vote bolehlah sumbangin sini, sama giftnya juga boleh. Kalau like nggak usah diingetin, ya. Jempolnya pasti udah khatam. 😅
aku dari awal curiga ama cindy terus
tamu tdk akan masuk kalau tuan rumah tdk buka pintu
dasar buaya betina