Junna : Kamu suka air teh
Rhine : Kamu suka air perasan lemon
Junna : Kamu suka warna biru
Rhine : Kamu suka warna pink
Junna : Kamu adalah public figure
Rhine : Kamu adalah orang biasa dan anti fan ku
Junna : Kamu orang yang complicated
Rhine : Kamu orang yang terlalu simple
Junna : Kamu orang yang narsis
Rhine : Kamu orang yang tidak perduli
Junna dan Rhine : Bagian mana dari kami yang cocok?! Berurusan satu sama lain saja sudah membuat kami frustasi
Bukankah air teh dan air perasan lemon jika digabungkan menjadi lemon tea?
Bukankah warna biru dan pink jika digabungkan menjadi ungu?
Bukankah seorang public figure harus berdampingan dengan seorang yang biasa untuk bisa merasakan bahwa ia tetap menginjak bumi?
Bukankah sesuatu yang complicated itu ujungnya simple?
Bukankah pribadi yang narsis dan tidak perduli sama-sama seorang manusia?
Apakah jawaban itu bisa menjawab bahwa ada kecocokan didalamnya?
-Jungkir-balik dunia Junna yang harus bertetangga dan terlibat urusan apapun dengan seorang penyanyi pria terkenal bernama Rhine yang sangat dibenci sang gadis karena sikap Narsisnya-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7-3
"Selamat siang Nak...," Di suatu sore, Junna yang sedang sibuk menyirami tanaman yang tumbuh subur di halaman rumahnya dikejutkan oleh suara seorang wanita. Wanita cantik dengan penampilannya yang bersahaja, jika dilihat dari umurnya, wanita tersebut sepertinya berusia akhir 30-an.
"Siang juga Tante...," Junna memberikan anggukan kecil untuk merespon sopan wanita tersebut.
"Maaf ya mengganggu waktumu, saya ingin bertanya, apakah rumah disebelah rumah adik ini blok Z1 No. 10?"
"Iya benar Tante."
"Syukurlah, aku tidak tersasar," Wanita mengelus dadanya, menunjukkan kelegaan. "Kalau begitu terima kasih."
"Sama-sama," Junna memperhatikan wanita itu berjalan menuju gerbang rumah Rhine. Dalam hatinya timbul pertanyaan yang mendesak meminta jawaban. Siapa wanita itu? Apa hubungannya dengan Rhine? Bukankah Rhine pernah menyebutkan bahwa ia anak tunggal, jadi tidak mungkin memiliki seorang kakak. Jangan-jangan wanita itu adalah kekasihnya? Kekasih? Satu kata yang terakhir membuat dada Junna terasa sesak. Ia ingat Rhine pernah mengatakan ia sudah punya calon istri yang sangat dicintainya. Ia melihat Rhine keluar dari rumah dan memeluk wanita itu erat seolah ia begitu berharga bagi Rhine. Senyum bahagia yang tidak pernah dilihatnya tergurat di wajah Rhine. Ingin rasanya ia menangis ditempat karena tak kuat melihat pemandangan yang ada dihadapannya. Daripada bersikap konyol dan tertangkap basah oleh Rhine, ia memilih masuk ke dalam rumahnya.
"Ibu," Rhine memeluk wanita itu dan memanggilnya Ibu. "Akhirnya Ibu datang berkunjung juga..."
"Aku harus berterima kasih dengan gadis tetanggamu itu." Ashiya menepuk-nepuk punggung Rhine. "Berkat dia, Ibu tidak jadi tersasar."
"Ooo, Junna..."
"Junna?" Ashiya mengernyitkan dahinya. "Kamu bisa hapal dan memanggil nama perempuan?"
"Memangnya kenapa?"
"Ini patut dirayakan! Anakku akhirnya normal juga!" Ashiya menjerit histeris seperti anak kecil. Ia memeluk anak semata wayangnya itu dengan erat.
"Sembarangan!" Protes Rhine. "Dari dulu juga aku normal!" Ia membantu untuk membawakan koper besar yang dibawa oleh Ashiya.
"Apakah kamu mengenal gadis itu dengan baik?"
"Ibu..., kenapa mendadak menanyakan hal itu?"
"Apakah gadis itu belum punya pacar?"
"Ampun deh...," Rhine memukul kepalanya sendiri menghadapi Ashiya.
Berbagai pertanyaan terus ditanyakan Ashiya mengenai Junna. Bak seperti terdakwa, Rhine pun tak berkutik untuk menjawabnya. Sial! Keluh Rhine, tidak ada yang dapat ia sembunyikan dari Ibunya.
"Hmmm, sungguh gadis yang menarik," Ashiya manggut-manggut mendengar penjelasan dari Rhine.
"Ibu tidak berencana melakukan hal-hal yang bisa merusak rencanaku kan?" Rhine menatap mata Ashiya lekat. Orang di depannya ini adalah orang yang ceroboh dan selalu bertindak tanpa berpikir panjan terlebih dahulu. Itulah yang menjadi kesimpulannya selama ini. Hal ini terbukti dengan hubungan singkatnya dengan Kwon Hyun Suk dan berbuah dirinya. Dan ia tak mau tindakan Ibunya terjadi pada hubungannya dengan Junna yang telah ia perhitungkan dengan matang.
"Ibu hanya akan berusaha dekat dengannya kok," Wajah Ashiya yang seperti kucing memohon untuk dipungut oleh orang yang melewatinya berusaha Rhine alihkan, kali ini ia tak mau kalah oleh senjata terampuh yang selalu Ashiya keluarkan setiap kali Ibunya itu menginginkan sesuatu.
"Aku tidak mempermasalahkannya, tapi pesanku hanya satu Bu, tolong jangan rusak rencanaku."
"Memangnya apa rencanamu?" Tanya Ashiya polos.
"Kalau aku ceritakan kepada Ibu namanya bukan rencana," Rhine menyeringai seolah ada sebuah rencana besar untuk Junna.
"Dasar anak nakal!" Ashiya menarik hidung mancung milik Rhine gemas akan kelakuan anaknya itu.
"Ngomong-ngomong, apa yang membuat Ibu datang berkunjung ke rumahku? Apakah ada sesuatu hal penting yang ingin Ibu sampaikan?" Rhine menyajikan coklat panas, minuman favorit Ashiya dan dirinya setiap kali berkumpul berdua di ruangan keluarga di rumah Ashiya.
"Oh iya hampir lupa, apakah kamu sudah bertemu dengan Ayahmu?" Sebuah pertanyaan yang tak pernah diduganya akan keluar langsung dari Ibunya membuatnya kaku terdiam. Cangkir yang berisi coklat panas yang ia pegang nyaris terjatuh jika saja ia tidak berusaha untuk mengatur emosinya dan meletakkan cangkir tersebut di atas meja.
"Dia bukan Ayahku!" Ujar Rhine ketus. Pandangannya menunduk ke bawah. Ia tak ingin ekspresi kebencian itu terlihat oleh Ibunya. "Ayah macam apa yang baru datang setelah anaknya berusia sebesar aku?"
"Kamu tidak boleh berbicara seperti itu kepada Ayahmu, dia orang yang baik Rhine..."
"Baik? Baik kata Ibu?!" Rhine tertawa. Namun bukan tawa yang bahagia melainkan tawa yang getir dan terkesan dipaksakan. "Darimananya Ibu mengatakan bahwa dia orang yang baik?!"
"Ibu lebih mengenalnya daripada dirimu Rhine." Ashiya sepertinya membaca gelagat yang tidak mengenakkan dari anaknya itu.
"Persetan dengan dia! Lantas apa hubungannya pria itu sehingga Ibu bertanya seperti itu?"
"Ibu akan menikah dengannya."
"Apa?!" Rhine beranjak dari tempat duduknya di sofa. "Apa aku tidak salah dengar?! Ibu akan menikahi pria itu? Pria yang selalu membuat Ibu menangis? Pria yang telah membuatku di cap sebagai anak haram?! Apa Ibu sudah tidak waras?!"
"Jaga ucapanmu itu Rhine...," Ujar Ashiya lirih. "Dia itu Ayahmu..."
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah sudi memanggilnya dengan sebutan Ayah!" Rhine menginggalkan Ashiya dan lari ke lantai atas menuju kamarnya. Ia butuh udara segar dan suasana nyaman yang hanya dapat ia temukan di kamarnya, terutama teras lantai dua. Tempat dimana ia melakukan interaksi intens dengan Junna. Namun kali ini sepertinya nasibnya kurang beruntung. Junna sedang tidak ada di kamarnya. Ingin ia menumpahkan kekesalannya dengan berteriak sekencang-kencangnya. Namun suaranya seakan menghilang. Berbagai kejadian buruk di masa lalunya membuatnya lemah dan terduduk di balkon. Ia merasa mual setiap kali ia membayangkan semua ejekan-ejekan itu seolah baru kemarin ia merasakannya.
***
mudah bagimu u/ tau siapa yg memakai baju putih itu Yuda
makasih suguhanya yg enak di baca thor🙏
kamu hebat thor bisa bikin banjir dadakan👍😀
bagus banget ceritanya...beda dari novel2 yg lain...
recomended pokok nya...
hayyuk yg belum baca cepet tambahin ke favorit😁😁
soalnya saia juga gitu sblm baca pasti liat koment2nya dulu trus endinge gimana wkk...wkkk