NovelToon NovelToon
Sang Pangeran Terlahir Kembali

Sang Pangeran Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.

Kali ini, segalanya akan berbeda.

Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.

"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."

Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1 Mimpi Buruk

Darah mengalir di sela jemari Arjuna.

Ia berlutut di lantai batu yang dingin, napasnya tersangkut seperti ada tangan tak terlihat yang mencekik lehernya. Di hadapannya, kain putih yang dulu pernah dipakai Anindya dalam upacara pernikahan mereka sudah berubah merah. Bukan merah bunga kenanga di taman keraton. Merah yang pekat, panas, dan berbau besi.

"Anindya."

Suaranya keluar patah. Perempuan itu tidak menjawab.

Di kejauhan, suara tawa Baskara menggema dari balik asap dan api. Pendopo Agung runtuh sebagian. Tombak beradu dengan pedang. Ada seruan nama Baginda, ada jeritan abdi dalem, ada suara cap kerajaan dijatuhkan ke lantai seperti benda tak lagi berarti.

Namun Arjuna tidak mendengar apa pun selain napas Anindya yang semakin tipis.

Ia mengangkat tubuh istrinya ke pangkuan, menekan telapak tangan pada luka yang tidak mau berhenti mengalir. Dulu ia selalu terlambat. Terlambat memahami isi hatinya. Terlambat melihat orang-orang yang berkhianat. Terlambat percaya bahwa wanita yang selalu ia jaga jaraknya itulah satu-satunya orang yang tetap berdiri di sisinya ketika seluruh dunia menjauh.

"Jangan tidur," bisiknya. "Adinda, lihat aku."

Bulu mata Anindya bergerak sedikit. Matanya terbuka, sayu, tapi masih memantulkan wajahnya.

"Kakanda..." Suaranya hampir hilang. "Kalau ada kehidupan lain, jangan... jangan biarkan aku menunggu sendirian."

Sesuatu di dada Arjuna pecah.

Ia ingin menjawab. Ia ingin bersumpah. Ia ingin menukar seluruh takhta, seluruh darah Wicaksana, bahkan napas terakhirnya sendiri, asal mata itu tidak tertutup.

Tetapi tangan Anindya jatuh lebih dulu.

"Tidak!"

Arjuna tersentak bangun.

Keringat membasahi punggungnya. Dadanya naik turun, keras dan tak teratur. Untuk beberapa saat ia tidak tahu di mana dirinya berada. Api, darah, dan tubuh Anindya masih melekat di kelopak matanya. Tangannya bergerak panik di atas selimut, mencari kain putih yang tadi berubah merah, mencari nadi di pergelangan tangan istrinya.

Yang tersentuh hanya sutra dingin.

Kamar itu gelap, diterangi nyala pelita kecil di sudut ruangan. Aroma cendana dari dupa malam masih mengambang tipis. Di luar jendela, hujan belum turun, tapi angin awal musim membawa bau tanah basah dari taman Puri Timur.

Puri Timur.

Arjuna membeku.

Ia menatap tiang kayu berukir di samping ranjang. Tirai batik biru tua. Meja rendah dari kayu sonokeling. Keris kecil pemberian mendiang ibunya yang terletak rapi di atas nampan perak.

Semua ini sudah lama tidak ia lihat.

Dalam kehidupan terakhirnya, Puri Timur telah terbakar pada malam pemberontakan. Tiang ini patah. Tirai ini menjadi abu. Keris kecil itu hilang bersama banyak hal lain yang tidak sempat ia selamatkan.

Tetapi sekarang semuanya utuh.

Pintu kamar diketuk dari luar.

"Yang Mulia?" Suara Adi terdengar cemas. "Hamba mendengar Yang Mulia berteriak. Apakah Yang Mulia sakit?"

Arjuna tidak langsung menjawab. Pandangannya jatuh ke tangannya sendiri. Tidak ada darah. Tidak ada luka. Jarinya masih panjang dan kuat, bukan tangan sekarat yang gemetar di antara reruntuhan.

Ia turun dari ranjang. Kakinya menyentuh lantai dingin. Rasa dingin itu nyata.

"Masuk," katanya.

Pintu terbuka. Adi masuk tergesa, masih mengenakan kain luar yang belum terikat sempurna. Wajah pemuda itu pucat, matanya cepat memeriksa keadaan kamar, seolah takut menemukan sesuatu yang mengancam nyawa tuannya.

"Yang Mulia berkeringat banyak." Adi menunduk, tapi kegelisahan membuatnya berani mengangkat mata. "Hamba panggil Tabib Kerajaan Suradi?"

Arjuna menatapnya lama.

Adi masih hidup.

Dalam kehidupan sebelumnya, Adi mati di depan gerbang Puri Timur, menahan pasukan Baskara dengan tubuhnya sendiri agar Arjuna sempat keluar. Pemuda itu bahkan tidak sempat mengucapkan pesan terakhir. Yang tertinggal hanya kain selempang yang robek dan darah di tangga batu.

Tenggorokan Arjuna terasa sakit.

"Tanggal berapa malam ini?" tanyanya.

Adi terkejut. "Yang Mulia?"

"Jawab."

"Malam ketujuh bulan Waisaka, Yang Mulia." Adi menelan ludah. "Besok pagi ada sayembara pemilihan pendamping Pangeran Mahkota di Balai Agung. Apakah Yang Mulia lupa karena terlalu letih?"

Sayembara.

Jantung Arjuna menghantam rusuknya.

Besok adalah hari ia pertama kali melihat Dewi Anindya sebagai calon istrinya. Hari ketika ia, dengan kebodohan yang dibungkus kebanggaan, memilihnya karena perhitungan politik, lalu membiarkan jarak tumbuh di antara mereka. Hari ketika Permaisuri Ratih tersenyum tipis karena yakin ia bisa mengarahkan hati seorang putra mahkota semudah memindahkan bidak di papan catur.

Tiga tahun.

Ia kembali ke tiga tahun sebelum semuanya berakhir.

Arjuna berjalan ke meja. Di sana ada gulungan jadwal upacara, masih tersegel dengan lilin merah Badan Upacara. Ia membuka segelnya dengan jari yang sedikit gemetar. Nama-nama keluarga bangsawan tertulis rapi. Salah satunya membuat napasnya berhenti.

Dewi Anindya dari Kadipaten Jayawardana.

Tinta hitam itu sederhana, hanya satu baris di antara banyak nama. Namun bagi Arjuna, baris itu seperti seseorang membuka pintu dari makam yang gelap.

Ia menyentuh nama itu.

Adi makin cemas melihatnya. "Yang Mulia, tangan Yang Mulia dingin sekali. Hamba benar-benar harus memanggil tabib."

"Tidak perlu."

"Tapi..."

Arjuna menoleh. Tatapannya membuat Adi langsung menunduk.

"Tidak ada seorang pun yang boleh tahu aku terbangun seperti ini."

"Baik, Yang Mulia."

"Katakan pada Bagus untuk mengganti penjagaan luar. Pilih orang yang tidak banyak bicara. Semua pelita di koridor barat tetap menyala sampai pagi."

Adi mengangguk cepat. "Sesuai perintah."

"Dan panggil Garuda. Diam-diam."

Kali ini Adi benar-benar mengangkat kepala. "Garuda, Yang Mulia? Malam ini?"

"Malam ini."

Adi menahan banyak pertanyaan di balik bibirnya. Pada akhirnya ia hanya menunduk lebih dalam. "Hamba mengerti."

Setelah Adi keluar, kamar kembali sunyi.

Arjuna berdiri di depan meja, menatap gulungan nama itu seolah takut nama Anindya akan menghilang bila ia berkedip. Di luar, angin menabrak daun-daun sawo kecik di halaman Puri Timur. Suaranya pelan, seperti bisikan masa lalu yang belum rela pergi.

Ia mengambil keris kecil dari nampan perak. Bilahnya tidak terhunus. Sarungnya dingin di telapak tangan.

Dulu ia mengira musuh terbesarnya adalah Baskara. Lalu ia mengira Permaisuri Ratih. Kemudian, saat semuanya sudah terlambat, ia melihat wajah Prabu Naradewa di balik semua dosa lama, semua darah yang disembunyikan di bawah karpet istana, semua kematian yang disebut pengorbanan demi kerajaan.

Mereka semua masih hidup sekarang.

Mereka semua belum tahu bahwa orang yang pernah mereka bunuh telah membuka mata lagi.

Pintu rahasia di belakang rak kayu bergerak tanpa suara. Seorang lelaki berpakaian gelap muncul dan berlutut dengan satu kaki.

"Garuda menghadap, Yang Mulia."

Arjuna tidak menoleh. "Mulai malam ini, setiap kabar dari Puri Baskara, Puri Candra, dan kediaman Permaisuri Ratih harus sampai kepadaku sebelum matahari terbit."

Garuda diam sejenak. Perintah itu terlalu besar untuk malam sebelum sayembara, tapi ia tidak bertanya. "Siap."

"Jangan gunakan orang lama yang mudah dikenali. Bangunkan jalur yang pernah kita siapkan di Pasar Sentosa."

"Raden Darmawan akan diberi tanda?"

Nama pamannya membuat dada Arjuna menghangat sekaligus nyeri. Dalam kehidupan lalu, ia juga terlambat mempercayai Darmawan.

"Belum. Untuk malam ini, cukup mata dan telinga."

"Siap, Yang Mulia."

Garuda menghilang secepat ia datang.

Arjuna kembali sendirian. Ia menutup jadwal upacara, lalu menekan telapak tangannya di atas segel yang sudah pecah. Pada kehidupan lalu, besok adalah awal dari semua penyesalan. Pada kehidupan ini, besok harus menjadi awal dari perhitungan baru.

Ia tidak akan membiarkan Anindya masuk ke Puri Timur sebagai istri yang kesepian.

Ia tidak akan membiarkan keluarga Jayawardana kembali diinjak oleh dosa lama.

Ia tidak akan membiarkan Baskara, Ratih, atau Naradewa tersenyum di atas makam orang-orang yang ia cintai.

Langkah di koridor terdengar menjauh. Malam masih panjang, tetapi untuk pertama kalinya setelah kematian, Arjuna merasa napasnya benar-benar masuk ke paru-paru.

Ia menatap nama Anindya sekali lagi.

"Kali ini," bisiknya serak, "aku tidak akan kehilangan dia lagi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!