Anneke Halley Anggara adalah putri bungsu dari keluarga Halley yang hidupnya sempurna dan bergelimang kemewahan serta kasih sayang dari orang tua dan kakak-kakaknya.
Abiano, seorang pemuda yatim yang harus bekerja paruh waktu di sela-sela waktu sekolahnya demi membantu perekonomian sang ibu
Satu keusilan yang Abi lakukan pada Anne, membuat gadis itu menaruh dendam kesumat pada Abi.
Namun sebuah kejadian yang tak disengaja saat malam prom nite, membuat Anne dan Abi harus terjebak dalam sebuah hubungan yang tak diinginkan.
Dua remaja yang selalu berseteru tersebut terpaksa harus menikah muda, bahkan sebelum keduanya dinyatakan lulus SMA.
Bagaimana akhirnya hubungan pernikahan antara Anne dan Abi?
Apakah keduanya akan terus berseteru sebagai suami istri?
Atau keduanya akan mulai berdamai dan saling jatuh cinta?
Kisah ini merupakan lanjutan dari karya saya "Suami Bayaran Nona Bellinda"
Menceritakan tentang anak bungsu Devan dan Bellinda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUJAK DARI MARS
"Kenapa kamu jorok sekali, Anne!" Omel Abi geregetan.
"Awas! Aku masih mual," Anne mendorong Abi agar menyingkir. Istri Abi itu keluar dari kamar dengan cepat dan segera berlari ke arah kamar mandi.
Abi ikut keluar dari kamar.
"Anne kenapa, Bi?" Tanya Bu Sani yang sedang berkutat dengan bahan-bahan masakan di dapur.
"Mabuk jus alpukat mungkin, Bu! Muntah pas banget di badannya Abi," gerutu Abi mengeluh pada Bu Sani.
Masih terdengar suara Anne yang muntah-muntah dari dalam kamar mandi.
"Kamu susul Anne sana! Kamu pijit punggungnya," tutur Bu Sani memberikan nasehat pada Abi.
"Enggak ah, Bu!" Tolak Abi yang memilih untuk meraih gelas dari rak dan mengisinya dengan air putih hingga penuh.
"Jadilah suami yang baik, Bi! Anne muntah-muntah itu kemungkinan karena kehamilannya. Biasanya ibu yang sedang hamil muda memang suka mual dan muntah-muntah begitu," nasehat Bu Sani sekali lagi berusaha bersikap bijak.
Abi tampak berpikir sejenak. Pemuda itu meneguk air di gelasnya hingga tandas tak bersisa sebelum bangkit berdiri dan menyusul Anne ke kamar mandi.
Namun baru saja Abi akan masuk ke kamar mandi, Anne sudah terlebih dahulu keluar dengan wajahnya yang sedikit pucat.
"Cariin rujak atau mangga muda, Bi!" Rengek Anne menatap melas pada Abi.
"Pagi-pagi begini nyari rujak dimana, Anne? Kamu kok ada-ada saja sih sejak kemarin?" Sergah Abi merasa heran.
"Aku pengen makan rujak, Abi!" Rengek Anne sekali lagi seraya bergelayut manja di lengan Abi.
"Aku mau mandi, trus ke kafe Dad. Aku harus mulai kerja hari ini!" Gertak Abi galak.
"Belikan aku rujak dulu!" Anne masih mencengkeram erat lengan Abi.
"Dimana yang jual rujak pagi-pagi begini? Nanti siang aku belikan dan aku antar pulang," bujuk Abi mulai kesal.
"Tapi aku maunya sekarang! Aku mau rujak sekarang, Abi!" Anne menghentak-hentakkan kakinya ke atas lantai dan menarik-narik lengan Abi bak anak kecil yang sedang merajuk.
"Lepas! Aku mau mandi!" Gertak Abi galak.
"Aku mau rujak, Abiano!" Sahut Anne tak kalah galak.
"Abi, Anne, ada apa ini?" Sela Bu Sani menengahi perdebatan antara anak dan menantunya.
Belum ada seminggu dua remaja itu menjadi pasangan suami istri dan setiap hari selalu saja ada hal yang diperdebatkan.
"Anne minta rujak, Bu! Mana ada yang jual rujak pagi-pagi begini?" Jawab Abi dengan nada kesal.
"Ada! Pasti ada! Pokoknya aku minta ru-"
Anne tiba-tiba sudah berlari masuk ke kamar mandi dan kembali muntah-muntah.
"Dasar lebay!" Gumam Abi sebal.
"Bukan lebay, Abi! Itu memang bawaan ibu hamil!" Sergah Bu Sani membela Anne.
"Bawaan sih bawaan. Tapi kan bisa leboh realistis gitu. Masak pagi-pagi minta rujak?"
"Minta bubur ayam kek, minta gado-gado kek, minta lontong sayur kek! Yang itu jelas-jelas banyak yang jual!" Cerocos Abi seraya bersedekap kesal.
"Namanya juga ibu hamil. Nggak bisa ditebak maunya apa. Karena bawaannya beda-beda, Abi! Kamu sebagai suami harusnya lebih banyak bersabar menghadapi ngidamnya Anne," nasehat Bu Sani sedikit meninggikan nada bicaranya.
"Memangnya Abi kurang sabar bagaimana, Bu?" Sergah Abi ikut-ikutan emosi.
"Anne saja yang mengada-ada dan membesar-besarkan semuanya!" Sambung Abi lagi masih emosi.
Anne sudah keluar dari kamar mandi.
"Mana rujaknya, Bi?" Tanya Anne pada Abi yang masih berkalung handuk dan bersiap untuk mandi.
"Abi biar mandi dulu, Anne! Nanti habis mandi Abi akan mencarikan rujak untukmu," bujuk Bu Sani yang suaranya sudah berubah lembut.
Ibunya Abi ini selalu saja lembut dan sabar setiap berbicara pada Anne.
Dan Abi yang selalu disalahkan serta menjadi kambing hitam setiap perdebatan yang terjadi diantara Abi dan Anne.
Lama-lama menyebalkan!
"Nanti aku carikan ke planet Mars rujaknya! Aku belikan satu gerobak biar kamu puas!" Gerutu Abi seraya berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Sedetik kemudian, pintu kamar mandi yang tidak bersalah itupun menjadi korban pelampiasan emosi Abi pagi ini.
"Ibu buatkan susu hangat dulu, ya!" Bu Sani masih tak berhenti membujuk Anne.
"Tapi nanti rujaknya ada kan, Bu?" Rengek Anne seraya mencebik.
"Iya, ada. Anne duduk dulu dan minum susu hangat, ya!" Bujuk Bu Sani sekali lagi.
Anne hanya mengangguk dan segera duduk di kursi panjang disamping meja makan. Bu Sani membawakan susu hangat untuk menantunya tersebut.
"Kenapa Anne mual-mual terus, Bu?" Tanya Anne pada Bu Sani yang sudah kembali melanjutkan acara memasaknya.
"Itu hal wajar, Anne. Nanti semakin besar kandungan kamu, semakin berkurang mualnya," jelas Bu Sani sambil sesekali melirik Anne yang sudah menghabiskan susunya.
"Ibu memasak apa?" Tanya Anne merasa penasaran.
Gadis itu sudah beranjak dari duduknya dan menghampiri Bu Sani yang masih berdiri di depan kompor.
"Semur tahu dan telur sama tumis buncis. Anne mau?" Tawar Bu Sani seraya mematikan kompor. Sepertinya masakan Bu Sani sudah matang.
"Baunya harum," puji Anne pada masakan Bu Sani.
"Anne jadi lapar," gumam Anne lagi.
"Ayo sarapan kalau lapar!" Ujar Bu Sani yang sudah selesai memindahkan semur dan tumis buncis ke dalam mangkuk. Mertua Anne itu membawa masakannya ke atas meja makan.
Anne kembali duduk di kursinya dan mulai menyendokkan nasi yang masih mengepulkan asap ke dalam piringnya. Anne juga menambahkan semur dan tumis buncis. Gadis itu menyantap sarapannya dengan lahap.
"Enak, Bu!" Puji Anne dengan mulut yang masih penuh makanan.
Bu Sani tersenyum lega,
"Ditelan dulu makanannya, baru bicara, Anne!"
"Anne habiskan kalau enak!" Imbuh Bu Sani lagi yang langsung disambut Anne dengan anggukan.
Anne lanjut menyantap sarapannya.
Abi sudah selesai mandi dan sedikit heran melihat Anne yang sudah makan dengan lahap di meja makan.
"Nggak jadi sarapan rujak?" Tanya Abi sedikit menyindir Anne.
Anne meneguk air putih di gelasnya, sebelum menjawab pertanyaan Abi.
"Apa kau ingin membuatku sakit perut? Mana ada orang sarapan rujak pagi-pagi?" gerutu Anne mendelik pada Abi.
Sontak kata-kata Anne barusan membuat Abi dan Bu Sani saling melempar pandang.
Mungkin kata hati ibu dan anak itu sama sekarang.
"Kenapa gadis ini begitu labil dan plin-plan?"
"Nggak jadi ke planet Mars membeli rujak, dong!" Gumam Abi seraya bersiul santai meninggalkan ruang makan.
"Lebay sekali! Membeli rujak sampai ke planet Mars!" Sahut Anne berdecak berulang kali. Istri Abi itu sudah menghabiskan sarapannya.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.
* anne marah pada untuk marah itu masih wajar karena kalau anne labis dan hamil dan masih mudah udah melahirkan, annenpeegi dari kerumah orang tua masih bisa di menegeeri anne masih labil dan manja, tapi untuk keegoisan yang tidak mau tau penjelasan abi, tidak mau memaafkan dan paling parah nuntut cerai itu sudah sangat keterlaluan
*ayah devan marah normal untuk seorang ayah marah ketika merasa anaknya disakiti
*kasin abi dia disakiti terus tapi semudah itu masalah ini dianggap selesai tapi memikirkan perasaan sakit abinyang diperlakukan kurang adil oleh anne dan ayah devan, apapun alasan anne dan ayah devan salah tetap salah, contoh anne dia tidak mau memaafkan suaminya tapi dia dengan gampang minta maaf sekua beres, harusnya ada keadilan untuk abi, tidak adil kalau segampang itu anne dimaafkan