menceritakan Akira Riyuma seseorang siswa SMA yang pindah sekolah dan pergi dari rumahnya karena rumah lamanya sudah tidak sehangat dulu.
Dia anak pendiam. Dunianya yang terasa sepi.
Sampai dia bertemu Riyumi Asuma.
Gadis yang ceria dan suaranya bikin tenang, tapi entah kenapa... membuat hari-hari Akira jadi ramai.
Di antara hujan, tawa, dan tatapan yang tidak pernah Akira mengerti,
muncul satu pertanyaan di kepalanya:
apa arti sebuah keluarga,rasa yang belum pernah dia rasakan.
akira yang sudah banyak kehilangan seseorang yang berharga di hiduupnya.
apakah akira bisa menemukan kebahagiaan itu ?
apakah akira juga bisa berubah menjadi yang lebih baik dengan bantuan riyumi asuma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI YANG BAHAGIA
_Beberapa tahun telah berlalu._
Angin Zurich bertiup dingin. Tapi di hati Akira, hanya ada kehangatan.
Akira yang sudah selesai dengan kuliah dan wisudanya kini telah resmi menjadi seorang profesor terkenal. Namanya bahkan sudah terpampang di beberapa jurnal internasional. Tak hanya itu, ia bahkan mendapatkan tawaran kerja bergengsi di salah satu laboratorium terbaik di Swiss.
Tapi Akira menolak semuanya.
Karena tidak ada lab yang lebih penting dari rumah.
Di asramanya yang sederhana, Akira sibuk mengepak barang-barang. Koper besar, kotak buku, dan satu kotak kecil berisi gelang couple mereka.
Teman-teman Akira datang silih berganti untuk berpamitan.
Teman 1: sambil memeluk erat "Akira, sukses terus ya di Jepang. Datang lagi kapan-kapan ke sini!"
Teman 2: menepuk bahunya "Profesor termuda, jangan lupa kami kalau udah terkenal banget."
Akira hanya tersenyum. Matanya berkaca. _empat tahun di sini... banyak kenangan._
Sebelum pintu ditutup, Akira duduk sebentar dan mengetik pesan. Jarinya gemetar.
_To: Ibu & Yuki_
"Aku sudah selesai dengan masa kuliah. Sekarang aku mau balik ke Jepang."
Kirim.
Sementara itu di Jepang, sore itu terasa hangat.
Yuki sedang berada di rumah Akira bersama dengan ibu Akira. Mereka berdua lagi asyik menonton TV sambil bercerita hangat tentang masakan dan drama terbaru.
_Tiba-tiba, ponsel Yuki berdering menandakan sebuah pesan masuk dari Akira._
_Drrt... Drrt..._
Nama "Akira" terpampang di layar.
Jantung Yuki serasa berhenti sejenak.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Yuki membuka pesan itu.
Isi Pesan: "Aku sudah selesai dengan masa kuliah. Sekarang aku mau balik ke Jepang."
Dunia Yuki berhenti.
Ia mendadak kaget dan tak sengaja menjatuhkan HP-nya ke atas sofa.
Air matanya langsung keluar karena bahagia. Tetes demi tetes jatuh tanpa bisa ditahan.
Yuki: terbata sambil menutup mulut "Bu... Bu..."
Ibu Akira yang kaget melihat reaksi Yuki tiba-tiba mengambil ponsel Yuki, lalu beliau pun membaca pesan dari Akira.
Dan saat membaca kalimat itu, mata Ibu Akira juga langsung berkaca-kaca.
Melihat kabar bahwa Akira akan pulang, Yuki dan ibu Akira kegirangan, bahagia, dan langsung berpelukan sambil menangis bahagia. Tangis haru yang sudah mereka tahan selama 4 tahun akhirnya pecah.
Ibu Akira: sambil mengusap punggung Yuki " anak mama mau pulang..."
Yuki: mengangguk di pelukan Ibu Akira "Iya Bu... dia pulang..."
Tak lama dari itu, mereka bersiap-siap. Lemari dibongkar. Baju terbaik dipilih. Buket bunga besar dibeli.
Hati Yuki saat itu sangat bahagia dan wajahnya dipenuhi dengan rasa kegembiraan. Pipinya merona.
_Setelah bertahun-tahun tidak bertemu secara langsung dengan orang yang sangat dia sayangi, akhirnya mereka bakal bertemu kembali.
Di tempat lain, Bandara Internasional Zurich.
Akira yang berada di Bandara Swiss ditemani oleh teman-temannya. Koper sudah di tangan. ID Card "Profesor" masih tergantung di lehernya.
Mereka saling memberikan kata-kata terakhir untuk Akira. Suasana haru menyelimuti.
Teman 1: tersenyum sambil melambaikan tangan "Datang lagi kapan-kapan ke sini ya!"
Teman 2: memeluk Akira erat-erat "Jaga diri baik-baik. Titip salam buat Jepang."
Suasana di situ menjadi sangat terharu karena Akira mau balik ke rumahnya.
Akira sendiri sudah tidak sabar untuk bertemu; ia merasakan kebahagiaan yang sangat besar setelah bertahun-tahun tidak ketemu, akhirnya dia bakal ketemu lagi dengan Yuki. Dadanya sesak karena bahagia.
_Pengumuman:_ "Perhatian, penerbangan JL-0041 tujuan Tokyo, Jepang segera boarding di Gate 21."
Akira menarik napas dalam. Dia membawa barang-barang dan kopernya bersiap-siap untuk pergi, sementara teman-teman Akira mengucapkan selamat pulang dengan lambaian terakhir.
Saat berada di atas pesawat, di kursi 14A dekat jendela, Akira merasa sangat senang dan tidak sabar untuk tiba serta bertemu dengan Yuki. Dia menatap awan dan tersenyum. _'Tahan sedikit lagi...'_
Di area kedatangan Bandara Jepang, Haneda.
Yuki sedang menunggu kedatangan Akira bersama ibunya. Yuki berdandan dengan sangat cantik. Gaun krem sederhana, rambut dikuncir rapi, dan di tangannya memegang sebuah buket bunga yang besar dengan senyuman yang begitu manis. Jantungnya berdebar 1000x.
_Pengumuman:_ "Penerbangan dari Zurich telah mendarat."
Pintu kedatangan terbuka.
Akira berjalan keluar sambil menarik kopernya. Jas hitam, rambut lebih pendek, aura dewasa terpancar.
Saat itu, Yuki melihat sosok Akira dari kejauhan, tapi Akira belum melihat Yuki.
Tanpa pikir panjang, Yuki pun langsung berlari ke arah Akira!
Langkahnya cepat. Buket bunganya hampir jatuh.
Tiba-tiba ia memeluk Akira dengan sangat erat dari belakang.
Akira yang kaget karena tiba-tiba dipeluk langsung terkejut, dan saat ia berbalik dan melihat ke wajah Yuki, betapa banyaknya perubahan di wajah Yuki. Lebih dewasa. Lebih anggun. Lebih cantik. Sampai Akira sempat tidak mengenali Yuki sama sekali.
Saat itu Yuki menangis bahagia di dalam pelukan Akira. Bahunya bergetar.
Dan Akira mulai memeluk Yuki balik dengan sangat erat. Seerat-eratnya. Seolah takut dia menghilang.
" suaranya serak karena menahan haru "Aku pulang, Yuki."ucap lembut Akira ke Yuki.
Ibu Akira mendekati mereka berdua dengan air mata bahagia, lalu mengucap lembut,
"Selamat datang, Sayang."kata ibunya Akira.
Akira melepaskan pelukannya dari Yuki, lalu bergantian memeluk ibunya sambil berkata dengan nada haru,
"Aku pulang, Mama."ucap Akira ke ibunya.
Setelah momen bahagia dan haru di bandara itu, mereka bertiga pun pulang ke rumah Akira dengan taksi. Sepanjang jalan, Yuki sama sekali tidak mau melepaskan tangannya dari genggaman tangan Akira. Jari mereka bertaut.
Sesampainya di rumah, aroma masakan sudah menyambut. Makanan lezat sudah disiapkan oleh sang Ibu saat tahu Akira bakal pulang. Meja makan penuh.
Setelah makan, Akira menyempatkan pergi ke kamarnya. Saat membuka pintu, ia mendapati ada baju-baju Yuki di sana. Ada boneka kecil di atas tempat tidurnya.
Yuki: yang berjalan menyusul dari belakang berbisik pelan sambil memeluk Akira dari belakang "Aku sering tidur di sini sewaktu kamu tidak ada... biar berasa kamu masih ada."
Melihat Yuki yang seolah tidak mau lepas darinya, Akira perlahan melepaskan pelukan Yuki, lalu membalikkan badan. Dia menatap mata Yuki dalam-dalam.
Tanpa kata, Akira mencium bibir Yuki dengan penuh kerinduan. Lembut, tapi penuh 4 tahun rindu.
Yuki pun membalas ciuman hangat itu setelah sekian lamanya mereka berpisah. Air mata mereka jatuh di sela ciuman itu.
Saat di meja makan, mereka makan bertiga dengan penuh kehangatan dan tawa. Ibunya dan Yuki bertanya-tanya banyak hal ke Akira tentang Swiss, tentang riset, tentang semua hal.
Sampai akhirnya Akira mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja.
Kartu: _Prof. Akira Riyuma - Head of Biomedical Research_
Melihat hal itu, ibunya langsung menutup mulut dan menangis bahagia, apalagi Yuki yang merasa sangat bangga. Matanya berkaca-kaca.
Ibu Akira: sambil mengelap air mata "Anak mama hebat sekali..."
Ibu Akira: lalu memberi tahu Akira "Tapi Yuki juga hebat lho. Sekarang dia sudah menjadi seorang model yang sangat terkenal."
Mendengar hal itu, Akira menoleh ke Yuki. Dia tersenyum bangga. Lalu Akira mengelus kepala Yuki dengan sangat lembut.
"Kerja bagus."ucap Akira.
Yuki, yang sudah sangat lama tidak dielus kepalanya oleh Akira, merasakan kebahagiaan hangat yang sudah lama hilang. Dia bersandar di bahu Akira.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali.
Yuki menelpon ke kantor"Kak Manager... aku mau ambil cuti seminggu ya. Alasannya... aku mau fokus bersama Akira untuk bersantai."
Mereka berdua berjalan-jalan menikmati indahnya kota yang sudah berubah. Ke taman, ke kuil, dan menyempatkan diri datang mampir ke kafe milik Nana dan Yasiro.
_Bel pintu kafe berbunyi: Tring!_
Saat di kafe, Nana terkejut luar biasa melihat Yuki masuk sambil menggandeng seorang cowok yang sangat tampan. Yasiro yang sedang membuat kopi pun ikut terkejut dan menjatuhkan sendok. Mereka berdua sama sekali tidak menyadari bahwa cowok itu adalah Akira!
Nana langsung menarik lengan Yuki dan berbisik kaget dengan mata melotot,
"Kamu selingkuh dari Akira?"tegas Nana.
Wajah Nana dan Yasiro dipenuhi dengan tanda tanya besar.
Yuki tertawa kecil lalu menjelaskan sambil menggandeng tangan Akira lebih erat,
"Bukan selingkuh... cowok tampan di sebelahnya ini adalah Akira." bantah Yuki.
Nana kaget bukan main, apalagi Yasiro. Mulut mereka menganga.
Begitu Akira mulai angkat bicara, barulah mereka benar-benar mengenali bahwa itu memang suara Akira.
"Lama gak ketemu, kalian."ucap Akira dengan senyuman.
Yasiro langsung memeluk Akira dengan rasa bangga sambil menepuk punggungnya, dan Nana bersalaman erat dengan Akira sambil masih tidak percaya.
"Selamat ya atas pernikahan kalian. Aku minta maaf karena dulu tidak sempat hadir." ucap Akira ke Mereka.
"Gak apa-apa! Yang penting kamu pulang dengan selamat!"jawab nana
Mereka pun duduk berempat di pojokan kafe sambil asyik bercerita, tertawa, dan melepas rindu, hingga Akira memberi tahu dengan santai,
"Oh iya, aku bakal bekerja di Jepang. Di sebuah laboratorium terkenal." kata Akira.
Nana dan Yasiro makin kaget begitu mengetahui bahwa Akira kini sudah menjadi seorang Profesor. Mereka langsung bertepuk tangan.
Setelah puas melepas rindu, Akira dan Yuki pamit pulang dengan pelukan.
Dari kafe, Akira mengajak Yuki pergi ke tempat pemakaman Riyumi untuk berziarah, dan Yuki pun ikut mendampingi tanpa bertanya.
Saat di pemakaman, suasana sunyi. Hanya suara angin dan kicau burung. Mereka berdoa khusyuk di depan batu nisan.
Setelah berdoa, Akira menatap batu nisan Riyumi dan berbisik pelan,
"Riyumi... terima kasih... aku sudah menemukan masa depanku."kata akira
Saat itu juga, di area pemakaman yang sunyi, dedaunan berjatuhan tertiup angin sore yang lembut. Cahaya matahari menembus sela-sela pohon.
Akira memutar badannya menghadap Yuki. Dia menggenggam kedua tangan Yuki.
dengan sangat lembut sambil menatap matanya dalam-dalam "Hey Yuki... sekarang aku akan memenuhi janjiku kepadamu. Terima kasih atas semua ini, yang selalu berada di sampingku dan selalu mendukung aku. Aku berterima kasih karena kamu sudah mau menungguku...
Maukah kamu menikah denganku?"kata Akira.
Dunia Yuki berhenti. Jantungnya copot.
Mendengar lamaran itu, Yuki merasa sangat senang dan langsung menjawab dengan cepat, sambil mengangguk berkali-kali dan air matanya jatuh,
dengan senyuman yang begitu manis "Aku mau! Aku mau menikah denganmu!"jawab Yuki.
Mereka pun pulang dan langsung memberi tahu ibu Akira.
Mendengar kabar bahagia itu, ibu Akira langsung memeluk mereka berdua dan sangat bersukacita karena sebentar lagi beliau akan mempunyai cucu.
Setelah dari rumah Akira, Akira dan Yuki pergi ke rumah keluarga Yuki untuk melamar Yuki secara resmi. Didampingi oleh ibunya, Akira menyampaikan lamaran itu dengan mantap dan sopan.
Keluarga Yuki yang mendengar niat tulus itu langsung menyetujuinya dengan penuh kebahagiaan dan haru. Hari itu dipenuhi diskusi hangat merencanakan pernikahan mereka.
Beberapa hari kemudian, Akira dan Yuki kemudian datang kembali ke kafe Nana untuk mengantarkan surat undangan pernikahan.
Menerima undangan tersebut, Nana dan Yasiro langsung memeluk mereka dan merasa sangat senang karena sahabat mereka akhirnya akan menyatu dalam ikatan pernikahan.
Hari demi hari berlalu dengan sibuk tapi bahagia.
Akira dan Yuki yang telah mempersiapkan semuanya pergi fitting baju pengantin dan mengatur lokasi acara.
Yuki juga membagikan undangan ke tempat ia bekerja, dan semua orang di agensi ikut bahagia mendengar Yuki akan segera menikah.
*Hari bahagia yang dinanti-nantikan pun akhirnya tiba.*
Di lokasi pernikahan yang dihias bunga putih, semua tamu undangan telah hadir dan menunggu prosesi dimulainya acara. Musik lembut mengalun.
Akira yang tampak begitu tampan dengan setelan jas pengantin hitam berdiri di pelaminan menanti kedatangan sang calon istri. Tangannya sedikit gemetar.
Tiba-tiba, pintu terbuka.
Yuki muncul mengenakan gaun pengantin yang sangat anggun dan menjuntai, didampingi oleh ibunya. dengan rambut yang di ikal di hiasi manik manik bunga, senyumnya, semuanya sempurna.
Melihat itu, hati Akira bergetar hebat. Napasnya tercekat.
Betapa cantiknya calon istrinya hari ini.
Janji pernikahan pun dimulai di hadapan penghulu.
Penghulu: "Apakah anda Akira riyuma menerima Yuki... sebagai istri anda?"
Akira: lantang "Saya terima!"
Penghulu: "Apakah anda Yuki ... menerima Akira riyuma sebagai suami anda?"
Yuki: dengan suara bergetar tapi tegas "Saya terima!"
Semua ikrar suci telah diucapkan dengan lantang dan sakral. Cincin dipasang.
Sekarang, mereka resmi sah menjadi suami istri.
Orang-orang yang hadir bersorak bahagia menyaksikan pernikahan mereka, begitu pula ibu Akira dan seluruh keluarga Yuki yang menangis haru.
Di hadapan semua orang dan dunia yang menjadi saksi, Akira dan Yuki pun menyatukan bibir mereka dalam ciuman pernikahan yang penuh cinta.
Konfeti beterbangan.
Dan begitulah... cerita panjang mereka akhirnya sampai di titik: *Bahagia.*