NovelToon NovelToon
Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Menikahi tentara / Ibu susu
Popularitas:109
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.

Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.

Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.

Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.

Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.

Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.

*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10

Fitnah dan Puntung Rokok

Pemberitahuan pemeriksaan kebersihan ditempel di papan kompleks sejak pagi.

Setiap rumah diminta membersihkan selokan, lorong samping, dan halaman depan. Persit akan berkeliling bersama petugas lingkungan setelah pukul sembilan.

Laras membaca pengumuman itu ketika menjemur popok. Ia tidak merasa khawatir. Rumah Bima selalu rapi. Sejak subuh, ia bahkan sudah menyapu teras dan menyiram lantai dapur.

“Jangan angkat ember berat,” kata Iwan sambil memeriksa selokan.

“Saya tidak sakit.”

“Perintah Komandan.”

“Semua yang tidak boleh saya lakukan sekarang perintah Komandan?”

Iwan tertawa. “Lebih aman begitu.”

Bima sudah berada di kantor batalyon untuk rapat pagi. Sebelum berangkat, ia hanya sempat melihat Satya yang sedang menyusu dari ambang ruang depan, lalu mengingatkan Iwan agar tidak meninggalkan rumah terlalu lama selama pemeriksaan.

Menjelang pukul sembilan, seorang pekerja kebersihan lewat di lorong samping membawa karung daun. Dua petugas logistik juga mengantar air kemasan dan meletakkan kardus di dekat dapur. Lorong itu memang menjadi jalan pintas dari gudang kecil menuju deretan rumah di belakang.

Laras mencatat wajah mereka sekilas, kebiasaan yang tumbuh sejak ia hidup di tengah orang-orang yang gemar mengubah hal kecil menjadi cerita.

Bu Ratna datang setengah jam kemudian bersama dua perempuan yang pernah menemaninya pada kunjungan pertama. Mereka membawa daftar cek, kantong sampah, dan senyum resmi.

“Pagi, Mbak Laras,” sapa Bu Ratna.

“Pagi, Bu Ratna.”

“Pak Bima tidak ada?”

“Sedang dinas.”

“Iwan?”

“Di halaman depan.”

Bu Ratna mengangguk seolah jawaban itu sudah diperkirakan. “Kami mulai dari lorong samping, ya.”

Laras menggendong Satya dan mengikuti mereka. Pemeriksaan berlangsung biasa pada awalnya. Selokan tidak tersumbat. Tempat sampah tertutup. Tidak ada genangan di belakang dapur.

Salah satu perempuan tiba-tiba berseru.

“Bu Ratna, ini apa?”

Di sudut dekat pintu kamar belakang, ada tiga puntung rokok. Salah satunya masih tampak baru, filternya belum basah oleh embun. Di sampingnya tergeletak korek api hitam dengan gambar tengkorak merah.

Bu Ratna membungkuk. “Ada yang merokok di sini?”

“Tidak,” jawab Laras.

“Pak Bima?”

“Komandan tidak merokok di rumah.”

“Iwan?”

“Tanya langsung kepadanya.”

Iwan dipanggil dari depan. Begitu melihat benda-benda itu, alisnya menyatu.

“Bukan punya saya, Bu. Saya tidak merokok.”

Bu Ratna mengangkat korek dengan ujung pulpen. “Kalau bukan Pak Bima dan bukan Iwan, punya siapa?”

Dua perempuan lain saling bertukar pandang.

“Mungkin ada tamu,” kata salah satunya.

“Tamu laki-laki,” sambung yang lain.

Maksud kalimat itu jelas.

Laras merasakan Satya bergerak di pelukannya. Ia menepuk punggung bayi itu sambil menatap puntung di lantai.

Air bekas menyiram lantai masih menggenang tipis di sepanjang lorong. Anehnya, ketiga puntung itu kering. Bahkan abu di ujung salah satunya belum hancur. Perempuan yang menemukannya juga berjalan langsung ke sudut tersebut tanpa memeriksa bawah rak sepatu atau sisi selokan lebih dulu.

Laras menyimpan semua kejanggalan itu di kepala. Ia tidak menuduh sebelum punya pegangan, tetapi ia juga tidak akan membiarkan benda yang baru diletakkan seseorang dipakai untuk menentukan kehormatannya.

Ia akan mengingat cara mereka bekerja.

Ia juga mengingat siapa yang pertama menunjuk sudut tersebut.

Kemarin sore, lorong tersebut bersih. Pagi tadi pekerja kebersihan dan petugas logistik lewat. Siapa pun bisa menjatuhkan benda itu. Namun Bu Ratna bertindak seolah tiga puntung rokok adalah bukti seseorang masuk ke kamar Laras pada malam hari.

“Pintu ini menghadap lorong umum,” kata Laras. “Petugas gudang, pekerja kebersihan, pengantar air, dan prajurit piket lewat sini.”

“Tapi letaknya tepat di depan kamarmu.”

“Kalau ada sampah di depan kantor batalyon, apakah berarti sampah itu milik Danyon?”

Salah satu perempuan terbatuk menahan reaksi.

Bu Ratna mengeraskan wajah. “Jangan samakan.”

“Saya sedang memakai cara berpikir yang sama.”

“Mbak Laras, kami datang untuk pemeriksaan. Bukan untuk berdebat.”

“Kalau hanya soal kebersihan, saya akan menyapu puntungnya. Kalau Bu Ratna ingin menuduh ada laki-laki datang diam-diam, saya minta buktinya.”

“Tidak ada yang menuduh.”

“Tadi Bu Ratna bertanya punya siapa, lalu mereka menjawab tamu laki-laki. Itu arahnya jelas.”

Iwan berdiri lebih dekat ke pintu, wajahnya tegang. “Saya piket keluar masuk rumah ini. Tidak ada tamu malam.”

“Kamu tidak berada di sini setiap menit,” kata Bu Ratna.

“Prajurit piket depan mencatat kendaraan dan tamu. Bisa kita cek buku jaga.”

Bu Ratna terdiam sesaat.

“Tidak perlu membesar-besarkan masalah sampah,” ujarnya akhirnya.

“Yang membesar-besarkan bukan saya,” jawab Laras.

Suara langkah sandal terdengar dari ujung lorong. Bu Titin datang membawa sapu lidi.

“Ada apa ramai-ramai?”

Salah satu perempuan menunjukkan puntung rokok. “Ditemukan di depan kamar Mbak Laras.”

Bu Titin melihat letaknya, lalu mendengus. “Tadi dua pekerja kebersihan istirahat di ujung sini. Saya lihat salah satunya merokok.”

Bu Ratna menoleh tajam. “Yakin?”

“Saya menegur karena abunya jatuh dekat selokan.” Bu Titin menunjuk korek hitam. “Korek itu juga saya lihat di tangannya.”

Iwan langsung berkata, “Kita bisa panggil orangnya.”

Wajah perempuan yang pertama menemukan puntung berubah gugup. “Tidak usah. Kalau sudah jelas, tinggal dibersihkan.”

Laras menangkap perubahan itu. Bu Ratna juga terlalu cepat memasukkan korek ke dalam kantong sampah.

“Tunggu,” kata Laras.

Tangan Bu Ratna berhenti.

“Kalau ini cuma sampah, kenapa tadi dipakai untuk menyebut tamu laki-laki?”

“Mereka hanya menduga.”

“Dugaan seperti itu bisa merusak nama saya. Bukankah Bu Ratna yang paling sering mengingatkan soal nama baik?”

Bu Titin berdiri di sisi Laras. “Betul. Kalau salah, ya minta maaf.”

Dua perempuan itu saling pandang. Salah satunya akhirnya berucap pelan, “Maaf, Mbak Laras. Kami terlalu cepat bicara.”

Bu Ratna tidak ikut meminta maaf.

Ia mencoret kolom kebersihan dengan gerakan keras. “Rumah ini lolos pemeriksaan. Ayo lanjut.”

“Bu Ratna.”

Perempuan itu menoleh.

Laras menjaga suaranya tetap tenang. “Lain kali, periksa sampahnya sebelum memeriksa kehormatan orang.”

Rahang Bu Ratna mengeras. Ia berbalik dan berjalan pergi bersama dua pengikutnya.

Setelah mereka menghilang di ujung lorong, Iwan mengembuskan napas.

“Kalau Komandan tahu...”

“Jangan laporkan dulu,” kata Laras.

“Kenapa?”

“Saya bisa menjawab sendiri.”

Bu Titin menyandarkan sapu ke dinding. “Kali ini bisa. Lain kali belum tentu mereka cuma membawa puntung rokok.”

Laras menatap perempuan itu. “Terima kasih sudah bicara.”

“Saya bicara karena memang melihat pekerjanya.” Bu Titin merendahkan suara. “Tapi dengar, Mbak Laras. Bu Ratna tidak datang untuk memeriksa selokan. Dia datang untuk mencari sesuatu.”

Satya menggeliat di pelukan Laras. Jemari kecilnya menutup pada ujung kerudung, seolah ikut menahan perempuan itu agar tidak goyah.

Bu Titin menatap arah Bu Ratna pergi, lalu berkata pelan.

“Dia tidak akan berhenti sampai di sini.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!