Istri Cadangan Sang Mafia
Di hari pernikahan, Selena Kustiono menghilang.
Demi menyelamatkan keluarganya, Serina Kustiono dipaksa menggantikan sang kakak menikahi Vincent Timothy, bos mafia paling berkuasa sekaligus ayah tunggal dari Viren, putra genius yang menolak kehadiran ibu baru.
Pernikahan mereka hanyalah kesepakatan.
Tak ada cinta.Tak ada pilihan.
Namun saat Viren mulai memanggil Serina "Mama", Vincent menyadari satu hal—musuhnya kini tak lagi mengincar kekuasaannya, melainkan keluarganya.
Mampukah seorang istri cadangan bertahan di sisi pria yang seluruh hidupnya dipenuhi darah, pengkhianatan, dan rahasia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Setelah kepergian Lila, mansion kembali terasa tenang.
Sore mulai berganti malam ketika Vincent keluar dari ruang kerjanya. Langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Serina di lorong.
"Tuan."
Vincent menoleh.
"Aku ingin bicara sebentar denganmu."
Vincent memberinya waktu tanpa mengatakan apa-apa.
Serina menarik napas pelan. "Tuan, bukankah Nyonya Lila itu ibu Anda... maksudku, ibu tiri Anda?"
Vincent tetap diam.
"Dia sedang dalam masa sulit sekarang. Mungkin dia hanya membutuhkan teman untuk sekadar berbicara atau minum teh."
Serina melanjutkan dengan hati-hati. "Tidakkah Anda mengizinkan dia tinggal di mansion ini? Lihat saja, mansion ini luas. Masih banyak kamar yang kosong."
Tatapan Vincent perlahan beralih kepadanya. Dingin. "Kamu yang punya mansion ini?" Serina terdiam. "Keputusanku tidak bisa ditawar."
Vincent melangkah melewatinya, tetapi berhenti sesaat. "Jika tidak ada hal penting lagi yang ingin kamu bicarakan..." Tatapannya kembali kepada Serina. "...diamlah." Vincent kemudian berjalan pergi tanpa menunggu jawaban.
Serina tetap berdiri di tempatnya. Ia menatap punggung Vincent yang semakin menjauh.
Sepertinya, urusan tentang Lila jauh lebih rumit daripada yang ia kira.
Serina baru hendak melangkah ketika suara Viren terdengar dari belakang. "Kamu tidak mengerti apa yang Ayah maksud?"
Serina menoleh. Viren berdiri beberapa langkah darinya. Tatapannya tenang, tetapi jelas sedang memperhatikan percakapan mereka sejak tadi.
"Viren..."
"Ayah tidak ingin membicarakan wanita itu." Ia menunjuk ke arah pintu tempat Lila sebelumnya keluar. "Dia bagian dari masa lalu Ayah. Kalau Ayah sudah mengatakan tidak, seharusnya kamu berhenti membahasnya."
Serina menghela napas pelan. "Bukan begitu maksudku."
Viren mengangkat alis kecilnya. "Lalu apa?"
"Aku hanya berpikir... bagaimanapun juga, Nyonya Lila adalah nenekmu."
Viren terdiam beberapa detik. "Nenek?" Ia memiringkan kepala. "Secara hubungan keluarga, mungkin." Kemudian tatapannya kembali serius.
"Tapi hubungan keluarga tidak otomatis membuat seseorang menjadi dekat."
Serina terdiam. Viren melanjutkan dengan tenang, "Aku hampir tidak pernah melihatnya. Jadi, aku tidak bisa tiba-tiba menganggapnya sebagai nenek hanya karena kamu mengatakan begitu."
Serina tidak langsung menjawab. Viren kemudian berjalan melewatinya. "Tante tidak perlu membela semua orang yang datang ke rumah ini." Ia berhenti sebentar. "Apalagi kalau Ayah sudah mengatakan tidak." Setelah itu, Viren melanjutkan langkahnya meninggalkan Serina.
Serina hanya berdiri memandanginya. Anak itu baru berusia lima tahun. Namun cara berpikirnya terkadang membuat Serina lupa bahwa ia sedang berbicara dengan seorang anak kecil.
Serina masih berdiri di lorong setelah Viren pergi.
Ia mengembuskan napas pelan. "Anak ini..." Sudut bibirnya terangkat tipis. "Sepertinya aku harus mengajarinya sedikit tentang cara menghormati orang yang lebih tua."
Bukan untuk memaksanya menerima Lila sebagai nenek. Serina hanya ingin Viren memahami bahwa seseorang tetap layak dihormati, terlepas dari hubungan mereka. Dan mungkin...suatu hari nanti, tanpa paksaan, Viren akan memanggil Lila dengan sebutan nenek.
Serina mengambil ponselnya dari dalam tas.
Ia mencari salah satu kontak keluarganya, lalu menekan tombol panggil.
"Halo? Besok aku mau berkunjung." Serina tersenyum kecil. "Sudah lama aku tidak pulang."
Ia melirik ke arah lorong tempat Viren tadi pergi.
"Dan sepertinya aku membawa seorang anak kecil yang perlu belajar sesuatu."
Terdengar suara di seberang yang membuat Serina tertawa pelan. "Besok saja aku ceritakan."
Setelah sambungan berakhir, Serina memasukkan kembali ponselnya. Ia tidak tahu apakah rencananya akan berhasil. Namun setidaknya...besok ia akan membawa Viren ke tempat yang mungkin bisa mengajarkan anak itu bahwa keluarga tidak selalu harus dimulai dari hubungan darah.
Di tempat lain, Diego berdiri di dekat jendela apartemennya sambil memegang ponsel.
Sambungan dengan Adrian Barent baru saja tersambung.
"Ada informasi baru, Tuan."
Adrian yang sedang duduk di ruang kerjanya mengangkat pandangan. "Katakan."
"Vincent ternyata masih memiliki ibu tiri, aku baru saja bernegosiasi dengannya."
Adrian terdiam sejenak. "Ibu tiri?"
"Namanya Lila Timoty. Dia baru saja datang ke mansion Vincent."
Sudut bibir Adrian terangkat tipis. "Dan?"
"Sepertinya hubungan mereka tidak terlalu baik."
Adrian menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Menarik."
Diego melanjutkan, "Saya pikir wanita tua itu bisa dimanfaatkan."
Adrian tersenyum tipis. "Bagus. Jika Lila ingin mendapatkan tempat di keluarga Timoty, dia harus membuat Vincent melihat bahwa kehadiran Serina justru membawa masalah."
"Anda ingin Lila menyingkirkan Serina?"
"Bukan." Adrian menggeleng. "Aku ingin Lila membuat Vincent sendiri yang meragukan istrinya."
Diego terdiam. "Jangan menyentuh Serina secara langsung." Adrian menambahkan, "Biarkan semuanya terlihat seperti kesalahan Lila." "Kalau rencana itu berhasil... Vincent akan sibuk menghadapi keluarganya sendiri." Adrian tersenyum tipis. "Dan ketika dia sibuk menjaga rumahnya... Barulah kita masuk dari luar."
...****************...
Malam itu, ponsel Lila kembali berdering. Nama Diego muncul di layar.
Lila segera mengangkatnya. "Ada apa?"
"Aku punya rencana agar kamu bisa tinggal di mansion Timoty."
Lila yang sedang duduk di dalam mobil langsung menegakkan tubuh. "Caranya?"
"Jangan dekati Vincent."
Lila mengerutkan kening. "Lalu?"
"Dekati Viren."
Lila terdiam. "Anak itu?"
"Ya." Suara Diego terdengar tenang. "Viren masih kecil. Belikan mainan, buku, atau apa pun yang disukai anak seusianya. Buat dia terbiasa dengan kehadiranmu."
Lila mulai memahami arah pembicaraan itu. "Kalau Viren menyukaiku... "
"Vincent akan kesulitan mengusirmu."
Senyum perlahan muncul di wajah Lila. "Aku mengerti maksudmu."
"Jangan terlalu terburu-buru. Jangan membuatnya terlihat seperti rencana."
Lila tertawa kecil. "Tenang saja. Aku tahu bagaimana menghadapi anak kecil."
Diego terdiam sesaat sebelum berkata, "Dan satu lagi."
"Apa?"
"Jangan membuat Serina curiga."
Senyum Lila semakin lebar. "Serina?"
"Dia satu-satunya orang yang mungkin menghalangimu."
Lila memandang keluar jendela mobil. "Kalau begitu..." Ia tersenyum penuh keyakinan. "...aku akan membuat Viren sendiri yang menginginkanku tinggal di mansion."
...****************...
Bel pulang sekolah berbunyi. Serina sudah menunggu di depan gerbang ketika Viren keluar membawa tas sekolahnya. "Viren."
Anak itu menghampirinya. "Kita mampir ke rumah orang tuaku, ya."
Viren menatapnya. "Rumah orang tuamu?"
Serina mengangguk. "Iya. Aku ingin memperkenalkanmu kepada mereka."
Viren terdiam beberapa saat. "Aku harus ikut?"
"Kalau kamu tidak keberatan."
Viren mengamati wajah Serina. "Berapa lama?"
"Sebentar saja."
Viren akhirnya mengangguk. "Baik."
Mereka masuk ke mobil. Sepanjang perjalanan, Serina terlihat lebih bersemangat dari biasanya. Sesekali ia melihat ke luar jendela sambil tersenyum, membayangkan pertemuan dengan keluarganya setelah sekian lama.
Sementara itu, di mansion Timoty...
Vincent melihat jam di tangannya. Pukul 16.30.
Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Serina. Tidak tersambung. Ia mencoba sekali lagi.
Tetap tidak aktif.
Vincent mengerutkan kening. "Nyonya di mana?"
Pengawal yang berjaga segera memeriksa keberadaan mobil. "Mobil Nyonya berada di rumah keluarganya, Tuan."
Vincent terdiam. "Sejak kapan?"
"Sejak siang."
Tatapan Vincent langsung berubah dingin. "Kenapa aku tidak diberi tahu?"
Tidak ada yang berani menjawab. Vincent mengambil jasnya. "Siapkan mobil."
Beberapa menit kemudian. Vincent turun.
Tatapannya langsung tertuju pada rumah yang belum pernah ia datangi itu.
Ada satu hal yang ingin ia pastikan lebih dulu.
Mengapa istrinya membawa putranya pergi tanpa memberinya kabar?