Kamila Larasati, seorang gadis cantik yang pintar, kritis, keras kepala dan punya pendirian kuat persis seperti ayahnya yang seorang Jendral TNI. Kamila menentang perjodohan yang dilakukan ayahnya dengan bawahannya. Dia tidak ingin mengikuti jejak kakaknya yang kehidupan pernikahannya terlalu banyak aturan.
Kamila masih sangatlah muda. Dia masih ingin bebas menikmati masa mudanya dengan berbagai pengalaman yang bermakna.
Sampai pada suatu hari, dia bertemu dengan Mahardika Pratama yang seorang preman kampung. Kejadian yang tak terduga menjadi awal pertemuan mereka hingga seiring berjalannya waktu tumbuhlah rasa cinta diantara mereka. Tapi ada sebuah rahasia yang sempat menggoyahkan perasaan Kamila. Apakah akhirnya cinta mereka akan bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akira Fan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Benih-Benih Cinta
Malam ini Kamila tidak bisa tidur. Tidak seperti malam-malam biasanya dimana dia akan terlelap sebelum larut malam.
"Aduh, nggak bisa tidur lagi," Kamila membolak-balikkan tubuhnya dikasur.
Dia tidak bisa tidur karena terus teringat kejadian siang tadi saat bersama Dika. Entah kenapa wajah Dika selalu terlintas difikirannya setiap kali dia mencoba memejamkan matanya. Sedangkan Veni sudah terlelap sejak tadi.
Kamila beranjak dari tidurnya kemudian mendekati jendela. Melihat ke arah luar dimana saat ini bertepatan dengan malam bulan purnama. Sungguh indah pemandangan malam ini.
Kamila tersenyum setiap kali mengingat saat dirinya berdua dengan Dika. Setiap candaan dan obrolan dengannya begitu berkesan baginya serasa simfoni indah yang menggetarkan jiwanya.
"Kamu lagi ngapain sekarang Mas?," gumam Kamila lirih.
Sedangkan ditempat lain, tepatnya diteras rumah Dika. Dia pun sedang termenung sendiri dengan senyuman yang menghiasi wajah tampannya.
Dibawah temaram sinar bulan, Dika duduk diteras mengingat kembali setiap momen kebersamaannya dengan Kamila. Wajah cantik Kamila yang sedang tersenyum terlintas dengan jelas di fikirannya.
"Ah Kamila, sampai kapan kamu akan selalu menghantui fikiranku seperti ini? Rasanya aku tidak sabar menunggu hari esok untuk bertemu denganmu Mila," monolognya disertai senyum tipis kemudian memejamkan matanya seakan hal itu bisa mengobati kerinduannya pada gadis itu.
Sesaat kemudian Dika mengeluarkan handphone nya. Memandangi foto Kamila yang tersimpan rapi di ponselnya. Foto yang dikirim Papa Kamila sendiri padanya. Memperlihatkan kecantikan gadis itu dengan senyum manisnya.
"Apakah kamu juga merasakan hal yang sama denganku Mil? Perhatianmu padaku mampu menggetarkan hatiku yang selama ini membeku. Oh bahagianya jika apa yang aku harapkan benar-benar terwujud," gumamnya lagi lalu mengalihkan pandangan matanya untuk menatap bulan purnama malam ini.
Hembusan angin yang menambah dinginnya malam ini tak mampu meredam gejolak jiwa diantara mereka. Justru seakan menghidupkan benih-benih cinta dalam hati mereka saat ini. Cinta yang mungkin sudah direncanakan oleh Tuhan melalui takdir mereka.
Ting
Sebuah pesan masuk membuyarkan lamunan Dika. Dia pun segera meraih handphone nya untuk memeriksa siapa kah gerangan yang mengirimkannya pesan malam ini.
Matanya membola saat melihat nama yang tertera dilayar handphone nya. Seakan ada yang memberi tahu kan perasaannya malam ini. Tidak menyangka Kamila mengirim pesan terlebih dahulu pada Dika. Hal yang sedari tadi ingin dilakukannya tapi setiap kali akan mengetik selalu dia urungkan.
"Mas Dika sudah tidur?," tanya Kamila dalam pesan yang dia kirimkan tadi.
"Belum, kamu sendiri kok belum tidur?," Dika segera membalas chat dari Kamila tersebut.
Jari-jarinya dengan lihai mengetikkan dilayar handphone nya. Seakan tidak ingin Kamila menunggu lama balasan darinya.
"Iya Mas, nggak bisa tidur," jawab Kamila singkat tapi mampu memberi sinyal dihati Dika untuk meresponnya.
"Kenapa? Lagi mikirin aku ya?," tanya Dika tiba-tiba ingin menggoda Kamila.
Beberapa saat tidak ada balasan. Kamila tidak kunjung membalas pesan Dika tersebut. Apakah dia tersinggung dengan pertanyaan Dika tadi? Dika sedikit merasa was-was.
"Maaf aku salah ngomong ya?," tanya Dika lagi karena Kamila tidak kunjung membalasnya.
"Iya, aku lagi kepikiran kamu Mas. Maaf," balas Kamila akhirnya. Membuat Dika bernafas lega.
Senyum kebahagiaan kini kembali menghiasi wajahnya. Ternyata Kamila juga memikirkannya saat ini. Dika mengerutkan keningnya saat membaca kembali balasan Kamila tadi.
"Kenapa minta maaf? Padahal aku senang banget lho dipikirin sama kamu," balas Dika tidak mampu menyembunyikan perasaannya lagi.
"Masa sih Mas? Jangan bohong ya?," tanya Kamila lagi masih belum percaya.
"Aku nggak bohong Kamila," jawab Dika jujur.
Untuk sesaat hening tidak ada balasan lagi dari Kamila. Dika sedikit was was, takut kalau Kamila marah atau menganggapnya tukang gombal.
Dika ingin mengetik lagi, tapi belum sempat selesai ada sebuah panggilan masuk dari seseorang. Dika pun segera menerima panggilan tersebut.
"Hallo," ucap Dika dengan dingin seperti akan mendapatkan kabar yang serius.
"Lapor ndan, kami sudah menemukan lokasi mereka. Kita sudah bersiap menyergap, hanya tinggal menunggu perintah komandan," lapor orang diseberang telepon.
"Kirimkan lokasinya padaku sekarang dan lakukan penyergapan segera," perintah Dika pada orang itu yang merupakan bawahannya.
"Siap laksanakan ndan," jawabnya kemudian mengakhiri panggilan.
Setelah mendapat kabar dari anak buahnya itu Dika segera bergegas memakai jaketnya dan mengambil kunci motor di atas nakas. Dia tidak sempat membangunkan Aldo yang sudah tertidur pulas karena saat ini waktunya menunjukkan waktu tengah malam.
Dika segera menjalankan motornya menuju lokasi yang dikirimkan oleh anak buahnya tadi. Operasi penangkapan kali harus berhasil. Dia akan turun langsung untuk memastikan keberhasilannya.
"Bagaimana situasi saat ini?," tanya Dika pada operator yang memantau jalannya penyergapan.
"Lapor ndan, saat ini mereka semua sudah terkepung. Anggota gita sudah mengepung tempat itu dengan persenjataan lengkap.," jawab operator tersebut.
"Bagus, pantau terus perkembangan mereka. Kalau ada sesuatu pergerakan yang mencurigakan segera lapor," perintah Dika dengan nada tegas.
"Baik ndan," balas operator tersebut.
Penyergapan kali ini dilakukan dengan persiapan yang matang. Dika sangat yakin pasti akan berhasil.
Para anak buah Dika sudah mulai bergerak mendekat. Terlihat banyak mobil mewah terparkir disebuah rumah yang tampak kumuh dari luar itu. Benar saja ditempat itu telah terjadi transaksi jual beli barang haram yang sangat dilarang oleh hukum.
"Kau membawa barangnya?," tanya seorang pria bernama Alex yang berperawakan tinggi besar yang sedang duduk disofa.
"Tentu saja Bos. Saya tidak akan ingkar janji," jawab seorang laki-laki muda bernama Riko yang terlihat sangat tunduk pada Alex.
Riko meletakkan sebuah koper cukup besar yang berisi berbagai jenis Nark**ba dihadapan Alex. Dia terlihat menyeringai tipis pada rekan bisnisnya tersebut.
"Berikan!," perintah Alex pada anak buahnya.
Anak buah Alex menunjukkan sebuah koper yang berisi uang tunai yang sesuai dengan perjanjian mereka. Riko tersenyum puas karena Alex menepati janjinya.
"Jangan bergerak! Tempat ini sudah kami kepung," ucap anak buah Dika yang memimpin penyergapan malam ini.
"S*al," gerutu Alex karena dia tidak bisa melakukan apa-apa.
"Segera amankan barang bukti. Dan bawa mereka ke markas untuk diinterogasi," perintahnya lagi.
Para komplotan itu akhirnya tertangkap dan berhasil diamankan oleh pihak kepolisian. Penyergapan itu selesai pada waktu subuh.
Dika yang saat ini berada di markas komando daerah sudah bersiap untuk melakukan interogasi kepada ketua komplotan tersebut. Karena saat ini masih sebagian kecilnya dari komplotan itu yang tertangkap. Masih ada jaringan yang lebih besar lagi diatas mereka yang sedang menikmati udara bebas mereka.
"Lapor Komandan, misi berhasil," lapor salah satu anggota kepada Dika dikantornya.
"Kerja bagus, cepat bawa ketuanya ke ruang interogasi. Saya sendiri yang akan menginterogasinya," perintah Dika dengan tegas pada anak buahnya itu.