NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Pembantu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:19.9k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-

Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Lantai puncak menara Dirgantara Group selalu memiliki atmosfernya sendiri. Hening, steril, dan hanya menyisakan deru halus pendingin udara serta ketukan jemari di atas papan ketik. Namun, ketenangan yang teratur itu mendadak pecah ketika pintu lift berdinding cermin terbuka.

Stella melangkah keluar dengan dagu terangkat. Aroma parfum Prancisnya yang menyengat langsung memenuhi koridor, mendahului sosoknya yang mengenakan terusan berpotongan tegas warna gading. Di lengan kirinya, ia menenteng tas desainer berharga ratusan juta, sementara tangan kanannya mendekap selembar map biru tua dengan cengkeraman erat. Matanya berkilat, memancarkan kepuasan yang tertahan, seolah ia membawa kunci dari seluruh rahasia dunia.

Langkah kaki Stella yang berirama tajam di atas lantai marmer langsung membuat Meta, sekretaris senior Arlan, mendongak. Tanpa perlu waktu lama untuk berpikir, Meta segera bangkit dari kursi kebesarannya. Ia memotong jalur, berdiri tegak tepat beberapa langkah di depan meja resepsionis lobi CEO, menghadang pergerakan mantan istri atasannya itu.

"Selamat pagi, Nyonya Stella. Ada yang bisa saya bantu?" suara Meta terdengar profesional, namun ada nada dingin yang tegas di sana. Ia tahu betul sejarah wanita ini dengan Arlan, dan kedatangan Stella tanpa janji temu tidak pernah membawa berita baik.

Stella menghentikan langkahnya, menatap Meta dari balik kacamata hitamnya sebelum menurunkannya sedikit ke ujung hidung. Ia mendengus, merasa terganggu oleh penghadangan tersebut.

"Singkirkan wajah formalitasmu itu, Meta. Aku tidak punya waktu untuk mengisi buku tamu atau mendengarkan ocehanmu," sindir Stella dengan nada manja yang dibuat-buat, penuh rasa superioritas yang tak berdasar. "Aku mau berbicara langsung dengan Arlan. Ini masalah darurat yang menyangkut masa depan perusahaannya. Minggir."

Meta sama sekali tidak bergeser satu inci pun dari posisinya. "Maaf, Nyonya Stella. Tuan Arlan sedang tidak berada di ruangannya saat ini. Beliau masih menghadiri pertemuan luar kota sejak subuh tadi dan belum kembali ke kantor pusat."

"Pertemuan luar kota? Atau kamu hanya sedang mencoba menyembunyikannya dariku?" Stella mencibir, melangkah maju satu tindak, mencoba mengintip ke arah pintu jati ganda yang tertutup rapat di belakang Meta. "Jangan membohongiku, Meta. Aku tahu betul jadwal Arlan biasanya. Biarkan aku masuk dan menunggunya di dalam."

"Saya tidak berbohong, Nyonya. Dan aturan perusahaan melarang siapa pun yang tidak berkepentingan untuk masuk ke ruang kerja CEO tanpa izin langsung dari beliau," tegas Meta, matanya menatap Stella tanpa berkedip.

Ketika Stella mulai mendesak maju dan tangannya bersiap mendorong pintu kayu tersebut, terdengar bunyi denting halus dari lift khusus eksekutif di ujung koridor yang berlawanan. Pintu lift terbuka, dan atmosfer di lantai itu mendadak turun beberapa derajat. Tekanan udara yang berat dan berwibawa langsung merayap masuk.

Arlan Dirgantara melangkah keluar.

Pria berusia tiga puluh enam tahun itu tampak luar biasa matang dalam balutan setelan jas tiga potong berwarna abu-abu gelap. Bahunya yang tegap menegaskan otoritas mutlak yang ia miliki atas seluruh gedung ini.

Di sisi kirinya, Doni, asisten pribadi sekaligus tangan kanannya, berjalan dengan beberapa tabung cetak biru di pelukannya. Namun, sosok yang berjalan setengah langkah di belakang bahu kanan Arlan-lah yang menarik seluruh perhatian di ruangan itu.

Gita Ivara atau Bianca Adytama.

Wanita berusia tiga puluh tahun itu berjalan dengan ketenangan yang luar biasa. Ia mengenakan kemeja kerja putih sederhana berbalut rok span hitam—pakaian standar yang seharusnya membuatnya tampak biasa saja di antara para wanita metropolitan Jakarta. Namun, Bianca tidak bisa menyembunyikan aura "berkelas" yang melekat pada cara berjalan, keanggunan lehernya yang tegak, dan sepasang mata jernih yang memancarkan ketegaran luar biasa. Ia tidak tampak seperti seorang pelayan atau asisten rendahan; ia tampak seperti seorang wanita yang terbiasa mendikte keadaan, meski saat ini ia sedang memegang sebuah buku catatan kecil dengan jemari lentiknya.

"Ada apa ini?" suara bariton Arlan menggelegar rendah, memangkas seluruh perdebatan di lobi.

Langkah kakinya yang lebar membawanya langsung ke tengah ruangan. Sepasang matanya yang tajam dan skeptis menatap Stella dengan pandangan dingin yang menghina. Kehadiran mantan istrinya di tempat ini selalu memicu rasa tidak nyaman dalam dirinya, mengingatkannya pada masa-masa di mana ia dimanfaatkan hanya demi status dan harta.

Stella berbalik, keterkejutannya hanya bertahan sesaat sebelum senyum penuh kemenangan kembali merekah di bibirnya yang dilapisi lipstik merah tua. Ia tidak melihat tatapan dingin Arlan; matanya justru terkunci pada Bianca yang berdiri tenang di belakang tubuh tegap sang CEO.

"Oh, syukurlah kamu sudah kembali, Arlan," ucap Stella, suaranya mengandung nada manis yang beracun. Ia melangkah mendekat, matanya menatap Bianca dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan, sebelum melempar senyum manis yang penuh kepalsuan. "Kamu tahu? Kamu benar-benar pintar, Arlan. Sangat pintar dalam menyembunyikan sesuatu."

Arlan menyipitkan matanya, rahangnya mulai mengeras. "Jangan berputar-putar, Stella. Katakan maumu, lalu keluar dari gedungku."

Stella terkekeh pelan, menepuk map biru di dadanya dengan jemari yang lentik. "Aku datang ke sini justru untuk menyelamatkanmu, Mantan Suamiku yang terhormat. Aku hanya ingin bertanya... apakah kamu tidak takut? Apakah Dirgantara Group sudah kekurangan anggaran hingga kamu harus mempekerjakan seorang mantan narapidana di lantai tertinggimu?"

Deg.

Keheningan yang mencekam mendadak jatuh di koridor itu. Doni menghentikan gerakannya menata dokumen, sementara Meta menahan napas di balik mejanya.

Arlan membeku. Kalimat Stella barusan bagaikan sebuah hantaman tak kasat mata yang menghantam ego dan rasa penasarannya. Akan tetapi, reaksi Arlan yang paling instan bukanlah memeriksa kebenaran ucapan Stella, melainkan sebuah dorongan posesif yang luar biasa kuat untuk melindungi. Tanpa sadar, Arlan menggeser tubuh tegapnya satu jengkal ke kanan, menghalangi pandangan tajam Stella dari Bianca, menyembunyikan wanita itu di balik punggungnya yang lebar.

Di belakang Arlan, Bianca hanya terdiam. Tidak ada kepanikan di wajahnya yang tenang. Tidak ada kilat ketakutan di matanya yang dewasa. Pengalaman hidup di dalam ruang sunyi selama sepuluh tahun telah menempanya menjadi sekeras baja. Ia tahu informasi ini cepat atau lambat akan bocor karena ulah Mahendra, tetapi melihat bagaimana punggung Arlan mendadak bergerak melindunginya, ada getaran emosional yang pas yang merayap di dadanya. Ada rasa bersalah yang kian menggebu karena ia harus membiarkan pria ini menghadapi badai masa lalunya tanpa tahu nama aslinya. Bianca menahan perasaannya dengan susah payah, memilih tetap memasang topeng seorang pelayan yang patuh dan tak bersuara.

"Apa yang kamu bicarakan, Stella?" desis Arlan, suaranya kini melengking rendah, sangat berbahaya. Tangan kanannya yang berada di dalam saku celana mengepal begitu kuat hingga urat-urat birunya menonjol tajam. Rahangnya menegang, membentuk garis kaku yang menakutkan.

"Kamu bisa membaca ini sendiri kalau tidak percaya," Stella mengangkat map biru itu, melambaikan berkas hasil penyelidikan yang ia dapatkan dari Mahendra. "Gita Ivara-mu ini... pelayan desamu yang sok suci ini, pernah mendekam di penjara selama sepuluh tahun karena kasus percobaan pembunuhan! Dia kriminal, Arlan! Dan kamu membiarkannya berjalan di sekitarmu, memegang dokumen-dokumen pentingmu?"

Arlan tidak merebut map itu. Ia menatap Stella dengan pandangan yang sanggup membekukan darah. Sebagai seorang pria yang berwibawa, Arlan sangat membenci keributan di ruang publik, terutama jika hal itu menyangkut "sesuatu" yang mulai ia anggap sebagai miliknya. Rasa protektifnya bangkit melampaui logika skeptisnya. Apapun masa lalu Gita, Arlan tidak akan membiarkan wanita luar seperti Stella menghakimi wanita yang berada di bawah perlindungannya di depan para stafnya.

"Doni, ambil map itu," perintah Arlan, suaranya datar namun penuh penekanan yang mutlak.

Doni dengan cekatan melangkah maju, mengambil map biru dari tangan Stella sebelum wanita itu sempat memprotes.

"Masuk ke ruanganku, Stella," ucap Arlan kemudian, suaranya sedingin es di kutub. Ia berbalik, memberikan tatapan sekilas yang teramat intens dan penuh selidik kepada Bianca yang masih menunduk tenang, sebelum kembali menatap Stella.

"Aku tidak suka orang luar sepertimu datang ke mari dan menyebarkan rumor sampah di lantai kerjaku. Kita selesaikan ini di dalam."

Arlan melangkah memimpin jalan, mendorong pintu ganda ruang kerjanya dengan sentakan kasar. Stella mengikuti dengan langkah penuh kemenangan, yakin bahwa hari ini ia telah berhasil menanamkan benih kehancuran di dalam hidup Arlan.

Sementara Bianca tetap berdiri di lobi ruangan Arlan, menatap pintu yang tertutup itu dengan pandangan yang dalam, tahu bahwa kabut misteri yang menyelimuti dirinya kini mulai bergeser menuju badai yang sesungguhnya.

***

1
ms. yati74
Stella pewangi ruangan cari gara gara....weees cepet di bejek bejek sak Mahendra nya di bikin jadi gelandangan yooo bang Ar
Mukeseh
hajar stella arlan 🤣🤣🤣 q suka list keributan besar pokoke 😂😂😂
Anisa Sudarwanto
lnkut thorr
Mundri Astuti
Kirana coba muncul sama Raditya yak
Verawati Naycyl
Stella kamu salah memilih lawan.....bisa bisa kamu sama Mahendra bakalan di bikin nangis darah
fatmawati (pipit)
stella kamu blm mengenal keluarga adytama, jari lentik seseorang bisa membuka tabir kebusukan mu dan keluarga mu dlm pencurian aset milik arlan
Mundri Astuti
lanjut thor 🙏
Mukeseh
stella belum ae siapa gita ivara 🤣🤣 apalagi kalau mahendra tau apa gak syok dia 🤭
Sri Murtini
Byanka tenang saja blm saatnya kau kembali ke Surabaya
ryuka
adduuhhh duuhh bianca gimana ini 🤭🤭🤭🤭🤭
Mukeseh
lagi thorr
fatmawati (pipit)
stella kau blm mengenal bianca secara seluruhnya, mungkin dia di penjara bukan karna kemauannya karna ada seseorang yg menjebak dia dan keluarga adytama hancur
mungkin juga karna musuh raditya
fatmawati (pipit): yg itu aku lupa🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
fatmawati (pipit)
kau blm mengenal biaca adytama (gita Ivana) kau ingin menjatuhkan bianca maka kau akan berhadapan dengan sisi lainnya bianca
ryuka
aduuhhh bianca kamu berhak bahagia 🫠🫠🫠🫠🫠
Mundri Astuti
Mahendra minta dikepret ma Kirana dan raditya
Mundri Astuti
jangan harap bisa nyentuh Bianca kaya si bunglon Stella Mahendra, krn da Raditya, Kirana dan Aditama ...
mudah"an Kirana cepet tau dan mintol Radit buat kasih bodyguard jaga Bianca dari jarak jauh
Mukeseh
huuuu 😂😂semoga atrlan bisa mrlindu gi
Verawati Naycyl
gak sabar nunggu kelanjutannya thor....bakalan di apain Bianca sama Arlan..
Verawati Naycyl
lanjut thor..
Mundri Astuti
diihhhh Arlan, Gita atau Bianca ga terus terang itu krn privasinya, emang selama ini dia ngerugiin kamu kaya mantanmu itu...ngga kan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!