Nadia sik cantik dan manja sama sekali tidak pernah terfikir untuknya menikah muda, sayangnya, sebuah insiden yang tidak diinginkan membuatnya harus mengambil keputusan dan harus menikah.
Bukan hanya sekedar menikah dengan laki-laki yang tidak dicintainya, tapi bonusnya, Nadia menikah dengan dosen yang mendapat predikat sebagai dosen hot sekaligus kiler bernama Bratayudha Wirasena.
Akankah pernikahan yang tidak dilandasi oleh cinta itu akan bertahan dan akan menumbuhkan benih-benih cinta diantara keduanya.
Yang penasaran, baca saja kisah mereka ya, dijamin seru dan menghibur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aenyn unyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MARAHAN
Karna tengah bersitegang, Nadia dan Yudha sampai saat akan tidurpun masih diam-diaman, tapi kalau difikir, memang kapan sieh mereka pernah ngobrol, ya paling kalau gak perlu-perlu banget baik Nadia dan Yudha malas untuk buka suara.
Dan seperti malam sebelumnya, pasangan pasutri itu tidur saling membelakangi, Nadia mengambil jarak sejauh-jauhnya dari Yudha, bahkan posisinya dipinggir tempat tidur, gerak dikit bisa dipastikan Nadia bakalan jatuh.
Keesokan paginya, Nadia terbangun, sinar matahari pagi yang menembus gorden ruangan itu membuatnya silau.
Nadia mengucek-ngucek matanya sampai dia tersadar kalau hari ini dia ada kuliah pagi, matanya langsung on, terbangun dan menatap jam yang ada dinakas yang sudah menunjukkan angka 07.10.
"Astaga, gue udah terlambat." Nadia menoleh ke samping untuk melihata apakah Yudha sudah bangun apa belum, namun korneanya tidak menemukan laki-laki itu disana.
"Sial, kenapa dia gak bangunin gue sieh." Nadia mengumpat dan buru-buru ke kamar mandi.
Karna sudah tidak punya waktu, kali ini semuanya dia lakukan benar-benar super kilat dan serba sat set set, dan semuanya diperburuk lagi karna Yudha tidak hanya tidak membangunkannya, laki-laki itu juga meninggalkannya.
"Bener-'bener laki-laki pendendam, awas ya lo Yudha, gue balas lo."
Dengan berlari Nadia keluar apartmen menuju lift, Nadia berharap semoga ada angkutan umum didepan yang bisa dia cegat.
******
Nadia telat, telatnya itu bahkan sampai 20 menit, jadi wajar, oleh dosen pengampu mata kuliah dia tidak diizinkan masuk, disini Nadia benar-benar dendam kusumat sama Yudha, dia semakin bernafsu untuk balas dendam sama laki-laki itu.
"Lihat saja ya lo Yudha."
Nadia duduk dikantin, gak mungkin untuk pulang karna ada dua mata kuliah lainnya yang akan dia ikuti.
Satu jam berlalu, terlihat sahabatnya yaitu Dewi berjalan menghampirinya, tadi Nadia mengirim pesan kepada Dewi memintanya untuk menemuinya dikantin.
"Lo habis lembur semalam sampai kesiangan, kerja keras nieh ye kejar target." tembak Dewi menggoda begitu dia meletakkan bokongnya dikursi kantin yang menghadap Nadia, "Tapi gue lihat pak Yudha datangnya pagi Nad, gue fikir lo turunnya dipertigaan itu lagi, eh ditunggu-tunggu lo kagak datang-datang, gue fikir lo sakit."
"Apaan sieh lo lembur-lembur." Nadia cembrut.
"Terus kenapa lo telat, dan kenapa juga pak Yudha ninggalin elo."
"Gue lagi diem-dieman sama dia."
"Pengantin baru kok diem-dieman, harusnya peluk-pelukan donk, masih anget gini."
"Gara-gara kemarin saat gue bawa Indra ke rumah sakit."
"Ya wajar aja sieh dia marah sama lo Nad, gue aja kalau jadi pak Yudha pasti marah ege, apalagi lo sampai bela-bela gak masuk kuliah lagi gara-gara mantan lo yang brengsek itu dimata kuliah pak Yudha lagi."
"Marah sieh marah Wik, tapi gak ninggalin gue juga kali, dasar laki-laki pendendam."
Dewi terkekeh melihat sahabatnya itu ngomel-ngomel, "Udah, gak usah ngomel-ngomel gitu, lo mending minta maaf deh sama laki lo biar besok ada yang bangunin lo."
"Gue." Nadia mengarahkan jari telunjuknya ke dadanya, "Minta maaf sama dia, gak maulah, guekan kagak salah."
"Haduhhh Nadia Nadia, cobak deh lo yang ada diposisinya pak Yudha, marah gak lo kalau pak Yudha bersama dengan mantannya."
"Ya gaklah, guekan gak cinta sama dia, lo gak lupakan Wik kalau kami menikah karna dijodohkan."
"Ya karna lo udah nikah Nad, lo harus berusaha mencintai dia, lagian masak sampai sekarang belum cinta sieh, ganteng gitu laki lo, lo tahukan betapa banyak mahasiswi yang menginginkan dia, kalau tuh cewek-'cewek tahu pak Yudha sudah menikah, mereka pasti patah hati berat." saat mengucapkan kalimat tersebut, Dewi mengecilkan volume suaranya.
"Ambil." jawab Nadia dengan entengnya, "Gue malah happy bisa terbebas dari dia."
"Hmmm, entar beneran lo nangis kejer lagi, ntar lo malah ngejar-ngejar pak Yudha."
"Gak akan, gue gak bakalan pernah mau sama dia." ucap Nadia mantap.
"Jangan terlalu percaya diri gitu, entar lo..."
"Aihhh, bisa stop gak sieh Wik bahas dia, eneg gue."
"Hmmm, oke oke."
Tidak sengaja mata Dewi mengarah ke jarum jam 12, "Suami lo tuh, jalan sama bu Nia."
Dikasih tahu begitu, Nadia reflek donk menoleh, namun dia sama sekali tidak komentar apa-apa, malah dia makin bete melihat wajah laki-laki itu.
Dan kebetulan juga Yudha melihat Nadia, Nadia buru-buru membalik badannya.
"Nad, kayaknya bu Nia suka deh sama pak Yudha, tuh dosen ganjen suka nempel-nempel gitu tahu gak sieh sama laki lo, apa dia gak tahu kalau pak Yudha udah nikah sama lo."
"Apa peduli gue, mau suka kek, gak kek." ucapnya tidak peduli.
Dewi sampai menarik nafas namun tidak membalas ucapan Nadia, dia memilih tidak membahas tentang Yudha lagi.
*******
Dan saat pulangpun Nadia tidak pulang bersama dengan Yudha, dia naik taksi online.
Tadinya Nadia mau ikut nongkrong dengan Dewi dan beberapa teman kelasnya yang lain, tapi tiba-tiba saja kepalanya pusing dan perutnya terasa mual-mual sehingga pada akhirnya dia memutuskan untuk pulang saja, awalnya dia ingin pulang ke rumah mamanya, tapi niatnya itu dia urungkan karna yakin mamanya akan nyap-nyap, terpaksa deh pulang ke apartmen.
Nadia langsung berbaring ditempat tidur dan mencoba untuk memejamkan matanya dengan harapan sakit kepalanya akan reda kalau dia bisa memejamkan matanya.
Nadia tidak tahu berapa lama dia tidur, tapi saat dia terbangun, suasana kamar sudah gelap, dan dia terbangun karna perutnya yang terasa lapar.
Nadia mencoba untuk bangkit, namun ternyata sakit kepalanya masih menguasainya, sehingga dia meraba-raba untuk mencari ponselnya untuk mengetahui waktu dan sekaligus sebagai alat bantu penerangan.
Namun ternyata, bukan ponselnya yang dia temukan, telapak tangan Nadia malah menyentuh benda tidak rata dan agak kasar, seketika Nadia sadar itu adalah wajah suaminya yang belum bercukur, dia buru-'buru menarik tangannya kembali.
"Kenapa." tanya Yudha dengan suara agak serak setengah mengantuknya, rabaan Nadia membuatnya terbangun.
"Hmmm, nyari ponsel aku."
"Tidur aja, udah tengah malam, besok main ponselnya."
"Siapa yang mau main ponsel, ini gelap dan aku lapar."
Yudha meraba-raba nakas sampai tangannya menjangkau remote lampu dan menekannya, dan tringggg, ruangan itu menjadi terang benderang sampai membuat Nadia silau dan reflek menjadikan tangannya sebagai tameng.
Nadia bangkit, dia lapar karna memang tidak makan malam karna sepulang kuliah dia langsung tepar, namun ternyata, sakit kepalanya tidak kunjung berhenti.
Nadia gengsi untuk minta tolong sama Yudha, apalagi saat ini dia masih marah-marahan sama Yudha, namun dia lapar, dia tidak bisa melanjutkan tidurnya kalau perutnya dalam kondisi lapar seperti ini, tapi beranjak dari tempat tidurpun rasanya dia tidak sanggup.
Nadia beberapakali melirik Yudha, mempertimbangkan untuk meminta bantuan laki-laki yang sudah menjadi suami itu.
*****